
"Arghhhhh! Harusnya Gue nggak terima telepon dari Hatake tadi!" Aku sangat kesal. Seharusnya, Aku lebih dulu menghubungi Morgan. Kalau ku tahu Dia sejak tadi sudah berada di depan rumah ku, pasti Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini.
"Duh Kakak mana lagi!" Lirih ku, kemudian melirik ke arah jam tangan ku. Sudah hampir pukul 12 malam, tapi belum ada tanda-tanda Kakak untuk pulang.
Tiba-tiba saja sebuah mobil datang dan berhenti tepat di depan pagar rumah ku. Tanpa berpikir panjang, Aku segera menuju pagar untuk membukakannya.
Aku membuka pagar kemudian mobil itu segera masuk ke dalam garasi rumah ku. Masih belum terlihat jelas siapa yang ada di dalamnya karena ada beberapa orang yang Aku lihat dari luar kaca jendelanya.
Muncul seseorang yang yang menghampiri keberadaan ku, yang Aku ketahui, Dia adalah Manager Kakak.
"Selamat malam, Arasha." Sapanya. Aku mendadak khawatir dengan kondisi Kakak. Kenapa yang datang hanya manajernya saja?
"Lho, kok yang datang cuman Kakak Manager aja? Kak Arash mana?" Tanya ku yang mulai khawatir dengan keadaan Kakak.
"Tadi kami nggak sengaja minum terlalu banyak. Jadi Arash mabuk berat. Sekarang Dia ada di mobil. Saya hanya mengantarkan Arash pulang." Jelasnya. Aku mendadak menjadi heran.
"Lho kalau Kak Manajer bilang, kalian tadi mabuk, kenapa cuman Kak Arash aja yang teler? Kenapa Kakak manager juga nggak ikut teler?" Tanya ku dengan nada pembidik. Ia hanya melontarkan senyum ke arah ku.
"Kalau Saya juga ikut mabuk, nanti siapa yang mengantar Kami pulang?" Pertanyaannya menjebak diri ku. Aku tidak bisa menjawab apapun.
"Ya udah, tolong bawa Kakak ke kamarnya ya." Pinta ku. Dia kembali tersenyum pada ku.
"Baik, Arasha." Ucapnya. Kemudian Ia kembali ke dalam mobilnya untuk merangkul Kakak bersama dengan Asisten Kakak. Mereka menghampiri ku secara perlahan. Melihat Kakak yang sedang di gotong seperti itu, Aku menjadi sedikit Iba dengan Kakak. Apakah mungkin ada masalah yang serius sampai Kakak mabuk berat seperti ini?
"Kamarnya ke arah mana?" Tanya Kakak Manager itu.
"Sebelah sini." Aku mulai mengantarkan mereka yang sedang menggotong Kakak untuk menuju kamar Kakak. Sesampainya di kamar, mereka merebahkan badan Kakak di atas ranjang.
"Ahh.." Lirih Kakak Asisten itu, sesaat setelah berhasil membaringkan tubuh Kakak di atas ranjang. Suasana nampak rancu sekarang.
"Kalian menginap saja di sini. di rumah ini tidak ada Laki-laki selain Kakak ku. Aku bingung kalau sampai nanti Kakak kenapa-napa." Lirih ku tak enak pada mereka berdua. Tapi kalau tidak seperti itu, Aku bingung harus meminta pertolongan kepada siapa jika nanti terjadi sesuatu pada Kakak ku?
"Ya baiklah. Berhubung besok adalah hari weekend, jadi tidak masalah jika menginap semalam di sini." Jawab Kakak Manager itu teriring dengan senyumannya.
"Ya.. Boleh deh. Lagian juga ini sudah terlalu malam." Jawab Kakak Asisten itu menyetujui permintaan ku. Aku tersenyum ke arah mereka berdua.
"Ya sudah, Kami mau ngurusin Arash dulu untuk ganti baju." Ucap Kakak Manager itu tiba-tiba. Aku menangkap sinyal yang seperti menyuruh ku untuk keluar dari ruangan ini.
"Oke, Kak. Aku tunggu di ruang makan ya. Aku juga sekalian mau nyiapin makanan." Pamit ku. Mereka berdua mengangguk setuju. Kemudian Aku langsung meninggalkan ruangan ini dan menuju ruang makan untuk sekedar memasakkan makanan cepat saji untuk mereka yang sudah menolong Kakak. Anggap saja ini sebagai permintaan terima kasih ku pada mereka.
"Dringggg.." Handphone ku tiba-tiba saja berdering, saat Aku sedang asyik memasak. Aku melirik ke arah layar handphone untuk melihat siapa yang malam-malam menelepon.
"Fla nelepon, kenapa ya?" Lirih ku heran, kemudian segera mematikan kompor dan mengangkat telepon dari Fla.
"Halo, Fla." Sapa ku.
"Halo, Ra. Tadi Loe nelpon Gue? Ada apa?" Tanyanya Aku seketika teringat Morgan.
"Oh ya Fla. Tadi Gue mau nanyain Morgan. Apa sekarang Morgan udah sampai rumah? Soalnya Gue nelpon gak diangkat sama Dia. Mungkin tadi Dia lagi di jalan."
"Oh ya Kak Morgan baru aja datang kok, Ra."
-MORGAN MAIN-
Aku menuju kamar Fla untuk meminta bantuan padanya. langkahku terhenti bahkan saat aku ingin mengetuk pintu kamarnya.
"Oh ya Kak Morgan baru aja datang kok, Ra." Ucap Fla yang mebuat Aku sedikit kesal. Kenapa Ia memberitahukan keberadaan ku pada Ara?
Aku menunggu di luar kamar Fla. Aku tidak ingin Fla mengetahui kalau Aku mendengar percakapan mereka berdua. Aku tidak ingin berbicara dengan Ara untuk saat ini.
"Oh syukur deh kalau udah dateng." Suara Ara terdengar sangat Lirih.
"Ra.. Saya udah selesai nih." Terdengar samar suara Laki-laki yang tidak ku kenali. Hati ku langsung bergejolak sesaat setelah mendengarnya. Sudah selesai katanya? Memangnya Dia sudah melakukan apa? Kenapa malam-malam seperti ini, Dia ada di rumah Ara? Apakah itu Arash? Ah, tidak mungkin Arash berbicara formal seperti itu. dan lagi pula Aku mengetahui betul suara Arash seperti apa. Apalagi beberapa menit lalu, Aku melihat postingan di akun sosial media Arash yang sedang berada di sebuah diskotik. Dengan kata lain, pasti Arash saat ini tidak ada di rumah.
"Oh ya sebentar, Aku lagi telfon temen."
"Yaudah Fla, Aku lanjut masak dulu ya. Makasih infonya Fla."
Apa katanya? Ia memasak untuk Laki-laki itu? Apa aku tidak salah dengar? Kalau sudah seperti ini, Aku harus kembali ke rumah Ara. Aku tidak mau sampai Laki-laki itu menyentuhnya sedikit pun. Aku kembali menuju posisi Dicky yang sedang menunggu di ruang tamu. dtengan cepat, Aku menyambar dan memakai jaket yang Ara berikan pada ku waktu itu.
"Mau ke mana Loe? Kok buru-buru amat sih?" Tanya Dicky. Aku tak memperdulikannya dan langsung berlari menuju ke arah mobil ku. Aku segera masuk ke dalamnya dan memakai sabuk pengaman ku. Ternyata Dicky juga berlari dan mengikuti ku. Saat ini, Ia berada di sebelah ku. Aku langsung mengeluarkan mobil ku dari garasi dan segera melajukan nya dengan kecepatan tinggi.
"Gan Loe mau ke mana? Apa yang barusan terjadi?" Tanyanya Dicky. Aku berusaha menahan amarah ku.
"Ada Laki-laki di rumah Ara!" Gumam ku datar. Dicky terlihat memasang tampang tak paham.
"Hah Laki-laki yang Loe maksud ada di rumah siapa? Kakaknya?" Aku menjadi tambah kesal karena mendengar pertanyaan Dicky yang asal menebak.
"Udah deh, jangan bikin Saya tambah panas!" Bentak ku membuat Dicky terdiam.
"Udah dikunci!" Ucap Dicky yang berusaha membuka pagar rumah Ara. Namun ternyata pagarnya sudah dikunci oleh Ara. Langsung saja Aku mengeluarkan kunci cadangan yang Aku punya. Aku diam-diam membuat kunci cadangan ini. Saat teman-temannya Ara menginap di rumahnya waktu itu, Aku juga masuk ke rumah Ara menggunakan kunci ini.
"Ckleeekkk.." Akhirnya Aku berhasil membuka pagar rumah Ara dan segera memasuki rumah Ara.
-ARA MAIN-
"Lho, Kakak Asisten mana?" Tanya ku yang bingung. Aku yang sudah selesai memasak langsung menaruh masakan di atas meja makan. Aku duduk berhadapan dengan Kakak Manajer itu.
"Oh, Rangga sudah tidur di kamar Kakak mu tadi. Sepertinya, Dia kecapean." Jawabnya. Aku hanya ber-oh-ria.
"Oh jadi Kakak Asisten itu namanya Rangga?" Tanya ku. Ia mengangguk kecil.
"Terus, nama Kakak Manager siapa?" Tanya ku lagi. Ia tersenyum hangat pada ku. Aku menyadari bahwa senyumnya cukup manis.
"Nama Saya Ilham." Ucapnya dengan singkat. Aku memberikannya senyum. Selama ini Aku hanya mengetahui dirinya. Tapi Aku tidak mengtahui namanya. Aku hanya tahu posisi dirinya saja di kantor Kakak. Ia tiba-tiba saja memperhatikan wajah ku. Aku mendadak salting.
"Lho, kenapa Kak?" Tanya ku yang bingung.
"Sorry, Ra. Bisa diam sebentar nggak? Sepertinya ada sesuatu di kening Kamu." Ucapnya. Aku khawatir dengan sesuatu yang Ia lihat.
"Ih.. Ada apa Kak?" Panik ku. Ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah ku dan tangannya mulai menyentuh pipi ku.
"Tunggu sebentar ya, Ra. Diam dan jangan gerak!" Ucapnya memberi komando. Aku tidak merespon ucapannya karena sudah terlalu takut dengan yang Ia lihat. Padahal, Aku tidak tahu apa yang Ia maksud.
"Bajingan!!" Seseorang berteriak dari belakang Ilham. Aku melihat siapa yang yang sedang berbuat ulah malam-malam seperti ini. Ia menarik Ilham sampai jatuh ke lantai. Terlihat Morgan yang sangat kesal. Wajahnya terlihat merah padam. Ia pun menindih Ilham dengan cepat. Aku menutup mulut ku dengan kedua tangan ku. Kenapa Morgan bisa ada di sini? dan kenapa Ia tiba-tiba saja menyerang Ilham seperti itu?
"Apa-apaan nih?" Tanya Ilham seperti hendak melawan Morgan.
"Bukkk.. Bukkk.." Morgan menghajar Ilham habis-habisan. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku khawatir dengan keselamatan Ilham. Tapi Aku takut dengan kondisi Morgan yang emosinya sedang meluap-luap.
"Bajingan! Seenaknya berbuat mesum sama Cewek orang!!" Teriak Morgan yang lalu melanjutkan menghajar Ilham habis-habisan. Aku sangat kaget dengan pernyataan yang ucapkan Morgan barusan. Apa katanya? Berbuat mesum dengan siapa?
"Siapa yang berbuat mesum sama Cewek Loe? Gak ada!" Jawab Ilham dengan nada yang sudah sangat terpepet dengan Morgan yang terus-menerus menghajarnya.
"Gan, cukup Gan!" Bentak ku.
"Diam Kamu!!" Spontan Ia langsung membentak ku. Terlihat matanya yang sangat merah dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Deggg.."
Hati ku terasa kacau saat Dia membentak ku seperti itu tadi. Tubuh ku bergetar, Aku tidak mampu lagi untuk berjalan ke arahnya bahkan untuk berdiri saja Aku sudah tidak mampu. Ia kembali menoleh ke arah Ilham yang sudah hampir tak sadarkan diri. Ia kembali menghajar Ilham dengan cara membabi buta.
"Brukkkk.." Aku sudah tidak mampu untuk berdiri lagi. Tubuh ku sudah lemas tak berdaya melihat Ilham yang terbaring lemah karena dihajar habis-habisan oleh Morgan.
"Berhenti, Gan. Gue mohon." Lirih ku yang bahkan sudah tidak mampu untuk berbicara lagi. Rasa takut ku membuat ku tanpa sadar menangis. Aku tidak tahu menangis karena Ilham atau karena sikap kasar Morgan terhadap ku.
"Gan udah cukup.." Dicky berusaha melerai Ilham dan Morgan. Dicky menarik paksa tubuh Morgan, namun tidak semudah itu Morgan melepaskan mangsanya.
"Lepasin Gue!!" Teriak Morgan.
"Braaakkk.." Dicky terpental beberapa meter ke belakang. Aku tidak bisa berbuat apapun lagi. Aku hanya bisa menonton tragedi yang sebenarnya hanyalah salah paham belaka. Dicky berusaha kembali melerai Morgan. Kali ini mungkin Dicky menyiapkan tenaga lebih dari pada yang tadi. Ia kemudian berhasil memisahkan Morgan dari Ilham.
"Udah Gan cukup! Loe udah keterlaluan!" Bentak Dicky sembari tetap memegangi kedua lengan Morgan.
-MORGAN MAIN-
Tangan ku kini sudah terbelenggu oleh Dicky. Aku sudah menggunakan banyak tenaga ku tadi, sehingga Aku tidak bisa melepaskan tangan ku dari cengkraman Dicky.
"Dia yang udah keterlaluan! Seenaknya berbuat mesum sama Cewek orang!" Emosi ku sudah tidak bisa tertahan lagi. Apa yang Aku lihat barusan sudah cukup jelas bagi ku.
"Loe belum tahu kejelasannya, Gan. Enggak usah menangin emosi Loe! Gue tau jiwa Loe lagi terusik sekarang." Ucapnya. Aku tidak bisa mencerna perkataannya. Apa yang Aku dengar barusan hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan.
"Gak usah sok nasehatin Gue! Apa yang Gue lihat sekarang sudah cukup jelas dan nggak ada yang perlu dibicarakan lagi." Tepis ku kesal. Ternyata Pria ini sudah tidak bergerak lagi dan Ara saat ini sudah menangis dan tertunduk lemas. Tapi itu belum cukup untuk membuat emosi ku reda.
"Ini nggak seperti yang Loe bayangin Gan." gumam Ara lirih sembari menunduk. Semakin Ia mengatakan sesuatu untuk menyangkal keadaan, semakin juga menambah kekesalan dan emosi ku.
"Gue nggak butuh alasan apapun." Tegas ku padanya. Ia semakin menangis dengan kencang. Tapi Aku tidak memperdulikannya kali ini.
"Udah! Ayo kita pulang!" Dicky berusaha menyeret ku keluar dari rumah ini. Tapi Aku dengan sisa tenaga yang ku punya, berusaha untuk melawannya.
"Nggak, tunggu Dik!" Ucap ku. Dicky menghentikannya. Aku menatap tajam ke arah Ara. Aku menghampiri Ara dan bersimpuh di hadapannya.
"Arasha.." Pekik ku yang berusaha sekuat mungkin untuk menahan perasaan kesal ku. Jangan sampai, Aku menyentuh Ara sedikit pun dan membuatnya takut apa lagi sampai Ia trauma. Aku menghela nafas panjang dan berusaha mempersiapkan diri untuk mengatakannya.
"Kita putus saja." Sambung ku. Ara spontan melihat ke arah ku dengan tatapan seperti tidak percaya. Keheningan terjadi sesaat setelah Aku mengucapkan kata berpisah padanya. Air matanya terus-menerus keluar. Tapi Ia hanya memandang ku saja, tidak bisa berkata apa pun.
"Jangan pernah Kamu temui Saya lagi." Tambah ku kemudian segera bangkit dan meninggalkan mereka di sana.