Dosen Idiot

Dosen Idiot
103. Pilihan Sulit (SEASON 2 EPS. 21)


"Kalau ada, tolong kasih tahu aja. Biar Aku yang ngambil sendiri." Tambah ku dengan nada yang datar. Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi nantinya. Aku tidak ingin membuat Ilham terluka lagi. Untuk berjaga saja, karena siapa tahu saja Kakak tiba-tiba datang disaat yang tidak tepat. Sama seperti Morgan waktu itu.


Tiba-tiba saja Aku melihat pupil matanya yang membulat. Aku jadi berpikir, apa mungkin Aku salah bicara?


"Gak ada apa pun yang aneh kok. Aku cuma baru sadar kalau Kamu, ternyata.." Ucapnya terpotong. Ia terdiam sembari menatap ku. Aku bingung dan menunggu Ia untuk melanjutkan ucapannya.


"Ckleeekkk.. Brukkkk.." Tiba-tiba saja Kakak masuk ke dalam mobil. Sampai-sampai, Aku hampir meloncat karena kaget. Setidaknya atku tahu kali ini, Kakak tidak melihat suatu hal yang aneh dari kami.


"Coba ceritain! gimana muka Loe bisa sampai kayak gitu?" Tanya Kakak penasaran. Aku menatapnya dengan tatapan yang malas.


"Udah deh, jalan dulu aja mending." Bentak ku karena kesal. Kakak membalas tatapan datar ku dengan sinis.


"Bawel banget sih nenek-nenek!" Gerutunya. Aku hanya menjulurkan lidah ku ke arahnya.


Tak lama kemudian, Kami bersiap untuk menuju ke rumah sakit terdekat. di sepanjang jalan, Kami terus bercerita sehingga mobil melaju dengan kecepatan lambat.


"Sekarang kan udah jalan nih, coba ceritain gimana bisa jadi kayak gini?" Tanya Kakak. Sepertinya Dia sangat penasaran.


"ini tuh cuma salah paham." Jawab ku yang rancu. Aku sengaja membuatnya semakin penasaran.


"Ya salah paham bagaimana maksudnya? Gak mungkin dong tiba-tiba muka si Ilham bisa jadi kayak gitu sendiri? Siapa tahu aja karena jatuh atau terbentur sesuatu yang keras? Atau malah habis berantem?" Ucap Kakak sembari sesekali melihat ke arah kaca yang ada di hadapannya. Aku melirik ke arah Ilham yang juga sedang melirik ku.


"ini semua gara-gara Morgan." Ucap ku ragu. Kakak langsung melihat tajam ke arah ku.


"Hah gara-gara Morgan? Kok bisa? Ngapain Morgan ngehajar Ilham? Ngapain juga Morgan bertindak sejauh itu? Gegabah sekali!" Tanya Kakak. kalimatnya itu lebih condong disebut 'menginterogasi' bukan bertanya.


"Cuma Aku dan Kak Ilham yang tahu kebenarannya. Morgan tiba-tiba datang dan langsung mukul kak Ilham berkali-kali sampai Kak Ilham gak sadar. Untungnya ada Dosen Dicky yang paling enggak nahan sedikit. Kalau nggak, mungkin Morgan bisa melakukan hal yang lebih gila dari pada itu." Jelas ku. Kakak langsung membuang pandangannya.


"Cemburu sih boleh. Tapi nggak harus sampai nyakitin orang kayak gini kan? Kalau dia aja belum tahu kebenarannya." Ucap Kakak. Sepertinya Kakak memihak ku.


"Gue cuman nggak mau orang lain salah paham sama Gue. Kali ini Gue bener-bener nggak punya niat jahat sama Arasha. Tapi mungkin dari sudut pandang yang Dia lihat kemarin, keadaannya mungkin pas banget sama posisi yang enggak enak dipandang. Wajar aja sih, namanya Laki-laki kalau lihat ceweknya disentuh sedikit pun pasti bakalan marah. Tapi jujur aja Gue enggak ada niat apapun kok. Gue kemarin cuma bantu Ara karena ada sesuatu di area wajahnya." Timpal Ilham untuk membantu menjelaskan pada Kakak kejadian yang sebenarnya.


"Bener yang dibilang Ka Ilham. Aku nggak bakalan berbuat macam-macam di belakang Morgan. Kak Arash harus percaya sama Aku." Gumam ku berusaha meyakinkan hati Kakak. Tapi Kakak hanya diam, mungkin Ia sedang mencerna ucapan yang barusan Aku dan Ilham katakan.


Kami sudah sampai di rumah sakit terdekat. Saat ini, Kakak sedang mengurus administrasi agar Ilham mendapatkan tindakan medis. Aku duduk di pelataran ruangan Ilham. Dokter dan timnya sedang melakukan tindakan medis. dan Aku disuruh menunggu di luar. aku merasa bersalah atas apa yang terjadi dengan Ilham semalam. Sebelumnya Aku hanya beberapa kali bertemu dengan Ilham. Tapi Aku tak menyangka Aku akan menyeret Ilham ke dalam masalah sebesar ini. Aku merenunginya sembari melihat ke arah handphone ku. Keadaan semakin terasa sepi saat Aku tahu tidak ada notifikasi apa pun di handphone ku sejak semalam.


Seseorang tiba-tiba duduk beberapa kursi dari tempat duduk sambung, yang sedang ku tempati. Aku tidak memperdulikannya. Hati ku terasa hampa sekali mengingat kenangan bersama Morgan yang sudah terlalu banyak sampai tak bisa dilupakan dengan mudahnya.


"Prof Handoko, Saya ingin memberi kabar." Terdengar suara Morgan sekarang. Aku tidak menyangka kalau perasaan ku menjadi sedalam ini padanya. Sampai-sampai Aku berhalusinasi mendengar suaranya itu.


"Apa Gue beneran jadi gila?" Lirih ku yang bingung karena terus-menerus dihantui dengan Morgan.


"Saya mengalami kecelakaan saat sedang mengendarai mobil bersama Dicky. Keadaan Saya baik-baik saja. Tapi Dicky cukup mengalami cedera serius. Saya ingin meminta izin cuti atas nama Dicky." Suaranya terus terngiang dan bahkan sekarang lebih jelas. Aku segera menoleh ke arah orang yang sedang duduk beberapa kursi di sebelah ku.


"Tess.. Tess.." Air mata ku seketika jatuh tak beraturan karena Melihat Morgan yang sedang menelpon seseorang. Sesuatu terlihat menempel menutupi pelipisnya. Ia kemudian menoleh ke arah ku juga. Tatapannya dingin! Sama seperti saat pertama kali kita bertemu. Aku tidak menyangka! Ternyata Morgan dan Dicky mengalami kecelakaan, sama seperti mimpi ku tadi malam.


"Terima kasih Prof. Nanti Saya hubungi lagi. Saya sedang menunggu Dicky di luar ruangan. Jika ada perkembangan, Saya pasti akan memberi kabar. Selamat siang, Prof." Morgan menyudahi teleponnya sesaat setelah melihat ke arah ku. Air mata ku semakin membanjiri pipi ku. Aku hampir tidak bisa mengontrol diri ku lagi. Ingin sekali Aku memeluk Morgan. Suasana nampak canggung, sejenak Kami saling melempar pandang.


"Saya sudah selesai..." Terlihat Ilham yang tiba-tiba saja datang dari balik pintu. Ia terdiam seketika melihat Morgan yang sedang berada beberapa meter di sebelah ku. Ilham mendekat ke arah ku dan menyodorkan tangannya.


"Ayo kita pulang." Ucapnya lembut. Aku tidak ingin Morgan menyakiti Ilham lagi. Aku hanya diam sembari menatap sendu ke arah Ilham. Tak sadar, Aku terus-menerus meneteskan air mata di hadapan Ilham. Tangan yang Ia sodorkan tadi, Ia pakai untuk menghapus air mata ku. Aku terkejut! Kenapa semakin Aku ingin menjaganya, semakin juga Ia berusaha mendekatkan dirinya ke dalam masalah? Apa yang Ilham pikirkan sebetulnya?


"Ayo, tunggu apa lagi? Ayo kita pulang ke rumah." Kata-katanya sangat lembut. Tak henti-hentinya Ia menghapus air mata yang terus-menerus membanjiri pipi ku. Aku menoleh ke arah Morgan yang hanya diam sembari memperhatikan Kami. Kenapa Morgan tidak merespon tindakan Ilham sama sekali? Padahal Ia jelas-jelas memperhatikan Kami sejak tadi. Apa benar, Dia sudah tidak memperdulikan ku lagi?


Aku kembali melihat ke arah Ilham yang masih setia menunggu ku. Perlahan, Aku meraih tangan Ilham. Morgan masih sama sekali tidak merespon dan menanggapinya. itu tandanya sudah jelas sekali bukan, Dia tidak menginginkan Aku lagi?


Aku terus menahan sakit ku. Sampai akhirnya, Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan Morgan dan terus menggandeng tangan Ilham. Dengan perasaan berat, Aku sama sekali tidak menoleh ke arah Morgan. Melihatnya sebentar, sudah cukup membuat hati ku sakit. Apalagi sebelum Ia meninggalkan ku kemarin, Ia berpesan agar Aku tidak menemuinya lagi. Baiklah jika itu yang Ia inginkan, Aku tidak akan mengusiknya lagi. Selamat tinggal, Morgan.


-MORGAN MAIN-


Ara pergi sembari menggandeng tangan Laki-laki kotor itu. Hati ku kembali menjadi panas. Tapi, sudah tidak ada lagi urusan ku padanya. Kini hubungan Kami sudah berakhir dan Aku tidak berhak lagi ikut campur dengan pilihannya. Meskipun sejujurnya Aku sangat geram saat Dia menghapus air mata Ara, tapi ini adalah tempat umum. Aku tidak ingin mengganggu pasien lainnya dan membuat keributan di sini, hanya karena masalah Wanita.


Aku membuang pandangan ku dari mereka. Aku tidak ingin melihat kemesraan mereka lagi. Aku ingin menutup rapat-rapat perasaan ku padanya. Pria itu, sepertinya Dia sengaja memamerkan kemesraannya di hadapan ku. Padahal Dia tahu, Aku sedang memperhatikan mereka. Aku menjadi kesal sendiri dibuatnya. Aku mengeluarkan handphone ku dan melihat akun sosial media mantan ku itu. Aku sudah tidak ingin melihatnya lagi. Rasanya Aku ingin sekali memblokir semua akses agar Kami tidak bisa berhubungan kembali. Terlihat akun Ara saat ini. Aku menekan tombol blokir sampai muncul tanda pop-up blokir atau batal. Rasanya Aku sangat berat untuk melakukannya. Aku berpikir sejenak apa yang harus Aku pilih?


Aku menekan tombol batal dan mengurungkan niat ku. Ternyata melupakan seseorang tidak semudah mendapatkannya.


"Arghhhhh!" Lirih ku kesal karena Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa kalau harus hilang kontak dengan Ara. Tapi sekarang, Aku bukanlah siapa-siapa baginya. Hanya bagian dari masa lalunya.


-ARA MAIN-


Aku kembali bersama Ilham ke mobilnya yang berada di parkiran. Terlihat Kakak yang sedang merokok sembari menyender di mobil Ilham.


"Lho, udah selesai?" Tanya Kakak. Aku dan Ilham hanya diam.


"Cepet banget, kok nggak dirawat sih?" Tanyanya lagi. Aku melepaskan tangan Ilham karena Aku rasa, Aku sudah selesai berakting di depan Morgan. Aku hanya ingin Morgan menanggung semuanya. Aku tidak ingin jadi satu-satunya orang yang terluka, walaupun kejadian ini hanya salah paham. Tapi kekeliruan itu yang mungkin saja menjadi penyebab Morgan sangat membenci diri ku.


"Iya tadi cuma diperiksa aja, terus di bersihin lukanya, dikompres, ya.. udah sih paling gitu aja." Jawab Ilham.


"Drrrrtttt.." Aku melihat handphone ku yang bergetar. ternyata notifikasi dari akun Reza. Aku bingung, sejak kapan Aku jadi mendapat notifikasi dari akunnya? Apa karena waktu itu Aku men-stalk dirinya?


'Ah nggak mungkin kan baru sekali stalk!' batinku keheranan dengan segera aku melihat notifikasi si dari akun sosial media Reza. Ia memposting sebuah foto. Tapi Dia hanya memperlihatkan kopernya saja dengan caption "sampai". Kenapa Dia senang sekali berpindah tempat?


"Tinggg.." satu pesan singkat masuk ke dalam inbox. aku langsung melihatnya dan membaca isi pesan tersebut.


"Hai, Ra. Gue udah sampai di Indonesia. Sore ini ada acara? Gue pengen banget ketemu sama Loe." Pesan singkat dari Bisma. Aku merasa gelisah dengan pesan singkatnya ini. Aku khawatir, Bisma menanggung masalah yang sama dengan yang Ilham rasakan saat ini. Tapi seketika, pikiran ku buyar. Aku menyadari bahwa hubungan ku dengan Morgan, kini sudah bukan siapa-siapa lagi dan Dia tidak berhak untuk ikut campur dengan semua urusan ku.


"Ya kan, Ra?" Tanya Kakak. Fokus ku benar-benar sudah buyar sekarang. Aku langsung mengalihkan pandangan ku kearah mereka yang sedang asyik berbincang.


"Ah?" Aku bingung dengan pertanyaan yang mereka ajukan pada ku. Aku sama sekali tidak mendengar percakapan mereka tadi. Fokus ku terlalu banyak untuk Morgan. Tidak seharusnya Aku seperti ini! Kalau Aku merendah, sama saja membiarkannya semakin menginjak-injak harga diri ku.


"Lagi gak fokus ya?" Yanya Kakak. Aku langsung menyeringainya.


*


Kini, Kami sudah sampai di rumah. Kakak dan juga Ilham sedang duduk di ruang tamu untuk berbincang.


"Aku mau ke kamar dulu ya Kak." Ucap ku.


"Lho ngapain ke kamar? Temenin kita dong di sini." Sinis Kakak. Aku kesal lalu mengerucutkan bibir ku dihadapan mereka. Ilham langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Entah kenapa dirinya, Aku tidak mengerti. Aku memutuskan untuk tidak memperdulikannya.


"Aku mau mandi dulu sebentar. Nanti Aku ke sini lagi kok." Ucap ku dengan datar.


"Yaudah jangan lama-lama ya." Akhirnya Kakak memberikan ku izin.


"Yayaya." Gumam ku menyeleneh, Tapi tetap mengiyakan ucapan Kakak. Ia terlihat menjulurkan lidah ke arah ku


Aku pun membalasnya dengan menjulurkan lidah ku ke arahnya juga. Aku pergi menuju kamar ku yang berada di lantai atas. Tapi perasaan ku mengatakan seperti ada sesuatu yang tertinggal.


"Apa yang ketinggalan?" Lirih ku bertanya-tanya sembari tetap berjalan. Aku berusaha memikirkan sesuatu yang tertinggal itu.


"Oh ya handphone!" Aku teringat handphone ku masih tertinggal di mobil Ilham. Jika handphone ku terbawa sampai ke rumah Ilham, Aku pasti akan sangat merepotkannya lagi nanti.


"Ya udah, ambil dulu deh." Aku bergegas kembali ke arah garasi.


"Ya, begitulah Pak." Ucap Ilham yang terdengar samar. Aku berhenti untuk mendengar percakapan Ilham dan juga Kakak. Aku menguping seperti ini, mengingatkan ku saat Aku menguping pembicaraan Kakak dan juga Morgan. Aku mendadak mellow dengan keadaan ini.


"Gak usah formal deh, Ham. Santai aja lagi! Kalau di luar, kita teman." Ucap Kakak. Aku tidak tahu Kakak mempunyai teman selain Morgan. Aku terus mendengarkan percakapan mereka. Aku sedikit penasaran, sebenarnya apa sih yang mereka bicarakan di luar pekerjaan?


"Iya, Ras. Oh ya, Ada yang pengen Gue tanya." Ucap Ilham suaranya terdengar ragu.


"Loe mau tanya apa?" Tanya Kakak kembali. Aku mengintip sedikit ke arah mereka. Aku ingin tahu respon dan sikap Ilham saat sedang berbicara santai dengan Kakak. Terlihat Ilham yang ragu dan sangat kaku. Kalau dilihat lagi, Ilham itu ternyata sangat manis.


"Mm.. Kalau seandainya, Gue ngedeketin Arasha, apa Loe bakal kasih izin?"