
Aku tak kuasa menahan amarahku. Seakan diri ini ingin membelah samudra.
Jika mampu.
“Lepasin!” Bentakku kasar.
Morgan melepaskan tanganku seketika. Aku lalu melipat kedua tanganku.
“Apa si nih? Kenapa coba kalian?” tanya Kakak.
Aku mendengus kesal jika mengingat kejadian di dalam kamar tadi.
“Kakak tanya aja noh sama DOSEN yang satu ini,” jawabku dengan menekankan kata “dosen”, sembari membelalak ke arah Morgan.
Aku membuang pandanganku karena merasa kesal dengan mereka berdua.
“Kenapa sih, Gan, kenapa?” tanya kakak, pada Morgan.
“Lho... coba tanya adikmu deh. Kenapa dia marah pas saya tawarin permen? Kan awalnya sudah saya tekankan, kalau dia gak suka, dia boleh nolak. Tapi bukan berarti dia harus marah sama saya dong?” jelas Morgan panjang lebar.
Aku masih saja kesal dengan ucapan Morgan.
Aku menatapnya sinis, seperti ingin mengajaknya perang.
“Ya tapi loe gak harus gitu dong! Bukan itu yang gue mau denger. Gue udah serius dengerin apa yang mau loe bicarain, eh loe malah nawarin permen! Nonsense tau gak!” jelasku, tak mau kalah dengan yang diutarakan dengan Morgan.
Ya. Memang seperti ini sifatku. Tidak ingin kalah dengan siapa pun, meskipun aku salah sekali pun.
“Terus, apa yang mau kamu dengar?” tanya Morgan, mencoba bertanya padaku.
Aku yang semula kesal, berubah menjadi bingung.
Sebetulnya aku kenapa?
Aku ini kenapa?
Morgan tidak salah apa-apa. Aku yang salah, karena sudah terbawa dengan suasana.
Aku merasa malu pada mereka. Wajahku seketika berubah menjadi panas.
“Ih, udah ah! Katanya mao nonton? Ayo! Nanti gue berubah pikiran lagi, nih!” ucapku asal, kemudian langsung berlari menuju mobil Morgan yang sudah terparkir di depan rumahku.
MORGAN
“Dia kenapa?” tanyaku bingung.
Arash terlihat sedang berusaha menahan tawanya.
“Loe kenapa?” tanyaku lagi padanya.
Dia malah tertawa semakin kencang. Ada yang aneh dari orang ini. Aku sampai mengerenyitkan dahiku.
“Loe itu idiot atau gimana sih, Gan?” tanya Arash, membuatku bingung.
“Hah, gimana maksudnya?” tanyaku lagi.
Aku menatap manik mata laki-laki yang kelak akan menjadi bagian dari keluargaku itu.
Semoga.
“Kalo cewek udah begitu, itu tandanya dia nunggu loe buat nyatain perasaan ke dia!” jelas Arash.
“Deg....” Aku... deg-degan.
Apa betul yang Arash bilang?
‘Hmm... Ara itu imut banget, ya,’ batinku yang berusaha menyembunyikan senyumku di hadapan Arash.
Sebetulnya, aku mau menyatakan perasaanku pada Ara. Tapi, entah kenapa rasa idiotku ini, membuatku tidak bisa mengatakannya dengan benar. Aku jadi merasa mempermainkan perasaan Ara.
Apalagi, aku juga masih tidak bisa bergerak bebas. Meygumi masih terus mengawasiku, sampai detik ini. Aku jadi tidak semegah mendekati Ara.
Untungnya, ia sekarang sedang melakukan perjalanan ke Jepang. Jadi, aku bisa mendekati Ara kembali, untuk sementara waktu ini.
Ya! Memang, dia adalah gadis yang tinggal di Jepang. Aku bertemu dengannya saat aku melanjutkan S-2 di salah satu Universitas terbaik di Tokyo. Saat itu, tidak sengaja aku memanfaatkan dirinya untuk bisa hidup di sana secara cuma-cuma. Tapi lama-kelamaan, mungkin aku merasa iba dengannya. Dia sama sekali tidak keberatan saat aku memberitahunya, bahwa aku memanfaatkannya. Ia orang yang tulus, pada waktu itu.
Ah... sudahlah.
Aku tidak ingin membahas tentang latar belakang Meygumi. Aku sudah cukup terlambat untuk menonton film bersama gadis pujaanku, yang nantinya akan menjadi istriku.
Semoga.
ARASHA
Waktuku sudah 10 menit terbuang sia-sia. Aku kesal menunggu sendirian di mobil ini. Perasaanku sudah campur aduk. Malu, kesal, geram, semua bercampur jadi satu, membuat hatiku gondok.
Dasar, Morgan idiot! Kenapa dia bersikap seenaknya seperti ini, sih? Mempermainkan perasaanku, dengan membuat suasana yang canggung. Aku pikir, dia akan menyatakan cinta padaku.
Ah.
Aku saja yang bodoh, karena sudah terlalu berharap lebih padanya.
Setelah beberapa lama, akhirnya aku melihat juga batang hidungnya. Ia pun masuk ke dalam mobil. Aku langsung membuang pandanganku, supaya tidak terlalu terlihat sedang menunggunya.
“Maaf, udah buat kamu menunggu,” ucapnya.
Aku tak menghiraukan, dan hanya cuek saja.
“Kita jalan sekarang?” tanyanya, membuat aku menoleh dan menatapnya sinis.
“Besok!” Ketusku.
Ia menatapku dengan sangat dalam, membuatku agak takut.
Oh tidak, apa mood-nya berubah? Apa aku menyinggung perasaannya lagi?
Ia mendekat ke arahku, membuatku agak takut berhadapan dengannya. Ia hampir menindihku dengan posisi tetap duduk di kursinya.
Aku terpojok sekarang!
Aku tidak bisa melakukan apapun lagi. Pandangan kami bertemu pada satu titik. Rasa lemas itu muncul kembali. Aku sudah makan! Kenapa bisa masih merasakan lemas seperti ini?
Apa ini cinta?
Apa aku mencintai Morgan?
Kenapa setiap ia menatapku, dengan tatapan seperti itu, jantungku seperti berhenti berdetak untuk sekejap?
Untung saja, aku masih bisa bertahan hidup, sampai detik ini.
Tenagaku habis terkuras, Lidahku kelu sekali. Hanya diam yang bisa kulakukan. Matanya seperti mengajakku untuk masuk ke dalam dunianya. Seperti black hole yang hendak menyedotku ke dalamnya.
“M-mau apa loe?” lirihku yang sudah sangat ketakutan.
Tapi, aku berpikir kembali, ia pasti tidak akan melakukan apapun kepadaku!
Dengan kata lain, ia hanya menggertakku saja.
Aku tak perlu takut padanya.
“Mana hadiah buat saya?” tanyanya, dengan mata yang sangat menggoda, membuat aku ingin sekali memilikinya.
Perbedaan usia kami yang cukup jauh, sehingga jika aku menikah dengannya, mungkin akan terlihat seperti anaknya.
‘Shit! Gue mikir apa, sih? Nikah, nikah! Udah gila, kah?’ batinku yang sudah mulai berpikir melantur.
Tadi dia bilang apa? Hadiah?
“Drrtt....” Handphone-ku bergetar. Aku mengambil handphone-ku dengan segera, dan melihat siapa yang mengirim pesan singkat itu.
Morgan nampak mencoba melihat ke arah handphone-ku. Sepertinya, dia penasaran dengan orang yang mengirim pesan padaku.
“Mundur, kek!”
Aku menyuruhnya mundur, karena merasa terusik dengan tubuhnya yang menghalangi kebebasanku bergerak. Aku kembali mengalihkan fokusku pada layar handphone. Di sana, tertera nama Fla.
“Kalo udah ketemu kakak gue, jangan lupa ucapin happy birthday! Dia udah gak muda lho! Udah 28 tahun. Hihih. Jangan bilang kalo gue kasih tau umur dia yaa.” Isi pesan singkat dari Fla, membuatku menelan salivaku, sembari menaruh handphone kembali ke dalam tas kecil yang aku pakai.
Jarak tubuhnya, dengan tubuhku, masih berada 5-cm di hadapanku, membuatku semakin mati gaya saja.
Ia kembali menatapku dalam.
‘Mampus! Telat ngasih taunya! Gue gak tau kalo dia ultah sekarang!’ batinku mengaduh.
Apa yang harus aku katakan? Untuk menelepon atau mengirim pesan singkat meminta tolong kepada Fla, agar dia membelikanku hadiah ulang tahun, pun sudah tidak mungkin. Aku sudah tidak bisa berkutik sekarang. Apa yang harus aku lakukan?