Dosen Idiot

Dosen Idiot
79. Mencekam


"Gue harus cari kemana?" Aku melirik ke sana dan ke sini. Aku berjalan kaki dengan bodohnya tanpa memikirkan keselamatan ku. Kini, aku sudah sampai di luar kompleks rumah ku. Aku menyusuri jalan demi jalan dengan keadaan lampu penerangan yang minim sekali. Sesekali aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Kenapa malam ini sangat dingin? Aku sampai lupa memakai jaket.


-MORGAN MAIN-


Kini aku sudah tiba di taman kota yang sudah ia tentukan. Aku memarkir mobil ku dengan sembarang. Aku berusaha keluar dari sana dan mencari keberadaan wanita misterius itu ke setiap sudut taman. Aku berlarian ke sana dan ke sini. Melihat setiap bangku taman yang ada, sudah terisi penuh dengan para sepasang kekasih. Aku sudah lelah berlarian ke sana dan ke sini namun tidak ada sama sekali keberadaan wanita itu. Aku terdiam sembari mengolah nafas ku yang terasa sesak dan pendek. Aku mengambil handphone ku dan mencari nomor orang itu. Aku meneleponnya dengan harapan tidak terjadi sesuatu dengannya.


"Dringgggggg.." Tak berapa lama terdengar suara dering handphone seseorang dari arah belakang ku. Aku terkejut dan segera membalikkan tubuh ku untuk melihat siapa yang berada di belakang ku.


-ARA MAIN-


Malam ini, selain merasakan dingin akibat angin malam, aku juga merasakan jalanan ini sangat sepi dan jarang sekali ada orang yang melintas di daerah ini. Aku menjadi khawatir dengan keselamatan diri ku sendiri. Aku menolhe ke kiri dan ke kanan secara cepat. Aku merasa ada yang mengikuti ku sejak tadi. Aku tidak ingin ambil pusing. Mungkin saja ada orang yang memang sejalan dengan ku. Aku mengirimkan pesan kepada Morgan.


"Kamu di mana?"


Aku mengelus kedua sisi lengan ku yang dingin karena tertiup angin malam. Aku berusaha mencari Morgan kembali. Tapi, semakin lama semakin jelas sekali ada yang mengikuti ku dari arah belakang ku. Aku mulai melangkah agak cepat karena jujur saja, aku sudah mulai takut dengan keadaan saat ini. Aku mengirimkan pesan kepada Morgan lagi.


"Kamu di mana? Aku lagi nyari kamu nih. Perasaan aku gak enak, ada yang ngikutin aku terus dari tadi. Aku nyari kamu jalan kaki, aku gak tau harus gimana lagi." Aku mengetik pesan dengan sangat takut. Aku berusaha mengatur nafas ku berulang kali. Aku mempercepat langkah kaki ku.


Semakin lama semakin mencekam sekali suasana di belakang ku. Aku semakin takut. Terlintas di pikiran ku, aku harus membagikan lokasi terkini ku kepada Morgan. Aku tidak ingin membiarkan teman-teman ku mengetahuinya. Makanya aku hanya mengirimkan kepada Morgan. Aku membuka handphone ku kembali dan mengirim lokasi terkini keberadaan ku. Aku membagikannya selama 8 jam. Aku khawatir Morgan tidak bisa menemukan ku dalam waktu 1 jam kedepan, kalau sampai terjadi sesuatu dengan diri ku.


'Ya ampun, mudah-mudahan gue gak kenapa-napa. Siapa sih orang iseng yang bikin gue merinding malem-malem?' Batin ku ketakutan. Aku berusaha tidak memperdulikan arah belakang ku. Aku melangkah jenjang ke depan tanpa memperdulikan siapa yang sudah mengikuti ku sejak tadi.


Aku melewati sekelompok orang yang sedang duduk di jalan sepi ini. Aku telah aman dari orang sebelumnya yang mengikuti ku. Aku berusaha bersikap baik-baik saja.


"Eh.. Tuh.." Ucap salah seorang dari mereka. Aku kira, aku akan aman dari orang yang sudah mengikuti ku. Tapi ternyata aku justru tidak aman karena sudah bertemu dengan mereka. Mereka menghadang ku dengan memutari semua sisi ku. Aku kaget bukan main dan tidak tahu akan berbuat seperti apa. Yang ada di pikiran ku hanya Morgan. Apakah dia bisa menolong ku? Aku benar-benar sangat takut kali ini. Aku mencoba untuk menerobos sisi yang renggang di sebelah mereka.


"Et.. Cantik, buru-buru amat. Mau kemana sih?" Hadang salah satu dari mereka dengan menggunakan nada yang sangat jahil. Jantung ku sampai berdebar, karena takut mereka berbuat macam-macam kepada ku. Aku mulai tidak tenang.


"Siapa kalian?!" Tanya ku dengan sinis. Mereka melontarkan senyuman jahil kepada ku, membuat ku semakin tidak bisa menahan rasa takut ini.


"Mau kemana cantik? Mau kita anter gak?" Tanyanya sembari memegang rambut ku dan menciuminya. Aku berusaha menarik rambut ku darinya dan terlepas.


"Gausah pegang-pegang gue!!" Ucap ku dengan nada mengancam. Mereka masih tetap tidak mau diam dan terus menggerayangi sekujur tubuh ku dan menyentuhnya. Aku berusaha menghalangi mereka sebisa mungkin. Aku tidak ingin tangan kotor mereka menyentuh setiap sisi dari tubuh ku.


"Galak amat sih.." Mereka terus menerus menyentuh setiap sisi dari tubuh ku. Sampai aku tidak tahan lagi.


"Gak usah pegang-pegang!!"


"Plaaakkk.."


Aku menampar salah seorang dari mereka yang kelihatannya adalah bos mereka. Ekspresinya seperti tidak terima karena aku sudah menampar pipinya itu. Ia langsung melotot ke arah ku.


"Dasar perempuan jalang!" Amarahnya memuncak. Ia terlihat melayangkan tangannya ke arah wajah ku. Aku refles dan langsung menunduk takut. Namun, tidak terjadi apa-apa dengan ku.


"Shitsureina koto wa shinaide kudasai" Ucap seseorang yang tidak asing di telinga ku. (Shitsureina koto wa shinaide kudasai \= Jangan kasar). Aku menoleh ke arah sumber suara. Terlihat laki-laki Jepang itu sedang menahan tamparan dari para preman itu. Aku terdiam tanpa kata. Aku hanya bisa memandang pemandangan langka ini. Tidak ku sangka, Tuhan masih begitu baik pada ku dengan mengirimkan bantuan di saat sulit seperti ini. Aku sangat bersyukur.


"Gak usah sok jadi pahlawan!" Bentak orang itu. Ia melepaskan cengkraman tangan laki-laki Jepang itu dengan sekuat tenaga, sampai dia hampir terhempas ke samping.


"Please step aside!" Suruhnya pada ku. Aku mengangguk paham dan segera berlari menuju tempat yang aman. Aku menjauhi keramaian tersebut. Entah bagaimana jadinya ia melawan para preman itu. Aku hanya berjongkok meringkuk di atas aspal pinggir jalan. Aku sangat ketakutan dan bahkan tidak ingin melihat ke mana pun. Aku hanya meringkuk menutupi kepala ku dengan kedua tangan ku.


Aku mulai terusik dengan seseorang yang menyoroti lampu ke arah ku. Aku mencoba melihat siapa yang berani melakukan ini. Aku mulai melihat ada yang turun dan bergegas berhambur ke arah ku.


"Ara!!!" Aku baru menyadari, bahwa dia adalah Morgan.


"Morgan.." Aku bangkit dan berusaha mendekatinya. Aku pun memeluknya dengan sangat erat. Aku saat ini, adalah aku yang pengecut. Aku begitu takut dengan semua kejadian yang aku alami tadi. Aku tidak tahu seperti apa jadinya kalau tidak ada dia yang menolong ku.


"Ra, kenapa bisa begini sih?" Tanyanya dengan lemas. Aku tidak bisa berkata apapun lagi. Aku sudah tidak bisa berbicara apapun lagi.


"Ayo, pulang." Ajak Morgan. Aku berusaha memberitahunya bahwa ada seseorang lagi yang membutuhkan bantuan. Aku melihatnya dari kejauhan, dia di sergap oleh beberapa orang dan di pukuli dengan kerasnya. Membuat air mata ku ini tak sadar terjatuh dengan sendirinya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


*


Aku telah tiba di rumah ku. Aku tidak sanggup lagi untuk berjalan, bahkan aku tidak sanggup untuk mengeluarkan satu patah kata pun. Aku hanya bisa diam sembari menatap kosong ke arah depan.


"Udah sampe." Lirih Morgan. Aku hanya diam tak bergeming.


"Gak akan terjadi apapun sama kamu. Ayo.. Masuk." Morgan berusaha membuat suasana hati ku tenang. Tapi, aku sama sekali tidak merasa tenang karena mungkin aku trauma dengan hal semacam itu. Aku tidak ingin lagi hidup di dunia ini. Aku sangat takut dengan kejahatan yang terjadi malam ini.


"Ra.." Morgan menaruh tangannya di pipi kanan ku lalu mengelus pipi ku. Aku mengacuhkannya dan langsung membuka pintu mobilnya.


"Ra!" Ia menahan tangan ku. Aku sudah tidak bisa lagi berdebat dengannya. Aku menggunakan sisa energi ku untuk melepaskan tangan ku dari cengkramannya. Perlahan aku mulai meninggalkannya dan masuk ke dalam rumah ku.


Aku berjalan gontai menuju kamar tidur ku. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Sekujur tubuh ku menggigil dan aku sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melakukan sesuatu. Perut ku terasa sangat sakit dan perih seperti tersayat pisau yang tajam. Aku menghempaskan diri ku ke atas ranjang tidur ku. Aku mulai memejamkan mata ku.


-MORGAN MAIN-


Aku melihat ke arah Ara yang nampaknya sudah tertidur lemas di atas ranjangnya. Aku menyesal dan merasa sangat tidak berguna saat ini. Aku tidak tahu akan seperti ini jadinya. Aku takut terjadi sesuatu yang serius dengan Ara. Aku tidak ingin melihat dia terluka. Aku merasa gagal menjaga wanita ku. Aku menatap ke arahnya dengan sendu. Aku mulai menghampirinya. Perlahan, aku membuka sandal yang masih terpasang di kedua kakinya. Aku masih tidak percaya akan jadi seperti ini. Aku mematikan lampu kamar Ara. Mulai berjalan ke arahnya, kemudian tidur di sampingnya. Aku menatap wajah Ara yang menyedihkan itu. Aku mengelus setiap sisi wajahnya. Aku sedih dan terus menyalahkan diri ku, kenapa aku sangat tidak berguna? Aku malah mementingkan ego ku, dan juga mementingkan keselamatan wanita yang tidak jelas itu? Aku mengabaikan keselamatan orang yang aku cintai. Aku menyesal.


"Gomen." Lirih ku kemudian mengecup lembut kening ara. (Gomen \= Maaf). Aku memeluk tubuhnya yang terasa sangat dingin itu. Aku takut, Ara bangun dengan keadaan tidak tenang. Aku hanya ingin memberikan dia rasa aman kali ini. Sebagai bentuk penyesalan atas kelalaian ku malam ini.


*


-ARA MAIN-


Aku merasakan tubuh ku menggigil. Aku mulai membuka mata ku secara perlahan. Tapi, aku tidak bisa bergerak sama sekali. Aku mulai melihat siapa yang memeluk ku di samping ku.


"Morgan." Lirih ku. Aku memandangnya dengan tatapan miris. Aku tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa kepadanya. Yang jelas, ia sudah datang menemui ku dan menyelamatkan ku walaupun itu terlambat. Tubuhnya terasa hangat sekali, karena ia sama sekali tidak membuka jaketnya. Ia mungkin tertidur saat sedang menjaga ku semalam. Aku mempererat pelukan ku padanya. Tubuhnya menjadi lebih hangat dan mampu membuat diri ku menjadi lebih hangat dari sebelumnya. Aku menoleh ke arah jam dinding. Sudah pukul 8 pagi. dan Morgan pun belum juga bangun. Apakah dia tidak masuk kerja hari ini? Aku tidak tega membangunkannya. di tambah lagi, aku masih ingin berlama-lama memeluknya seperti ini. Ini bisa membuat ku nyaman dan mungkin mengikis rasa takut ku.


"Dringggg..." Handphone Morgan berdering. Aku ingin sekali meraih handphonenya yang berada di kantung jaketnya.


"Enggghh.." Ternyata pergeseran tubuh ku membuat Morgan bangun dari tidurnya. Ia mengambil handphonenya dan mematikan alarmnya.


"Selamat pagi." Sapa Morgan yang terdengar sangat sopan ditelinga ku. Seketika sekujur tubuh ku merasa menggigil kembali saat mendengar Morgan mengucapkan selamat pagi. Aku hanya diam tidak bergeming sembari menatap matanya yang indah.


"Kenapa gak bangunin aku? Aku jadi gak kerja deh." Ucapnya, Aku menahan tawa ku karena mendengar suara Morgan yang lucu efek bangun tidur.


"Aku gak mau jauh dari kamu, saat ini." Ucap ku terus terang padanya. Aku tidak ingin membuatnya salah paham lagi. Aku ingin berterus terang dengan yang aku rasakan saat ini. Ia tersenyum ke arah ku.


"Sebentar lagi ujian." Ucapnya sembari menyentuh hidung ku. Aku tidak mengerti dengan yang ia ucapkan.


"Terus kenapa kalau sebentar lagi ujian? Aku kan kena skors?" Tanya ku balik. Ia tersenyum jahil ke arah ku. Aku bingung dengan arti senyumannya itu.


"Saya harus kasih materi pengayaan untuk mereka sebelum pekan ujian di mulai. Hari ini adalah pembelajaran terakhir sebelum ujian di mulai. Besok dan lusa, kampus memberikan dispensasi waktu sebagai minggu tenang untuk mereka bersantai dan mengulang kembali pelajaran yang belum mereka mengerti." Jelas Morgan panjang lebar. Aku hanya mengerutkan bibir ku. Aku tidak bisa berbuat apapun lagi. Aku tidak bisa menghalangi dia.


"Oh ya, bibi minta izin pulang ke kampungnya selama 3 hari. Jadi, untuk 3 hari ke depan, saya akan temenin kamu di sini." Jelas Morgan.


"What?!!!" Aku terkejut mendengar ucapannya. Kenapa bibi tidak pamit dan meminta izin kepada ku? Bagaimana keperluan ku bisa tercukupi? Siapa yang akan memasakkan makanan untuk ku? Siapa yang akan mencuci pakaian ku? Siapa yang akan membersihkan kamar ku?


"Oh no!!" Aku menutup wajah ku dengan kedua tangan ku.


"Tenang aja, selama 3 hari ini, saya yang bertanggung jawab di rumah ini." Ucapnya membuat ku sedikit tenang. Aku tidak lagi khawatir tentang masalah rumah tangga. Tapi..


"Haaaahh?? It's mean loe bakal tinggal di sini dong? Terus loe bakal.. Bakal.." Ucap ku ketakutan sembari menutupi bagian dada ku dengan selimut. Morgan tersenyum pada ku.


"Tenang aja, kalau kamu gak ngizinin, saya bisa tidur di sofa." Lirihnya. Aku merasa agak tenang mendengarnya. Dada ku seketika berdebar karena sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.


"Saya ke kampus dulu ya." Ucapnya seperti meminta izin kepada ku. Aku hanya diam sembari memandangnya miris. Mendadak perut ku terasa sangat perih. Aku lupa, aku tidak makan sejak siang kemarin. Aku takut magh ku menjadi kronis kembali. Aku memegang perut ku dan memejamkan mata sembari menunduk, menahan sakit yang aku rasakan.