Dosen Idiot

Dosen Idiot
60. Gue Mau Loe.


"Siapa yang nyuruh loe buat nangis?" Tanyanya. Aku semakin terenyuh dan air mata mulai deras membanjiri pipi ku.


"Ehehe udah dong.. Kena pipi nih." Candanya. Aku menutup wajah ku dengan lengan ku.


"Senyum, dong." Lirihnya membuat aku terdiam. Ada firasat yang mengatakan tentang sesuatu yang tidak pernah aku inginkan. Aku melihat wajahnya yang mempunyai ciri khas itu.


"Gimana gak nangis? Loe kayak gini tuh seakan-akan loe pengen pergi jauh dari hidup gue. Maksudnya apa loe ngomong kayak gitu? Loe nanya gue bosen atau engga, apa jangan-jangan, loe yang bosen sama gue ya?" Sinis ku. Ia mengerenyitkan dahinya kemudian bangkit dan melahap habis sisa es krim yang ia makan. Ia terlihat sedang mengambil sesuatu.


"Minum dulu. Nanti haus." Tawarnya sembari menyodorkan botol air minum kepada ku. Aku hanya diam karena bingung kenapa dia bisa setenang itu. Padahal, aku mendengarnya saja sampai menangis tersedu seperti ini.


"Bisa-bisanya ya loe tenang begini? Gue tuh sedih tau!" Bentak ku. Ia memandang ku lekat. Tiba-tiba ia menyentuh hidung ku.


"Gak usah khawatir gitu ah. Gue ga akan ninggalin loe kok." Bantahnya. Satu senyuman mengembang di pipi ku. Aku senang mendengar ucapannya tadi. Tapi, aku masih belum tenang dengan perasaan yang aneh yang mengganggu ku sejak tadi.


"Janji, loe gak akan ninggalin gue?" Tanya ku. Ia mengangguk sembari tersenyum hangat.


"Tapi kalau ternyata loe ninggalin gue gimana? Apa jaminan loe?" Tanya ku yang masih belum yakin dengan janjinya itu. Ia menghela nafas panjang kemudian tersenyum.


"Ya gue bakal puter balik dong." Candanya yang justru malah membuat ku kesal. Kenapa di saat seperti ini, dia malah mengajak ku bercanda? Aku memelototinya dan memukul dadanya. Ia tampak meringis kesakitan sembari memegang dadanya.


"Awsss.."


"Sukurin! Siapa suruh loe mainin gue yang lagi serius begini." Bentak ku. Ia malah tertawa lepas melihat ekspresi ku.


"Ihh kok malah ketawa sih? Cubit nih?" Gretak ku. Ia malah semakin menyeleneh.


"Awas ya.." Aku mencubit beberapa bagian dari tubuhnya. Dia pun hanya diam pasrah sembari tertawa kecil. Tentunya, aku hanya berpura-pura mencubitnya. Tidak mencubitnya dengan kencang. Kami pun bergurau dan bercanda bersama sampai tertawa lepas. Aku bahagia memilikinya.


"Ra, gue punya ini dong." Ucapnya sembari menunjukkan gantungan donal duck kesukaan ku. Mata ku membulat dan hanya tertuju pada gantungan itu.


"Waahh.. Sini buat gue dong!!" Teriak ku histeris sembari berusaha mengambil gantungan yang berada di tangannya. Ia berusaha agar aku tak bisa mengambilnya. Kami tertawa lepas hingga terjatuh bersama di rerumputan taman.


Kami pun berbaring di atas rerumputan taman sembari memandangi awan yang bergerak ke arah barat. Hembusan angin yang membawa dedaunan kering, seakan bisa menyejukkan suasana walaupun sinar matahari masih terlihat sangat jelas. Ia menyodorkan gantungan itu pada ku.


"Beneran buat gue?" Tanya ku dengan semangat yang membara. Ia tersenyum pada ku.


"Kok diem aja si?" Heran ku. Ia menghela nafas panjang lalu menoleh ke arah ku. Aku pun ikut menoleh ke arahnya.


Tiba-tiba, ia menyentuh pipi ku dengan hangat. Kami pun saling bertatapan. Melihat manik matanya yang indah, terkesan tegas dan hangat. Alisnya yang khas seperti terpotong pada bagian tengahnya, membuat aku semakin menyukainya.


"Makasih ya udah mau ngasih hati loe buat gue." Lirihnya yang membuat ku sedikit terharu. Aku mengangguk kecil ke arahnya.


"Cuppsss.." Ia mengecup lembut kening ku. Beberapa saat kemudian ia mengecup pipi kanan ku, dan pipi kiri ku. Kemudian kami saling bertatapan kembali.


"Cuppppsss..."


"Degg.." Aku terkejut sampai lemas karena ia mencium bibir ku. Ini adalah first kiss ku. Aku tidak bisa menolak karena aku mencintainya. Lagi pula, perasaan ini baru saja aku rasakan. Aku sangat menikmati ciuman hangatnya. Rasanya seperti melayang terbang ke angkasa. Ternyata seperti ini rasanya ciuman pertama itu. Aku tidak menyangka sama sekali. Karena selama 2 tahun kami menjalani hubungan ini, tidak pernah dia berani melakukan hal-hal semacam ini pada ku. Ia hanya melakukan hal-hal yang biasa orang pacaran lainnya lakukan. Tidak ada yang melebihi yang saat ini kami lakukan. Aku sangat senang karena bisa merasakannya bersama orang yang aku sayang. Orang yang selalu aku impikan akan menjadi jodoh ku kelak.


Ia menyudahi ciumannya itu dan terlihat sedang memegangi kepalanya. Aku yang kaget sontak bangkit dari tempat ku semula. Aku melihatnya seperti sedang menahan sakit yang luar biasa.


"Za loe kenapa, za?" Tanya ku yang khawatir dengan keadaannya. Aku gemetar melihatnya yang sampai menahan seperti itu. Ia kemudian bangkit dan duduk di hadapan ku.


"Gak papa kok. Loe gak usah khawatir ya." Ucapnya yang membuat aku jadi tambah khawatir. Semakin ia menyuruh ku untuk tenang, semakin aku menjadi bertambah takut dengan keadaannya.


"Ah loe apan sih? Jelas-jelas loe tadi kesakitan! Loe kenapa? Gue beliin obat dulu ya? Apa yang loe rasain?" Tanya ku panik melihat keadaannya. Aku bangkit untuk membelikan obat penahan rasa sakit kepala yang ia derita. Namun saat aku bangkit, Ia mencegah diri ku dengan menarik tangan ku.


"Percaya ya sama gue. Gue nggak apa-apa kok! Loe nggak harus kayak gini kok, beneran gak apa-apa." Dia terus-menerus menenangkan ku. Tapi, entah mengapa semakin dia menenangkan ku semakin aku tidak tenang dengan keadaannya. Dia berhasil membuat aku takut kehilangan dirinya.


"Udah sini yuk.." Ajaknya sembari menarik ku halus. Aku memeluk dirinya dengan erat. Aku tak mau kehilangan dia.


"Udah nggak apa-apa, gue baik-baik aja kok! Emangnya gue kenapa coba?" ucapnya membuat aku sedikit tenang.


"Tapi loe gak mau gue beliin obat apa gitu biar loe gak makin sakit?" Tanya ku sekali lagi untuk memastikan keadaannya. Dia mengelus lembut rambut dan pipi ku, membuat ku ingin terus berada di pelukannya.


"Gue gak mau obat." Lirihnya. Aku melepaskan pelukannya dan memandangnya lekat.


"Trus mau apa?" Tanya ku polos. Ia mencubit gemas pipi chubby ku.


"Awwwww sakit." Aku menjerit lirih karena cubitannya yang lumayan membuat pipi ku sakit.


"Gue mau loe."


@sarjiputwinataaa