Dosen Idiot

Dosen Idiot
Episode 38


Aku tidak tahu sebenarnya isi hati ku itu seperti apa. Aku hanya menjalani yang menurut ku nyaman. Tapi, aku tidak tahu aku dengan morgan seperti apa? Memang dia sudah banyak menolong ku, tapi kalau aku jatuh cinta padanya karena itu, itu berarti aku hanya iba terhadapnya?


"Kring..Kring.." Handphone ku berdering. Ku sentuh layar berwarna hijau untuk mengangkat telfon dari kakak.


"Ya.?"


"Ada morgan nih."


"Okey aku ke sana ka."


-Tuuuuuuuuuttt-


Aku mengakhiri telfon dari kakak. Aku tiba-tiba saja menjadi gugup tak menentu. Apa yang salah dengan ku? Padahal aku sudah makan. Apa tadi aku salah makan? Ah. Enggak kok. Tapi aku seperti gemetar mendengar morgan sudah sampai di rumah ku.


"Ah payah banget sih gue!" lirih ku dengan makna memberi semangat kepada diri ku sendiri. Apa yang salah dari ku? Aku merasa aku baik-baik saja. Apa aku sakit? Apa lain kali saja aku pergi?


"Masa iya gue tolak sih? Gak enak juga."


"Tapi gue lemes gini, kenapa ya? Parah sih kalo gini mah."


Aku sangat gelisah memilih antara keluar atau tetap di dalam kamar.


"Crekkkk... Krieeeettt..."


"Hah? ngapain loe di sini?" lirih ku. Aku melihat morgan yang sudah berada di ambang pintu ku.


"Braaaakkkk" Morgan menutup pintu. Aku semakin ketakutan dengannya.


"Eh loe jangan macem-macem deh ya!!" Ancam ku. Seperti biasa, morgan datang dengan gaya cool yang menyebalkan itu. Aku benci sikapnya yang tidak bisa manis dengan siapapun termasuk aku. Ia berdiri di hadapan aku yang sedang duduk di bibir ranjang. Suasana sangat canggung. Morgan hanya memandang ku, tak bergeming sama sekali. Dan fikiran ku sudah melayang-layang, khawatir morgan melakukan sesuatu yang tidak aku suka. Ia tiba-tiba duduk di samping ku. Terlihat ia duduk dengan sangat ragu. Terbayang tidak kondisi jantung ku sekarang? Sudah seperti lari maraton sejauh 5km tanpa henti.


Aku menoleh ke kanan membuang pandangan ku. Morgan pun tidak menatap ku sama sekali. Ia hanya memandang arah depannya. Aku memainkan jemari ku. Aku sangat cemas dengan apa yang mau ia lakukan. Aku belum cukup siap untuk melakukan adegan hot lagi dengannya. Nampaknya ia juga mengalami hal yang sama dengan ku. Aku sesekali menolehnya ke samping. Tak ada respon sama sekali darinya. Aku hanya diam sembari menunggu ia berbicara.


Beberapa waktu berlalu. Namun ia masih tidak memulai pembicaraan. Aku jadi merasa ia mengabaikan ku. Padahal aku dari tadi berusaha mengumpulkan keberanian ku untuk hal-hal tidak terduga yang mungkin nanti akan ia lakukan kepada ku. Bisa saja~


"Ekhhhmmm.." Setelah beberapa saat, akhirnya aku mendengar suara deheman darinya. Aku menoleh ke arahnya. Nampaknya, ia berusaha mempersiapkan sesuatu sampai mengambil jeda yang lumayan lama. Ia mengambil nafas panjang.


"Greebbbb.." Ia menggenggam tangan ku. Aku terkejut bukan main. Kami berdua saling berhadapan.


"Boleh saya tanya sesuatu?" tanya morgan. Aku mengangguk kecil tanpa sadar. Ia berusaha menguatkan dirinya. Aku penasaran dengan apa yang ingin ia tanyakan.


"Apa kamu bisa melakukan satu hal?" tanyanya. Aku semakin penasaran. Aku diam beberapa saat.


"Kamu bisa menolak kalau kamu keberatan."