Dosen Idiot

Dosen Idiot
Surat Cinta Untuk Arasha


Aku menangis di tengah derasnya hujan, sembari merenungi apa yang baru saja terjadi.


Kenapa sejak aku masuk ke kampus ini, kehidupanku menjadi lebih kacau?


Harga diri, cinta, kasih, dan perasaanku seketika hilang dan remuk. Aku bukan lagi diriku yang sekarang. Aku sudah terbunuh oleh rasa sesak yang melilit kehidupanku. Aku bukan lagi Ara yang bisa menikmati indahnya kehidupan. Aku yang sekarang, hanyalah aku yang bodoh.


“Kenapa semua ini terjadi sama gue, sih!” Aku berteriak sekeras mungkin, tak peduli dengan keadaan sekitarku.


Yang aku butuhkan hanyalah, bahu untuk bersandar.


”Grep….”


Seseorang memeluk tubuhku dari belakang. Aku kaget bukan main. Aku berbalik ke belakang. Kali ini, di sana terlihat Morgan yang menatapku dengan tatapan yang dingin.


Aku kesal dengannya. Kenapa ia malah muncul, di saat yang tidak tepat seperti ini? Seharusnya, ia muncul sebelum Bisma muncul di hadapanku tadi, agar aku tidak bisa mendengar omong kosong Bisma yang tidak jelas itu.


Tapi, ia masih mau peduli padaku. Tanpa pikir panjang, aku langsung berhambur memeluk Morgan dengan sangat erat. Kutumpahkan perasaan kecewa, kesal, sedih, dan seluruh keluh kesahku padanya.


Pelukanku mungkin saja bisa membuatnya kesulitan bernapas. Aku tak perduli akan hal itu. Yang kupikirkan sekarang, hanyalah rasa kesal diriku.


Aku sudah sangat kesal dengan hidupku. Aku sudah tidak bisa berbuat apapun lagi. Hanya bisa memeluk Morgan, sambil menangis di pelukannya.


“Gan... kenapa sih, kenapa gue selalu menderita begini?” tanyaku padanya.


Morgan hanya diam, tak bergeming. Ia hanya memelukku erat. Sampai aku pun sulit untuk bernapas.


Aku merasa tak enak padanya. Aku takut ia merasa sesak. Aku berusah melepaskan diri darinya.


“Jangan... jangan dilepas,” ucapnya sembari memelukku lagi, membuatku tertahan.


Aku tahu ini berat untuk Morgan. Tapi, tak bisa dipungkiri, Aku ternyata sudah mencintai Bisma.


“Saya rindu sama kamu, Ra,” lirihnya, aku mendadak kesal mendengarnya, lalu mendorong keras tubuhnya sampai ia terhempas dari pelukanku.


“Apa-apaan loe? Bilang kangen, tapi gak pernah hubungin gue?” Bentakku kasar padanya.


Morgan hanya diam, sembari melihat aku yang sudah meledak-ledak seperti ini. Aku juga tidak mengerti dengan perasaanku. Aku tidak menyangka akan serindu ini dengan Morgan, saat dia tidak memberikanku kabar, walau sehari saja.


Nampaknya, Morgan tak begitu merindukanku. Ia hanya diam, dengan sikap dingin yang ia punya. Hatiku sangat terpukul, karena di sini, mungkin hanya aku yang merasakan sepinya tak diberi kabar.


Sementara dia? Sibuk untuk membuat jarak di antara kita semakin renggang.


“Udah marahnya?” tanyanya dengan santai.


Aku semakin tidak terima dengan ucapannya yang sekarang ini. Dia benar-benar tidak menghargai perasaanku.


Perasaan wanita yang sedang dilanda rasa kecewa, galau, dan frustrasi. Aku semakin panas, tapi aku tidak bisa berbicara lebih banyak lagi padanya. Itu hanya membuatku semakin tak terkendali.


“Kok diam? Ayo dong, ngomong lagi. Ngomong sampai kamu puas.” Suruhnya.


Aku masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Morgan. Sebenarnya, dia mencintaiku atau tidak?


Aku seperti melihat musuh saat memandang dirinya. Tidak ada rasa khusus apapun ketika berhadapan dengan dirinya. Mungkin, yang aku rasakan bukan rindu, tapi rasa kehilangan.


Tapi rasa kehilangan itu, lebih cocok dipakai untuk orang yang memilikinya, bukan seperti aku.


Aku bukan siapa-siapa di sini.


“Gak bisa ngomong, kan?” tanyanya.


Aku semakin tidak tahan dengan sikapnya. Aku geram, amarahku kalut, dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkannya.


“Hap....” Ia menarik tanganku tiba-tiba.


Pandangan kami pun terpaksa menjadi satu titik, membuatku merasa risih.


“Lepasin, gak!” Bentakku kasar, dengan mata yang mendelik.


“Kamu gak perlu repot-repot marah, dan pergi ninggalin saya di sini. Saya cuma mau ngomong satu hal ke kamu,” gumamnya, aku menjadi penasaran dengan ucapan yang akan Morgan katakan.


Ia menyodorkan sebuah amplop padaku. Aku melihat dan mengamati amplop berwarna hitam itu.


Apa itu?


Sebetulnya, amplop apa ini?


“Buang kalau kamu gak mau baca,” ucapnya kemudian berlalu pergi dengan sikap menyebalkannya itu.


Kenapa Morgan selalu sedingin itu terhadapku? Padahal kalau dilihat lagi, saat ia tersenyum, itu jauh lebih baik daripada sikap sok dinginnya itu.


Menyebalkan.


Aku melihat sepucuk surat yang ia berikan, dengan seksama.


Kalau diperhatikan kembali, lucu juga, ya. Dia memberikanku sepucuk surat berlapis amplop hitam, yang diletakkan di dalam plastik es.


Supaya tidak basah mungkin? Haha.


“Ada-ada aja si Morgan.” Aku menggeleng kecil.


***


Aku baru saja tiba di rumah. Aku tak sengaja berpapasan dengan kakak, yang saat ini terlihat sedang bersama dengan gadis itu lagi, di ruang tamu.


Aku berpura-pura tidak melihatnya, dan melangkahkan kakiku dengan cepat melewati mereka, berharap mereka tidak memanggilku.


“Ra….”


‘Aduh, ternyata kepanggil juga gue,’ batinku, yang mengaduh karena kenyataan tidak sesuai dengan harapanku.


Aku menghentikan langkahku, dan sekarang aku berhadapan dengan mereka.


“Udah pulang?” tanya Kakak.


Aku memutar bola mataku, sembari melipat kedua tanganku.


“Belom.” Ketusku.


Kakak nampak tidak suka jawabanku.


Ya, aku ingin kakak tahu, kalau aku tidak suka dengan gadis yang ada di sampingnya sekarang. Tapi, kakak selalu membela Jessline, yang dia pikir namanya adalah Monica.


Ya, Jess sangat licik menurutku. Entah susuk apa yang ia pakai, untuk memikat hati kakak, tapi aku harus akui, susuknya memang sangat manjur.


“Kamu kenapa si, Ra? Marah-marah terus,” sinisnya.


Aku malah menyeleneh.


“Gak usah pikirin aku deh, Kak. Pikirin aja tuh si MONICA.” Ketusku sembari menekan kata “Monica”.


Aku langsung pergi menuju kamarku, tak menghiraukan mereka yang sedang bermesraan.


Aku heran, kenapa kakak selalu bermain dengan wanita yang tidak jelas? Usianya sudah cukup matang untuk melamar seorang gadis. Tapi, kenapa dia tidak mau memulai, dan malah sibuk dengan para wanita tidak jelas, yang hanya singgah sementara saja di hatinya?


“Hah….”


Kuhempaskan tubuhku ke atas ranjang tidur. Aku merasa, tubuhku sangat lelah. Aku sampai malas untuk bergerak, walau hanya sedikit.


Tiba-tiba saja, aku teringat sesuatu yang tadi Morgan berikan kepadaku. Aku merogoh ke dalam tasku. Kuambil sepucuk surat yang terbalut dengan plastik es itu.


“Hem….” Aku tersenyum sembari memandanginya.


Lucu sekali dia.


Kenapa dia sampai terpikir dengan hal semacam ini?


Kemudian, aku membuka plastik tersebut, secara perlahan. Dengan sabar aku membuka ujung yang melipat plastik itu. Namun tak kunjung terbuka. Aku mulai tak sabar karena merasa penasaran dengan isi dari surat tersebut.


“Duh, susah banget, sih!” geramku.


Aku mulai panas, dan mulai membuka paksa plastik itu. Aku merobeknya secara asal. Akhirnya, aku bisa mengambil surat yang ada di dalamnya.


“Tukk....”