
"Apa-apaan sih gan? Loe gak harus hajar mereka kayak gini kan?" Tanya ku yang sedikit khawatir dengan keadaannya. Aku takut, ada satpam yang datang dan mengusir kami. Atau malah membawa kasus ini ke jalur hukum. Semoga tidak terjadi.
"Kamu khawatir sama saya?" Tanyanya sekali lagi dengan nada yang percaya diri. Apa aku terlalu terang-terangan untuk memberikan perhatian ku padanya? Padahal ada banyak makna yang tersirat dari pertanyaan ku barusan.
"Ahh Udah ah!" Aku kesal dan meninggalkan Morgan sendiri di sana. Tapi, Morgan menyelaraskan kembali langkahnya dengan langkah ku. Kami berjalan beriringan membuat semua mata terpana. Aku sangat risih melihat mereka semua memandang ku dengan tatapan seperti itu. Apa karena aku jelek dan cowok yang berada di samping ku ganteng? Rasis!
"Males banget sih di liatin begitu!"
"Wajar lah! Kamu jalan sama orang ganteng. Jadi mereka semua bengong." Ucapannya selalu mengandung makna percaya diri. Sampai-sampai aku mual mendengarnya.
"Udah deh, gak usah banyak bacot! Cepet jalan!" Kesal ku. Morgan hanya tertawa kecil. Aku di ajaknya ke bioskop. Aku juga tidak tahu kenapa Morgan mengajak ku ke sini?
"2 ya." Morgan memesan popcorn dan minuman untuk aku dan dia. Kami menunggu waktu untuk memasuki studio.
"Kenapa kita nonton?" Tanya ku. Dia memberikan minuman dan popcorn itu pada ku. Aku menerimanya.
"Kemarin kan gak jadi. Bayar sekarang!" Ucapnya. Ternyata, ingatannya lumayan kuat juga. Aku sudah malas mengingat hal aneh lagi. Banyak hal yang sudah membuat ku gila hanya karena terus memikirkannya.
Aku masuk ke dalam studio. Sambil menunggu film di putar, aku memakan popcorn ku. Ia nampak tegang sekali. Aku bingung, karena film belum di mulai. Kenapa wajahnya setegang itu? Apa ada yang salah dengannya? Aku menggenggam tangannya tanpa sadar. Terlihat ia menoleh dengan tatapan tegang.
"Loe gak papa?" Tanya ku. Aku yakin, Morgan tidak akan berbicara atau menjelaskan sesuatu pada ku. Aku hanya ingin memastikan bahwa Morgan baik-baik saja.
"Saya? Kenapa saya?" Tanyanya balik seperti memberi tahu bahwa dirinya memang baik-baik saja. Aku melepaskan genggaman tangan ku. Tapi, dia menariknya kembali. Aku terkejut dengan sikapnya itu. Tangan kami kembali bergandengan. Mungkin, wajah ku sudah bersemu merah sekarang. Aku menundukkan pandangan ku sambil sesekali melirik ke arahnya. Wajahnya masih saja tegang. Seperti sudah terjadi sesuatu dengannya.
Beberapa saat kemudian, film pun akhirnya di putar. Aku kesulitan mengambil popcorn ku karena Morgan tidak membiarkan tangan ku lepas dari tangannya. Aku berusaha melirik popcorn yang berada tepat diantara aku dan Morgan. Ia menoleh ke arah ku. Aku sadar, ia telah menoleh dan melihat ke arah ku. Aku memberanikan diri untuk menatap matanya. Matanya tertuju pada popcorn yang barusan ku lihat.
"Kenapa 'hkwkwosjshsbsjsk' terus?" Bisiknya karena film sudah di putar. Aku tidak mendengar jelas ucapannya itu. (Kenapa ngeliatin popcorn terus?)
"Hah? Apa?" Bisik ku dengan sedikit lebih keras dari ucapannya tadi.
"Kenapa 'hkwkwosjshsbsjsk' terus?" Sekali lagi, ia membuat aku terlihat seperti orang yang tuli. Aku mendekatkan telinga ku ke arah wajahnya.
"Kamu cantik." Lirihnya membuat ku merasakan hawa panas kembali di wajah ku. Kenapa dia terus membuat ku merasa GR.
"Tseeeettttt..." Terlihat sinar bulat berwarna merah yang menyorot ke arah kami. Ada seseorang yang bermain laser. Ia melihat ke arah kami. Aku spontan menjauhi Morgan. Aku paham, mereka sedang memperhatikan gerak-gerik kami. Apalagi, tadi mereka menangkap basah kami yang sedang berdekatan. Padahal, tidak terjadi apapun di antara kami tadi. Banyak orang di sekitar kami yang memperhatikan kami. Aku memperhatikan Morgan, jangan sampai dia berbuat ulah lagi seperti saat di basement. Matanya memang sudah berubah aura menjadi agak tajam. Sepertinya, dia sedang menahan emosi.
"Udah, kita lagi nonton nih." Sindir ku padanya. Ia hanya diam tak bergeming. Ternyata sikap kasarnya masih ada sampai sekarang. Awal ku jumpa dengannya juga dia tak segan untuk menyakiti dirinya. Aku hampir saja kena amukannya itu.
Beberapa saat berlalu, kami sudah selesai untuk menonton film yang sebenarnya tidak ingin aku tonton. Ia mengajak ku menonton film horor. Apa jangan-jangan dia takut untuk menonton film horor? Kenapa dia sangat tegang bahkan sebelum film di putar. Aku masih belum menemukan jawabannya.
Kami berjalan menuju restoran yang berada di lantai bawah bioskop. Aku masuk ke restoran ala Jepang yang di rekomendasikan oleh Morgan. Aku mencari bangku dan duduk pada bangku nomor 13 seperti nomor keberuntungan ku. Tak lama, pelayan pun datang dan memberikan menu. Ada banyak sekali bahasa yang di pakai di menu ini. Aku sampai bingung sendiri.
"Mau makan apa?" Tanyanya dengan nada khasnya. Aku terdiam sembari memperhatikan menu yang aku pegang.
"Terserah deh ya. Pusing." Jawab ku. Morgan hanya menatap ku datar.
"Tempura, Onigiri, Udon yang toping beef curry, Semua yang enak bawa sini aja mbak." Ucap Morgan dengan lantang. Aku menganga kaget karena aku sama sekali tidak bisa makan banyak. Pasti akan membuat ku mual jika semua ku habiskan.
"Baik pak.." Gumam pelayan itu kemudian pergi meninggalkan kami.
"Eh gila kali ya? Gue gak bisa makan banyak gitu!!" Protes ku sinis. Ia menatap ku dingin.
"Memangnya siapa yang bilang semua untuk kamu?" Ucapannya membuat aku kesal tapi aku harus menahannya. Aku sangat gondok dengannya! Tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak ingin bertengkar di tempat umum seperti ini. Itu hanya membuat ku malu saja.
Terdengar suara alunan musik dari kios sebelah tempat aku dan Morgan makan. Jarak dari live music ke meja kami hanya terhalang oleh batas tembok plastik yang memiliki tinggi 1 meter. Jadi, aku bisa melihat jelas mereka bermain musik. Aku mendengar, suara penyanyi amatir itu cukup merdu di telinga ku. Aku tersenyum mendengar suara indahnya itu. Apalagi, lagu yang ia bawakan adalah lagu kesukaan ku. Lagu dari band asal negri sakura berjudul "Where ever you are". Aku ikut bernyanyi dengan lirih mengikuti ritmenya. Morgan seperti menoleh ke arah sumber musik. Aku memperhatikan Morgan. Ia lalu menoleh ke arah ku dan menatap ku. Apa yang sedang ia pikirkan?
"Ikut." Tegasnya lalu menarik tangan ku. Aku terpaksa mengikuti langkahnya. Ternyata, dia mengajak ku ke arah live music tersebut. Aku sangat malu, khawatir Morgan melakukan hal-hal aneh yang tidak bisa aku terima. Ia maju ke arah panggung mini dan berbicara kepada semua orang yang terlibat dengan band itu. Akhirnya, dia mengambil mic dan mencoba mic nya untuk mendapatkan suara yang bagus.
@sarjiputwinataaa