Dosen Idiot

Dosen Idiot
Maniak 2


“Aku, dosenmu....”


Ucapnya menyadarkanku


dengan posisinya sekarang. Aku hampir lupa kalau dia adalah dosen sekaligus


teman kakakku, kakak teman sekelasku, dan orang yang aku benci karena sudah


sering kali melecehkanku.


Aku benci Morgan.


“Dan saya...,” “...Orang


yang akan menjadi suamimu nanti,” sambungnya.


“Pfftttt....”


Aku tertawa terbahak-bahak


mendengar kalimat bodoh itu. Kenapa Morgan dengan percaya diri yang tinggi,


berbicara seperti itu?


“Haha. Gak lucu tau gak!” Bentakku


kasar.


            Ia terlihat membelalak


ke arahku.


“Kenapa?”


“Loe udah punya orang yang


loe suka!” jawabku spontan tanpa ada rasa ragu.


Aku tidak mau, semua orang


dipermainkan oleh Morgan. Aku hanya kasihan dengan nasib wanita yang sedang Morgan


kejar.


Ia terdiam. Tak bisa berkata


apa-apa. Aku menyunggingkan senyumku.


“Kenapa? Gak bisa jawab,


ha?” Mataku membelalak, merasa sudah menang dari Morgan.


“Iya. Orang itu adalah kamu,”


jawab Morgan.


“Deg....”


Apa yang sudah aku dengar


ini? Kenapa ia tiba-tiba saja mengucapkan kata-kata itu?


Apa ucapan itu benar


adanya?


‘Tuhan, jantung gue kok


sakit, ya?’batinku mengaduh.


“Ma-maksud loe?” tanyaku yang


masih bingung dengan ucapannya.


“Yang kamu dengar waktu itu,


ya kamu. Kakakmu berniat menjodohkan saya dan kamu.”


Woah!


Dunia seakan runtuh


sekarang. Bisa-bisanya kakak melakukan ini, tanpa persetujuanku lebih dulu.


‘Hah? Kakak?’ batinku yang tak bisa berhenti terkejut.


“Kakak gue gak mungkin


begitu!” Aku membentak Morgan, karena masih tak percaya dengan apa yang aku dengar.


“Demi bisnis, dia rela lho bikin


keputusan, untuk nyerahin adik gadisnya ke orang lain.” Morgan menyeletuk.


Aku kaget, dan geram setelah


mendengar ucapannya.


“Plak....”


Satu tamparan mendarat di


pipi halus Morgan.


Biar saja. Biar rasa.


“Jaga ya, bicara loe!” ucapku


memberinya peringatan.


Ia terlihat diam sembari


menunduk. Sikapnya sepertinya tiba-tiba berubah.


            Ia spontan menatap ke


arahku, membuatku agak takut dengan reaksinya itu.


“Kenapa sih, kamu senang


banget bentak saya, bahkan nampar saya, di saat-saat seperti ini?!” Bentaknya


dengan keras, yang benar saja membuat tubuhku seketika gemetar.


“Brakk....”


Tak kusangka, ia meninju tembok


lagi. Bahkan kali ini, terdengar lebih kencang dari sebelumnya.


Aku merasa takut dengan


sikap Morgan yang seperti ini. Apa ini sikap asli dari seorang yang selalu


bersikap lembut terhadapku?


Tangisku sudah tak bisa


terbendung lagi. Aku menangis tersedu-sedu dan menutup wajahku dengan kedua


tanganku.


“Aku bikin kamu takut lagi,


ya?” tanya Morgan dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi halus sekali.


Berbeda dari sikap kasarnya


tadi, ia memelukku yang sedang menangis berlinang air mata, ke dalam pelukannya.


Hatiku terasa hancur!


Aku tidak bisa melihat


orang lain melukai dirinya sendiri. Aku tidak mau kejadian ibu dan ayah


terulang lagi.


Aku tidak mau.


Morgan tiba-tiba membelai


lembut rambutku.


Ia mencoba membuka kedua tanganku,


yang menutupi wajahku. Ia mengusap air mataku yang sudah membanjiri wajahku.


“Udah... maafin saya, ya,”


gumamnya sembari mengelap air mataku.


Aku masih saja menangis dan


tak menghiraukannya.


“Dengerin aku ya...”


ucapnya membuatku terdiam sesaat.


Ia sama sekali tidak


berbicara apapun. Pandangan kami bertemu pada satu titik. Ia mendekat,


nampaknya ia ingin menciumku.


“Jangan--" lirihku


yang tak dihiraukan olehnya.


Ia mencium bibirku. Ia


mulai memainkan permainannya, untuk ******* setiap sisi bibirku. Aku menjerit


takut, karena tangannya yang sudah mulai menggerayangi semua bagian leherku.


Aku berusaha melepaskan


diri darinya. Tapi, biar bagaimana pun juga, tubuhnya lebih besar dari tubuhku,


membuatku tidak bisa sama sekali menggeser tubuhnya itu.


“Enyahlah!” Aku berteriak


kasar, saking takutnya dengan sesuatu yang sedang ia lakukan.


Perlahan ia mulai membuka


kancing atas kemejaku. Aku ternyata sudah dibuat mabuk dengan permainannya itu.


Sudahlah.


Aku tidak bisa mengelak


kali ini.


‘Gue harus gimana?’ batinku yang masih sedikit merasa tidak rela.


Aku terdiam, sembari sedikit


menikmati permainannya.


‘Ah, lagian gue juga udah


ga ada harga dirinya di mata dia,’batinku


berpikir akan bagaimana jadinya aku nanti.


Morgan melepaskan diri


dariku.


“Hmm....” Ia terlihat tersenyum


tipis di hadapanku.


Aku tidak tahu dia sedang berpikir


apa. Ia melanjutkan permainannya. Kancing ke-2 telah berhasil ia tanggalkan. Kemudian


kancing ke-3.


Ia berhenti untuk memandangku.


Perasaan takutku, mulai


muncul kembali saat ini.


“Saya mau, kamu jadi milik saya,”


lirihnya.


Aku tak bisa berbuat


apapun. Aku menatapnya dengan pandangan yang mengatakan, “jangan...”


“Aku akan jaga kamu, kok,”


lanjutnya sembari membuka kancing ke-4 dan kancing ke-5 kemejaku.


Kini kemejaku tidak lagi


terpasang kancing.


“Maaf... saya harus begini,”


ucapnya, “saya menyayangimu,” sambungnya.


Aku hanya diam. Otak dan keadaanku


sudah tidak sinkron sekarang. Aku tidak bisa berbuat apapun. Seperti beku, tak


bisa berkutik.


“Saya janji, saya pasti menjaga


kamu.” Morgan melepaskan kaos polos yang sedang ia kenakan.


Dadanya yang bidang, dengan


bentuk otot sixpack, sangat sexy dan cocok untuk style Morgan


ini.


Ini merupakan kali kedua,


aku melihat tubuh Morgan tanpa busana.


Aliran darah seketika naik


ke otakku. Aku ternyata sudah lepas kendali. Aku tidak bisa lagi menahan semuanya.


“Ini akan terasa


menyakitkan. Tapi... tahan, ya.” ucapnya dengan senyuman hangatnya.


Aku mulai gugup dan tubuhku


berubah suhu menjadi panas dingin.


“Jangan....” lirihku, tapi


ia tak menghiraukan apapun lagi yang kukatakan.


Malam ini berlalu begitu


saja. Dengan perasaan yang aku sendiri tak tahu itu apa.


Dasar Morgan idiot!


***


Sinar mentari menyorot kembali


ke arah wajahku.


Perlahan, aku membuka mataku.


Aku menoleh ke sekelilingku,


dan tak sengaja melihat wajah polos Morgan yang sedang tidur di sampingku.


Seperti De javu, aku


melihat Morgan di sana.


“Apa gue cuma mimpi, ya?”


lirihku.


Aku bangkit dan melihat


sekelilingku.


Pandanganku tertuju pada


satu titik.


“Kenapa ada darah?” lirihku


melihat sprei putih ini, yang sudah berlumuran dengan darah.


Aku mencoba mengingat


kembali, tentang kejadian yang terjadi.


“Astaga! Jadi ini bukan mimpi?”


Aku berteriak, karena teringat kejadian antara aku dan Morgan tadi.


Aku merenung dan mulai


meratapi nasibku. Aku mulai menangis, menyesali perbuatanku tadi itu.


‘Gue udah gak virgin!’ batinku menyesali semua kejadian yang di luar batas diriku.


Aku sudah mengecewakan kakak.


‘Maafin Ara, Kak.’


Siang itu, aku hanya bisa menangis


meringkuk dan bersandar pada dinding ranjang.


“Kenapa gue bego banget, sih?”


Aku memaki diriku sendiri, karena merasa sudah terlalu bodoh, sudah memberikan


seluruh yang aku punya pada orang yang belum tentu akan menjadi milikku nanti.


“Selamat siang.” Sapa


morgan yang langsung bangkit menemaniku duduk.


Aku tak menghiraukannya. Aku


tidak mau berbicara padanya.


“Kamu kenapa?” tanya Morgan


dengan polosnya.


Aku lagi-lagi hanya diam lemas


sembari menangis. Ia membelai rambutku dengan sangat halus.


“Kamu laper?” tanyanya


lembut.