Dosen Idiot

Dosen Idiot
Maniak 4


Bisma kembali menuju ke dalam


ruangan caffee itu. Sepertinya aku aman. Ia sama sekali tidak melihat


keberadaanku.


Aku aman saat ini.


Tapi, aku penasaran. Apa yang


sebenarnya sedang mereka bicarakan?


Lagi-lagi aku harus


menunggu. Jangan sampai, mereka pergi tanpa sepengetahuanku. Aku tidak ingin


Ara sampai dilecehkan olehnya.


Firasatku terus-menerus jelek.


Aku tidak tahu, sepertinya akan ada kejadian yang buruk, yang tidak bisa terprediksi


olehku, tapi aku bisa merasakannya.


“Baiklah, saya rasa, saya harus


menunggu di sini,” lirihku, sembari menoleh ke sekelilingku, khawatir kalau ada


yang melihat keberadaanku.


Bisa panjang urusan.


Setelah menunggu beberapa


lama, akhirnya mereka berdua pun keluar dengan kondisi Ara yang sepertinya


tidak beres. Aku melihatnya seperti sedang dipapah oleh Bisma.


Ada apa ini? Apa dia mabuk?


Mereka pergi dari caffee ini dengan segera. Aku merasa, aku harus mengikutinya. Aku khawatir, Ara dilecehkan


olehnya. Aku tidak ingin itu terjadi.


“Mau ke mana mereka?”


lirihku.


Aku pergi ke dalam mobilku


lalu menggas mobilku dengan kecepatan tinggi. Aku tidak ingin kehilangan


jejaknya. Dengan penglihatan yang minim, aku berusaha mengejar Bisma yang sedang


membawa Ara menggunakan motornya. Aku kesulitan untuk mengikutinya, karena


Bisma terlalu cepat untuk mengendarai motornya.


Kenapa ia bertindak gegabah


seperti itu? Itu pasti akan membuat Ara tak nyaman.


Kalau seperti ini, bagaimana


bisa aku mengejarnya?


Terlintas di benakku, seseorang


yang bisa aku repoti, untuk aku mintai tolong. Ia pasti bisa membantuku.


            Aku menghubunginya di


telepon.


“......”


“Saya harus merepotkan Anda


kali ini.”


“.....”


“Bantu saya. Ikuti


seseorang yang membawa Ara.”


“Jadi ini tentang si cewek


jutek itu?” terdengar suaranya yang sedang melecehkan Ara.


Aku tidak punya banyak


waktu untuk menanggapi celotehannya itu.


“Jangan banyak cakap. Bantu


saya, cepat. Mereka baru saja melewati gang depan rumahmu,” ucapku memberi aba-aba


padanya.


“Okey.”


            Aku mengakhiri teleponku


dengannya. Berharap, ia bisa menolongku kali ini.


Aku terpaksa meminta tolong


kepada teman sekaligus rival bagiku. Dicky, siapa pun tidak akan pernah bisa


berbohong darinya. Prediksinya selalu tepat, tentang hal-hal yang berbau


psikolog. Ara saja ketahuan menyukainya waktu itu, karena memainkan gestur


tubuh yang memancing *****.


Gadis itu sangat bodoh.


Tak sadar, satu senyuman


mengembang di pipiku, saat aku tak sengaja memikirkan Ara. Aku tidak bisa lepas


darinya sekarang. Tapi jika dipikir kembali, untuk apa aku melakukan ini semua,


kalau tidak saling menyayangi?


Suasana berubah seketika,


saat aku tersadar bahwa aku telah kehilangan jejak mereka. Aku menghentikan


laju kendaraanku, sembari menoleh ke sekelilingku.


Aku benar tidak bisa


menemukan jejak mereka.


“Drtt....”


Notifikasi SMS masuk ke handphone-ku.


Buru-buru aku melihat ke arahnya.


“Ara dan laki-laki yang


tidak saya kenal, menuju ke salah satu hotel. Prediksi saya tepat. Saya sudah


tanya pada resepsionisnya untuk memberikan saya kunci cadangan kamar yang


mereka pesan. Tapi saya gagal. Mungkin, saya kurang tampan. Haha. Kau saja yang


meminta.” Isi pesan singkat dari Dicky, membuatku kesal.


‘Sial! Apa iya begitu saja


dia tidak bisa mengurusnya?’ Batinku


yang sudah terlanjur kesal.


Tanpa pikir panjang, aku langsung


melajukan kembali kendaraanku, untuk menuju lokasi yang Dicky berikan.


‘Pokoknya saya harus


cepat!’


di tempat itu dengan segera. Dengan perasaan gelisah, aku sudah tidak bisa


berpikir jernih sehingga membuatku melajukan kendaraan ini dengan sangat cepat,


apalagi jalanan sedang mendukung karena sudah sepi.


Aku sudah sampai di lobi hotel


yang aku tuju. Tanpa basa-basi, aku langsung memberikan kunci mobilku kepada secure


parking hotel tersebut dan memberikan beberapa lembar uang tips padanya. Aku berlari menuju lobi hotel dengan perasaan gelisah.


Benar saja firasatku. Laki-laki


brengsek itu memang sudah merencanakan sesuatu yang tidak baik terhadap Ara. Untuk


apa ia membawa Ara ke sebuah hotel?


Aku tidak bisa membiarkan


itu terjadi.


Aku berlarian menuju ke


arah resepsionis. Di sana sudah ada Dicky yang sudah menungguku.


“Nah... ini yang daritadi saya


tunggu,” lirih Dicky yang masih terdengar olehku.


            Aku berhenti dengan


napas yang masih tersendat. Aku berusaha menghela napas dan mengatur napasku. Aku


sudah kehabisan napas karena berlari dengan sangat cepat, tanpa menghiraukan


keselamatanku.


            Yang ada di pikiranku


saat ini, hanya Ara saja.


“Gak perlu banyak


basa-basi.” Aku berlari dan langsung menuju meja resepsionisnya, “kamar atas


nama Ara atau Bisma,” ucapku pada resepsionis yang sedang berjaga.


“Ruang VVIP Lantai 30G,” jawab


wanita itu dengan aksen yang sangat profesional.


“Tolong berikan kunci


cadangan, untuk kami,” pintaku dengan sangat tergesa-gesa.


Aku tidak bisa membiarkan


ini terjadi.


“Oh maaf sekali, Pak. Kami


tidak bisa memberikannya untuk alasan apapun,” tolaknya, membuatku sangat marah


dengan diriku sendiri saat itu. Aku merasa diriku menjadi sangat tidak berguna.


Andai saja aku lebih cepat


sedikit untuk sampai.


“Ini menyangkut harga diri tunangan


saya, Mbak!” Bentakku berusaha menjelaskan apa yang terjadi saat ini.


“Kami mengerti, Pak. Tapi


maaf, ini kebijakan dan peraturan dari hotel.”


Aku membuang pandanganku,


saking kesalnya. Aku melihat Dicky, sedang memandang ke arahku, seperti ingin


memintaku untuk memberikan penjelasan kepadanya tentang apa yang barusan ia


dengar. Tapi aku sama sekali tidak punya waktu untuk menjelaskan.


“Kecuali--” Ucap resepsionis


itu menggantung.


Aku dan Dicky saling memandang


mendengar pengecualiannya.


***


Aku berlari menuju lift yang akan aku naiki. Aku sangat terburu-buru, sampai lupa dengan keselamatanku.


Aku melihat Ara dan Bisma


yang sudah memasuki lift di ujung sana. Aku berlarian dengan sangat


tergesa, berharap bisa menghalangi mereka.


‘Shit! Itu mereka!’ batinku kesal.


Aku berusaha untuk


menghalangi lift-nya, agar mereka tidak bisa pergi ke tempat yang sudah mereka


pesan.


Namun aku tidak sempat


untuk menahannya. Pintu lift sudah terkunci saat ini, dengan membawa


mereka yang ada di dalamnya.


Aku menatap pintu lift yang


sudah tertutup, dengan sangat kesal.


“Argh!” Teriakku kesal


dengan keadaan.


Dicky terlihat sedang


berusaha memencet tombol lift yang sebelahnya.


“Sial! Masih lantai 15!


Kita gak akan sempat!” gumam Dicky yang terus terngiang di telingaku.


Aku mendelik.


Tunggu, aku melupakan


sesuatu.


Aku spontan menoleh ke arah


Dicky, yang ternyata juga sedang menoleh ke arahku.


“Tangga darurat!” ucap kami


bersamaan secara spontan.


Aku dan Dicky langsung pergi


meninggalkan lift itu, untuk menuju ke arah tangga darurat.


Aku berusaha agar aku tidak


begitu terlambat.


‘Ra, tunggu saya, ya,’batinku cemas.


Aku merasa tersiksa. Hari ini, hal buruk terjadi


pada orang yang aku cintai. Aku tak bisa melihat harga dirinya jatuh di hadapan


laki-laki yang tidak bertanggungjawab kepadanya.