Cinta Sang Dewa Dingin

Cinta Sang Dewa Dingin
EPISODE. 100


Setelah puas Ba Xi'an menggoda istrinya.


Ba Xi'an langsung pergi kemar mandi.


Ivona terpelonggok melihat tingkah suaminya bag ABG yang sedang kasmaran.


"Siapa yang menjulukinya Putra Mahkota dingin.


"Kurasa mata orang-orang itu telah buta.


"Lebih cocok julukannya Putra Mahkota gila.


Batin Ivona tersenyum tipis.


Setelah Beberapa saat Ba Xi'an telah menyelesaikan ritual mandinya.


Saat ini dengan telaten Ivona membantunya menggunakan jubah kebesarannya.


Lalu mereka memulai sarapan mereka dengan hening.


Bibir Ba Xi'an merasa gatal untuk mengajak istrinya itu berbicara.


""Selir kedua telah ku ceraikan.


Ucapnya sambil melihat mimik wajah istrinya.


Ternyata yang dilihat jauh dari ekspektasinya. Wajah istrinya itu menampilkan raut wajah datar kebanggaannya.


""Bukankah seharusnya istriku senang . Batin BA XI'AN.


""Aku telah berjanji hanya kamu istriku satu-satunya dan Permaisuri ku. Ucapnya menambahkan karena tidak mendapatkan respon dari istrinya.


""Jika kau tidak rela menceraikan istrimu. Lupakan janjimu itu.


"Aku tidak ingin membuatmu menjadi laki-laki egois.


"Aku juga tidak terlalu membutuhkanmu.


Jika bukan karena kedua Putraku saat ini aku tidak akan mau bersamamu lagi.


Ucap Ivona tenang.


Membuat Ba Xi'an terkejut mencoba menahan gejolak yang bercampur aduk di hatinya saat mendengarkan ucapan istrinya itu. Rasa Marah, kecewa, sedih telah menjadi satu di sana.


""Bisakah kamu tidak mengulangi kata-kata yang sama?


"Aku sungguh sakit hati mendengarnya.


Ucap Ba Xi'an sambil menghentikan acara sarapan paginya. Nafsu makanya telah hilang saat mendengarkan ucapan yang sangat menyakitkan dari mulut wanitanya itu.


Sementara Ivona hanya diam. Sekalipun suaminya itu tidak menyentuh makananya Ivona tetap bersikap cuek.


"Makanya jangan coba-coba melukaiku.


"Karena aku wanita zaman modern yang selalu ingat akan rasa sakit hati. Dan akan selalu mengingatnya.


Batin Ivona bersikap tenang.


Satu Minggu telah berlalu.


Segala usaha yang di lakukan Ba Xi'an untuk meluluhkan hati pujaannya itu belum juga membuahkan hasil.


Istrinya itu hanya akan merespon setiap perkataanya seadanya saja.


Bahkan dalam urusan di ranjang Ba Xi'an lebih banyak berperan. Membuat Ba Xi'an merasa sedih dan terpuruk.


Saat Ba Xi'an baru selesai melakukan pertemuan paginya bersama para pejabat Istana Ba Xi'an melihat sebuah kreta kuda yang terparkir cantik di depan Istana miliknya.


Ba Xi'an mengetahui pemilik dari kreta itu. Kreta itu milik wanitanya.


Dengan langkah lebar dia mendatangi kreta itu. Disana telah berdiri patuh sosok  kakek Elang Tua dan dua pengawal kembar istrinya.


Sampai saat ini Ba Xi'an masih dendam melihat kakek Tua itu.


Jika bukan dirinya yang membantu istrinya kabur maka istrinya tidak akan pergi meninggalkanya tiga tahun yang lalu.


Ba Xi'an melihat istrinya yang berjalan anggun menuju kearahnya lebih tepatnya ke arah kretanya yang sudah menunggunya.


""Kamu mau kemana?


Tanya Ba Xi'an sambil berdiri di depan Ivona untuk menghentikan langkah wanitanya.


""Aku ingin pergi kekerajaan Matahari.


Aku telah berjanji untuk menyembuhkan Permaisurinya.


Ucap Ivona jujur.


Ba Xi'an terkejut mendengarnya.


""Apa kamu bilang?


""Apakah kamu ingin meninggalkan Istana yang saat ini sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahan kita dan pengangkatan mu menjadi Permaisuri?


""Apakah kamu melupakan ucapan Ayah di aula Istana waktu itu?


""Apakah kamu masih begitu membenciku sehingga kamu menganggap ucapan Ayahku seperti angin berlalu.


Tanya  Ba Xi'an berderetan sambil bergetar. Dirinya tidak tau lagi cara membujuk wanita itu.


Segala cara telah di lakukanya bahkan hal bodoh sekalipun.


Semuanya sia-sia.


Bahkan Ba Xi'an empat hari yang lalu mencoba menyakiti dirinya dengan cara mengambil sisik naganya dari tubuhnya dan meletakkan sisik itu di Mahkota yang akan di gunakan Ivona pada saat penobatannya.


Konon katanya sisik itu dapat melindungi seseorang yang di cintai Pemilik tubuh yang melepaskan sisik itu.


Setelah melepaskan satu sisik berharganya. Membuat badan Ba Xi'an panas Dingin.


Sepanjang hari dia hanya terbaring lemah di tempat tidur. Dia mengharapkan belas kasihan istrinya dan merawatnya ternyata angan-angannya itu terlalu tinggi.


Istrinya datang ke kamarnya saat mau tidur saja dan akan keluar seharian.


Ba Xi'an memijit pelipisnya yang berdenyut bahkan saat ini kondisinya belum pulih.


Dia hanya memiliki Dua sisik sebagai simbol bahwa dirinya memiliki jiwa Naga. Kini sisik itu tinggal satu dan satunya lagi telah berada di dalam Mahkota itu


Ivona merasa bersalah telah melupakan hal itu.


Dia mengira acara pernikahan mereka akan di tunda melihat beberapa hari ini Suaminya sedang tidak enak badan.


Bahkan dia diam-diam menyuruh Pelayanya Ana merebus herbal yang sudah di raciknya sendiri lalu memberikanya kepada Kasim Tua untuk meminumkannya kepada suaminya itu.


Sementara resep yang di buat tabib Istana di buang Ivona.


""Pergila kita tunda keberangkatan kita hari ini. Titah Ivona.


""Baik yang mulia.


Ucap mereka serentak dan buru-buru pergi dari sana mereka tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga Majikanya.


Ivona melihat wajah suaminya yang terlihat pucat.


""Aku tidak akan pergi.


"Kamu sedang lemah.


"Kenapa harus kamu paksakan untuk melakukan pertemuanya. Omel Ivona membuat Ba Xi'an sedikit terkejut.


""Aku..aku hanya memastikan acara kita besok berjalan ucapnya gugup saat tangan lembut milik istrinya memegang tangan kokohnya.


Ivona mendudukan Ba Xi'an ke tempat tidur. Membantunya membuka sepatu Ba Xi'an dan Mengganti jubahnya.


Ba Xi'an merasa senang dan hatinya berdebar melihat perhatian hangat istrinya.


"Sekarang tidurlah aku sudah menyuruh Jing mi untuk merebus obatmu.


Ucap Ivona yang menyuruh Jing mi melalui telepatinya.


Ba Xi'an mengangguk patuh.


Ivona mengelus-elus Surai indah milik suaminya membuat kedua mata  Ba Xi'an  semakin tertarik untuk tidur.


"Tidurlah aku akan menemanimu disini.


Bisik Ivona pelan saat melihat mata suaminya yang sendu.


Bahkan Kepala Ba Xi'an saat ini berada di pangkuannya.


Setelah beberapa menit terpejam Ba Xi'an membuka matanya Dia melihat istrinya tertidur. Ba Xi'an menampilkan senyum tampanya.


Lalu membantu mengubah posisi istrinya itu .


Kasim Tua dan tabib istana memasuki ruangan Putra Mahkota itu saat mereka merasakan Putra Mahkota itu telah bangun.


Setelah tabib memeriksa dan melihat kondisi Putra Mahkotanya. Dia merasakan sudah mulai ada perubahan dari kondisi lemah  Ba Xi'an


""Hamba akan menambahkan resep Bunga plum emas supaya yang Mulia cepat puluh seperti biasanya jelas sang tabib sambil memeriksa ramuan yang sudah di rebus itu.


Di dalam mangkok porselen ramuan itu masih hangat sehingga aromanya yang begitu alami masih tercium dari sana.


Tabib Istana itu seketika memicingkan matanya saat mencium aroma lain dari mangkok itu.


""Kenapa tabib?


"Apakah ada yang mencurigakan?


Tanya Kasim Tua penasaran. Membuat Ba Xi'an terkejut.


""Apakah ada racun. Tanya Ba Xi'an sudah mode Serigala.


""Bukan yang Mulia. Didalam mangkok ini tidak ada Racun.


Malah Di dalamnya terdapat herbal tinggi dan juga langka.