Dosen Idiot

Dosen Idiot
50. Sebentar Saja


"Sumpah ya, gue tuh nggak ngerti apa yang loe lagi pikirin! Yang jelas sekarang, keluar dari kamar gue!!" Aku mendadak menjadi marah sekali dengan Morgan. lagi-lagi dia hanya diam dan membuat ku penasaran dengan apa yang mau dia katakan. Kenapa dia se-misterius itu? Padahal aku sangat benci kalau dia terus menunda-nunda memberitahukan suatu hal kepada ku. Aku ingin tahu sebenarnya....


"Ehh.." Lirihnya yang kelihatan kaget seperti sedang melamun. Kenapa akhir-akhir ini dia selalu melamun seperti itu? Apa ada yang salah dengan kehidupannya? Ah.. Aku bukan siapa-siapa di dalam hidupnya! Lagian, dia sudah punya tambatan hati. Kenapa aku harus memikirkan orang yang sudah punya kehidupan itu?


Tiba-tiba ia menarik ku dengan kasar dan menjatuhkan ku ke atas ranjang ku. Ia menindih di atas ku. Aku sangat kaget dengan perlakuannya itu. Kenapa dia selalu bersikap seenaknya dengan ku? Perasaan ku selalu di ombang-ambing oleh sikapnya.


"Awwwwwwss.." Aku merintih menahan sakit akibat ia menarik dan melemparkan diri ku terlalu kencang. Ia menindih diri ku lagi. Aku tidak bisa menahan ataupun mengelak darinya. Kini pandangan kami berada dalam satu titik.


"Ish kasar banget sih loe!!" Geram ku. Ia hanya diam tak bergeming sembari menatap ku. Aku merasakan akan ada hal aneh yang akan terjadi nanti. Aku hanya diam pasrah dengan keadaan kami saat ini. Morgan terlihat menyedihkan sekali. Rambutnya yang mulai lebat tak terurus, jenggotnya yang mulai muncul, Matanya yang sembab tidak tahu karena menangis atau kurang tidur, membuat aku merasa bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.


"Mmm.. Apa loe lagi ada masalah?" Tanya ku ragu. Ia hanya diam memandangi ku. Aku tidak tega setelah melihat wajahnya secara seksama. Terlihat wajah yang nampaknya banyak memendam perasaan. Ia tiba-tiba memeluk ku erat. Sangat erat. Aku bingung namun tidak bisa menolak untuk saat ini. Karena aku tahu, dia sedang tidak baik-baik saja.


"Saya mohon.. Tetap seperti ini." Lirihnya. Aku semakin tak tega untuk membentak apalagi memarahinya.


"Sebentar saja.." Tambahnya. Aku membalas pelukannya. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menghibur hatinya yang sedang gundah gulana. Aku tahu, Morgan bukan tipe cowo yang suka berbicara blak-blakan tentang kehidupannya. Aku menahan diri untuk tidak bertanya to the point padanya saat ini. Nanti kalau sudah tenang, aku akan bertanya kabarnya.


10 Menit berlalu. Morgan terlihat benar-benar down. Ia sama sekali tidak melakukan apapun pada ku. Ia tidak macam-macam kali ini. Aku jadi semakin percaya kalau keadaannya sedang tidak beres saat ini. Rasanya, seperti sudah menjadi Pasutri.


'Sampai kapan begini terus?' Batin ku yang mulai resah. Khawatir jika ada yang melihat kejadian ini.


"Gan.." Lirih ku memanggil Morgan. Namun, tak ada suara darinya.


"Gan.." Panggil ku lagi. Mungkin dia sudah ketiduran sekarang. Aku tak enak membangunkannya.


"Crekkkk..." Ada yang membuka pintu! Aku langsung melihat ke arah pintu kamar.


"Araaaaaa....." Pekik riang seseorang yang kemudian berubah nada menurun. Aku terkejut bukan main.


"Haaaaaaa..." Teriak ku lirih. Morgan tidak bereaksi sama sekali. Terlihat wajah Fla yang kebingungan di sana. Lagi-lagi aku tertangkap basah oleh Fla sedang berduaan dengan morgan. Apa lagi sekarang Morgan sedang berada di atas tubuh ku. Aku menjadi tengsin sekali dengannya. Seketika suasana nampak hening dengan aku yang menganga melihat kedatangan Fla.


"Ekhmm.. Gu. gue tunggu di luar ya." Gagap Fla yang langsung segera menuju ke luar kamar ku. Nampaknya, dia salah paham dengan keadaan yang sebenarnya. Aku harus menjelaskan bagaimana ke Fla nanti? Ini semua gara-gara Dosen Idiot ini!! Kenapa juga aku harus merasa kasihan dengannya?


"Ini semuanya karena ulah loe!" Lirih ku yang takut membangunkan Morgan. Aku melihat wajahnya lebih dalam lagi. Aku mencubit kecil pipinya itu. Entah kenapa, nyaman sekali berada di dekatnya. Apa lagi di dalam pelukannya seperti ini. Dia punya bahu ternyaman setelah Ayah, kakak, dan Bisma. Tapi aku tidak boleh jatuh cinta padanya.


"Udah mulai suka sama saya?" Tanyanya tiba-tiba. Aku tertangkap basah sedang mencubit kecil pipinya. Aku melotot kaget dan mendorong tubuhnya.


"Jangan gitu dong.." Ucapnya lirih dengan nada yang beda dari biasanya. Morgan saat ini, bukanlah Morgan yang aku kenal dingin. Dia sangat hangat, terlebih lagi pelukannya membuat aku sangat nyaman berada berlama-lama di dalam dekapannya.


"Fla ngeliat kita tadi!!" Ucap ku sinis, Morgan mengere dahinya.


"Lho.. Kok ada dia di sini?"


"Hari ini gue ngajak mereka buat main."


"Bukannya hari ini, hari pertama kamu belajar tambahan?" Tanya Morgan. Aku jadi mengerti satu hal.


"Oh.. Jadi loe gurunya?!!!" Kaget ku memekik. Jadi, dia yang nantinya akan menjadi guru privat ku? Ya ampun! Kenapa dunia sesempit ini? Atau jangan-jangan, ini memang sudah skenario kakak?


"Yaps." Jawabnya singkat. Aku kesal sekali dengan Morgan. Kenapa aku di paksa untuk tetap berada dalam satu lingkup dengannya? Apa aku tidak punya kebebasan berpendapat sama sekali? Semuanya dipilihkan! Dari mulai sekolah ku, kampus ku, jurusan ku, dosen pembimbing ku... Lama-kelamaan jalan hidup ku semua hasil dari pemilihan dari kakak ku!! Kenapa aku diam saja dan tidak bisa berontak??


"Gue gak bisa gini terus!!" Bentak ku lalu segera mengambil koper dan memasukkan baju-baju ku ke dalam koper. Morgan diam memperhatikan ku.


"Mau kemana kamu ra?" Tanya Morgan. Terselip nada khawatir di sana. Namun aku masih terus membereskan semua baju ku dari lemari ke koper. Tidak ada gunanya lagi aku di sini. Lebih baik hidup di jalanan tanpa terkekang daripada aku harus hidup dengan pilihan orang lain.


Aku selesai membereskan baju ku. Aku menutup koper dan segera pergi dari sini.


"Grep.." Morgan menahan tangan ku. Aku berusaha melepaskan tangan ku yang di cengkram olehnya.


"Lepas!" Lirih ku sembari terus berusaha menarik paksa tangan ku. Morgan benar-benar tidak membiarkan aku pergi.


"Apa kamu gak malu, di depan ada teman-teman kamu datang?" Ucapnya menyadarkan ku. Mau taruh di mana muka ku kalau teman-teman ku tahu aku akan pergi? Dan mereka pasti akan merasa sangat sedih melihat aku pergi.


"Jangan pergi.." Lirihnya. Aku melepaskan tangan ku darinya dan menatapnya sinis. Aku melemparkan koper ke arahnya dan dia menangkapnya.


"Puas loe udah ngalangin gue?!!" Sinis ku. Ia hanya memandang ku dengan dingin. Kalau bukan karena teman-teman ku, aku pasti sudah keluar dari rumah ini dan mencari kehidupan yang lebih cocok untuk gaya hidup ku. Dosen ini benar-benar menjijikan! Semenjak aku masuk di kampus itu, Aku tidak bisa bernafas dengan lega. Ada saja masalah yang aku temui. Sampai-sampai, aku kehilangan keperawanan ku. Dan itu semua karena Morgan!


@sarjiputwinataaa