Dosen Idiot

Dosen Idiot
Plester Keramat


     Ia melontarkan senyuman, yang terlihat palsu, ke arahku.


    'Senyumnya aja fake gitu!' Batinku, merasa sangat gondok padanya.


    “Wah ganteng....” Lirih kasir tersebut, yang sepertinya tidak sadar, sambil tersenyum ke arah Morgan.


    Aku merasa kesal dengan ucapan kasir itu.


 'Apa katanya? ganteng?' batinku, masih tidak terima dengan pernyataannya.


    “Woy, ah, Mbak! Gak usah sok gatel deh, yaa!” Bentakku kesal, kemudian meletakkan uang pecahan 100 ribu,


sebanyak 2 lembar.


    Aku dengan cepat mengambil belanjaan yang kubeli tadi, lalu bergegas pergi meninggalkan mereka.


MORGAN


    “Maaf, ya, Mbak. Dia memang begitu,” gumamku yang merasa tak enak padanya, “orangnya cemburuan banget.” Sambungku sembari tersenyum manis pada kasir itu.


    “Wah, seru banget dong pasti yah, dicemburuin setiap saat sama pacar tercinta.” Ucapnya yang terdengar seperti sedang meledekku.


    Aku hanya bisa tersenyum, lalu memberikan barang-barang yang aku ambil tadi, untuk segera di bayar.


ARASHA


    Aku tidak perduli dengan ucapannya. Aku bergegas pulang untuk memberikan pesanan yang kakakku minta.


    Apa mungkin karena jarak yang lumayan jauh, dan aku yang selalu menarik urat, aku merasa diriku sangat lelah kali ini?


    Sampai akhirnya, aku melewati rumah Bisma lagi. Aku memandang gang kecil tempat kami memulai hubungan.


    Ah.


    Aku masih tidak percaya.


    Walaupun terkesan agak aneh, tapi kenyataannya tadi Bisma menyatakan cintanya padaku.


    Manis sekali.


    'Bis, ga nyangka gue bisa pacaran sama loe.' Batinku yang tak sadar tersenyum dan juga melupakan kejadian yang terjadi di mini market tadi.


    Tanpa sadar, aku hanya diam mematung di depan jalanan rumah bisma.


    “Tiinn....”


    Aku terkejut bukan main, karena mendengar suara klakson mobil yang mendadak. Sepertinya, gendang telingaku


pecah karenanya.


    Aku langsung melihat ke belakang. Di sana, ada mobil berwarna hitam dengan cup terbuka. Terlihat jelas di dalamnya, ada seseorang yang aku tahu jelas itu siapa.


    “Morgan?” Pekikku tak percaya.


    “Deg....”


    Kenapa tiba-tiba jantungku berdegup sangat kencang? Kenapa berpengaruh sekali damage-nya di dalam hatiku.


    'Dia sebenarnya lumayan, sih.' Batinku, sembari melihat ke arahnya yang sedang memakai kacamata hitam itu.


    Aku sejenak berpikir kembali.


    'Tapi idiot! Malem-malem kok pake kacamata hitam!' Batinku yang baru sadar dengan kejanggalan itu.


    Aku tidak jadi terbuai oleh ketampanannya, karena melihat penampilan dirinya bak orang yang idiot.


    “Mau bareng?” tanyanya.


    Aku mengerenyitkan keningku, lalu membuang padanganku darinya.


    “Sorry, gue lebih baik jalan kaki!” Tolakku mentah-mentah.


    Ia melontarkan senyum padaku.


    “Oke, saya gak akan maksa kamu, kok.” Ucapnya singkat, kemudian mengemudikan mobilnya dengan cepat, dan bergerak mendahuluiku.


    Ada perasaan kesal terhadapnya, ada juga perasaan suka karena ketampanannya itu, yang membuatku meleleh.


Andai dia bisa bersikap lebih normal.


    “Haaaaa udah, gausah ngebayangin yang enggak-enggak. Gue udah punya Bisma.” Kesalku, kemudian bergegas untuk kembali ke rumah.


    Aku tahu, kakak pasti sudah lama menunggu.


    Aku berjalan gontai, sembari membawa belanjaanku yang cukup berat. Sesampainya di rumah, aku melihat mobil


yang tak asing bagiku.


    Seperti pernah melihatnya.


    “Eh... kayaknya pernah liat?” lirihku, sembari berpikir.


    “Udahlah.” Ucapku, mengindahkan.


    Dengan santainya, aku masuk ke dalam rumah. Aku melewati kakak, yang sedang bercengkrama dengan seseorang, tapi aku tak menghiraukannya.


    “Eh, Ra, lama banget? Kakak nunggu lho...” pekik kakak, membuatku menoleh ke arahnya.


    “WHAT?” pekikku kaget.


    Terlihat Morgan yang sedang duduk duduk di hadapan kakak, sembari melontarkan senyumannya. Aku sangat


terkejut dengan kehadirannya.


    Mau apa dia disini?


    “Why? Kamu kenal sama dia?” tanya kakak, membuatku sangat malu untuk mengakuinya.


    “Gak tuh!” Bantahku sinis.


    “Hmmpp!”


    Aku pergi menuju dapur.


    “Ra, tolong siapin minuman, ya.” Terdengar pelan suara kakak, yang memintaku untuk menyiapkan minuman,


untuk tamunya yang terhormat itu.


    “Duh... benci banget gue jadinya!” Lirihku kesal, sembari menuangkan minuman bersoda ke dalam gelas yang


berisi es.


    Aku bergegas untuk mengantarkan minuman kepada kakak dan orang yang menyebalkan itu. Langkahku terhenti, karena aku mendengar percakapan kakak dengan Morgan, yang sepertinya sangat menarik.


    Aku sangat aku ingin mendengarnya.


    Akhirnya, aku memutuskan untuk mendengarkan secara diam-diam pembicaraan mereka.


    “Itu tangan loe, kenapa?” tanya kakak, sembari menunjuk ke arah tangan Morgan yang masih terbalut plester.


    Aku tidak menyangka, ia masih mengenakan plester itu.


    “Oh, ini? Gak sengaja kena kaca tadi.” jawab Morgan.


    Aku benci sekali mendengar ucapan bodoh Morgan.


    'Jelas-jelas karena nonjok tembok! Gue heran, kenapa tuh orang hobi banget boong si?' batinku merasakan gejolak amarah itu timbul kembali.


    Aku memperhatikan kembali Morgan yang masih mengelus tangan kanannya.


    Oh, bukan.


    Mengelus plesternya.


    Aku merasa jantungku berdegup kencang. Tapi, aku berusaha untuk menenangkan diriku.


    'kenapa sih? Itu kan... cuma plester!' Batinku, merasa tertekan.


    “Hati-hati dong, Gan.” Ucap kakak, yang membuatku hampir ingin muntah mendengarnya.


    Bisa-bisanya kakak memperhatikan orang lain seperti itu.


    “Gak apa-apa kok, Rash.”


    “Oh ya, ngomong-ngomong, gimana hubungan loe sama dia? Udah berjalan sampai mana?” tanya kakak.


    Nampaknya, Morgan mulai malu.


    Kenapa aku jadi merasa sakit, setelah mendengar ucapan kakak?


    Aku baru mengetahui kalau Morgan sudah mempunyai wanita yang ia cintai. Tapi anehnya, mengapa dia selalu bersikap seolah-olah aku adalah orang yang paling dia cintai?


    'Dasar Morgan buaya!' Batinku yang tak terima kalau Morgan berusaha mendapatkan hati kedua orang secara


langsung.


    “Masih pendekatan. belum ada yang berubah di antara kita.”


    “Oke... gua harap sih, bisa secepatnya ke jenjang selanjutnya yang lebih serius lagi.”


    “Santai, dia juga masih kuliah, kok.” Jawab Morgan, seraya tertawa kecil.


    Ternyata, wanitanya sebaya denganku.


    “Kali ini, perjodohannya gak boleh sampai gagal, ya. Gua berharap sih, loe bisa secepatnya nakhlukin hati dia. Gua juga berharap, loe bisa jagain dia sama seperti gua ngejaga dia.” Ucap kakak panjang lebar.


    Aku tersenyum jahil.


    “Jadi orang yang mau dijodohin sama Morgan itu, masalalunya kakak? Wah.. seru sih.” Lirihku sembari tertawa kecil.


    Akan ada senjata yang bisa kupakai, kalau nanti kakak mengancamku ini dan itu.


    “Btw, minuman ga sampe-sampe yaa?” tanya kakak pada Morgan yang pikirnya nampak sudah kehausan.


    Aku terkejut, kemudian bergegas untuk mengantarkannya. Aku menaruh 2 gelas minuman di hadapan mereka. Morgan menatapku dengan tatapan dingin. Aku tidak peduli dengan pandangannya terhadapku.


    Aku tidak pernah mau memandangnya.


    Aku hanya memandang kakak saja.


    “Sini, Ra, duduk.” Pinta kakak, dengan lembut.


     Aku membelalak ke arahnya.


    “Gak usah, Ara berdiri aja.” Tolakku ketus, tapi kakak hanya menggeleng saja.


    “Kenalin, Ra, ini temen kakak. Namanya Morgan.” Ucap kakak.


    Aku menatap Morgan sekali.


    “Sepertinya, kita sudah pernah bertemu....” Ucap Morgan, dengan nada yang seakan-akan tidak pernah mengenaliku.


    Baguslah, jadi aku tidak perlu repot bermain drama dengan kakakku.