Dosen Idiot

Dosen Idiot
Morgan Gak Suka Cewek


Aku ragu untuk membicarakan ini padanya. Tapi, aku rasa harus.


“Huft....”


Aku menghela napas, untuk mempersiapkan diriku.


“Yaelah, santai aja lagi, Ra. Gak usah kaku gitu,” gumam Fla.


Tetap saja, aku merasakan rasa yang tidak biasa. Bagaimana bisa orang yang sudah tertangkap basah tidak merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan saat ini? Pasti semua orang merasakan hal yang aku rasakan, bukan?


Aku melirik kecil ke arah Fla yang sepertinya tidak terlalu memperhatikanku. Perhatiannya terpecah pada buku pelajaran yang sedang ia baca. Tak kusangka, Fla masih bisa menyempatkan untuk membaca buku, di sela sebelum jam pelajaran dimulai. Aku jadi agak malu dengannya.


“Gue... ganggu waktu loe, gak?” tanyaku, yang masih tidak enak.


Ia menghentikan aktivitasnya untuk membaca. Ia meletakkan bukunya, dan menatap tajam ke arahku.


“Apa, sih? Loe sama sekali gak ganggu waktu gue, kok.” Ia menarik tanganku, “sini duduk,” ucapnya.


Aku duduk bersebelahan dengannya. Ia terlihat sangat repot, karena mengambil sesuatu di dalam tasnya.


Terlihat dua kaleng minuman ringan, ia menyodorkan satu kepadaku.


“Nih, minum dulu biar agak tenang,” ucapnya, yang sepertinya tulus.


Aku agar ragu untuk mengambilnya, karena aku sudah takut untuk menerima makanan atau minuman pemberian orang lain. Aku masih trauma dengan kejadian malam itu, saat aku bertemu dengan Bisma. Morgan memberitahu aku, kalau Bisma sudah membubuhkan obat, agar bisa menaikkan nafsuku.


Mulai dari situ, aku sudah tidak pernah menerima pemberian siapapun, kecuali yang kakak berikan padaku.


Aku hanya menatapnya tajam, masih khawatir dengan kejadian yang kemarin aku alami.


“Maaf, Fla, gue gak minum minuman bersoda.” Aku menolak pemberian Fla.


Sebenarnya, aku tidak mau menolaknya, tapi, aku terpaksa melakukannya karena rasa trauma ini. Walaupun aku yakin, Fla tidak akan mungkin melakukan itu padaku.


Ia menarik kembali minuman itu, dan meletakkannya kembali di dalam tasnya.


“Sorry ya, Ra, gue gak tahu,” ucapnya, aku hanya tersenyum tipis padanya.


Aku terlupa dengan tujuanku. Aku harus mengutarakan maksud dan tujuanku secepat mungkin, agar tidak terhambat hal-hal yang lain lagi nantinya.


“Fla...” Fla menoleh ke arahku, “kejadian yang loe lihat waktu makan malem itu...,” ucapku ragu.


Fla nampaknya sudah mengerti dengan yang aku ucapkan. Ia melontarkan senyum ke arahku.


“Oh, tenang aja, Ra. Gue cuma kaget aja. Baru kali ini gue ngeliat dia begitu sama cewek.”


“Deg....”


Berarti, ucapan Morgan waktu itu, sungguhan?


Morgan baru pertama kali melakukan itu bersamaku. Aku jadi merasa tak enak hati padanya.


“Ya, setidaknya gue tau kalau dia itu normal,” sambungnya membuat aku sedikit tertawa.


Yang benar saja? Morgan yang lumayan tampan itu sama sekali tidak tertarik untuk menyentuh wanita? Padahal, ada banyak wanita cantik yang mungkin mengelilingi kehidupan Morgan setiap harinya. Termasuk baru-baru ini, wanita yang aku temui di hotel waktu itu.


Mengingat pertemuan itu, aku jadi sedikit sedih.


“Jadi maksudnya, Morgan itu gak suka cewek--”


Belum habis aku bertanya, Fla sudah membekap mulutku dengan tangannya. Aku hampir tak bisa bernapas karenanya.


“Jangan keras-keras. Nanti pada denger, malah jadi repot,” gumam Fla sepertinya sedang mempertingatkanku.


Ia perlahan melepaskan tangannya yang ia pakai untuk membungkam mulutku. Aku hanya menyeringainya.


“Tapi beneran, Morgan gak suka sama cewek?” tanyaku berbisik pada Fla, khawatir semua orang mendengar perbincangan kami.


“Ngawur, loe.” Fla menoyor kepalaku pelan, “maksud gue, yaa gue gak pernah lihat dia begitu sama cewek, bukan berarti Morgan gak suka sama cewek,” jelasnya, lagi-lagi membuatku menyeringai.


“Gue kira gitu,” lirihku, menyanggah.


Ia terlihat tidak mempedulikanku.


Aku kembali melihat ke arah Fla.


“Fla, ada yang pengen gue tanyain nih sama loe,” gumamku membuat Fla tersenyum.


“Eits... gue juga mau nanya nih, ke loe.” Sambarnya.


Ia tersenyum jahil. Sepertinya ia sedang bersiap untuk meledekku. Aku tak tahan kalau sampai ia benar ingin meledekku. Aku menatap matanya dengan penuh rasa penasaran.


“Emangnya loe mau nanya apa sih, Fla?” tanyaku.


“Loe dulu aja, Ra,” ucapnya menbuat aku tambah penasaran.


Greget ya rasanya, hehe.


Kalau seperti ini terus, aku tidak akan bisa mendapatkan informasi apapun.


“Hmm... oke deh. Gue cuma mau tanya. Kenapa nomor Morgan gak aktif, ya?” tanyaku dengan malu.


Terlihat Fla yang sedang menahan tawa, sembari menutup mulutnya dengan tangannya. Aku jadi malu menanyakan ini kepada Fla.


“Hmm... haha....”


Rupanya, ia sudah tidak bisa menahan tawanya. Akhirnya ia tertawa terbahak-bahak, membuatku merasa aneh. Nyaliku mendadak menjadi semakin ciut, karena melihatnya tertawa.


‘Sial si Fla ini. Bikin gue down aja,’ batinku yang mulai merasa down.


Fla menghentikan tertawanya itu. Ia menyeka air matanya yang keluar, saking bebasnya ia tertawa.


Ia terlihat mulai mengatur napasnya.


“Pertanyaan loe itu, ada sangkut-pautnya sama pertanyaan yang mau gue tanyain ke loe.” Ia mendelik.


Semakin lama, ucapannya semakin membuatku jengkel karena penasaran. Aku langsung melepaskan sebelah sepatu yang kupakai, dan mengarahkan padanya.


“Ngomong gak! Kalo enggak, ni sepatu bakal gue lempar ke loe.” Ancamku.


Ia terlihat merasa takut dengan ancaman sepatu ini.


“Ehh... iya, iya. Gue ngomong nih!” gumamnya terdengar seperti sedang mengalah.


Akhirnya ia mengalah dariku. Tapi, aku masih berpose sangar sembari memegang sepatuku. Khawatir, dia hanya mempermainkanku saja.


“Turunin sepatunya dulu--”


“Gak! Udah cepet ngomong.” Aku memotong ucapannya.


“Iya iya.” Ia lalu mengatur napasnya.


“Sebelum gue nanya, gue mau jawab dulu pertanyaan loe tadi,” ucapnya membuatku semakin memperhatikannya, “handphone Kak Morgan hilang. Jadi, nomornya gak aktif,” jelasnya.


Rasa penasaran akan pertanyaanku sudah hilang. Tinggal rasa penasaran dengan pertanyaan yang akan Fla tanyakan kepadaku.


“Terus, yang gue pengen tanyain....” Rasa penasaranku semakin bertambah.


Fla pintar memainkan nada dalam bicaranya, membuatku semakin bertambah penasaran.


Aku tidak bisa dibuat penasaran. Aku terlalu tersiksa, dengan sikapku yang serba ingin tahu ini. Aku sampai pernah dijuluki “Si Ratu Kepo” dengan teman-teman SMP-ku dulu. Agak kesal sih, tapi... memang seperti itu kenyataannya.


“Haduh, loe mau nanya apa sih, Fla? Cepetan sih, keburu gue males, nih!” Ancamku, ia tersenyum padaku.


“Iya, Ra, ya ampun gak sabaran amat si jadi orang,” ucapnya yang sedikit agak julid, membuatku semakin kesal dengan sikapnya.


Kalau bukan karena jiwa rasa ingin tahuku bergejolak, aku juga tidak mau seperti ini.


“Ra, loe pasti... pacaran kan, sama Kak Morgan?” tanyanya dengan nada seperti menyalahkanku.


Aku kaget dan langsung melempar sepatu yang kupegang ke arahnya. Terjadilah kejar-kejaran yang lucu bagiku.


Ya, memang tidak betulan sih, hanya main-main saja untuk menutupi rasa malu yang kualami.


***