
Sekarang ikuti takdir saja. Bisiknya pada malam berbintang.
***
Da sisi lain di tempat yang berbeda..
Ivona membuka mata indahnya.
Hari ini dirinya tidur pulas hampir seharian. IVONA bangun hanya makan dan mandi saja lalu melihat anaknya sebentar.
Ivona mengedarkan pandanganya.
Di luar hari sudah gelap.
Awalnya Ivona ingin memberikan asi kepada buah hatinya tetapi suaminya melarangnya.
""Itu punyaku..aku tidak suka berbagi.
Ucapan suaminya itu masih di ingatnya.
Cukup mengelikan sebenarnya bagi Ivona. Seorang ayah yang seharusnya memberikan yang terbaik bagi anaknya. Lain hal dengan suaminya itu.
"""Aku bisa memberikan semuanya kepada anak kita..tetapi yang itu aku tidak mau memberikannya itu hanya milikku.
Kata-kata absurd serta raut wajah suaminya itu masih terngiang ngiang di otak kecil Ivona.
Rencananya ingin memberikan asi ke pada anaknya selama enam bulan kini telah sirna.
Hukumannya untuk di asingkan ke hutan dingin kini sudah di hapus.
Tadi siang suaminya datang menemaninya makan siang sebentar.
Suaminya juga mengatakan.
""Dua Minggu lagi pengawal Bingwen dan yang lain akan mengantarmu ke kuil leluhur.
Ivona tersenyum miris mengingat ucapan suaminya tadi siang secepat itukah suaminya itu mengingatkannya.
Bahkan luka pasca melahirkan belum kering dan seenak jidatnya suaminya itu mendorongnya pergi.
""Baiklah aku akan menurutinya dengan senang hati.
Bisiknya pada angin malam.
Ivona masih membawa motto di dunianya dulu.
"""Jika kamu mencintai orang lain..jangan paksa dia untuk membalas cintamu.
Lepaskanlah dia untuk orang yang di cintainya. Karena melihat orang yang kita cintai bahagia adalah sesuatu hal yang sangat indah meskipun keindahan itu tidak bersama kita.
Kata- kata panjang lebar itu selalu di ingatnya. Ivona memang tidak pernah mencintai lelaki di dunianya seperti mencintai suaminya saat ini. Tetapi Ivona dulu pernah mengagumi beberapa pria di dunia itu.
Saat melepaskan para pria itu dengan wanita pilihannya perasaan Ivona biasa saja.
Tidak seperti saat ini. Ivona merasakan seperti ribuan jarum menancap tepat di dadanya dan sebilah pisau mengoyaknya.
Ivona masih ingat saat suaminya pergi dari Paviliunnya dia mendengar sang Kasim mengatakan selir pertama sedang menunggunya.
Menunggu untuk membimbingnya.
Ivona terkekeh kecil.
""Secepat itukah pria itu memamerkan kemesraannya.?
Apakah dia sungguh tidak sabar bersama dengan orang yang di cintainya?
Sehingga dirinya di suruh cepat pergi dari hadapanya?
Dari informasi yang di dengar pelayanya. Banyak para pelayan bergosip tentang selir pertama. Katanya selir pertama itu akan di angkat menjadi Permaisuri.
Setelah selir kelima menyelesaikan hukumannya menyembah kuil leluhur.
Ivona baru mengerti. Pengangkatan permaisuri harus benar benar matang. Dan penuh.
Menurut kepercayaan orang orang di sini Tidak boleh salah satu anggota kerajaan berada di luar atau sedang menjalani hukuman di kuil leluhur hal itu dapat menimbulkan bencana. Karena kuil leluhur akan di sucikan saat pengangkatan penobatan Permaisuri
Itulah kepercayaan masyarakat kerajaan ini.
Berarti suaminya itu menyuruhnya cepat cepat menyelesaikan hukumnya supaya tidak menganggu pada saat pengangkatan permaisuri oleh wanita tercintanya.
Ivona tertawa kecil tapi hatinya menangis pilu. Hatinya masih tertuju kepada pria itu.
Awalnya Ivona tidak ingin menjalani hukuman itu dia ingin segera pergi untuk menemui buah hatinya yang lain. Tetapi Ivona berpikir lagi.
Hari pada saat dia pulang ke kerajaan hari itulah pengangkatan penobatan permaisuri.
Ivona akan mengantikannya dengan sebuah tragedi.
Seringai licik terpatri di bibir manisnya.
Bahkan aura yang di keluarkan Ivona saat ini bagaikan Dewi neraka yang akan melahap habis mangsanya.
""Putra Mahkota..kewajiban ku sudah kupenuhi. Aku sudah melahirkan anak untuk mu, sekarang aku akan menjalani hukuman terakhirku.
Untuk membayar dosa dosaku.
Kuharap setelah itu kita sama-sama melupakan masa lalu.
Anggaplah aku tidak pernah hadir di kehidupanmu. Ucapnya bergetar.
Air matanya mengalir deras di pipi mulusnya sekuat tenaga dia menghentikan perih di hatinya namun perasaannya terlalu rapuh.
Ivona tidak bisa sekuat pemikirannya.
Hati dan logikanya sekarang sedang berperang.
Ivona menutup matanya. Membaringkan tubuh yang masih lelah itu.
**Banyak yang bilang jujur dan terbuka adalah hal yang susah di lakukan seseorang.
Tetapi hal itu bisa menyelesaikan sesuatu yang mungkin kita anggap sepele. Hal yang kita anggap sepele itu bisa saja menghancurkan bahkan menyakiti perasaan orang yang kita sayangi**.
Putra Mahkota Ba Xi'an Zhu saat ini sedang sibuk di ruangannya. Di temani Kasim tua dan pengawal pribadinya Bingwen..dengan telaten Bingwen mengatur kertas kertas yang berserakan itu. Kasim Tua dengan sabar mengiling tinta emas milik Putra Mahkota.
Ba Xi'an menulis isi kitab suci sampai seribu lembar serta mengukir beberapa kata Doa di dalam papan Giok.
Semua itu Untuk di bawa dan di pelajari sang istri selama satu bulan di kuil leluhur.
Sebenarnya menulis kitab suci dan mengukir Doa di batu giok itu adalah tugas Ivona karena itu sebagian hukuman yang di jalaninya.
Tetapi Ba Xi'an tidak mengijinkan hal itu di lakukan sang istri karena dia tidak mau istrinya terlalu lelah menulis kitab suci dan mengukir batu giok itu.
Dan akhirnya Ba Xi'an sendirilah yang mengerjakannya. Ibarat
"""istri yang bersalah suami yang bertanggung jawab.
Ba Xi'an ingin semua berjalan sesuai rencana dan kehendaknya.
Bahkan tadi siang Ba Xi'an telah mengancam selir pertamanya.
""Jika dalam satu setengah bulan ini kau tidak bisa mencapai sihir tingkat tujuh maka nyawamu dan keluargamu akan berakhir hari itu juga.
Mata legamnya menatap tajam selirnya itu.
Membuat orang orang di sekitarnya tidak berani berkutik.
"""Semuanya sudah Selesai yang Mulia.
Kasim tua mengingatkan Putra Mahkota Ba Xi'an.
"""Hmm.
Kasim tua mengernyitkan keningnya.
"""Yang mulia hari sudah tengah malam.
Hamba akan mengantar yang Mulia kekamar.
Ba Xi'an memandang Kasimnya.
"""Tidak perlu..aku akan ke paviliun Istriku. Sebelum istriku pindah ke Istana Utama.
Aku akan tinggal di sana. Jelasnya.
"""Baik yang Mulia.
Bahkan Kasim Tua itu tidak bisa lagi berkata kata.
Paviliun selir kelima adalah Paviliun yang paling kecil di antara Paviliun selir yang lain.
Dulu sewaktu selir kelima memasuki Istana.
Paviliun itu adalah gudang penyimpanan makanan. Adapun taman di samping.
Itu ide dari ibu suri.
Dia tidak mau selir kelima menghirup udara yang tidak segar. Bahkan ibu suri merombak gudang itu menjadi Paviliun yang baru. Warna dan bentuknya habis total di ubah.
"Selir yang lain dapat Paviliun yang paling besar serta taman yang luas selir kelima juga harus mempunyai taman walaupun taman kecil dan danau buatan yang kecil.
Kata kata ibu suri masih teringat jelas di benak Kasim tua.
Bahkan hal itu sempat jadi bahan pertengkaran antara ibu suri dan Putra Mahkota.