Dosen Idiot

Dosen Idiot
78. Kesal dan Kecewa


"Sudah siap." Lirih ku sembari memandang hasil kerja keras ku. Aku menoleh jam dinding. Sudah pukul 7 sekarang. Aku harap, dia tidak akan melakukan hal bodoh dengan menunggu ku sampai larut malam.


Aku mencium kedua sisi ketiak ku. Ada bau yang kurang sedap. Aku harus bersiap-siap mandi untuk memulai acara makan malam yang romantis ini bersama pujaan hati. Sebelum ia bangun, aku harus sudah rapi dengan semua yang sudah aku rencanakan tadi.


*


Aku sudah mempersiapkan baju ganti yang aku ambil dari mobil ku. Aku membuka pintu kamar mandi utama. Tapi, aku menemukan sedikit kesulitan saat membukanya.


"Duh, pintunya rusak atau gimana ya?" Lirih ku kebingungan, namun masih tetap berusaha untuk membuka paksa pintunya.


"Duhh.." Aku agak kesal dengan pintu usang yang tidak bisa di buka ini. Sia-sia saja aku mencoba membukanya.


"Kalau di dobrak, nanti Ara marah. dan pintunya gak akan bisa di kunci lagi." Lirih ku berpikir. Aku tidak ingin membuat satu kesalahan malam ini. Aku berpikir keras sampai akhirnya menemukan jalan lain.


"Apa pinjam kamar mandi Ara aja?" Pikir ku yang kemudian langsung ke kamar Ara untuk meminjam kamar mandinya.


"Ckleeeekkkk.." Aku membuka pintu kamar Ara. Terlihat wajah polosnya yang sedang tertidur pulas. Perlahan, Aku menuju kamar mandi untuk sekedar membersihkan tubuh ku.


*


Aku sudah selesai untuk membersihkan tubuh ku. Aku mengusap-usap rambut ku yang masih basah, dengan handuk kecil yang tadi aku ambil dari mobil ku. Aku melihat ke arah Ara, nyenyak sekali tidurnya. Aku jadi tidak enak mengganggunya.


"Dringggggggggg.." Handphone Ara berdering. Aku sedikit penasaran dengan handphonenya yang tidak berhenti berdering itu. Aku mendekati Ara dan duduk di pinggir ranjangnya. Aku mencoba meraih handphone yang ada di atas kepalanya.


Tertera nama Rafa di sana.


'Mungkin penting?' Pikir ku. Aku mengangkat Video Call darinya.


-VIDEO CALL-


"Ra, penting, pokoknya penting banget! Loe harus dengerin." Ia mengoceh panjang lebar. Aku hanya memperhatikannya saja. Ia sadar dan terlihat sangat malu melihat wajah ku. Aku hanya memandangnya datar.


"Eh Pak Morgan. Kok bapak yang angkat?" Tanyanya. Mungkin dia bingung. Wajar saja.


Dia memperhatikan ku dengan melihat ke arah rambut ku sembari menunjuk heran. Aku baru sadar, karena aku baru saja mandi dan masih memakai handuk kecil di atas kepala ku. Buru-buru aku taruh handuk itu.


"Oh Emm.. Selamat bersenang-senang, Pak Morgan."


"Eh, Rafa, tunggu.. Ini tuh.."


"Tuuuuutttt.. Tuuuuutttt.."


Rafa memutuskan telepon kami. Tanpa sadar, Aku sudah membuatnya salah paham. Mungkin dia mengira aku sedang melakukan sesuatu dengan Ara. Aku cukup kesal dan memandang handphone Ara.


"Anak zaman sekarang, kenapa gak ada yang mau dengerin penjelasan dulu baru menyimpulkan?" Kesal ku. Aku hanya memandang sendu handphone Ara.


"Dringggggggggg.." Handphonenya berdering lagi. Aku membaca nama yang tertera di layar. Ternyata, di sana tertera nama Bisma. Hati ku sakit sekali saat mengetahui bahwa Bisma lah yang menelepon Ara. Aku jadi tidak mood sekarang. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku angkat, atau aku harus diam?


"Engghh.." Ara terbangun dari tidurnya. Aku gugup sekali karena aku masih bertelanjang dada. Ara melihat ku dengan sangat kaget.


"Aaaaaaaaaaaaaahhhhhh ngapain loe di sini!!!!!" Teriaknya. Aku bingung harus bagaimana. Berada di posisi ku memang serba salah. Ia menutup wajahnya dengan selimut.


"Pergi!!" Ia melempar bantal ke arah wajah ku. Lumayan sakit, tapi aku menahannya.


"Dih diem aja lagi!" Bentaknya, ia melemparkan satu bantalnya lagi dan tepat mengenai wajah ku.


"Awsssss..." Rintih ku dengan ekspresi yang datar. Aku tidak bisa diam saja.


"STOP.. STOP!!" Bentak ku padanya. Ia menghentikan semua aktifitasnya. Aku mengambil bantal yang berjatuhan lalu menaruhnya kembali di atas ranjangnya. Aku langsung memakai kaos panjang yang sudah ku siapkan sebelumnya. Karena aku sudah memakai celana panjang, jadi aku tidak perlu lagi memakai celana di hadapan Ara. Aku menatapnya dengan tatapan yang kesal dan datar.


"Kenapa kamu ngeliatin aku gitu sih?" Tanya Ara dengan nada yang terdengar imut, membuat emosi ku agak mereda sedikit.


"Kenapa saya gak bisa marah sedikit sama dia? Padahal jelas-jelas saya kesal karena laki-laki itu terus-menerus menghubungi Ara." Batin ku kesal.


"Pertama, saya bukan mau apa-apain kamu. Kedua, saya baru selesai mandi di kamar mandi kamu, karena kamar mandi utama agak macet pintunya. Ketiga, saya ngedeketin kamu karena tadi handphone kamu bunyi. Keempat, saya udah siapin hadiah istimewa buat kamu. Kelima, saya kesal karena ada masa lalu kamu yang mencoba menghubungi kamu terus." Jelas saya. Wajahnya tampak tegang. Aku tidak memperdulikannya. Aku masih sedikit kesal dengan kejadian tadi. Tapi, aku berusaha sabar di hadapan Ara.


"Aku sama sekali gak paham sama yang kamu maksud, Gan." Lirihnya yang memang terlihat jelas kebingungan di wajahnya. Apa aku harus berkata sejujurnya tentang masalah Laki-laki yang tidak ingin aku sebut namanya lagi itu?


"Hmm.." Aku mencoba menarik nafas panjang untuk mempersiapkan jawaban yang akan aku berikan padanya.


"Bisma mencoba untuk menghubungi kamu tadi saat kamu tidur."


-ARA MAIN-


Suaranya terdengar sangat datar dan tanpa ekspresi. Aku sama sekali tidak menyangka Bisma akan menghubungi ku di waktu yang tidak tepat seperti ini. di saat aku sudah mulai melupakan Bisma, dan mulai menerima Morgan sepenuh hati, kenapa ini semua harus terjadi? Apa yang harus aku katakan pada Morgan? Apa aku harus memptahankan perasaannya, atau mempertahankan emosi dan harga diri ku? Lagi pula kalau di pikir kembali, aku lah yang salah karena sudah salah paham dengannya.


"Aku bisa jelasin..." Ucap ku terpotong karena tangannya di hadapkan ke arah ku. Aku merasa kesal saat ia berusaha memotong pembicaraan ku. Tapi aku berpikir kembali, ini semua adalah salah ku. Aku harus berusaha menahan amarah ku padanya.


"Saya mau sendiri dulu." Ucapnya datar kemudian segera meninggalkan ku. Aku merasa dada ku sangat sesak mendengar perkataan Morgan tadi. Aku merasa secara tidak langsung telah menyakiti hati Morgan. Aku mencoba untuk melihat Morgan di ruang depan. Aku melewati ruang makan dan langsung di suguhkan dengan pemandangan yang sangat romantis. Lilin yang menyalah dengan setangkai bunga di tengah meja menambah kesan romantis. Apa lagi, saat aku melihat berbagai hidangan yang merupakan makanan kesukaan ku. Apa ini semua Morgan yang menyiapkan? Aku sangat terharu dan tersentuh dengan semua yang telah ia siapkan ini.


"So sweet banget." Aku terharu dengan semua yang aku lihat. Tapi, kemana perginya Morgan? Aku ingin sekali memeluknya. Aku ingin sekali berterimakasih kepadanya karena telah menyiapkan hal yang sangat romantis ini.


"Ih Morgan kemana sih?" Lirih ku bertanya-tanya dengan keberandaannya. Aku berjalan menuju ke dekat kolam renang. Aku melihat Morgan yang sedang tidur di atas kursi dekat kolam renang. Perlahan, aku pun menghampirinya.


"Gan.." Pekik ku lirih sembari duduk di sampingnya. Ia membuka matanya dan melihat ke arah ku.


"Ada apa lagi?" Tanyanya dengan nada yang masih terdengar kesal. Aku mengerutkan dahi ku.


"Kenapa sih marah-marah terus?" Tanya ku dengan nada bersalah. Morgan memandang dengan tatapan yang dingin. Sepertinya memang ia masih marah pada ku. Aku merasa suasana saat ini menjadi sangat canggung. Bagaimana caranya agar ia tidak terlalu marah dengan ku.


"Saya gak tau lagi ya harus gimana sama kamu. Saya udah berusaha sabar hadapain kamu yang terlalu seperti anak kecil. Terlebih lagi, kamu ternyata masih sering berhubungan dengan laki-laki itu.." Tukasnya. Aku merasa agak tersinggung dengan perkataannya. Aku memang masih seperti anak kecil, aku belum dewasa, tapi bukan berarti aku masih berhubungan dengan masa lalu ku.


"Grep.." Aku memegang tangannya yang dingin karena terkena hembusan angin malam. Ia sama sekali tidak menghiraukan ku. Aku merasa sangat bersalah kepadanya.


"Maaf." Lirih ku.


"Saya pergi dulu." Ucapnya yang seperti mengalihkan ucapan ku.


"Morgan!!!" Pekik ku yang tak di hiraukan olehnya. Ia sudah pergi dari hadapan ku sekarang. Aku merasa kesal sendiri dengan apa yang sudah terjadi malam ini. Kini hanya aku seorang diri di sini. Aku merasa seperti sesak. Awalnya, perasaannya tidak terlalu penting bagi ku. Tapi semakin ke sini, diri ku semakin sesak dengan kelakuannya yang menyulitkan diri ku. Aku jadi takut kehilangan dirinya. Aku terlalu bodoh karena sudah menyia-nyiakan perasaan seseorang yang sangat menyayangi ku.


-MORGAN MAIN-


Aku berlari menuju ke arah mobil ku. Aku tidak menyangka akan terjadi kekacauan seperti ini. Yang aku inginkan malam ini adalah hal yang romantis. Sia-sia aku mempelajari semuanya untuk mempersiapkan malam ini.


"Brukkkkk.." Aku menutup pintu mobil ku dan menghela nafas ku panjang.


"Drrrrrrrtttt.." Handphone ku bergetar. Aku membuka pesan yang baru saja masuk. Aku mulai terkejut dengan yang aku lihat saat ini. Satu pesan dengan nomor yang sama seperti orang yang sudah mengaku sebagai pacar ku dan mengirimkan makanan tadi siang kepada ku. Aku membaca isi pesan darinya.


"Aku udah nunggu di sini selama 1 jam. Ternyata benar dugaan aku, kamu gak bakal dateng." Pesan darinya. Aku sontak terkejut dengan yang ia bilang. Ternyata, dia orang yang sama yang telah mengirimkan dompet dan jam tangan yang sama persis dengan yang Putri berikan pada ku. Hati ku semakin tidak menentu. Apa yang harus aku lakukan sekarang?


"Apa saya ke sana aja yah?" Aku berpikir sejenak. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu hanya untuk masalah sepele seperti ini. Tapi jika terus seperti ini, aku akan terus tersiksa dengan rasa penasaran.


"Saya harus ke sana sekarang." Lirih ku. Aku melajukan kendaraan ku dengan kecepatan di atas rata-rata. Ada sedikit perasaan gelisah dan khawatir, kalau saja dia kenapa-napa saat menunggu ku di sana. Aku tidak bisa menjamin keselamatannya. Meskipun aku tidak ingin bertemu dengannya, tapi aku merasa bersalah jika sampai terjadi sesuatu padanya.


Aku menurunkan kecepatan kendaraan ku dan berusaha melihat jam ke arah tangan kiri ku.


"Oh shit!" Aku mendadak kesal karena aku meninggalkan jam tangan ku di rumah Ara. Aku tak sengaja meninggalkannya di sana. Mungkin, jam tangan ku tertinggal di atas meja makan saat aku berusaha memasakan makanan untuk Ara.


"Kenapa bisa ketinggalan?" Lirih ku. Aku melirik ke arah layar mobil ku dan melihat jam di sana. Sekarang sudah pukul 8.15 malam. Aku tidak bisa menjamin apakah dia akan tetap menunggu ku di sana atau tidak. Aku menambah kecepatan kembali.


*


-ARA MAIN-


"Halo, Fla." Tanya ku yang saat ini sedang menelepon Fla. Aku khawatir dengan keberadaan Morgan yang tidak tahu di mana. Aku duduk di atas ranjang ku.


"Kenapa, Ra?"


"Fla, di sana ada Morgan gak?" Tanya ku dengan nada yang mungkin agak khawatir.


"Morgan? Dia belum pulang tuh, Ra." Jawabnya. Kemana lagi aku harus mencari Morgan? Dia tidak pulang sama sekali sejak tadi pagi dan ia sekarang bukan sedang pergi ke arah rumahnya.


"Ra? Ara.."


"Ra.." Panggil Fla yang cukup mengejutkan ku. Tanpa sadar, aku berpikir yang tidak-tidak. Aku takut terjadi sesuatu dengan Morgan di luar sana. Mengingat kejadian waktu itu yang hampir membuat jantung ku copot, saat di kejar-kejar sekelompok orang yang tidak ku kenal.


"I. Iya Fla." Refleks ku yang terkejut mendengar ia memanggil ku.


"Emangnya Morgan gak di sana, Ra?"


"Enggak." Simpel ku. Aku tidak ingin ia berpikir yang tidak-tidak dan aku tidak ingin terlalu ribet menjawab pertanyaannya yang bertubi-tubi nantinya.


"Tenang aja, Ra. Morgan kan udah dewasa. Nanti dia juga balik kok. Loe gak usah khawatir. Nanti gue kasih kabar kok kalau dia udah sampe rumah." Ucapnya yang membuat ku terpaksa harus tenang. Aku tidak mungkin untuk bersikap lebih dari ini. Morgan juga sudah bukan anak-anak lagi. Aku juga paham sifat dan karakteristik Morgan seperti apa. Mungkin dia hanya butuh waktu sendiri.


"Oke, Fla. Thanks ya, kabarin kalau misalkan dia udah balik. Bye."


"Bye."


Aku mengakhiri sambungan telepon ku dengannya. Aku berpikir sedikit keras, apakah aku harus mencarinya atau tidak.


"Cari gak ya?" Lirih ku dengan sangat khawatir. Tapi setelah aku pikir kembali, aku sedang tidak menghawatirkan anak kecil sekarang. Dia pasti akan kembali.


"Ish.. Tapi gue gak bisa begini terus." Hati ku bimbang, aku tak tahu harus berbuat apa.


"Paling enggak, gue harus berusaha nyari dia." Aku bergegas pergi untuk mencari Morgan. Aku pergi tanpa berpikir apapun. Aku hanya membawa handphone ku tanpa membawa selembar uang pun. Aku lupa membawa dompet.


"Gue harus cari kemana?" Aku melirik ke sana dan ke sini. Aku berjalan kaki dengan bodohnya tanpa memikirkan keselamatan ku. Kini, aku sudah sampai di luar kompleks rumah ku. Aku menyusuri jalan demi jalan dengan keadaan lampu penerangan yang minim sekali.


@sarjiputwinataaa