
Bisma kembali menuju ke dalam
ruangan caffee itu. Sepertinya aku aman. Ia sama sekali tidak melihat
keberadaanku.
Aku aman saat ini.
Tapi, aku penasaran. Apa yang
sebenarnya sedang mereka bicarakan?
Lagi-lagi aku harus
menunggu. Jangan sampai, mereka pergi tanpa sepengetahuanku. Aku tidak ingin
Ara sampai dilecehkan olehnya.
Firasatku terus-menerus jelek.
Aku tidak tahu, sepertinya akan ada kejadian yang buruk, yang tidak bisa terprediksi
olehku, tapi aku bisa merasakannya.
“Baiklah, saya rasa, saya harus
menunggu di sini,” lirihku, sembari menoleh ke sekelilingku, khawatir kalau ada
yang melihat keberadaanku.
Bisa panjang urusan.
Setelah menunggu beberapa
lama, akhirnya mereka berdua pun keluar dengan kondisi Ara yang sepertinya
tidak beres. Aku melihatnya seperti sedang dipapah oleh Bisma.
Ada apa ini? Apa dia mabuk?
Mereka pergi dari caffee ini dengan segera. Aku merasa, aku harus mengikutinya. Aku khawatir, Ara dilecehkan
olehnya. Aku tidak ingin itu terjadi.
“Mau ke mana mereka?”
lirihku.
Aku pergi ke dalam mobilku
lalu menggas mobilku dengan kecepatan tinggi. Aku tidak ingin kehilangan
jejaknya. Dengan penglihatan yang minim, aku berusaha mengejar Bisma yang sedang
membawa Ara menggunakan motornya. Aku kesulitan untuk mengikutinya, karena
Bisma terlalu cepat untuk mengendarai motornya.
Kenapa ia bertindak gegabah
seperti itu? Itu pasti akan membuat Ara tak nyaman.
Kalau seperti ini, bagaimana
bisa aku mengejarnya?
Terlintas di benakku, seseorang
yang bisa aku repoti, untuk aku mintai tolong. Ia pasti bisa membantuku.
Aku menghubunginya di
telepon.
“......”
“Saya harus merepotkan Anda
kali ini.”
“.....”
“Bantu saya. Ikuti
seseorang yang membawa Ara.”
“Jadi ini tentang si cewek
jutek itu?” terdengar suaranya yang sedang melecehkan Ara.
Aku tidak punya banyak
waktu untuk menanggapi celotehannya itu.
“Jangan banyak cakap. Bantu
saya, cepat. Mereka baru saja melewati gang depan rumahmu,” ucapku memberi aba-aba
padanya.
“Okey.”
Aku mengakhiri teleponku
dengannya. Berharap, ia bisa menolongku kali ini.
Aku terpaksa meminta tolong
kepada teman sekaligus rival bagiku. Dicky, siapa pun tidak akan pernah bisa
berbohong darinya. Prediksinya selalu tepat, tentang hal-hal yang berbau
psikolog. Ara saja ketahuan menyukainya waktu itu, karena memainkan gestur
tubuh yang memancing *****.
Gadis itu sangat bodoh.
Tak sadar, satu senyuman
mengembang di pipiku, saat aku tak sengaja memikirkan Ara. Aku tidak bisa lepas
darinya sekarang. Tapi jika dipikir kembali, untuk apa aku melakukan ini semua,
kalau tidak saling menyayangi?
Suasana berubah seketika,
saat aku tersadar bahwa aku telah kehilangan jejak mereka. Aku menghentikan
laju kendaraanku, sembari menoleh ke sekelilingku.
Aku benar tidak bisa
menemukan jejak mereka.
“Drtt....”
Notifikasi SMS masuk ke handphone-ku.
Buru-buru aku melihat ke arahnya.
“Ara dan laki-laki yang
tidak saya kenal, menuju ke salah satu hotel. Prediksi saya tepat. Saya sudah
tanya pada resepsionisnya untuk memberikan saya kunci cadangan kamar yang
mereka pesan. Tapi saya gagal. Mungkin, saya kurang tampan. Haha. Kau saja yang
meminta.” Isi pesan singkat dari Dicky, membuatku kesal.
‘Sial! Apa iya begitu saja
dia tidak bisa mengurusnya?’ Batinku
yang sudah terlanjur kesal.
Tanpa pikir panjang, aku langsung
melajukan kembali kendaraanku, untuk menuju lokasi yang Dicky berikan.
‘Pokoknya saya harus
cepat!’
di tempat itu dengan segera. Dengan perasaan gelisah, aku sudah tidak bisa
berpikir jernih sehingga membuatku melajukan kendaraan ini dengan sangat cepat,
apalagi jalanan sedang mendukung karena sudah sepi.
Aku sudah sampai di lobi hotel
yang aku tuju. Tanpa basa-basi, aku langsung memberikan kunci mobilku kepada secure
parking hotel tersebut dan memberikan beberapa lembar uang tips padanya. Aku berlari menuju lobi hotel dengan perasaan gelisah.
Benar saja firasatku. Laki-laki
brengsek itu memang sudah merencanakan sesuatu yang tidak baik terhadap Ara. Untuk
apa ia membawa Ara ke sebuah hotel?
Aku tidak bisa membiarkan
itu terjadi.
Aku berlarian menuju ke
arah resepsionis. Di sana sudah ada Dicky yang sudah menungguku.
“Nah... ini yang daritadi saya
tunggu,” lirih Dicky yang masih terdengar olehku.
Aku berhenti dengan
napas yang masih tersendat. Aku berusaha menghela napas dan mengatur napasku. Aku
sudah kehabisan napas karena berlari dengan sangat cepat, tanpa menghiraukan
keselamatanku.
Yang ada di pikiranku
saat ini, hanya Ara saja.
“Gak perlu banyak
basa-basi.” Aku berlari dan langsung menuju meja resepsionisnya, “kamar atas
nama Ara atau Bisma,” ucapku pada resepsionis yang sedang berjaga.
“Ruang VVIP Lantai 30G,” jawab
wanita itu dengan aksen yang sangat profesional.
“Tolong berikan kunci
cadangan, untuk kami,” pintaku dengan sangat tergesa-gesa.
Aku tidak bisa membiarkan
ini terjadi.
“Oh maaf sekali, Pak. Kami
tidak bisa memberikannya untuk alasan apapun,” tolaknya, membuatku sangat marah
dengan diriku sendiri saat itu. Aku merasa diriku menjadi sangat tidak berguna.
Andai saja aku lebih cepat
sedikit untuk sampai.
“Ini menyangkut harga diri tunangan
saya, Mbak!” Bentakku berusaha menjelaskan apa yang terjadi saat ini.
“Kami mengerti, Pak. Tapi
maaf, ini kebijakan dan peraturan dari hotel.”
Aku membuang pandanganku,
saking kesalnya. Aku melihat Dicky, sedang memandang ke arahku, seperti ingin
memintaku untuk memberikan penjelasan kepadanya tentang apa yang barusan ia
dengar. Tapi aku sama sekali tidak punya waktu untuk menjelaskan.
“Kecuali--” Ucap resepsionis
itu menggantung.
Aku dan Dicky saling memandang
mendengar pengecualiannya.
***
Aku berlari menuju lift yang akan aku naiki. Aku sangat terburu-buru, sampai lupa dengan keselamatanku.
Aku melihat Ara dan Bisma
yang sudah memasuki lift di ujung sana. Aku berlarian dengan sangat
tergesa, berharap bisa menghalangi mereka.
‘Shit! Itu mereka!’ batinku kesal.
Aku berusaha untuk
menghalangi lift-nya, agar mereka tidak bisa pergi ke tempat yang sudah mereka
pesan.
Namun aku tidak sempat
untuk menahannya. Pintu lift sudah terkunci saat ini, dengan membawa
mereka yang ada di dalamnya.
Aku menatap pintu lift yang
sudah tertutup, dengan sangat kesal.
“Argh!” Teriakku kesal
dengan keadaan.
Dicky terlihat sedang
berusaha memencet tombol lift yang sebelahnya.
“Sial! Masih lantai 15!
Kita gak akan sempat!” gumam Dicky yang terus terngiang di telingaku.
Aku mendelik.
Tunggu, aku melupakan
sesuatu.
Aku spontan menoleh ke arah
Dicky, yang ternyata juga sedang menoleh ke arahku.
“Tangga darurat!” ucap kami
bersamaan secara spontan.
Aku dan Dicky langsung pergi
meninggalkan lift itu, untuk menuju ke arah tangga darurat.
Aku berusaha agar aku tidak
begitu terlambat.
‘Ra, tunggu saya, ya,’batinku cemas.
Aku merasa tersiksa. Hari ini, hal buruk terjadi
pada orang yang aku cintai. Aku tak bisa melihat harga dirinya jatuh di hadapan
laki-laki yang tidak bertanggungjawab kepadanya.