
""Baik yang Mulia.
Kasim Tua menjawab sambil menundukkan kepalanya. Pekerjaannya akan bertambah dua kali lipat karena pengawal dingin itu sedang memulihkan dirinya.
Sementara pengawal yang lain?
"Huff..
Bahkan Kasim tua menghembuskan nafas beratnya.
Mereka belum cukup mampu untuk memikul tanggung jawab untuk berada di samping Putra Mahkota.
**
Di pondok bambu yang sejuk. Ivona menumpahkan semua kasih sayangnya untuk Putra sulungnya itu. Sesekali Ivona akan teringat dengan Putra bungsunya. Dirinya merasa miris Putra bungsunya itu akan menjadi korban ketidak Adilan orang tuanya.
""Ibu berjanji kita akan mengambil adikmu kembali. Percayalah kepada ibu. Bisiknya
kepada Putra sulungnya.
Sementara Bayi kecil yang di dekapannya itu merespon perkataan sang ibu lewat tangan mungilnya yang sesekali menyentuh wajah sang ibu.
Membuat Ivona terkekeh geli. Telapak tangan Putranya itu sangat lembut.
"" Putra ibu sudah besar ternyata. Ucapnya gemas sambil mencium pipi montok Putranya.
Ivona akan melatih dirinya di tempat itu dengan baik sehingga dirinya layak berdiri di depan banyak orang. Dan dapat membalaskan dendamnya.
*****
Segala musim telah terjadi berulang ulang di dunia itu. Hari hari telah berganti, siang malam telah berlalu. Zaman itu sudah semakin maju dan yang kuat semakin kuat dan yang kaya semakin kaya.
Tiga Tahun telah berlalu.
Tetapi sosok yang ramping dan tinggi itu masih berada di dunia masa lalunya.
Tatapan matanya semakin ganas. Semua yang hadir di aula itu tidak berani berkutik bahkan bernafas sekalipun.
Selama tiga tahun ini mereka seakan di rundung oleh duka yang sangat dalam.
Selama tiga tahun itu juga Putra Mahkota itu tetap dengan posisinya. Sang ayah yang duduk di singgasana hanya menjadi pendengar yang baik Budiman ketika para menterinya melaporkan setiap permasalahan yang ada di kerjaan itu.
Dan setiap masalah itu akan di tangani Putra Mahkota dengan sekejap mata. Ayahnya hanya perlu menduduki singgasana itu.
Yang mengerjakan semuanya adalah Putranya yang masih keras kepala itu.
Hidup Putra Mahkota itu seperti robot yang tiada henti dalam bekerja. Setiap hari dia akan memantau perkembangan Putranya yang di didiknya langsung dengan kedua tangannya.
Bahkan dirinya tidak mengizinkan para selirnya untuk merawat Putranya. Dirinya akan memenuhi janjinya kepada sosok wanita yang sampai saat ini masih di hatinya.
Dia masih sangat mencintai Istrinya dan tidak akan ada orang yang menggantikan posisi wanitanya di hatinya.
Rasa cintanya terhadap wanita itu sudah menyatu dengan jiwa dan raganya.
Pada saat rapat Istana setiap hari Putranya itu akan ikut duduk manis di samping Kaisar.
Para petinggi utama itu tidak ada yang berani mengeluarkan uneg-uneg yang ada di hati mereka. Mereka lebih memilih diam dari pada menghadapi Dewa yang ganas itu
Sang Kaisar tidak terlalu mendengarkan laporan dari Para mentrinya itu. Dirinya sibuk melayani cucu tampanya yang sedang menikmati Teh dan cemilanya. Dirinya tidak perduli dengan laporan itu. toh juga Putranya yang sudah mati rasa itu yang membereskannya.
Sementara para pejabat istana itu sudah merasa gemetaran dan merasakan hawa dingin di aula itu. Mereka takut kena amukan Putra Mahkota yang tidak puas dengan setiap laporan mereka.
Tapi mereka tidak ada yang berani mengeluh. Apalah daya mereka yang hanya bawahan kecil dan manusia lemah di hadapan Putra Mahkota BA Xi'an
Mereka akan tunduk dan patuh kepada penguasa itu. Mereka sangat menakuti dan menghormati Kaisar dan Putra Mahkota Ba Xi'an.
Berkat kedua pemimpin itu kerajaan mereka selalu berada di puncak. Hidup mereka rukun dan damai. Para masyarakatnya hidup berkecukupan dan makmur.
""Kanselir kanan urus kebanjiran itu dengan baik. Sebuah Suara bariton membuyarkan para lamunan pejabat yang sedang berdiri itu.
""Baik yang Mulia.
Balas kanselir kanan dengan hormat tetapi butiran keringat di pelipisnya tidak bisa menutupi kegugupannya dan ketakutannya setiap menghadapi Putra Mahkota atau menantunya itu.
""Yang mulia ke tiga penerus kami sudah selesai bermeditasi dan berguru. Kami akan membawanya ke hadapan yang Mulia. Ucap salah satu lelaki yang paling berdiri di depan. Yaitu Duke. Tao Wei.
""Hahaha..silahkan cepat segera panggil mereka memasuki aula.
"Kenapa tidak dari tadi mereka kau panggil?
"Menunggu itu sangat membosankan ucap sang Kaisar Tanpa beban.
Dirinya sedari tadi sudah bosan duduk si singgasana. Kaisar itu ingin segera pergi dari sana dan membawa cucunya bermain. Dia yang sudah berumur itu merasa sudah lumutan jika di hadapkan dengan rapat Istana dan laporan para mentrinya.
Seandainya Putranya yang keras kepala itu mau menduduki singgasananya maka dia akan dengan senang hati menghabiskan hari-harinya dengan istri dan cucunya Tampa mengeluh.
Sementara Ba Xi'an yang mendengar rengekan Ayahnya hanya diam. Dia tidak perduli jika ayahnyapun meninggalkan aula itu. Asalkan sang Ayah masih duduk sehat di singgasana dirinya tidak memperdulikan yang lain.
Bahkan ayahnya pernah sesekali tertidur di singgasana itu saat rapat para pejabat istana masih berjalan.
Ba Xi'an tidak menghiraukannya. Dirinyalah yang menyelesaikan masalah kerajaan itu sebaik mungkin. Ba Xi'an tidak menginginkan duduk di singgasana itu.
Bahkan untuk memulai hari harinya saja dirinya akan memeluk gaun istrinya terlebih dulu supaya semangatnya timbul.
Di sisi lain para pejabat itu tidak heran lagi dengan sifat sang Kaisar. Mereka merasa hal itu sudah biasa melihat kaisarnya yang tidak memperdulikan urusan kerajaan karena ada Putra Mahkota yang mengurusnya.
Putra Mahkota akan dengan mudah menyelesaikan setiap masalah di kerajaan itu. Bahkan sang kaisar itu pernah terang terangan tidur di depan mereka. Mereka tidak menyalahkan sang kaisar.
Mereka sangat mengagumi kaisar itu. Seharusnya dirinya sudah menyerahkan posisi itu kepada sang Putra akan tetapi Putra Mahkota tidak mau menduduki posisi itu. Putra Mahkota tinggal menunggu pangeran kecil cukup umur dan menggantikan posisi kakeknya.
Tiba-tiba Suara Kasim menggema di aula itu.
""Putra dari Duke Tao Wei. Tuan muda Tao Yuan memasuki istana
""Putra dari Duke Chen Cen. Tuan muda Chen Ruan memasuki Istana.
""Putra dari Duke Xia WAN. Tuan muda Xia He memasuki Istana.
Ketiga lelaki muda yang tinggi tegap itu memasuki Istana. Ketiga pemuda dari keturunan nomor dua di kerajaan itu mempunyai ciri khas masing-masing.
"Tuan yuan menggunakan jubah warna kuning yang elegan sesuai dengan parasnya yang ceria dan ramah.
"Tuan Ruan yang memakai jubah biru langit sesuai dengan sikapnya yang sopan dan berwibawa.
Sementara
"Tuan He yang memakai jubah warna merah bak pengantin berjalan sesuai dengan parasnya yang rupawan dan irit bicara.
Semua penghuni aula itu hening.