Dosen Idiot

Dosen Idiot
91. Bolehkah Aku Jatuh Cinta? (SEASON 2 EPS. 9)


Aku mengeluarkan handphone ku untuk menghubungi Ara. Aku mulai khawatir dengan keberadaannya.


"Bipp.."


"Tuuuuttt...."


Telepon dengan Ara tidak tersambung. Aku tidak tenang karena kehilangan kontak darinya. Apa yang harus Aku lakukan? Menghubungi polisi setempat? Atau mencarinya sendiri? Tapi kemana Aku harus mencarinya?


"Gak ada waktu! Cari kemana aja yang penting cari!" Tegas ku. Aku langsung memakai jaket yang Ara berikan pada ku. Jaket ini lumayan membuat tubuh ku hangat. Aku berlarian tanpa tahu arah. Aku berhenti pada persimpangan jalan. Aku menoleh ke kiri atau ke kanan, Aku mengambil jalur ke kanan. Berharap, ada sedikit peluang untuk bisa bertemu Ara.


"di mana kamu, Ra?" Lirih ku sembari terus berlari kecil dan menoleh ke segala penjuru.


'Aku harus nemuin Kamu, Ra. Kalau enggak, gimana Arash di sana? Pasti gak tenang.' Batin ku yang hampir menyerah karena belum berhasil menemukannya.


*


-ARA MAIN-


Aku berjalan menyusuri jembatan pelangi yang terlihat sangat indah. Tenyata, Aku sudah berjalan sejauh ini. Kira-kira, sekitar 6km dari Hotel Sangri-La Tokyo. Aku tidak sadar dan hanya mengandalkan map di handphone ku. Kelap-kelip di jembatan membuat Aku tertarik untuk melihatnya dari dekat. Aku mendekati parkiran motor yang berada tak jauh dari tempat ku berdiri.


"Brakkk.."


"Eh.."


Aku terkejut karena merasa menabrak seseorang. Tak sekeras itu, tapi lumayan membuat lengan ku sakit.


"Ara!" Pekiknya yang terdengar sangat senang. Aku melihatnya dengan seksama karena minimnya penerangan di sini.


"Siapa sih?" Tanya ku yang masih tetap berusaha memperhatikan dia. Seperti tak asing bagi ku.


"Hatake!!" Pekik ku yang langsung berhambur memeluknya. Aku senang karena bisa bertemu dengan Hatake di sini.


"What are you doing here? (Apa yang kamu lakukan di sini?)." Tanya ku saking senangnya melihat dia. Kami saling melepaskan pelukan kami.


"Nothing. Just walking around! (Tidak ada. Hanya berjalan-jalan saja)." Jawabnya. Aku sangat senang bertemu dengannya. Ternyata, dunia bisa begitu sempit sekali untuk kami.


"I didn't think you would come here too (Aku gak sangka kamu bakal ke sini juga)."


"Yeah, I didn't expect to be here either. (Ya, Aku juga gak nyangka akan ke sini)." Jawab ku.


'Aku hanya di ajak dengan kekasih ku.' Batin ku menjawab. Tidak mungkin juga aku mengatakan itu padanya.


"You know, the night view here is very beautiful. (Kamu tahu tidak, pemandangan malam di sini sangat indah)." Ucapnya sembari melihat dan menunjuk ke arah depannya. Aku pun melihat ke arah yang ia tunjuk.


"Yeah, I think so. (Ya, Aku juga berpikir demikian)." Jawab ku. Aku sampai lupa menanyakan kediaman Hatake.


"Oh ya, rumah Kamu deket dari sini?" Tanya ku. Ia mengangguk kecil.


"Kenapa malam-malam seperti ini Kamu pergi sendirian?" Tanya ku lagi. Ia mendadak mellow saat Aku bertanya demikian. Apa ada sesuatu yang terjadi?


"Hey, Why you look so sad? What happened to you? (Hey, kenapa kamu terlihat sedih? Apa yang terjadi pada mu?)." Tanya ku. Ia hanya diam tak bergeming.


"Siapa tau, Aku bisa jadi tempat kamu buat curhat." Tambah ku. Ia terlihat seperti sedang menguatkan dirinya sendiri, membuat Aku semakin iba melihatnya.


"Ibu ku sakit. Hati ku sangat hancur mendengarnya. Itulah sebabnya Aku langsung terbang ke Jepang. Aku sangat menyayangi Ibu ku." Lirihnya. Aku jadi sedikit iba dan juga sedikit merindukan sosok seorang Ibu. Hati ku tersentuh sesaat setelah mendengarnya.


"Aku turut berduka, Hatake. Aku jadi merindukan sosok seorang Ibu." Aku turut bersimpati padanya. Ia menoleh ke arah ku dengan pandangan seperti orang yang bersalah. Aku yang menyadarinya langsung menyeka air mata ku yang tiba-tiba saja keluar.


"I am sorry. I don't mean... (Maafkan Aku, Aku gak maksud untuk..)."


"Gak papa, Kamu kan gak tau." Potong ku yang berusaha tegar dengan keadaan. Tapi mendengar Ibu nya jatuh sakit seperti itu, dan mendengar kalau dia sangat menyayangi Ibunya, membuat hati ku terenyuh. Tak bisa ku pungkiri, Aku rindu Ibu.


Tangis ku pecah saat Aku berusaha menahan air mata ku. Aku tak sadar dengan air mata yang sudah membanjiri sebelumnya. Aku menutup mata ku dengan kedua tangan ku. Aku tak kuasa di lihat oleh siapa pun. Pasti wajah ku saat ini sangat jelek, bukan?


"Ara!!" Pekik seseorang yang terdengar lumayan jauh jaraknya. Aku melihatnya dengan air mata bercucuran. Morgan! di sana ada Morgan yang sedang berdiri di hadapan ku. Ia seperti kelelahan dan seperti sedang menangis. Apa yang aku lakukan di sini? Pasti Morgan sangat khawatir dengan keberadaan ku.


Ia menyergap ku dan langsung memeluk ku. Ia mungkin saja sangat menghawatirkan Aku. Aku menangis di pelukannya pada malam yang indah ini. Tubuhnya sangat cocok memakai jaket yang ku hadiahkan untuknya. Ternyata, Dia sudah memakai jaket itu. Aku senang sekali melihatnya. Ia memeluk ku erat dan tanpa sadar, Aku sudah membasahi jaket yang ia kenakan.


"Kamu gak papa? Saya kira kamu diculik." Lirih Morgan. Aku menggeleng kecil lalu melepaskan pelukannya.


Aku mencari-cari keberadaan Hatake. Tidak ada sama sekali dirinya di sekitar ku. Apa aku sedang berhalusinasi? Ah.. Tidak mungkin senyata itu. Apa mungkin, Dia tidak mau kalau sampai Ia bertemu dengan Morgan? Aku harus menutupi kejadian yang sebenarnya kalau itu memang maunya.


"Maaf, Saya udah bersikap dingin sama Kamu. Terimakasih untuk hadiahnya. Saya suka banget." Lirihnya membuat hati ku menjadi tenang. Ia bisa mengungkapkan perasaannya pada ku.


"Aku cinta Kamu, Arasha." Lirihnya. Aku mempererat pelukan ku karena dia mengatakan hal manis yang membuat ku makin mencintainya.


"Lain kali, jangan pergi sendirian. Tunggu Saya pulang." Ucapnya sembari melepaskan pelukannya. Aku merasa bersalah pada Morgan. Aku tidak seharusnya bersikap seperti ini. Aku merasa bosan kalau harus menunggu Morgan membeli makanan.


"Maaf." Lirih ku. Ia menatap ku dengan tatapan dingin. Aku menghela nafas panjang karena sikapnya yang memang tidak bisa berubah. Aku menyadari sesuatu. Walaupun Dia dingin dan cuek, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, Dia selalu memperhatikan ku.


Aku dan Morgan menikmati suasana di atas jembatan pelangi yang indah ini. Aku sangat menikmatinya, apalagi bersama Morgan. Aku menoleh ke arah dirinya yang juga sedang menoleh ke arah ku. Aku tersenyum, begitu pun dirinya. Ia mendekap diri ku dan mendekatkan wajahnya ke arah ku.


"Cuppp..." Ia berhasil mendaratkan kecupan hangat di bibir ku. Aku sangat menikmati ciuman hangatnya, dan membalas ciumannya itu. Suasana yang mendukung, menjadikan keromantisan kami menjadi sangat nyata. Aku suka gemerlap malam ini. di sini, di tempat ini, Aku bisa melepaskan segala rasa gundah hati ku.


"Kita harus pulang. Karena sudah malam." Ucapnya. Aku mengangguk setuju padanya. Ia berlutut membelakangi ku. Aku terkejut karena ia seperti mau menggendong ku. Apa dia aselinya hangat seperti ini? Aku bisa jatuh cinta berulang kali kalau begini caranya.


"Ayo naik." Ucapnya. Aku tersadar dari lamunan ku dan mengambil posisi di atasnya. Ia berdiri dan benar-benar menggendong ku. Ia berjalan dengan kaki yang kekar. Cintanya sungguh berlebihan menurut ku. Aku tersenyum dan menyandarkan dagu ku ke bahunya.


"Boleh gak, Aku jatuh cinta sama Kamu?" Tanya ku. Aku teringat dengan ucapannya yang selalu melarang ku untuk suka padanya. Ia terdiam sesaat.


"Jangan sok dingin lagi.." Lirih ku.


"Muachh.." Aku mengecup singkat pipinya. Ia hanya terdiam. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Aku cukup bahagia malam ini, meskipun Aku kembali mengingat mendiang Ibu ku yang sudah lama tiada.


Aku menyenderkan pipi ku ke pipinya. Tak terasa, Aku menjadi sangat ngantuk. Memejamkan mata sebentar saja, tidak apa-apa mungkin.


*


"Engghhh.." Aku tersadar dari tidur ku. Terlihat samar Morgan yang sedang duduk dan membaca sebuah buku, di sebelah ku.


"Morgan.." Pekik ku. Ia tersadar dan menghentikan aktivitasnya.


"Kamu udah bangun." Sambutnya lirih. Aku tersenyum dan memeluknya.


"Pagi ini, kita kemana?" Tanya ku. Ia tersenyum hangat. Senyumannya benar-benar mengalihkan dunia ku. Ia membelai hangat pipi ku.


"Kita pergi menjenguk seseorang. Setelah itu, kita pergi mengunjungi Naoki." Ucapnya. Aku mengangguk kecil. Tiba-tiba, Aku teringat dengan nasib Farha yang kemarin di usir Morgan. Aku jadi iba padanya. Haruskah Aku menghubunginya?


"Kamu kenapa?" Tanya Morgan yang nampak khawatir. Ternyata, Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan ku di depannya.


"Apa kabar Farha ya?" Tanya ku lirih. Mood Morgan tiba-tiba saja berubah menjadi dingin seketika. Aku seharusnya tidak berkata demikian. Tapi jujur saja, Aku menghawatirkannya.


"Jauhi anak itu. Dia gak baik untuk Kamu." Ucap Morgan keras, mencoba memperingati ku. Ada apa sampai ia terus menerus menyuruh ku menjauhi Farha? Sejauh ini, Dia adalah gadis yang baik menurut ku.


"Tapi.."


"Jangan tanya lagi. Saya sudah memperingatkan Kamu." Pangkasnya. Kali ini sepertinya, Ia sedang tidak ingin didebat.


"Ya oke kalau Kamu nyuruh Aku untuk ngejauhin dia. Aku pasti jauhin dia." Tegas ku. Ia spontan melihat ke arah ku.


"Tapi setidaknya, Aku harus tau apa alasan Kamu nyuruh Aku supaya bisa jauhin Farha." Sambung ku. Ia terdiam sembari menutup matanya. Kesal, mungkin saja ia rasakan.


"Nanti juga kamu tahu. dan Saya akan kasih tahu semuanya, dengan cara Saya sendiri." Jelasnya. Aku masih belum paham yang ia katakan. Tapi Aku mengambil kesimpulan, Aku masih harus di suruh menunggu untuk bisa mengetahui semuanya secara jelas.


Ia mengelus rambut ku.


"Siap-siap gih." Lirihnya yang langsung kembali melanjutkan aktivitasnya membaca buku. Aku terdiam sejenak. Apa yang akan ia lakukan supaya Aku bisa mengetahui yang ia maksudkan?


*


Aku di bawa Morgan menuju suatu tempat yang sangat asing bagi ku. Lebih tepatnya, ke rumah seseorang. Ia menggandeng ku dengan hangat. Memasuki rumah yang seperti kastil kerajaan Jepang. Aku melihat-lihat ke sekeliling sepanjang masuk dari gerbang depan. Kami berhadapan dengan dua orang yang berbadan besar sekali. Seperti sumo. Ia memperhatikan Morgan dengan seksama. Seperti mengenali sosok Morgan.


"Hisashiburi (Lama tidak bertemu)." Sapa Morgan dengan Bahasa Jepang. Mereka seperti terkejut melihat Morgan datang.


"Anata wa koko de nani o shite iru no (Apa yang Kamu lakukan di sini?)." Tanya mereka serempak. Mereka benar merasa kaget dengan kehadiran Morgan. Aku? Hanya bisa memperhatikan cara mereka berbicara dan berekspresi. Aku tidak mengerti yang mereka ucapkan. Bodohnya Aku.


'Pulang dari sini, minta ajarin Morgan Bahasa Jepang lah.' Batin ku saking kesalnya.


"Byōki no madamu o mi ni ikitai (Saya ingin pergi melihat Nyonya yang sakit)." Jawab Morgan. Mereka berdua terlihat sangat terkejut.


"Madamu no jōtai o miru tame dake ni koko made tonda no? (Apakah Anda terbang sejauh ini hanya untuk melihat kondisi Nyonya?)." Tanya salah satu dari mereka.


"Nē, sukippu shimashou (Hey, biarkan kami lewat)."


"Onegaishimasu (Silahkan)." Mereka seperti membelah jalannya dan membuka jalan untuk kami.


"Lewat sini, Tuan Putri.." Lirih Morgan dengan sangat lembut. Persis seperti tangan kanan kerajaan yang sedang menunjukkan jalan. Aku tersenyum malu dan segera melangkah beriringan dengannya.


"Ano josei wa daredesuka (Siapa gadis itu?)." Mereka mulai berbisik persis setelah kita melewati mereka.


"Kare wa watashi no koibitodesu (Dia kekasih ku)." Balas Morgan. Mereka berdua seperti terkejut setelah mendengar celetukan Morgan.


"Apa katanya?" Tanya ku yang tak paham dengan Bahasanya. Morgan hanya tersenyum.


"Katanya, kamu cantik. Terus Saya jawab, memang benar." Jelas Morgan. Apa benar seperti itu artinya? Lalu, mengapa mereka berdua kaget saat Morgan menjawab? Apa aku seburuk itu dimata mereka?


Aku berjalan menuju suatu aula yang cukup luas. Kesan tradisional Jepangnya terasa sekali di sini.


"Silahkan duduk." Suruh Morgan. Aku duduk di atas bantal dan melipat kedua kaki ku.


"Stttt.. Kita ngapain di sini?" Bisik ku. Morgan hanya terdiam. Tidak tersenyum, dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Tiba-tiba seorang Wanita dan seorang Laki-laki muncul di hadapan Kami. Sontak Aku terkejut karena Hatake lah yang ku lihat. Tapi Aku tidak bisa berkata apapun. Lidah ku terasa keluh, tak tahu harus berkata apa.


"Gesuto ga iru koto ga hanmei (Ternyata ada tamu)." Sapa Wanita itu. Aku menelan ludah ku sendiri. Sepertinya, Aku pernah melihat Wanita ini. Aku berpikir keras untuk mengingat wajahnya.


'Bener ah! Siapa ya? Pernah liat!' Batin ku mulai menebak. Tidak mungkin jika Aku salah melihat seseorang.


-MORGAN MAIN-


Ara terlihat tidak nyaman saat melihat Meygumi dan Adiknya yang saat ini sedang berdiri di depan kami. Apa tidak apa-apa jika diteruskan?


"Lagian, Saya ke sini kan tujuannya hanya ingin menjenguk Ibunya yang sedang sakit. Bukan untuk mengingat kembali kenangan yang pernah Saya dan Mey lalui." Batin ku berpikir dengan positif. Semoga saja, Ara tidak marah setelah ini.


"Ogenkidesuka. Byōki no madamu ni aitaidesu (Apa kabar. Saya ingin bertemu Nyonya yang sedang sakit)."


@sarjiputwinataaa