
"Jangan pernah Kamu temui Saya lagi." Tambah ku kemudian segera bangkit dan meninggalkan mereka di sana. Hidup ku sudah hancur sekarang. Aku mungkin tidak akan pernah bisa bertemu dengan Ara kembali. Tapi, ini lebih baik untuk lebih mempercepat proses penyembuhan hati ku karena lukanya yang sudah terlalu dalam. Sama seperti saat Aku melihat Meygumi sedang melakukan hal itu dengan Laki-laki lain. dan sekarang, ini terjadi pada Ara.
-ARA MAIN-
Morgan meninggalkan ku dengan mudahnya. Aku sudah sangat kacau saat ini. Tidak ada lagi yang bisa Aku lakukan selain menangis. Tangis ku pecah histeris sesaat setelah Morgan meninggalkan ruangan ini. Seseorang datang kemudian memeluk ku dengan erat. Aku sudah tidak bisa melakukan apapun lagi. Hanya bisa menerima pelukan hangat dari orang ini.
"Kamu boleh menangis jika Kamu mau." Ucapnya yang Aku ketahui, itu adalah suara Dicky. Selaku Dosen Psikolog dan juga teman dari mantan pacar ku. Aku memeluknya erat sampai tidak mau melepaskannya. Aku menangis di dalam pelukannya. Aku sudah kehilangan semuanya! Aku sudah kehilangan kehormatan ku, kehilangan cinta dan juga kehilangan dirinya yang sudah merebut semua itu dari ku. Hidup ku seketika menjadi hampa. Dicky selalu mengusap air mata yang keluar. Aku merasa sudah gagal menjadi seorang wanita yang berkelas.
"Mana janji yang katanya nggak mau ninggalin Gue?" Teriak ku histeris. Ia mengelus rambut ku sambil sesekali menciumnya. Aku merasa sudah sangat hancur, tak tahu lagi harus berbuat apa.
"Saya akan dengerin Kamu cerita jika Kamu bersedia. Temui Saya besok di kafe dekat kampus jam 11 siang." Lirih Dicky. Aku mengangguk pasrah.
"Saya harus kembali. Sampai bertemu besok." Ia berpamitan pada ku. Aku melepaskan diri dari pelukannya.
"Tapi sebelumnya, Saya harus beresin dulu kekacauan ini." Lirih Dicky. Ia langsung menggendong Ilham dan membaringkannya di atas sofa.
"Sampai jumpa." Lirihnya. Aku mengangguk kecil ke arahnya.
Aku tak menyangka, kejadian ini bisa sampai membuat hubungan ku dan Morgan menjadi berantakan. Mungkin dari sudut pandang Morgan, terlihat sudut pandang yang salah karena Ilham yang membelakanginya, membuat wajah ku tertutup dengan kepala Ilham.
Aku melangkah menuju kamar ku. Aku merebahkan tubuh ku dan menarik selimut. Hidup ku sudah sangat hancur saat ini. Dia sudah mengambil semuanya dan sekarang Ia pergi dengan mudahnya. Aku tak sanggup menahan air mata ku. Seketika tetesan demi tetesan pun keluar dan membanjiri pipi ku. Aku bahkan tidak berani melihat diri ku di cermin sekarang. Pasti lebih mirip dengan zombie.
Aku memeluk guling yang sedang ku pegang. Rasanya tidak lebih nyaman dari pelukan Morgan. Kenapa semua terjadi? Kenapa semua berlalu begitu cepat? disaat Aku sudah mulai menerima Morgan di hati ku, tapi kejadian tak terduga ini malah datang dan menghancurkan semuanya. Andai tadi Aku tidak menyuruh Ilham untuk menginap di sini. Andai Morgan tidak datang. Andai saja semuanya tidak terjadi.
Aku sudah menghabiskan waktu ku dengan sia-sia. Ternyata, Aku jatuh cinta pada orang yang salah. Seharusnya Aku tidak bertindak gegabah dan tidak menerima Morgan secepat ini. Semua yang Morgan lakukan sudah cukup membuat diri ku menjadi gila. Seketika guling yang ku peluk menjadi basah karena air mata ku. Tak pernah terfikir rasanya kehilangan untuk yang kedua kalinya. Kini, ku rasakan kembali.
*
-MORGAN MAIN-
Aku menyetir dengan keadaan marah. Emosi ku sisa kejadian tadi masih membekas. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Ingin sekali Aku melampiaskan semua ini. Tidak peduli Dicky berkata apa.
"Lho, Gan. Rumah Loe ke arah sana kan? Kenapa belok ke arah sini?" Tanya Dicky. Benar saja, Dia pasti akan terus melalukan sesuatu untuk menghentikan ku. Aku tidak menghiraukannya dan malah menambah laju kecepatan mobil ku.
"Gan pelan-pelan!" Ucapnya sedikit berteriak. Hati ku terlalu keras sampai Aku tidak ingin mendengar kata apapun dari Dicky. Aku semakin membawa laju mobil ku.
"Gan, awas!!" Dicky berteriak kencang sekali. Aku langsung menoleh ke arah depan dan melihat ada seseorang yang sedang menyebrang jalan. Dengan cepat, Aku langsung membanting stir ke arah kiri dan menginjak rem dengan keras.
"Ngiiiiiiiiiikkkkk.."
"Braaaakkk..."
Aku menabrak pohon tak jauh dari tempat ku menginjak rem. Kepala ku terbentur dengan stir yang ada di hadapan ku. Aku merasa benturan ini cukup membuat kepala ku sakit. Aku memegang kepala ku dan tak sengaja memegang sesuatu yang kental. Aku yang penasaran pun langsung menyentuh kemudian melihatnya.
"Hahhh.." aku terkejut karena yang ada di tanganku saat ini adalah darah yang keluar dari pelipis kananku. pantas saja aku merasa sakit yang lumayan di bagian pelipis. aku teringat sesuatu!!
Aku menoleh ke arah Dicky yang terlihat lemah dengan darah yang keluar dari hidungnya. Sepertinya benturan keras itu terlalu berefek padanya. Syukurlah, Dicky masih sadar.
"Dik, Loe nggak papa?" Tanya.ku yang merasa khawatir padanya.
"Uhuuukkk.. Uhuuukkk.." Dicky terus-menerus batuk hingga lagi-lagi mengeluarkan banyak darah dari hidungnya. Aku tak kuasa melihatnya.
'Gimana ini, sepertinya masalahnya serius!' Batin ku yang mulai menyesal dengan perbuatan ku. Aku terlalu termakan dengan emosi ku sehingga larut dengan keadaan. Aku sampai tidak berfikir dengan jernih sehingga membuat Kami berdua terluka seperti ini.
"Saya harus menghubungi siapa?" Lirih ku. Aku berusaha menggerakkan tangan ku tapi ternyata, benturan itu cukup membuat tangan ku tidak bisa bergerak.
"Saya harus hubungin Ara biar Dia tidak khawatir." Lirih ku yang berusaha mengambil handphone ku yang terjatuh akibat terkena benturan tadi. Aku berhenti karena teringat sesuatu. Aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Ara. Aku sudah mengakhirinya dan tidak penting baginya untuk tahu keadaan ku saat ini. Aku mau mengepal erat tangan ku yang tadinya ingin mengambil handphone.
"Dicky, kamu nggak papa?" Tanya ku sekali lagi untuk memastikan keadaan Dicky benar-benar saja.
"Iya, Gue nggak papa, Gan. Tapi sepertinya Loe harus antar Gue ke rumah sakit atau ke klinik sekarang. Pandangan Gue agak kabur." Jawabnya. Aku merasa sudah mengabaikan keselamatan dirinya. Aku terlalu gegabah dan bertindak seenaknya. Aku tidak akan memberitahu Dicky tentang kondisi ku saat ini yang tidak bisa menggerakkan tangan ku.
"Oke, kita ke klinik sekarang. Bertahan ya Dik." Ucap ku menyetujui permintaannya. Sekuat tenaga Aku menggerakkan tangan ku dan mencoba untuk menyetir mobil ku kembali. Ada sedikit keraguan dan rasa trauma untuk mengendarai mobil. Tapi untuk saat ini, itu tidak boleh menghalangi ku untuk membawa Dicky ke rumah sakit. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa. Karena selain Dicky, teman dekat ku yang lain hanya ada Arash.
Aku berusaha mengembalikan mobil ke jalan raya dan melajukan mobil dengan kecepatan standar. Akhirnya Aku bisa kembali menggerakkan tangan ku walau harus dipaksa sedemikian rupa. Aku bergerak menuju klinik atau rumah sakit terdekat.
*
"Kita putus saja." Kata-kata itu selalu terngiang di benak ku. Sampai rasanya kepala ku ingin pecah. Aku sangat kesal dengan diri ku saat ini.
"Jangan pernah Kamu temui Saya lagi." Seketika, Aku melihat Morgan yang ada di hadapan ku dengan tatapan yang menyorot ke arah ku. Ia melangkah pergi setelah mengatakan hal itu. Perlahan Ia menghilang pergi entah kemana. Aku seperti berada di ruangan yang sangat luas dan hanya sendirian. Batin ku terasa sangat sakit ketika perkataan Morgan selalu terngiang pikiran ku. Aku meremas keras rambut ku dan Aku merasa ingin sekali Aku berteriak, namun seperti ada sesuatu yang menahan ku agar Aku tidak bisa mengeluarkan seluruh isi hati ku. Semuanya tertahan dan perlahan membuat kepala ku semakin sakit.
"Awwwssss..." Aku menunduk dan memegangi kepala ku. Cahaya itu pun hilang berganti menjadi kegelapan. Aku yang penasaran langsung melihat keadaan sekitar ku. di saat Aku hendak menyeberang jalan, terlihat sebuah mobil yang tak asing bagi ku. Sorot lampunya membuat mata ku sangat silau. Tapi Aku masih bisa melihat orang-orang itu di dalamnya. di sana ada Dicky dan juga Morgan yang sedang mengemudikan mobil dengan sangat kencang. Aku merasa takut karena mobil itu dengan cepat bergerak ke arah ku. Aku terkejut, tapi Aku tidak bisa melangkahkan kaki ku. Seperti sedang membawa beban yang banyak di kaki ku. Morgan terlihat menoleh ke arah ku dengan tatapan seperti orang yang sangat terkejut. Aku pun terkejut karena mobil itu semakin lama semakin mendekat ke arah ku.
"Ahhhhhh..."
"Ngiiiiiiiiiikkkkk.."
"Brukkkk.."
"MORGAN!!!!!" Aku bangkit dari tempat tidur ku, membuat nafas ku menjadi sangat pendek. Aku berusaha mencerna apa yang barusan terjadi. Aku menoleh ke sekeliling ku untuk mencari keberadaan Morgan dan juga Dicky. Tapi dilihat dari keadaan sekitar, sepertinya Aku hanya mimpi. Aku berusaha menenangkan diri ku sendiri agar sesuatu yang buruk tidak terjadi dan semakin merusak akal sehat ku.
"Ra, Kamu udah bangun." Pekik seseorang yang kutahu adalah Ilham.
"Tap.. Tap.. Tap.."
"Hug.."
Aku berlari dengan sangat cepat ke arah Ilham kemudian dengan segera, Aku memeluknya dengan erat. Aku tak bisa menahan diri ku lagi. Aku benar-benar sudah depresi sekarang. Bahkan, Aku sampai melihat Morgan dan Dicky kecelakaan seperti itu dalam mimpi ku. Keadaan itu terasa sangat nyata bagi ku. Apa Morgan baik-baik saja?
Aku menangis sesegukan di dalam pelukan Ilham saat ini. Pelukannya adalah pelukan ternyaman bagi ku saat ini. Aku tidak ingin melepaskan pelukannya itu. Hanya Dia yang bisa membantu ku dengan cara memberikan ku support.
"Jangan khawatir, Ra. Saya baik-baik aja kok." Ucapnya dengan nada lembut. Aku baru sadar, semalam Ilham dihajar habis-habisan dengan Morgan. Mungkin Ilham berfikir, Aku telah menghawatirkan dirinya. Padahal saat ini Aku justru sedang menghawatirkan diri ku sendiri. Tapi Ilham malah salah tangkap seperti ini.
Aku meregangkan pelukan ku padanya. Terlihat wajahnya yang sangat memprihatinkan. Aku sampai tak tega melihatnya.
"Kak Ilham beneran nggak apa-apa? Kayaknya Kak Ilham butuh diobatin deh." Ucap ku dengan nada tak tega. Dia masih saja tersenyum manis pada ku dengan kondisi yang sudah separah ini.
"Sebenarnya, memang agak sakit sih." Lirihnya. Aku tersadar dan menangkap sinyal darinya. itu tandanya, Dia memang ingin mendapatkan perhatian ku bukan? Dia pasti ingin Aku bertanggungjawab dengan semua ini.
"Ya udah, ayo kita ke rumah sakit." Ucap ku. Ia semakin menambah senyumannya itu. Sepertinya ada yang aneh dari gelagat Manajer ini.
"Kenapa malah senyum-senyum? Kakak tuh sakit, dan itu semua salah Aku. Aku harus tanggung jawab kan?" Tanya ku yang sudah sedikit putus asa. Dia kemudian mengangguk tanpa menghilangkan senyumnya sedikit pun.
"Ya udah ayo!" Kesal ku sembari menarik tangannya. Aku membawanya menuju kamar Kakak. Aku melangkah cepat menyusuri tangga dan akhirnya Aku bertemu dengan Kakak. Ia menatap ku dengan tatapan yang penuh dengan keheranan.
"Lho, Ra?" Ucap Kakak bingung sesaat setelah melihat kearah tanganku yang sedang menggandeng tangan Ilham aku yang mengetahui hal itu langsung saja menghempaskan tangan Ilham dari tanganku.
"Keadaan Kakak baik-baik aja kan sekarang?" Tanya ku. Kakak tidak merespon dan malah menoleh kearah Ilham.
"Lho, Ham? Muka Loe kenapa? Kok bonyok gitu sih?" Tanya Kakak yang sangat terkejut.
"Jadi Kakak belum tau keadaan Ilham?" Tanya ku dengan heran.
"Kakak nggak tahu. Kakak baru aja bangun." Jawabnya yang berusaha meyakinkan diri ku. Aku menghela nafas panjang.
"Ya udah, anterin Aku sekarang ke rumah sakit buat ngobatin luka Kak Ilham. Nanti di perjalanan sembari aku cerita tentang kejadian tadi malam." Pinta ku. Kakak masih saja terlihat seperti orang yang bingung. Aku menjadi musangat kesal dengannya.
"Ayo Kak, cepet!" Bentak ku yang geregetan dengan Kakak. Kakak tersadar dari lamunannya.
"Iya iya! Tunggu, Kakak pakai baju dulu!" Jawabannya seperti seseorang yang terpaksa. Aku langsung menuju ke tempat mobil Ilham terparkir. Aku pun masuk ke dalamnya dan duduk bersebelahan dengan Ilham. Aku terpikir akan satu hal. Sepertinya Aku tidak melihat keberadaan Kak Rangga tadi.
"Perasaan Aku nggak ngeliat Kak Rangga deh. Kakak tahu Dia ke mana?" Tanya ku bingung.
"Rangga tadi pagi tiba-tiba saja ada urusan. Dia sudah tahu kok keadaan Saya." Jawabnya. Aku hanya mengangguk sembari ber-oh-ria. Suasana seketika menjadi hening, apalagi saat Aku tidak sengaja melihat tatapan Ilham yang mengarah ke wajah ku. Aku menjadi kaku, tak tahu harus berbuat apa. Aku benci suasana semacam ini.
"Apa ada serangga yang aneh lagi di wajah Aku?" Tanya ku membidik dirinya. Tapi Ia tak bergeming sama sekali.
"Kalau ada, tolong kasih tahu aja. Biar Aku yang ngambil sendiri." Tambah ku dengan nada yang datar. Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi nantinya. Aku tidak ingin membuat Ilham terluka lagi. Untuk berjaga saja, karena siapa tahu saja Kakak tiba-tiba datang disaat yang tidak tepat. Sama seperti Morgan waktu itu.