
Heng Yuze membawa Chang Lian kembali ke kerajaan Langit.
Dia tidak ingin istrinya mengalami kesedihan yang mendalam.
"Istirahatlah jangan bersedih lagi
"Aku mau menemui Kaisar Langit dan Dewa Agung.
Ucap Heng Yuze sambil mengantar Chang Lian ke kamar.
Chang Lian menurut saja, perasaanya saat ini sungguh sangat sedih.
Chang Lian belum bisa melupakan dua sosok laki-laki muda yang ada di Dunia Fana itu.
Dia tidak asing dengan bola mata bernetra legam dan biru itu.
Sekuat tenaga Chang Lian mencoba mengingatnya.
Chang Lian membatin.
"Dimana aku pernah bertemu dengan ke dua anak itu?
"Kenapa mereka tidak asing.
Ucap Chang Lian di dalam hati.
Heng Yuze mencium kening Chang Lian sebentar sebelum dirinya beranjak pergi dari sana.
Setelah memastikan wanitanya sudah sedikit tenang. Heng Yuze menghilang dari kamar Chang Lian.
Di Kediaman Dewa Agung. Sosok yang tiga itu sedang duduk bersila.
Jiwa Roh Ba Xi'O saat ini sudah ada di tengah-tengah mereka.
Heng Yuze memasukkan Jiwa Roh Putranya itu
ke sebuah kolam suci kecil dan disana teradapat beribu Jiwa Roh calon penerus Langit .
"Tinggal menunggu Putra sulungmu. Ucap Kaisar Langit.
Lie Zhu sudah di takdirkan Langit menjadi Dewa Tinggi Putra Mahkota Phoenix.
Sementara Ba Xi'O akan menjadi penerus Dewa Naga.
"Tidak lama lagi Lie Zhu akan menghadapi alam kematianya..
"Aku harap kau jangan gegabah membawa Chang Lian lagi.
"Aku takut Chang Lian berusaha mengingat ke-dua Putranya, dan takutnya inti Api iblis yang sudah hancur itu, akan kembali dan bertumbuh lagi. Terang Kaisar langit.
Heng Yuze mengangguk.
Dia juga tidak akan turun lagi.
Biarlah di hari kepergian Putranya di alam fana. Dia melakukan meditasinya untuk menjernihkan dan menenangkan pikiranya.
Setelah Lie Zhu kembali ke kolam suci itu. Maka Heng Yuze dan Chang Lian akan melakukan pernikahanya.
"Dua Minggu lagi. Guman Heng Yuze.
Entah Kenapa langit sangat suka menyiksa Putra sulungnya itu.
Ke dua Putranya kembar, Lahir bersama-sama.
Maunya juga menutup mata harus bersama-sama, Pikir Heng Yuze.
Kenapa Putranya itu harus mengalami kesendiriannya untuk beberapa tahun lagi di alam fana. Pikirnya.
Di sisi lain. Di alam kerajaan Phoenix.
Saat ini, Ratu Phoenix itu sedang duduk di kursi kebesaranya.
Para Penatua dan petinggi di klannya berbaris rapi menunggu Sang Ratu memberikan titahnya.
Lima orang calon Dewi biasa. Berdiri dengan anggun di sebelah kiri Ratu Phoenix. Hari ini sang Ratu itu akan memilih penerusnya.
Dua hari ini Sang Ratu pergi ke kerajaan langit. Mereka mengira sang Ratu mengikuti rapat untuk yang terakhir kalinya. Karena sebentar lagi dirinya akan turun dari kursi kebesarannya itu.
Dan baru saja Sang Ratu tiba di alam Phoenix.
Mereka tidak sabar lagi, siapa yang akan terpilih di antara Mereka.
Calon Dewi biasa itu juga sudah berfikir bahwa dialah yang terpilih. Karena hanya dialah yang paling kuat di antara ke empat para calon Dewi itu.
Ratu Phoenix membuka mulutnya mengumumkan sesuatu yang membuat klannya terkejut.
"Pemilihan Ratu Phoenix di batalkan.
"Kaisar Langit, Dewa Tinggi Putra Mahkota dan Dewa Agung tidak menyetujuinya. Ucapnya simpel dan tegas. Mata Emas tuanya mengkilat. Semua penghuni aula Terdiam sekaligus merasa Binggung, dan ada sebagian yang sangat kecewa.
Bagaimana tidak kecewa, mereka calon-calon Dewi yang telah bersusah payah berlatih untuk menjadi layak sebagai Ratu Phoenix, kini harus berakhir sia-sia.
Mimpi yang sempat melambung tinggi, kini harus terhempas ke dalam dasar jurang.
Setelah Mereka mendengar dari Sang Ratu, bahwa ketiga sosok yang Maha Tinggi itu tidak setuju dengan pemilihan Ratu terbaru.
Mereka hanya bisa diam dan bermonolog dalam hati.
Mereka tidak seberani itu melawan ketiga sosok yang Maha Besar itu.
Apalah daya. Mereka hanyalah butiran debu bagi ke tiga Dewa Tinggi itu.
"Ratu jika Pemilihan Ratu Phoenix di batalkan, maka siapa yang akan menjadi penerusnya?
Tanya seorang wanita berparas cantik, Yang tak lain Murid kesayangan Ratu Phoenix. Wanita itu bahkan sudah di juluki Ratu Phoenix oleh beberapa klanya.
Ratu Phoenix yang duduk di singgasana sana menghembuskan nafasnya.
"Dewa Tinggi Putra Mahkota sendiri yang akan memimpinya langsung.
Jawab Ratu Phoenix sedikit malas. Entah kenapa setelah mengetahui keberadaan cucunya dan Masalah yang menimpa cucunya selama ini. Ratu Phoenix itu sudah hilang respect kepada para rakyatnya itu. Para penatua dan calon Dewi di aula itu terkejut batin. Siapa yang tidak mengetahui sosok Dewa Tinggi Putra Mahkota. Dia sosok Dewa yang sangat sempurna sekaligus dingin. Umurnya yang kini sudah beranjak sepuluh ribu tahun lebih. Sosok itu tidak pernah mereka lihat.
Hanya Dewa dan Dewi Tinggi yang pernah melihatnya itupun dari jarak yang cukup jauh. Karena Dewa Tinggi Putra Mahkota selalu saja duduk di singgasana setiap menghadiri rapat kerajaan.
Dia juga tidak pernah muncul di depan umum. Selama ini dia hanya mengurung dirinya di istananya yang Megah itu.
Tubuh wanita yang bertanya tadi bergetar.
Jantungnya berdetak kencang.
Dewa yang selama ini di kaguminya kemungkinan akan datang ke wilayah klan Phoenix untuk memimpin klan Phoenix ini.
Dia sudah lama diam-diam menyukai sosok itu.
Senyum menawanya terukir di wajahnya.
Akhirnya dia mempunyai kesempatan untuk dekat dengan Dewa Tinggi Putra Mahkota.
Dia akan melakukan segala cara untuk mendekati sosok yang Maha Besar itu.
Sepertinya keuntungan selalu memihak kepadanya.
Saat ini semua klan Phoenix Memuja-mujanya. Dia yakin pesonanya itu dapat meluluhkan hati yang beku itu.
" Ratu Apakah dewa Tinggi Putra Mahkota akan datang kesini?
Tanya salah satu penatua sedikit gugup.
"Mungkin sekitar satu bulan lagi dia akan datang ke klan Phoenix.
"Untuk itu kalian jangan membuat klan Phoenix kita malu di depan Dewa Tinggi Putra Mahkota. Ucap Ratu Phoenix dengan tegas.
Dia sedang bekerjasama Dengan ke tiga Dewa Tinggi itu. Mereka akan mencari dalang di balik pembunuhan cucu tercintanya.
Demi mendapatkan ke Adilan untuk cucunya. Dia rela harus menurunkan gengsinya.
Apalagi dia harus setiap hari melapor kepada mantanya Dewa Agung.
Calon Dewi yang mendengar Dewa Tinggi Putra Mahkota akan datang sebulan lagi kesini.
Membuat hatinya merasa senang.
Dia akan menyusun rencananya sematang mungkin untuk merayu sosok yang tinggi itu.
"Dewa Tinggi Putra Mahkota hanya milikku.
"Hanya aku yang pantas menjadi Permaisurinya.
"Dan hanya aku juga yang pantas menjadi Ratu Phoenix.