
“Aku, dosenmu....”
Ucapnya menyadarkanku
dengan posisinya sekarang. Aku hampir lupa kalau dia adalah dosen sekaligus
teman kakakku, kakak teman sekelasku, dan orang yang aku benci karena sudah
sering kali melecehkanku.
Aku benci Morgan.
“Dan saya...,” “...Orang
yang akan menjadi suamimu nanti,” sambungnya.
“Pfftttt....”
Aku tertawa terbahak-bahak
mendengar kalimat bodoh itu. Kenapa Morgan dengan percaya diri yang tinggi,
berbicara seperti itu?
“Haha. Gak lucu tau gak!” Bentakku
kasar.
Ia terlihat membelalak
ke arahku.
“Kenapa?”
“Loe udah punya orang yang
loe suka!” jawabku spontan tanpa ada rasa ragu.
Aku tidak mau, semua orang
dipermainkan oleh Morgan. Aku hanya kasihan dengan nasib wanita yang sedang Morgan
kejar.
Ia terdiam. Tak bisa berkata
apa-apa. Aku menyunggingkan senyumku.
“Kenapa? Gak bisa jawab,
ha?” Mataku membelalak, merasa sudah menang dari Morgan.
“Iya. Orang itu adalah kamu,”
jawab Morgan.
“Deg....”
Apa yang sudah aku dengar
ini? Kenapa ia tiba-tiba saja mengucapkan kata-kata itu?
Apa ucapan itu benar
adanya?
‘Tuhan, jantung gue kok
sakit, ya?’batinku mengaduh.
“Ma-maksud loe?” tanyaku yang
masih bingung dengan ucapannya.
“Yang kamu dengar waktu itu,
ya kamu. Kakakmu berniat menjodohkan saya dan kamu.”
Woah!
Dunia seakan runtuh
sekarang. Bisa-bisanya kakak melakukan ini, tanpa persetujuanku lebih dulu.
‘Hah? Kakak?’ batinku yang tak bisa berhenti terkejut.
“Kakak gue gak mungkin
begitu!” Aku membentak Morgan, karena masih tak percaya dengan apa yang aku dengar.
“Demi bisnis, dia rela lho bikin
keputusan, untuk nyerahin adik gadisnya ke orang lain.” Morgan menyeletuk.
Aku kaget, dan geram setelah
mendengar ucapannya.
“Plak....”
Satu tamparan mendarat di
pipi halus Morgan.
Biar saja. Biar rasa.
“Jaga ya, bicara loe!” ucapku
memberinya peringatan.
Ia terlihat diam sembari
menunduk. Sikapnya sepertinya tiba-tiba berubah.
Ia spontan menatap ke
arahku, membuatku agak takut dengan reaksinya itu.
“Kenapa sih, kamu senang
banget bentak saya, bahkan nampar saya, di saat-saat seperti ini?!” Bentaknya
dengan keras, yang benar saja membuat tubuhku seketika gemetar.
“Brakk....”
Tak kusangka, ia meninju tembok
lagi. Bahkan kali ini, terdengar lebih kencang dari sebelumnya.
Aku merasa takut dengan
sikap Morgan yang seperti ini. Apa ini sikap asli dari seorang yang selalu
bersikap lembut terhadapku?
Tangisku sudah tak bisa
terbendung lagi. Aku menangis tersedu-sedu dan menutup wajahku dengan kedua
tanganku.
“Aku bikin kamu takut lagi,
ya?” tanya Morgan dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi halus sekali.
Berbeda dari sikap kasarnya
tadi, ia memelukku yang sedang menangis berlinang air mata, ke dalam pelukannya.
Hatiku terasa hancur!
Aku tidak bisa melihat
orang lain melukai dirinya sendiri. Aku tidak mau kejadian ibu dan ayah
terulang lagi.
Aku tidak mau.
Morgan tiba-tiba membelai
lembut rambutku.
Ia mencoba membuka kedua tanganku,
yang menutupi wajahku. Ia mengusap air mataku yang sudah membanjiri wajahku.
“Udah... maafin saya, ya,”
gumamnya sembari mengelap air mataku.
Aku masih saja menangis dan
tak menghiraukannya.
“Dengerin aku ya...”
ucapnya membuatku terdiam sesaat.
Ia sama sekali tidak
berbicara apapun. Pandangan kami bertemu pada satu titik. Ia mendekat,
nampaknya ia ingin menciumku.
“Jangan--" lirihku
yang tak dihiraukan olehnya.
Ia mencium bibirku. Ia
mulai memainkan permainannya, untuk ******* setiap sisi bibirku. Aku menjerit
takut, karena tangannya yang sudah mulai menggerayangi semua bagian leherku.
Aku berusaha melepaskan
diri darinya. Tapi, biar bagaimana pun juga, tubuhnya lebih besar dari tubuhku,
membuatku tidak bisa sama sekali menggeser tubuhnya itu.
“Enyahlah!” Aku berteriak
kasar, saking takutnya dengan sesuatu yang sedang ia lakukan.
Perlahan ia mulai membuka
kancing atas kemejaku. Aku ternyata sudah dibuat mabuk dengan permainannya itu.
Sudahlah.
Aku tidak bisa mengelak
kali ini.
‘Gue harus gimana?’ batinku yang masih sedikit merasa tidak rela.
Aku terdiam, sembari sedikit
menikmati permainannya.
‘Ah, lagian gue juga udah
ga ada harga dirinya di mata dia,’batinku
berpikir akan bagaimana jadinya aku nanti.
Morgan melepaskan diri
dariku.
“Hmm....” Ia terlihat tersenyum
tipis di hadapanku.
Aku tidak tahu dia sedang berpikir
apa. Ia melanjutkan permainannya. Kancing ke-2 telah berhasil ia tanggalkan. Kemudian
kancing ke-3.
Ia berhenti untuk memandangku.
Perasaan takutku, mulai
muncul kembali saat ini.
“Saya mau, kamu jadi milik saya,”
lirihnya.
Aku tak bisa berbuat
apapun. Aku menatapnya dengan pandangan yang mengatakan, “jangan...”
“Aku akan jaga kamu, kok,”
lanjutnya sembari membuka kancing ke-4 dan kancing ke-5 kemejaku.
Kini kemejaku tidak lagi
terpasang kancing.
“Maaf... saya harus begini,”
ucapnya, “saya menyayangimu,” sambungnya.
Aku hanya diam. Otak dan keadaanku
sudah tidak sinkron sekarang. Aku tidak bisa berbuat apapun. Seperti beku, tak
bisa berkutik.
“Saya janji, saya pasti menjaga
kamu.” Morgan melepaskan kaos polos yang sedang ia kenakan.
Dadanya yang bidang, dengan
bentuk otot sixpack, sangat sexy dan cocok untuk style Morgan
ini.
Ini merupakan kali kedua,
aku melihat tubuh Morgan tanpa busana.
Aliran darah seketika naik
ke otakku. Aku ternyata sudah lepas kendali. Aku tidak bisa lagi menahan semuanya.
“Ini akan terasa
menyakitkan. Tapi... tahan, ya.” ucapnya dengan senyuman hangatnya.
Aku mulai gugup dan tubuhku
berubah suhu menjadi panas dingin.
“Jangan....” lirihku, tapi
ia tak menghiraukan apapun lagi yang kukatakan.
Malam ini berlalu begitu
saja. Dengan perasaan yang aku sendiri tak tahu itu apa.
Dasar Morgan idiot!
***
Sinar mentari menyorot kembali
ke arah wajahku.
Perlahan, aku membuka mataku.
Aku menoleh ke sekelilingku,
dan tak sengaja melihat wajah polos Morgan yang sedang tidur di sampingku.
Seperti De javu, aku
melihat Morgan di sana.
“Apa gue cuma mimpi, ya?”
lirihku.
Aku bangkit dan melihat
sekelilingku.
Pandanganku tertuju pada
satu titik.
“Kenapa ada darah?” lirihku
melihat sprei putih ini, yang sudah berlumuran dengan darah.
Aku mencoba mengingat
kembali, tentang kejadian yang terjadi.
“Astaga! Jadi ini bukan mimpi?”
Aku berteriak, karena teringat kejadian antara aku dan Morgan tadi.
Aku merenung dan mulai
meratapi nasibku. Aku mulai menangis, menyesali perbuatanku tadi itu.
‘Gue udah gak virgin!’ batinku menyesali semua kejadian yang di luar batas diriku.
Aku sudah mengecewakan kakak.
‘Maafin Ara, Kak.’
Siang itu, aku hanya bisa menangis
meringkuk dan bersandar pada dinding ranjang.
“Kenapa gue bego banget, sih?”
Aku memaki diriku sendiri, karena merasa sudah terlalu bodoh, sudah memberikan
seluruh yang aku punya pada orang yang belum tentu akan menjadi milikku nanti.
“Selamat siang.” Sapa
morgan yang langsung bangkit menemaniku duduk.
Aku tak menghiraukannya. Aku
tidak mau berbicara padanya.
“Kamu kenapa?” tanya Morgan
dengan polosnya.
Aku lagi-lagi hanya diam lemas
sembari menangis. Ia membelai rambutku dengan sangat halus.
“Kamu laper?” tanyanya
lembut.