Dosen Idiot

Dosen Idiot
62. Ga macem-macem kan?


*


Kejadian itu membuat aku tidak ingin ber swa foto lagi kurang lebih selama 1 tahun belakangan ini. Aku takut, perasaan yang sudah aku pendam rapat ini, akan muncul kembali dan mengobrak-abrik perasaan yang sudah ku tata ulang sebelumnya. Tapi, setelah itu aku juga sudah salah karena bermain cinta lagi dengan Bisma. dan kejadiannya, lagi-lagi aku merasakan sakit karena harus berpisah dengan orang yang ku sayang.


"Lagi ngeliatin apa sih?" Ucap seseorang tiba-tiba sampai membuat ku kaget dan menjatuhkan handphone ku. Aku mengambil kembali handphone ku yang jatuh itu dan memeriksa apakah ada yang rusak.


"Ihh.. Ngapain sih loe ngagetin gue aja!!! Liat nih, jadi jatoh kan handphone gue!! Awas aja kalau sampe ada yang rusak." Bentak ku. Terlihat ia yang tak menghiraukan ku dan malah memandang ke arah handphone ku.


"Eh ngapain bengong aja?!" Sinis ku. Morgan langsung merebut handphone ku.


"Eh... Ngapain sih woy handphone gue!!"


"Ckreeeekkkk..." Terdengar suara kamera. Aku tersadar bahwa Morgan sedang memotret diri ku dan dirinya. Aku sangat terkejut! Ini kali pertama aku berfoto kembali setelah 1 tahun lalu. Aku langsung membuang handphone ku yang seluruhnya berisi foto ku dan dia. Aku tidak lagi ingin berhubungan dengannya. Jadi, aku memutuskan untuk membuang semua hal tentangnya. Dia adalah laki-laki pertama yang aku cintai, dan juga laki-laki pertama yang mengkhianati ku.


Aku tersadar, Morgan ternyata sedang mengubah wallpaper handphone ku menjadi foto kita bersama. Ada perasaan aneh yang melanda ku. Aku seperti sedang di akui olehnya. Padahal, aku sama sekali tidak meminta pengakuan apapun darinya mengenai ini. Ia terlihat membuka aplikasi chating. Ia menyimpan nomor ku pada handphonenya dan mulai mengirim foto yang tidak sengaja terambil. Ia juga menjadikan foto itu sebagai wallpaper handphonenya. Setelah selesai, ia memberikan handphone ku kembali. Aku masih belum paham maksudnya dia melakukan ini semua itu untuk apa.


"Jangan di hapus." Ucapnya datar. Aku memandangnya sinis.


"Apaan sih foto jelek begini juga! Ini gue belom siap. Loe jangan asal maen jepret aja deh ya. Udah kayak paparazi aja!!"


"Oh jadi kamu mau kita foto dengan aba-aba?" Tanyanya membuat aku tersadar. Aku tidak seharusnya berbicara seperti itu.


"Engga!! Enak aja! Lagian siapa yang mau foto sama loe!" Bantah ku sinis. Ia tersenyum pada ku.


"Pokoknya jangan di hapus!" Tegasnya. Aku hanya bisa memelototinya saja sembari menyinyir. Aku kesal dengan sikapnya yang secara tiba-tiba dan membuat orang menjadi tidak karuan seperti itu.


Morgan melirik jam tangannya itu. Kemudian langsung menoleh ke arah ku.


"Ayo, Gak kerasa udah sore. Saya mau ajak kamu ke rumah." Ucapnya. Aku memandangnya dengan sinis.


"Ga macem-macem kan?" Tanya ku untuk memperjelas semuanya. Ia hanya memasang wajah datar.


Aku dan Morgan sudah tiba di basement. Kami langsung masuk ke dalam mobil pintar milik Morgan. Aku duduk dengan melipat kedua tangan ku sambil memandang malas ke arah depan ku.


"Kamu sepertinya gak suka jalan sama saya?" Tebaknya. Aku membuang pandangan ku darinya.


"Gimana mau suka? Loe aja kayak begitu! Seenaknya sendiri sama gue, ini itu tanpa ada persetujuan dari gue. dan semuanya serba harus lo atur! Emangnya gue ini apa hah? Emangnya gue ini mainan loe yang bisa dengan mudahnya buat loe suruh-suruh atau atur-atur? Gitu maksudnya? Iya?" Hardik ku yang tanpa ampun. Dia hanya menatap ku dengan pandangan yang datar. Tidak ada ekspresi sama sekali darinya.


"Emang harusnya saya bagaimana? Saya harus seperti apa?" Tanya Morgan yang membuat jantung ku sedikit berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Aku harus menjawab apa padanya? Aku sendiri tidak tahu untuk mengatur dia seharusnya seperti apa dan bagaimana? Aku pun bingung dengan perasaan ku sendiri. Tidak ada satu patah kata pun yang aku ucapkan. Aku hanya terdiam bingung dengan jawaban apa yang harus aku berikan padanya.


"Coba jawab, saya harus gimana? Bagaimana caranya saya bersikap kalau setiap saya tanya, kamu hanya diam. Ketika saya tanya lagi, kamu juga tetap diam. Ketika saya melakukan sesuatu, kamu selalu tidak suka dengan apa yang saya lakukan. Lalu, harus seperti apa saya ke kamu sekarang?" Ucapnya panjang lebar membuat aku malu sendiri mendengarnya. Sudah cukup! Aku tidak tahan lagi mendengar ucapannya yang bertubi-tubi itu sehingga melukai telinga ku.


"Udah. loe tuh harusnya...."


"Emphhhh...." Jantung ku terus berpacu saat tiba-tiba Morgan mengecup bibir ku. Aku terlalu mudah terbawa arus perasaan ini. Bibir Morgan terasa sangat hangat! Membuat aku tidak ingin cepat-cepat menyudahi ciuman ini. Setiap detik yang terlewatkan membuat aku ingin terus mengulang waktu. Aku ingin berlama-lama bersama Morgan.


'Emmmhh.. Rasanya nyaman banget. Plis, jangan cepet-cepet selesai.' Batin ku yang sudah larut dalam kenikmatan, sembari sesekali melirik matanya yang terpejam itu. Tangan lembutnya mengusap seluruh area wajah ku. Belaian lembutnya membelai tengkuk kepala hingga pipi kanan dan kiri ku. Aku sangat menikmati ciuman mesranya kali ini. Ia kemudian menyudahi ciuman ini. Terlihat pandangan matanya yang tanpa sengaja bertemu dengan pandangan mata ku. Keheningan terjadi beberapa saat. Aku di buat mabuk hanya dengan hitungan detik. Ia meraba bibir bawah ku dengan ibu jarinya. Aku menunduk malu dengan sikapnya itu. Ia mendekat kembali ke arah bibir ku. Aku hanya pasrah dan menerima saja keinginannya.


"Tin..." Aku dan Morgan pun terkejut dengan klakson mobil yang berada di belakang kami. Aku hanya diam saat mengetahuinya. Ketika Morgan sudah hampir mencium ku, mobil itu membuat semuanya buyar.


"Brakkkkkkk...."


"Shit!!" Morgan menggebrak stir mobilnya dan langsung melihat ke arah kaca. Morgan terlihat sangat buru-buru setelah melihat ke arah belakang. Aku bingung dengan perilakunya yang tiba-tiba saja berubah menjadi seperti orang takut. Karena rasa penasaran ku yang teramat besar, aku melihat ke arah kaca spion depan.


'Itu kayak..' Batin ku sembari berpikir orang yang aku lihat di spion itu sangat familiar bagi ku. Aku pernah melihatnya dimana ya? Aku kehilangan akal sehat ku. Aku sampai tidak ingat orang yang aku lihat barusan.


Aku dan Morgan meninggalkan basement dengan segera. Aku melihatnya yang terus menerus melirik ke arah kaca spionnya. Tatapannya seperti orang yang sedang terancam. Entahlah!


@sarjiputwinataaa