Dosen Idiot

Dosen Idiot
58. Where Ever You Are


Akhirnya, dia mengambil mic dan mencoba mic nya untuk mendapatkan suara yang bagus.


'Duh.. Dia mau ngapain sih?' Batin ku resah sembari memperhatikannya dari jauh.


'Mudah-mudahan dia gak bikin yang aneh-aneh.' Batin ku terus berharap demikian.


Tak lama kemudian, terdengar suara musik yang sama seperti yang aku dengar barusan. Suara petikan gitarnya sangat indah. Semua orang berkumpul untuk menyaksikan penampilannya.


"I am telling you.. I softly whisper.. To night, to night.." Aku terkejut mendengar suara Morgan yang lembut menjadi ciri khas tersendiri. Aku sangat suka dengan pembawaan dan ritme musik yang ia nyanyikan. Tak sadar, aku sampai meneteskan air mata. Suaranya sangat nyaman di telinga ku. Aku mengetahui satu hal tentang dirinya. Dia, sangat bisa membuat aku tersenyum hanya dengan menyanyikan lagu kesukaan ku.


"You are my angel.." Ia menoleh ke arah ku. Sontak semua orang yang berkumpul menoleh ke arah ku juga. Aku sangat malu karena sudah menjadi pusat perhatian banyak orang. Tak ku sangka, Morgan ternyata se-romantis ini pada ku. Aku tidak memperdulikan lagi semua orang yang melihat ke arah ku. Aku mengusap air mata ku yang tiba-tiba keluar tanpa aku sadari.


"*Aishiteru.. Futari wa hitotsu ni.. To night, to night.. I just say.."


"Where ever you are, i always make you smile. Where ever you are, i'm always by your side. What ever you say, kimi wo omou kimochi. I promise you 'forever' right now*."


Semua orang bersorak tak terkecuali aku. Aku sangat senang bisa mendengar Morgan menyanyikan lagu yang aku sukai dengan suara khas miliknya. Aku sangat bahagia melihat performanya.


"I don't need a reason. I just want you baby!!" Ia mengedipkan sebelah matanya ke arah ku.


"Waaahhhh gila dia ngedipin ke gue.." Sorak para wanita yang berada di samping ku. Aku merasa terusik dengan suara mereka yang hampir menutupi suara Morgan. Dan lagi pula, Morgan tidak memberikan kedipan matanya padanya, tapi pada ku.


"Kono saki nagai koto zutto.. Douka konna boku to zutto.. Shinu made.. Stay with me.. we carry on..." Suaranya terdengar sangat fasih dalam menyanyikan bagian bahasa jepang. Apa.. Dia pernah tinggal di jepang? Atau hanya menyukai kebudayaan dan hal-hal yang menyangkut negri itu saja? Tapi aku merasa, dia sudah tidak asing dengan bahasanya. Logatnya pun hampir terdengar seperti suara aseli dari lagunya.


"Aaaaaaaaaa oppa ganteng banget sii.." Teriak wanita yang berada di samping ku kembali. Kali ini bukan hanya dia yang berteriak histeris. Tapi semua wanita dibuat histeris olehnya. Memang ada wajah korea di wajah Morgan. Tapi, wajah jepang nya lebih mendominasi.


Ia menyelesaikan lagunya. Jujur aku terkesima dengan Morgan yang baru saja selesai bernyanyi itu. Morgan terlihat menuruni panggung mini itu. Beberapa wanita yang berada di samping ku tadi, menghampiri dirinya. Morgan terlihat sangat cuek dengan mereka. Morgan tidak berbicara sepatah kata pun. Matanya tertuju pada ku.


"Oppa suaranya bagus banget.."


"Iya oppa! Keren banget tadi nyanyinya."


"Iya! Oppa ajarin kita nyanyi dong.."


"Ayo dong oppa.."


"Ayo dong..."


"Maaf ya. Saya lagi ada janji." Dingin Morgan kemudian ia terlihat menghampiri ku. Semua wanita yang barusan mendekati Morgan langsung menatap ke arah Morgan pergi. Ia menarik tangan ku dengan kasar. Aku paham, Morgan pasti tidak senang dengan keberadaan para wanita itu. Aku kembali ke tempat duduk ku di restoran tadi. Ternyata sudah tersedia full satu meja makanan yang kami pesan tadi. Aku duduk di hadapannya.


"Jangan kasar-kasar kek!!" Bentak ku. Dia hanya diam menatap ku dingin.


"Makan." Singkatnya. Aku menatapnya tajam. Mau tidak mau, aku makan apa yang sudah tersedia.


"Itu kakiage." Singkat Morgan membuat aku terdiam dan sedikit malu. Kenapa aku hanya bisa membuat dirinya malu? Aku meneruskan makan ku tanpa memperdulikannya.


"Dringggggggggg.." Handphone ku berbunyi lirih. Aku yang sedang menyuap makanan langsung saja menaruh sisa Kakiage yang ku makan dan merogoh handphone ku di tas ku.


"Hai, ra!" Bisma menelepon ku. Aku melirik ke arah Morgan yang masih dengan santainya menyantap makanannya.


"Hai bis." Lirih ku. Terlihat Morgan yang langsung menoleh ke arah ku dengan tatapan sinis. Aku khawatir dia melakukan sesuatu yang tidak aku sukai.


"Lagi apa ra?" Tanyanya. Aku bingung harus menjawab apa.


"Eemm eemm gu. gue lagi makan bis." Jawab ku dengan ragu.


"Oh yaudah lanjut deh ya. Gue cuma mau bilang kalau gue lagi latihan basket nih ra. Sekarang, gue udah gabung club basket di universitas gue." Jelasnya. Aku tak terlalu mendengar jelas dirinya berbicara karena Morgan berusaha mengambil handphone ku.


"O. okey bis. Nanti gue kontak lagi ya. Bye."


"Tuuuuutttt..." Aku mengakhiri percakapan ku dengan Bisma. Terlihat wajah Morgan yang seperti di tekuk. Sepertinya dia marah.


"Jangan marah." Lirih ku yang tak enak dengannya.


"Saya gak berhak." Singkatnya yang beralih kembali ke makanan yang ia santap. Kalau di pikir kembali, betul juga! Aku tak harus khawatir dengan perasaan Morgan. Aku dan dia, tidak ada apapun di antara kami.


"Ish ngeselin banget sih loe!!" Bentak ku. Morgan tak memperdulikan ku.


"Habis ini kemana?" Tanya ku. Ia menghentikan makannya.


"Toko perhiasan." Singkatnya. Aku kaget.


"Hah? Toko perhiasan? Loe mau ngasih perhiasan ke gue?" Tanya ku polos. Morgan menatap ku dingin.


"Buat orang yang paling spesial buat gue." Ucapnya membuat hati ku seperti terpukul. Hanya sedikit perkataannya, tapi cukup membuat hati ini retak. Selain mendapatkan malu, aku juga sakit mendengar ada orang yang lebih spesial lagi dari ku.


"O. oh.." Lirih ku kemudian langsung menelan beberapa gigit onigiri yang belum sempat ku kunyah dengan benar.


"Uhhhhuuukkkk.. uhuuukkkk..." Tenggorokan ku terasa sakit sekali. Aku tersedak onigiri yang aku makan bulat-bulat itu. Aku mengambil minuman yang berada di hadapan ku. Ku tenggak habis hingga tak tersisa. Aku kesulitan bernafas saat itu.


"Cuppppsss..." Morgan tiba-tiba mencium ku untuk memberikan nafas buatan. Semua orang mungkin sudah memperhatikan kami sekarang. Aku melotot kaget karena tingkahnya yang tiba-tiba. Per sekian detik ia memberikan aku nafas buatan kemudian aku melepaskannya. Wajahnya terlihat menatap ku sinis. Seperti tidak ingin melihat aku kenapa-kenapa. Aku merasakan wajah ku bersemu merah. Aku malu sekali dengan semua orang yang melihat ke arah kami. Aku menutup wajah ku dengan kedua tangan ku.


"Ayo." Ajaknya. Aku mengangguk kemudian bergegas pergi mengikuti langkahnya.


@sarjiputwinataaa