
“Jawab, loe kenapa? Apa dan siapa yang membuat loe begini?” tanyanya dengan kasar dengan wajah memelas.
Ia sepertinya tidak memperdulikan keadaanku. Yang ia perdulikan hanyalah perasaannya saja.
“Lepasin gue!” Teriakku yang sudah tidak bisa menahannya lagi, tapi Bisma malah semakin memperkuat cengkeramannya.
“Jawab dulu pertanyaan gue, Ra! Loe kenapa?”
Drama? Ya. Memang seperti ini keadaannya.
Ia berhenti mencengkramku, dan melonggarkan sedikit tangannya dari bahuku.
“Oh, jangan-jangan, karena dosen itu, kan?” tebaknya, yang membuatku mendelik.
“Gak ada hubungannya sama dia!” Bentakku, berusaha mengingatkannya.
“Terus kenapa loe bersikap aneh--”
“Loe itu bajingan tau gak!” Potongku, yang sudah tidak sabar untuk mengakhiri ini, “loe udah punya pacar tapi loe berani deketin cewek lain! Terus di sisi lain, loe nembak gue! Bener-bener bajingan loe ya!” Jelasku, dengan nada yang sudah naik pitam.
Bisma terlihat berhenti sejenak, mungkin sedang mencerna, apa yang baru saja aku pertegas padanya.
“Wait, gue sama sekali gak punya pacar, Ra!”
“Masih bisa mengelak. Jessline. Siapa itu Jessline?” tanyaku sinis.
Ia nampak bingung dengan ucapanku. Entah ia bingung karena aku mengetahui Jessline, atau karena bingung untuk merangkai kata?
“Kenapa? Gak bisa jawab, ha?” sinisku.
“Jess itu mantan gue, Ra! Gue udah anggap putus sebulan yang lalu. Yang loe bilang ngedeketin cewe lain, siapa yang loe maksud, Ra?” jelasnya, tentu tidak membuatku lemah.
“Fla!” Jawabku tegas, dan tajam.
Ia terlihat membelalak, sepertinya terkejut dengan ucapanku.
“Gue udah berhenti ngedeketin dia, sejak kita pertama kali ketemu, Ra. Gue udah gak ada hubungan apapun lagi sama mereka berdua.” Ucapnya seperti sedang berusaha menjelaskan.
Dengan semua luka yang aku rasakan dari pengalaman, sepertinya hal semacam ini sudah tidak bisa dipertimbangkan lagi.
Sekali selingkuh, akan terus selingkuh.
“Tetep aja! Loe gantungin 2 orang sekaligus, Bis! Gue gak suka itu!” Ucapku tegas, yang masih kekeh dengan pendirianku.
Situasi tiba-tiba hening. Bisma tampaknya sudah tidak ingin berkata apapun lagi. Wajar saja, namanya juga salah.
“Oke, sekarang mau loe apa?” tantang Bisma.
Apa yang aku inginkan?
Ah.
“Gue mau, kita putus.” Ucapku dengan tegas.
Tak kusangka, pernyataanku tadi membuat Bisma meneteskan air mata. Ia tiba-tiba memelukku dengan erat, sembari menangis di pelukanku.
Aku hanya diam, tak bergeming. Mengapa dia sampai menangis seperti ini?
“Gue bisa kok jelasin ke mereka tentang hubungan yang gantung. Cuma gue gak bisa kalau loe putusin hubungan ini, Ra.” Lirihnya sendu, membuatku sedikit iba.
Mau bagaimana lagi?
Aku sama sekali tidak perduli dengan perasaan orang lain yang sudah menyakiti perasaanku. Di sisi lain, aku juga tidak ingin disebut sebagai cewek gampangan.
Rasa bimbang pun melanda diriku.
Bagaimana ini?
Suasana menjadi hening sejenak.
“Pikirin, Ra....” Lirihnya dengan wajah yang memelas, membuatku semakin tidak tega.
Aku menghela napas panjang.
“Gue kasih loe waktu 3 hari. Selama 3 hari itu, loe harus selesain masalah loe dan juga jangan loe temuin gue sedikit pun. Gue mau menata ulang hati gue yang udah berantakan gara-gara ulah loe!” Ucapku tegas, memberikan keringanan padanya.
Jujur saja, aku sudah tidak peduli lagi. Kalau bukan karena merasa iba, aku tidak akan mempertimbangkannya. Lagi pula, Bisma juga yang menyelamatkanku pagi tadi, saat Morgan berusaha menyuruhku untuk ikut bersamanya.
Beban sekali.
“Okey. Gua usahain, Ra.” Jawabnya yang tiba-tiba sangat bersemangat.
“Yaudah, gue mau ke toilet dulu. Jangan lupa sama tugas loe.” Ucapku.
Selesai itu, aku langsung keluar meninggalkan Bisma.
Tak tentu arah aku berjalan. Langkahku menuntun menuju kantin kampus. Di sana, tak sengaja aku melihat seseorang yang tak asing bagiku.
Morgan!
Aku memperhatikan mereka dari jauh. Nampaknya, mereka sangat senang bertemu satu sama lain.
Itu membuatku menjadi kesal.
“Anjrit! Semua cowok tuh sama aja, sama-sama brengseknya!” Lirihku mendengus kesal.
Saat dipikir kembali, Apa hakku untuk marah seperti itu kepada Morgan, yang jelas bukan siapa-siapa?
“Argh! Gara-gara masalah sepele, semuanya jadi ngerembet kemana-mana.” Lirihku kesal, kemudian pergi meninggalkan kantin.
MORGAN
Aku tak sengaja melihat ke arah hadapanku. Aku melihat Ara yang berlari kecil, sepertinya ia sedang marah.
“Oh ya, sampai nanti ya Fla, ada urusan sebentar.” Lirihku, yang menyudahi bercengkrama dengan Fla.
“Okey, Kak.”
Aku berlarian, menuju arah yang diambil Ara tadi.
***
ARASHA
Aku sangat kacau saat ini. Tidak tahu kemana aku melangkah, aku rasa aku sudah lelah dengan semua ini.
“Di mana ini?” lirihku, sembari melihat ke sekelilingku.
Sepertinya, aku baru menginjakkan kakiku ke tempat ini. Tempat ini terlihat asing bagiku.
Aku menemukan kaleng bekas minuman ringan. Kebetulan, aku sedang ingin melampiaskan kekesalanku. Aku pun menendangnya dengan kesal.
“Ahh....”
“Klotak....”
Kaleng itu melayang jauh ke depan sana.
“Kenapa sih, selalu aja gue yang kena?” Lirihku, mengeluh atas semua yang sudah terjadi.
Aku merasa, sedang dalam posisi terendah di hidupku. Tidak ada yang mendukungku, tidak ada yang menemaniku, yang ada malah orang-orang yang terus mengekangku dengan maksud dan tujuan yang mereka inginkan.
“Ish... ihhh... rrrrrr....” Tak sadar, aku gemas sendiri, sembari menghentak-hentakkan kaki.
Aku menatap bayangan diriku pada air di tepi danau tersebut. Aku memandang dengan seksama, dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Nampak sempurna, tak ada yang kurang dariku. Hanya saja, aku kurang beruntung.
“Tuhan... kenapa semua jadi kacau begini, sih?” Ucapku yang setengah berteriak, sembari menatap langit siang itu.
Tak lama, terlihat bayangan lain di sampingku. Sontak aku langsung menoleh ke arah bayangan itu.
“Loe ngapain di sini, ha?” tanyaku sinis.
Morgan hanya diam santai dengan sikap biasanya yang dingin.
“Kalau ada masalah, cerita aja.” Ucapnya sederhana.
Aku menyeleneh di hadapannya. Masalahku, tak sesederhana seperti caranya berbicara.
“Eh, kenapa si semua cowok tuh sama aja?” tanyaku dengan nada nyeleneh.
Ia terlihat mengerutkan keningnya.
“Sama gimana?”
“Ya sama! Baru deketin cewek, udah godain cewe lain! Semua cowok tuh berengsek!” Ucapku dengan sangat bersemangat.
“Maksud kamu, pernyataan itu kamu gambarkan untuk saya?” tanyanya.
Aku hanya diam sembari menahan amarahku.
“Apa... kamu sedang cemburu sekarang?” tanyanya dengan sedikit nada menggoda.
Ia sedang menggodaku saat ini! Aku merasa malu sendiri. Aku tidak bisa terima dengan perlakuannya kepadaku.
“Gak tau, ah!” Bentakku, kemudian langsung pergi meninggalkannya.
“Tset....”
Ia tiba-tiba saja menarik tanganku, membuat langkahku terhenti.
“Eh, apaan sih? Lepasin!” Bentakku, berusaha mengelak darinya.
“Kenapa sih, kamu suka banget menghindar?” tanyanya, masih dengan nadanya yang dingin.
Aku tidak terima dengan pernyataannya yang baru saja aku dengar.