Dosen Idiot

Dosen Idiot
56. Harus, ya?


"Woi woi woi woi!! bangun bangun bangun bangun bangun bangun!!!" Aku berusaha membangunkan mereka semua yang masih tertidur pulas akibat minum shochu kemarin. Satu-persatu mulai bangun dari mulai Rey, Rafa, Fla hingga Kakak. Posisi tidur mereka sangat lucu sehingga membuat aku ingin memotretnya.


"Duh.. Berisik banget sih." Kakak sepertinya mulai risih dengan kehadiran ku. Ia berusaha untuk membuka matanya dan melihat siapa yang mengganggu dari tidurnya.


"Mau sampai kapan tidur aja? Mentang-mentang sekarang hari minggu?" Tanyaku. Kakak mencoba untuk mengumpulkan nyawanya. Ia memejamkan mata dan membuka matanya secara cepat sembari memegangi kepalanya. Mereka semua pun terbangun. Mereka terlihat sangat kacau. Aku hanya tertawa kecil melihat keadaan mereka.


"Aduh jam berapa ini?" Tanya Rafa. Aku menengok jam tangan yang berada di lengan kiri ku.


"Udah jam 11! Mandi semuanya hey!!" Suruh ku. Mereka semua nampak masih bermalas-malasan di sofa.


"Fla, mandi gih di kamar gue!" Suruh ku sembari menarik tangan fla seperti memaksa.


"Iya iya, udah sih jangan narik-narik! Sakit tau." Ketusnya, Aku hanya menyinyir sedikit di hadapannya.


"Aku mau jalan sebentar sama Morgan ya kak." Tanya ku yang langsung pergi tanpa menunggu persetujuan kakak.


Aku menuju mobil Morgan yang sudah terparkir rapi di halaman rumah ku. Dia terlihat seperti mengeluarkan dompetnya. Dia mengambil sebuah kartu dan di tempelkan pada pintu mobilnya dan mobil itu pun terbuka dengan sendirinya. Aku terkagum-kagum melihat teknologi zaman sekarang yang tumbuh dengan pesat. Ia pun masuk ke dalam mobilnya meninggalkan aku yang berada di luar.


"Heh kok loe masuk duluan sih?!!" Tanya ku sinis padanya sembari mengetuk-ngetuk kaca mobilnya. Ia membuka kaca jendela mobilnya.


"Kenapa emangnya?" Tanyanya yang tidak merasa bersalah sama sekali. Aku menahan kesal.


"Harusnya tuh loe bukain gue pintu!"


"Harus, ya?" Pertanyaannya membuat aku tidak bisa menahan emosi lagi.


"Rese banget sih loe!! Harusnya memper lakuin pacar tuh nggak kayak gini!!" Bentak ku yang kemudian menutup mulut ku dengan kedua tangan ku. Terlihat Morgan yang tersenyum seperti malu. Melihat Morgan tersenyum seperti itu, aku jadi di malu juga.


"Udah saya bilang, jangan suka sama saya." Aku sangat muak ketika ia mengucapkan kalimat itu lagi. Langsung saja aku masuk kedalam mobilnya tanpa basa-basi.


"Brukkkk..." Aku menutup pintu mobil dengan sangat keras. Kemudian aku memasang sabuk pengaman dan melipat kedua tanganku. Belum apa-apa, Aku sudah dibuat kesal dengannya.


"Mau ke mana kita?" Ketus ku padanya.


"Kemana aja lah, toh kamu nggak ngomong mau kemana. Perjanjiannya kamu cuma minta saya nganterin kamu untuk jalan-jalan aja kan?" Tanyanya dengan nada seperti belagu. Sudah cukup aku menahan emosi ku padanya.


"Cuppsss.." Morgan mengecup keningku dengan lembut. Aku seperti kehabisan kata-kata di buatnya. Banyak hal dari dirinya yang belum aku mengerti. Mungkin lambat-laun aku dapat mengerti segala sesuatu hal dari dirinya. Aku mendadak jinak padanya. Seperti hewan peliharaan saja jadinya. Ia menyentuh layar yang berada di hadapannya. Seperti touch screen handphone ku. Ia mengetik tulisan "Mall terdekat." Sensor mobil pun aktif dan mobil berjalan tanpa di stir oleh Morgan. Oh.. Jadi seperti ini rasanya naik mobil keren ini. Aku ingin ikut dengan Morgan ke rumahnya, asal dia mengajak ku jalan-jalan dengan mobil barunya ini. Sekalian aku merasakan sensasi kemewahan mobil ini. Seperti naik MRT. 😋


Segala sesuatu bisa terlihat dari layar besar ini. Aku jadi sedikit terhibur karena melihat mobil dan motor yang ada di sebelah kiri, kanan, belakang dan di hadapan ku. Aku menoleh ke arah Morgan. Terlihat Morgan yang sedang tertidur di kursi kemudinya. Okey, kali ini aku tidak akan khawatir. Meskipun Morgan tertidur, mobil ini dengan kepintarannya mungkin akan bisa sampai pada tempat tujuan. Aku memandangi setiap cm wajahnya. Jenggot yang ia punya, kini menjadi lebih lebat dari sebelumnya. Rambutnya yang mulai panjang hampir menutupi matanya. Aku merapihkan sedikit rambut yang mengenai matanya.


"Inget, jangan suka sama saya." Ucapnya tiba-tiba yang sukses mengagetkan ku. Tanpa membuka matanya, ia mengatakan demikian kepada ku. Aku memegang dada ku untuk sekedar menenangkan jantung ku yang sudah berdetak kencang.


"Udah gue bilang, gue gak akan pernah suka sama loe!" Jutek ku. Ia tersenyum tanpa membuka mata dan mengubah posisinya.


"Tapi kamu udah anggap saya ini pacar kamu kan?" Tanyanya dengan percaya diri yang tinggi. Aku menahan kesal padanya. Aku hampir saja menamparnya. Tapi aku tidak tega. Semoga saja, ia tidak melihat tangan ku yang hampir menamparnya tadi.


Beberapa saat berlalu, kami pun sampai pada mall terdekat di daerah ku. Morgan pun bangun dari tidurnya. Ia menyetir mobil menuju basement.


"Kita mau ngapain ke mall?" Tanya ku yang bingung. Ia membuka sabuk pengamannya. Begitu juga dengan ku. Ia membukakan sabuk pengaman yang aku pakai.


"Turun aja." Ucapnya masih dengan nada dan ekspresi datar. Sampai-sampai aku tidak bisa membedakan keadaan dirinya yang mana yang sedang ia alami saat ini. Senang, atau sedih? Aku bergegas turun untuk mengikuti dirinya yang hampir hilang dari pandangan mata ku. Aku mencoba menyelaraskan langkah ku dengan langkahnya. Namun, langkahnya sangat besar. Aku jadi sedikit ribet untuk mengikutinya.


"Duuuuuhhh pelan-pelan dong!!" Bentak ku. Ia kemudian berhenti di hadapan ku.


"Brukkkkk.. Awwwwsss..." Aku menabrak tubuhnya yang kekar. Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai basement. Aku sangat kesal dengan perbuatannya. Banyak orang yang lewat dan menertawai ku. Morgan langsung menghampiri mereka.


"Ehh mau ngapain dia?" Lirih ku yang bingung dengan yang mau ia lakukan. Aku memperhatikan mereka dari jauh.


"Bruuukkk..." Morgan menonjok orang itu dan membuat aku terkejut. Bisa-bisanya dia berbuat ulah di tempat umum.


"Morgan!!" Pekik ku rupanya tidak cukup untuk menghentikan Morgan. Aku menghampiri mereka.


"Stop gan!! Stop!!" Bentak ku sembari menarik tangan Morgan. Dua laki-laki itu sekarang sudah tergeletak di atas lantai basement. Sama seperti keadaan diri ku tadi. Morgan menepuk-nepuk tangannya dengan tujuan untuk membersihkan debu yang menempel di kedua tangan Morgan.


"Saya kasih kesempatan kalian buat pergi." Lirih Morgan dengan nada datar. Mereka berdua langsung pergi tanpa basa-basi. Aku tidak mengerti dengan semua yang Morgan lakukan. Apakah cuma Morgan, laki-laki di dunia ini yang sama sekali tidak bisa aku mengerti?


"Apa-apaan sih gan? Loe gak harus hajar mereka kayak gini kan?" Tanya ku yang sedikit khawatir dengan keadaannya. Aku takut, ada satpam yang datang dan mengusir kami. Atau malah membawa kasus ini ke jalur hukum. Semoga tidak terjadi.


@sarjiputwinataaa