
"Gue mau loe." Godanya membuat aku tertawa dan kembali mencubit tubuhnya. Ia seperti menghindari cubitan ku. Sekali lagi, aku tertawa dengannya.
Hari-hari ku lalui seperti biasa dengan dia yang selalu ada di hampir setiap kegiatan ku. Aku merasa, aku sangat beruntung bisa memiliki orang yang sangat pengertian dengan ku. Hingga akhirnya hari yang paling spesial baginya tiba. Hari ini, adalah hari ulang tahun yang ke-17. Aku sangat bahagia sampai-sampai aku ingin memberikannya sebuah kejutan kecil yang aku harap bisa ia kenang dan tidak akan ia lupakan.
Aku berjalan pergi menuju toko kue yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Aku mengambil kue yang sudah aku pesan sehari sebelumnya. Aku bergegas dan mengambil kue itu kemudian segera pergi ke rumah Reza. Ya! Namanya adalah Reza. Orang yang ku kenal tidak sengaja saat aku menjadi siswa baru di sekolah ku. dia adalah anggota OSIS di sekolah ku. Pertemuan kami merupakan ketidak sengajaan yang berujung kebahagiaan. Saat itu, aku sedang dihukum anggota OSIS yang lain karena terlambat masuk ke dalam barisan. Tentunya bukan tanpa sebab aku terlambat datang ke sekolah. itu semua karena kakak terlambat bangun dan aku terpaksa harus naik ojek pangkalan depan komplek. dan tidak berjalan mulus seperti itu saja, saat perjalanan menuju ke sekolah ternyata motor yang kami kendarai mengalami ban bocor. Aku sempat memaki-maki tukang ojek itu sebelum kemudian aku mengambil keputusan untuk berjalan kaki menuju sekolah. Singkat cerita sesampainya aku di sekolah, aku dihadang oleh beberapa OSIS keamanan yang sedang berjaga di depan gerbang sekolah. Aku dipaksa untuk mengikuti barisan orang yang terlambat pada saat itu. Padahal, ini murni bukan kesalahan ku. Aku sudah prepare sebelumnya. Akhirnya mau tidak mau, aku dihukum dan disuruh berdiri hormat pada tiang bendera. Aku lupa kalau aku tidak sarapan tadi pagi sehingga kepala ku sangat pusing dan aku kehilangan kesadaran. Saat aku tersadar, orang yang pertama aku lihat adalah dia. Berawal dari sana, aku jadi semakin dekat dengannya. Kami jadi lebih sering bertemu kemudian bertukar nomor handphone. kami saling menceritakan diri kami masing-masing. Aku mengetahui kalau hobinya adalah fotografi. dan tidak bisa dipungkiri seorang wanita pasti hobi ber selfie bukan? Begitu juga dengan ku. Aku jadi merasa bahwa kami clop sekali. Dia selalu ada untuk ku. Tidak perduli saat aku senang atau sedih, dia selalu ada menemani hari-hari ku. Dia menunjukkan kepada ku, betapa berharganya diri ku baginya.
Aku sudah sampai tepat di depan pagar rumahnya. Aku melihat pagar yang tidak terkunci sehingga aku penasaran dan masuk ke dalam halaman rumah Reza. Ada mobil yang terparkir di sana yang sebelumnya tidak pernah aku lihat. Aku melangkah menuju pintu rumah Reza dan pintu rumahnya pun tidak terkunci, dibiarkan terbuka begitu saja. Aku sampai terheran sekali. Aku bergerak masuk untuk mencari laki-laki yang aku cintai itu untuk memberikan sedikit kejutan kepadanya. Selain dirinya yang berulang tahun, hari ini juga adalah hari kelulusan dirinya. Aku sangat bersemangat untuk merayakannya bersamanya.
Aku sudah sampai di ruang tamu rumah Reza. Tidak ada siapapun di sini. Aku mencoba mencari Reza di kamarnya. sesampainya di depan kamarnya, aku membuka pintu kamar Reza.
"Selamat ulang tahun..." Pekik ku riang yang kemudian terdiam setelah melihat keadaan di sekitar ku yang aneh. Aku melihat Reza sedang bertelanjang dada di atas ranjang bersama dengan wanita yang tidak aku ketahui identitasnya.
"Brukkkk..." Aku terkejut sampai menjatuhkan kue dan beberapa hadiah yang aku pegang. Terlihat Reza dan wanita itu yang gelagapan menghindari perlakuan dan sikap mereka. Aku berusaha menahan air mata yang hampir keluar dari pelupuk mata ku. Sudah tidak ada lagi yang perlu di jelaskan bukan? Semua sudah terlihat jelas dari apa yang aku lihat tadi.
"Ehmm.. Ra.. Loe..."
"Happy birthday, Za. And happy graduation." Lirih ku yang sedang berusaha menahan air mata ku agar tidak jatuh. Reza terlihat seperti orang yang bersalah.
"Ra.." Lirihnya yang seperti ingin menjelaskan sesuatu pada ku. Aku mengambil hadiah ku yang berserakan. Aku mulai membuka kertas kado itu dan membuka kotak yang ada di dalamnya. Aku menunjukkan kalung yang tadi aku ingin berikan padanya.
"Ini kado buat loe, Za." Lirih ku. Aku sengaja memutuskan kalung itu di hadapannya. Ia seperti menahan rasa kecewanya. Karena aku tahu, Reza sangat senang memakai kalung. Aku memberikan kalung ini karena aku melihat kalung yang ia kenakan sudah putus. Jadi, aku berinisiatif untuk memberikan kalung ini sebagai hadiah ulang tahunnya.
"Oh.. Maaf ya. Kalungnya rusak. Tadinya, gue mau kasih itu buat hadiah ultah loe. Kalung loe kan sebelumnya rusak. Jadi, gue mikir buat ngasih kado ini ke loe." Jelas ku lalu melempar dengan sengaja kalung yang barusan aku rusak, ke hadapannya. Ia memandang miris kalung itu. Dia tidak bisa berkata apapun. Aku berusaha menahan tangis ku. Tapi, aku tidak kuasa. Akhirnya, air mata bercucuran dengan sendirinya dari pelupuk mata ku. Aku malu sekali di lihat olehnya karena aku pernah berjanji, untuk tidak menangis lagi di hadapannya. Ternyata, aku tidak tepat janji.
"Maaf kalau gue ganggu. Bye." Ucap ku kemudian segera berlari ke luar ruangan itu. Aku tidak tahan menahan tangisan ini lama-lama. Terdengar jelas Reza yang terus menerus memanggil ku, tapi aku yang tidak memperdulikannya lagi. Aku berlari menuju mobil yang sudah terparkir di depan pagar rumah Reza. Kakak yang setia sedang menunggu ku di depan. Sebelumnya, aku sudah meminta kakak untuk menjemput ku. Dan ternyata, kakak datang tepat waktu kali ini. Tidak seperti biasanya yang selalu datang terlambat.
Saat itu, adalah hal yang paling menyakiti hati ku. Saat-saat di mana aku kehilangan cinta pertama ku. Cinta yang aku anggap tidak akan pernah pudar, atau tersentuh dengan pihak ke tiga. Ternyata, ada banyak cara Tuhan untuk memisahkan kita. Cerita kita, cukup sampai di sini.
Tidak mudah melupakan orang yang sudah aku anggap bagian dari kehidupan ku. Filosofinya sama seperti saat kau berjalan dengan satu kaki. Seperti pincang saat ia pergi meninggalkan ku, apalagi dengan cara yang menyakitkan seperti ini. Aku tidak habis pikir dengannya yang secara terang-terangan menyakiti ku. Ternyata dia sangat tega dengan ku. Butuh waktu untuk ku bisa tertawa lepas seperti biasanya lagi. Butuh waktu untuk ku menata ulang perasaan ku.
@sarjiputwinataaa