
Hidupku saat ini, menjadi sangat hampa. Beberapa kali aku berpapasan atau melihat Morgan yang sedang berbicara dengan dosen lain, atau bahkan berbicara dengan beberapa mahasiswa wanita.
Aku jadi sedikit sedih.
Entah apa yang membuatku sedih. Padahal, aku bukan siapa-siapa di sini.
Aku berjalan menyusuri danau dekat kampus, yang waktu itu aku kunjungi, saat aku sedang sedih. Tidak ada siapa pun di sini. Aku berusaha menenangkan diri, karena diriku saat ini, sudah berada di titik terendahku.
Sepertinya, hatiku sangat sepi. Tak bisa berbuat apapun lagi.
“Huft....”
Aku menghela napas dalam, karena merasa sudah lelah dengan kehidupan ini. Apa tidak ada yang bisa memberikan bahu untukku bersandar?
Aku duduk di dekat danau, sedang berusaha menenangkan diri di sini. Aku ingin melepaskan kehidupan tentang Morgan. Kenapa aku jadi merasa sedih, saat Morgan menjauhiku seperti ini?
Padahal, aku yang tidak ingin dekat dengannya, dan terus-menerus menghindari dirinya, karena merasa sangat terganggu dengan keberadaan dirinya.
Apa aku sudah mulai menyesal, karena kehilangan Morgan?
Dirinya hilang, bersama dengan kehormatanku.
Aku tak sengaja melihatnya yang sedang sendiri, di seberang sana. Aku memandanginya dengan tatapan sedih, karena sudah tidak bisa menggapainya lagi. Terlihat ia sedang asyik memandangi ikan kecil yang sedikit berlompatan, membuatku merenung.
“Kenapa di mana-mana harus ada loe, sih?” lirihku.
Aku meremas pelan rambutku, karena merasakan sakit kepala yang tiba-tiba.
“Kalau akhirnya loe ngejauhin gue gini, terus ngapain awalnya loe deketin gue dengan susah payah?”
Aku berpindah tempat menjadi duduk di pinggiran jembatan danau yang masih terlihat sederhana, karena menggunakan jembatan dari kayu papan. Itu pun hanya sedikit. Aku memandang diriku di pantulan air danau, seolah-olah aku adalah makhluk bumi yang paling menderita.
Apa aku sedang merasakan patah hati?
Apa seperti ini rasanya?
“Oh ya, ini kan tempat yang sama waktu kita ketemu waktu itu. Ya, gak heran sih dia ada di sini. Lagian, dia lebih dulu kenal tempat ini daripada gue, yang mahasiswa baru ini.” lirihku lagi, sembari tetap melihat ke arah bayanganku.
Kenapa hidup ini selalu mellow bagiku?
Aku menghela napas panjang, berusaha menahan air mata yang memaksa keluar dari pelupuk mataku.
“Kenapa sih, Morgan begitu?” Air mata mulai mengucur dari pelupuk mata, lalu terjun bebas, dan bercampur dengan air danau yang keruh.
Seketika terngiang semua janji yang pernah Morgan ucapkan padaku. Kenapa baru sekarang aku merasa kehilangan sosoknya? Kenapa keadaannya jadi berbalik, menjadi aku yang menginginkannya?
Ah.
“Morgan… dia udah janji mau ngejaga gue.” Aku menangis sesegukan, karena sudah tidak bisa lagi menahan perasaanku ini.
Goresan luka ini sudah terlalu perih, membuatku menyerah dengan keadaan ini.
“Kenapa malah begini, sih?” Aku menangis sendirian di tepi danau.
Aku terbawa suasana hatiku sendiri.
Aku… galau.
“Duaaaarrrr....”
Terdengar suara petir yang menyambar keras. Apakah sekarang ini sudah mulai memasuki musim penghujan? Selalu seperti ini, di saat aku sedang mellow.
“Srakkk….”
Hujan tiba-tiba saja turun, membasahi sekujur tubuhku. Hujan dan tangisku tercampur menjadi satu. Aku mulai kehilangan akal sehatku.
Terlihat bayangan lain di permukaan air danau, yang tak jelas karena terkena tetesan air hujan.
Aku tersadar, dan segera menghentikan tangisku. Aku menoleh segera ke arahnya.
Firasatku mengatakan… Morgan.
“Mor--” Pekikku yang terpotong, karena kaget saat melihat sebelahku, bukan Morgan yang ada di sana.
“Gan,” sambungku dengan sangat lirih.
Aku pastikan, ia tidak bisa mendengar ucapanku yang terakhir.
“Ra….” Panggilnya lirih.
Tanpa persetujuanku, ia langsung menghampiri dan duduk di sebelahku.
Aku menunduk, tak membiarkan ia tahu, kalau aku sedang menangis. Beruntung hujan turun, karena air mataku yang bercampur dengan air hujan, yang kemungkinan tidak ia sadari.
Aku menatap mantap ke arahnya.
“Gak apa-apa, Bis. Gue lagi pengen sendiri aja,” jawabku pada Bisma.
Terlihat ia menghela napas dan memikirkan sesuatu.
“Ini hujan lho, Ra. Apa gak sebaiknya kita berteduh?” tawar Bisma.
“Gak, Bis. Gue lagi pengen menikmati hujan,” tolakku, ia terlihat diam sesaat sembari menunduk.
Ia terlihat kembali menatapku.
“Gimana keadaan loe, Ra?” tanyanya.
Aku hanya menunduk, tak merespon apapun.
Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku harus menegaskannya dengan perasaanku yang aku alami saat ini.
Aku menoleh ke arahnya.
Terlihat tatapan sedih dari matanya itu. Hujan yang terus-menerus turun, membuatku tak bisa membedakan antara air mata dengan air hujan. Karena aku yakin, Bisma sedang meneteskan air matanya, saat ini.
“Gue…” ucapku ragu, “baik,” sambungku.
Mungkin tak masalah aku sedikit berbincang dengan Bisma. Aku sudah tahu niat jahat Bisma waktu itu, dari cerita Morgan. Ia menjelaskan kembali rincinya, dengan mengirimkan chat panjang lebar tentang kejadian waktu itu, sebelum aku sempat renggang dengannya sekarang. Sejak saat itu, aku jadi bimbang.
“Bagus deh kalau baik,” ucapnya.
Hening.
Hanya itu yang terjadi saat ini.
Aku tak tahu lagi, apa yang harus aku katakan. Mungkin aku hanya perlu menjawab apa yang ia tanya.
“Gue ke sini, cuma mau minta maaf, Ra,” ucapnya.
Aku hanya mengangguk kecil, karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
“Gue mau bilang, kalau… gue mau pindah ke Amerika,” ucapnya yang tiba-tiba, membuatku menjadi mendadak lega.
Mungkin setelah ini, tidak ada lagi yang perlu aku khawatirkan.
“Gue udah janji sama dosen itu, buat gak ganggu loe lagi. Kebetulan papa ngajak ke sana buat bisnis. Mungkin, gue juga sekalian lanjut belajar di sana,” jelasnya panjang lebar.
Aku hanya diam sembari mendengarkan penjelasannya. Ada perasaan kaget setelah mendengar penjelasan darinya.
Kaget? Itu pasti.
Tapi, aku sudah siap melepaskan Bisma. Apapun yang terjadi, aku... ikhlas.
Aku menghela napasku, untuk mempersiapkan diri.
“Tapi, ada satu permintaan terakhir gue ke loe, Ra,” ucapnya, membuatku menjadi penasaran.
Aku menyipitkan mataku ke arahnya.
“Apa, Bis?” tanyaku.
Ia terlihat sedang menghela napasnya. Aku harap, bukan permintaan yang tidak bisa aku penuhi.
“Gue… boleh peluk cium untuk yang terakhir kali, gak?” pintanya.
Aku merasa terenyuh. Bisa-bisanya aku jadi tidak tega untuk melepas Bisma, karena perkatannya ini. Kenapa aku mudah sekali tersentuh, oleh setiap perkataan laki-laki?
Aku payah.
“Hah?” kagetku tak percaya dengan apa yang aku dengar.
“Sebentar aja...” lirihnya.
Aku berpikir sejenak. Apakah boleh seperti ini?
Dia sudah hampir mencelakakanku, dengan berusaha untuk mengambil kehormatanku. Aku mungkin saja tidak akan pernah bisa memaafkannya.
Tapi kenyataannya, ia akan segera meninggalkan tempat ini. Bukan hanya pindah daerah, tapi pindah Negara. Apakah aku akan membiarkannya pergi dalam rasa penasaran yang melandanya itu?