
"Aaaaawwww..." Aca pun jatuh dan merintih kesakitan karena aku tidak sengaja memukulnya. Aku kesal karena ia menyebut ku sebagai 'pel*cur murahan'. Aku sudah benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Aca!!" Pekik ke dua temannya itu yang langsung menghampiri Aca yang sedang tergeletak di atas lantai kantin. Semua orang seketika berkumpul mengelilingi kami. Aku sama sekali tidak memperdulikan pandangan mereka semua.
"Denger ya.." Ucap ku kasar sembari menunjuk-nunjuk ke arah wajahnya itu. Ia memperhatikan ku sembari mengaduh kesakitan.
"Kalo loe gak bisa jaga mulut loe, gue gak akan segan-segan buat mukul loe berulang kali!!" Ancam ku dengan nada yang sudah mencapai klimaksnya. Amarah ku memuncak seakan sudah tidak perduli dengan apapun dan siapapun lagi. Aku menoleh ke arah Jess yang kelihatan sedang memperhatikan temannya dari jauh. Pandangan kami pun saling bertemu. Aku menatapnya dengan sinis, dan dia membuang pandangannya dengan rasa takut.
Seseorang tiba-tiba berada di hadapan ku sekarang. Aku yang menyadarinya langsung melihat ke arahnya. Terlihat Morgan yang sedang menatap ku datar sembari menghembuskan nafas. Aku rasa, aku sudah di ujung tanduk sekarang. Morgan menangkap basah diri ku. Aku sudah tidak bisa berkata apapun lagi. Walau pun pada dasarnya dia yang memulai peperangan ini, tapi akulah yang salah karena sudah memukulnya.
*
"Apa-apaan ini Ara?" Sinis kaprodi ku yang hampir tidak punya rambut itu. Aku nyaris tertawa karena melihat kepalanya yang jarang terdapat rambut itu.
"Kamu di titipin di sini tuh buat kuliah, bukan buat berantem! Kamu gak malu apa sama orang yang lain?" Ujarnya. Aku hanya menunduk sembari tersenyum kecil untuk menahan tawa ku. Perhatian ku hanya tertuju pada rambutnya. Bukan pada ucapannya.
"Awwwwwwsss.." Aku mengaduh lirih karena Morgan yang berada di samping ku mencubit tangan ku. Mungkin dia memberi signal code agar aku tidak tertawa. Tapi justru aku malah semakin tidak bisa menahan tawa ku.
"Kamu paham gak apa yang saya ucapkan?" Tanyanya. Aku masih saja menahan tawa sembari menunduk.
"Arasha!!" Pekiknya. Aku spontan menoleh ke arahnya dengan sangat terkejut.
"I. Iya Pak!"
"Kamu paham tidak yang saya ucapkan tadi?" Tanyanya lagi. Aku hanya diam bengong tidak tahu dengan apa yang ia ucapkan karena aku tidak menyimaknya. Ia menggelengkan kepalanya sembari mendecap. Mungkin ia sudah kesal dengan kelakuan ku?
"Kamu saya skors 2 minggu!" Ucapnya, aku menganga kaget mendengar keputusannya. Aku tentu tidak bisa menerimanya.
"Lho gak bisa gitu dong pak! Nanti saya gak bisa ikut ujian dong kalau gitu? 1 minggu lagi kan saya ujian kenaikan semester pak!" Bantah ku. Kalau bukan karena ujian kenaikan semester, aku juga pasti sudah senang karena harus berdiam diri di rumah saja.
"Kamu ikut susulan! dan otomatis, nilai kamu E." Pikirannya di luar nalar ku. Aku sama sekali tidak bisa mencerna maksud dan tujuannya.
"Pak.. Gak bisa gitu dong pak. Mengikuti ujian kenaikan semester adalah hak seluruh mahasiswa. Bahkan yang sedang mempunyai trouble sekali pun." Bela Morgan. Aku mulai bisa bernafas lega setelah Morgan membela ku.
"Tapi Pak Morgan, saya melakukan ini demi membuat seluruh mahasiswa menjadi tertib dengan peraturan kampus." Sangkalnya membuat ku menjadi bertambah gondok.
"Apa Bapak sama sekali tidak memikirkan dampaknya? Kalau seluruh mata kuliah mendapat nilai E, padahal anak ini masih duduk di semester 1, bagaimana jadinya jika ia sudah naik ke semester berikutnya? Pastinya akan ada nilai-nilai lainnya yang mendapat nilai E. Jika di semester 7 dan 8 mereka tidak bisa mengejar target revisi karena kelebihan mata kuliah yang harus di revisi, mereka harus menunggu semester berikutnya. Belum lagi kalau mata kuliah yang mereka ingin revisi sudah tidak tersedia atau penuh? Mau tidak mau mereka harus menunggu di semester berikutnya. Otomatis mereka akan menunda wisuda mereka demi mengejar target nilai yang harus mereka capai lebih dulu." Jelas Morgan panjang lebar. Aku tidak salah pilih pasangan! Ia membela ku mati-matian meskipun ia tahu aku memang betul menghajar Aca tadi. Tapi, dia adalah pacar ku. Mau tidak mau, dia harus memihak pada ku. Aku menang kali ini.
"Bapak paham dengan keputusan yang bapak ambil ini? Apa bapak mau generasi anak bangsa jadi lamban berkembang akibat keputusan sepihak ini? Kita gak akan pernah tahu kedepannya nasib mahasiswa kita itu seperti apa. Tapi setidaknya, dengan menyelamatkan satu orang di masa kini, mungkin akan berdampak besar terhadap masa depan nanti. Siapa tahu, orang yang sedang duduk di hadapan Bapak ini, adalah calon orang sukses?" Tambah Morgan. Pak Kaprodi pun hanya memandang tajam Morgan sembari membenarkan kaca matanya itu. Aku pura-pura tidak melihatnya karena aku yakin Pak Kaprodi masih akan tetap dengan keputusannya.
"Ehmm.. Setelah saya menimbang dengan seksama, ada benarnya juga ucapan dari Pak Morgan ini. Keputusan saya, akan saya ringankan menjadi 1 minggu saja. Saya harap, kamu tidak akan mengulangi hal semacam ini lagi. dan saya ingin, kamu bisa mempertanggungjawabkan pendirian kamu dengan menandatangani perjanjian di atas materai." Jelasnya. Aku masih merasa keberatan dengan hal itu.
'What? Pake perjanjian segala. Ribet amat sih!' Batin ku kesal. Aku melihat ke arah Morgan yang sedang memperhatikan Bapak Kaprodi. Mata cokelatnya mengalihkan perhatian ku. Aku mendadak mabuk di buatnya. Untungnya, saat ini dia sudah menjadi milik ku. Aku tidak lagi merasa kesal karena tidak bisa menumpahkan perasaan ku. Tiba-tiba saja ia menoleh ke arah ku. Tatapan kami bertemu satu sama lain. Keheningan terjadi seketika sesaat dia mulai memandang wajah ku. Aku sedikit terkejut karena ia melihat ku dengan tatapan yang berbeda kali ini. Seperti sedang mengatakan 'aku rindu.'
"Ekhmmmm..." Bapak Kaprodi berdehem keras, membuat aku dan Morgan sadar dari lamunan ku. Aku gelagapan membuang pandangan ku. Begitu pun Morgan. Aku melihat ke arah Kaprodi yang sedang menggeleng kecil sembari mendecap.
"Tebar pesona terus..." Ledeknya pada Morgan. Aku pun tersenyum karena ejekannya itu. Berbeda dengan Morgan, ia hanya memandang Kaprodi dengan datar. Kaprodi yang mengetahui mood Morgan itu, menjadi gelagapan karena Morgan kelihatannya sedang tidak ingin bercanda. Bagaimana mungkin? di saat seperti ini, Kaprodi bisa melontarkan candaannya? Jika aku jadi Morgan, aku pun akan melakukan hal yang sama. Bahkan mungkin, aku akan menebas kepalanya yang hampir botak itu.
"Sampai mana kita tadi?" Tanya Morgan datar. Kaprodi membetulkan dasinya yang terlihat sudah rapi itu. Aku hanya diam sembari menunduk dan menahan tawa ku kembali.
"One hit." Lirih ku. Kaprodi melihat ke arah ku dengan sinis. Ia terlihat ingin marah, tapi aura Morgan membuatnya tak melakukan itu. Ia memberikan secarik kertas dan sebuah pulpen ke arah ku. Aku melihat pulpen miliknya yang aku tahu itu adalah pulpen bermerk dengan edisi yang terbatas, yang hanya di pakai untuk menulis tanda tangan saja. Baru kali ini aku terpukau hanya dengan sebuah pulpen.
"Waaah bukannya itu pulpen dari Jepang yang terkenal dan langka di Indonesia itu ya pak?" Tanya ku dengan sangat bersemangat. Terlihat tatapan angkuh dari Kaprodi. Aku melihat sekeliling sisi dari pulpen legendaris ini. Apa yang membuat pulpen ini mahal harganya, selain memang biaya import dari negeri asalnya?
"Iya dong.. Saya beli itu waktu saya pergi ke Jepang. Harganya berapa? 10.000 Yen untuk 1 pulpen." Ucap Kaprodi dengan sangat sombongnya. Aku sangat terpukau dengan pernyataannya itu.
"Kenapa di bilang langka? Karena mungkin saat itu banyak perusahaan baru yang memproduksi pulpen dengan kualitas yang sama tetapi dengan harga murah. Sehingga jenis pulpen ini agak sulit di cari. Namun, itu sama sekali tidak berpengaruh dengan saya. Karena banyak teman saya yang bekerja di pabrik pulpen itu. Saya bisa dengan mudahnya membeli melalui mereka. Tentunya, dengan harga yang lebih murah." Tambah Morgan. Kaprodi sudah tidak bisa berkata apapun lagi. Ia hanya diam mengaga sembari memelototi Morgan yang ternyata jauh lebih sombong di atasnya. Aku sudah tahu dengan sikap Morgan yang seperti ini. Jadi, aku sudah tidak kaget lagi kalau Morgan sampai berbicara yang tidak-tidak.
"Kamu mau? Nanti saya bawakan. Masih ada beberapa kardus besar pulpen yang seperti itu. Mungkin, gak akan pernah habis sampai nanti habis usia saya." Ucap Morgan membuat ku sangat terpukau. Dia mempunyai barang bagus yang banyak sekali jumlahnya. Aku bisa dengan mudah meminta kapan pun padanya.
"Gak mungkin.. Punya kamu ga ada sertifikatnya kali." Ucap Kaprodi yang masih tidak mau kalah dengan keadaan. Morgan menatapnya tajam.
"Apa mau saya tunjukkan semua sertifikat yang sudah saya tumpuk itu?" Morgan mencelanya. Aku semakin terkejut hanya karena masalah pulpen saja, mereka jadi saling beradu kekayaan seperti ini. Lagian, ada-ada saja. Apa benar hanya sebuah pulpen biasa tapi memiliki sertifikat? Yang benar saja.
Kaprodi pun hanya cuap cuap tanpa mengeluarkan suara. Ia nampaknya sudah tidak bisa berkata apapun lagi. Ia menatap Morgan dengan sinis, tapi Morgan hanya membalasnya dengan tatapan datar.
"Sudah-sudah. Cepat, tanda tangan saja!" Suruhnya. Aku hanya tersenyum menahan tawa ku. Aku kemudian menandatangani surat perjanjian di atas materai 3000. Aku memberikan suratnya kepada Kaprodi.
"Jangan di ulangi lagi. Terhitung Senin ini kamu di skors. Senin depan, kamu boleh masuk kembali dan langsung mengerjakan mata kuliah yang sedang diujikan. Kamu bisa meminta jadwalnya pada Dosen Lidya. Saya rasa, sudah tidak ada lagi yang harus di bicarakan." Jelasnya. Aku mengangguk paham dengan yang dia ucapkan.
Aku keluar ruangan bersama Morgan dan melewati ruang UKS. Pintunya tidak tertutup. Aku menoleh ke arah ranjang UKS. Terlihat Aca dan kawan-kawannya, termasuk Jessline yang sedang mengobati luka memar di pipi kiri Aca. Mereka semua menoleh ke arah ku yang sedang berjalan bersama Morgan di samping ku. Mereka bertiga kecuali Jess memandang sinis dengan tatapan tidak percaya.
"Tuh dia sama Morgan lagi jalan!!" Kesal Aca yang sedang gelagapan karena harus membagi fokusnya ke pipinya dan juga ke arah ku. Aku menatapnya sengit sembari memberikan jari tengah ku ke arahnya. Ia nampak tidak terima dengan sikap ku yang sangat kasar ini.
"Whatttttt????" Pekik salah satu teman Aca.
"Apa-apaan tuh ca?" Satu lainnya membuat Aca semakin kesal.
"Wah.. Parah si!!"
"Awas aja dia!"
"Udahlah, kita bales nanti." Gumam Aca yang masih terdengar oleh ku. Aku tidak memperdulikannya dan hanya jalan saja bersama Morgan.
Aku menuju kelas ku untuk sekedar berpamitan dengan teman-teman ku dan juga ingin mengambil tas ku. Tepat di depan koridor kelas, Fla dan yang lainnya memenuhi koridor depan kelas ku.
"Gimana ra?" Tanya Fla. Aku menggeleng padanya. Mereka semua seperti kecewa melihat ekspresi ku.
"Gue di skors 1 Minggu." Lirih ku. Mereka semua memasang tampang tak percaya.
"Hah? Ya kali? Minggu depan kita ujian lho.." Bantah Fla. Aku hanya diam sembari menatapnya sendu.
"Gimana sih Pak Morgan, harusnya belain Ara dong!" Ucap Rafa yang sepertinya tidak bisa menerima ini. Morgan hanya diam tak bergeming.
"Tau nih Pak Morgan mah!" Ucap Ray membenarkan. Mereka nampak tidak setuju dan kecewa dengan keputusan Kaprodi yang memutuskan men skors diri ku. Tapi, aku tidak masalah dengan hal itu.
Aku tak sengaja melihat ke arah Farha yang hanya diam memandang ke arah Morgan. Aku merasa ada yang aneh dari Farha. Kenapa ia memandang Morgan dengan lekat? Seperti orang yang sudah mengenal Morgan dengan lama. Apa hanya perasaan ku saja ya? Ah mana mungkin aku cemburu dengan Farha? Dia kelihatan baik di mata ku. Di tambah lagi, Morgan juga sepertinya tidak melihat ke arahnya sejak tadi. Ia hanya melihat ke arah Ray dan Rafa saja karena mereka berdua mengajaknya berbicara tadi.
"Yah kakak mah!!" Kesal Fla. Ray dan Rafa bengong mendengar rengekan Fla.
"Kok kakak sih?" Bingung Ray. Fla memasang tampang tegang saat ini.
"Loe adeknya Pak Morgan, Fla?" Bidik Rafael. Suasana nampak hening di tambah tatapan Farha yang semakin membuat ku risih. Kenapa ia malah makin memandangi Morgan dengan lekat? Seperti seseorang yang telah yakin dengan tebakannya.
'Duh.. Kok hati kayak sakit gini yah?' Batin ku sembari memperhatikan Farha dengan seksama. Ia sama sekali tidak menghiraukan orang lain yang ada di sekelilingnya. Dia hanya terpaku dengan Morgan. Tapi, aku berusaha meyakinkan diri ku supaya aku tidak terlalu merisaukan masalah Farha ini. Mungkin aku terlalu terbawa dengan situasi yang sekarang sedang aku alami ini.
@sarjiputwinataaa