
""Apaa?
Zhang ingin menangis walaupun dirinya belum pernah memasuki hutan Spritual.
Dia bukan orang yang gampang di bodohi.
""Hei nona aku bukan orang bodoh sepertimu yang bisa kau tipu?
Jing mi menggertakkan giginya dan masuk kepondok. lelaki itu telah menghinanya. Sebenarnya Jing mi bukan hewan spritual yang sabar. saat ini Jing mi sudah gatal ingin menghajar pria itu.
Tetapi dirinya saat ini masih fokus ke yang Mulia kecil.
Jika saatnya tiba Jing mi akan menghukum pria itu habis habisan.
Bisa bisanya pria itu mengatainya orang bodoh. Sebisa mungkin Jing mi menahan amarahnya.
Zhang sangat kesal melihat tingkah perempuan yang di depanya itu.
""Apakah dia tuli?
"Atau Apakah pesonaku sudah menurun sebagai pria tertampan seantero di kerajaan ku?
"Kenapa dia tidak menjawabku? Batinya kesal.
Baru kali ini dia kewalahan menghadapi wanita. Jangankan meliriknya bahkan wanita itu seperti bintang di langit yang susah di petik.
Zhang keluar dari pondok itu dengan bibir mengerutu.
Barusan dirinya di suruh ke kamar bagian barat. Zhang mengikuti perintah wanita itu dirinya juga penasaran dengan kamarnya.
""Apakah sebagus kamar yang Mulia kecil? Batinya girang.
Dirinya ikut ikutan akan memanggil bayi kecil itu yang Mulia.
Walaupun sedikit tidak rela. Itu perintah dari perempuan galak itu.
Saat Zhang keluar dari pondok itu. Dia melihat beberapa orang berdiri di depan pondok itu. Jumlahnya sekitar tiga puluh orang.
Laki laki dan perempuan, Tua dan muda saat ini mereka berdiri di depan pondok seakan sedang menunggu perintah.
Dari pakaian yang di gunakan orang orang itu cukup unik dan elegan semua punya ciri khas masing masing.
Zhang menghampiri orang orang itu. Dia berpikir orang orang itu mau mengusir atau mencelakai mereka.
"""Ehem...maaf tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian.
"Ada yang bisa ku bantu?
Tanyanya sopan. Bulu kuduknya sudah berdiri merasakan aura dari orang orang yang di hadapannya itu.
Mereka yang di tanya hanya diam dan menunjukkan wajah khas masing masing.
""Mereka berpikir kenapa ada manusia yang tidak memiliki kekuatan berada di samping yang Mulia Kaisar.
Sang kakek tua mempelai kumis panjangnya.
Mengamati pria muda yang di hadapannya itu. Mereka tidak boleh menyinggung pria muda itu. Walaupun pria itu tidak mempunyai kekuatan tetapi dia adalah salah satu orang terdekat yang Mulia kaisar.
Sang kakek tua itu menimang+nimang hasil analisanya terhadap pria itu.
Setelah Jing mi meletakkan yang Mulia kecil dia keluar dari pondok itu hendak menemui pria bodoh yang menyusahkannya.
Jing mi melihat dan juga mendengar suara Zhang yang membuatnya ingin muntah.
Benar benar bodoh umpatnya.
Jing mi menghampiri mereka dan mengatakan.
"""Kembalilah yang Mulia kecil belum bisa di ganggu.
Ucapnya datar...
Para hewan suci itu berlutut.
""Pemimpin.
""Kami tidak bermaksud menganggu yang Mulia Kaisar.
Kami datang kesini untuk memberikan Kaisar hadiah sebagai bentuk perkenalan.
Ucap sang kakek Tua. Seorang Dewa hewan suci burung elang merah.
Lalu memberikannya kepada Jing mi dengan hormat.
"""Kalian sudah memberikanya. Kembalilah.
""Baik pemimpin ucap mereka serentak.
Lalu pergi dari tempat itu.
Zhang hampir pingsan di tempat. Jika bukan karena rasa penasarannya yang tinggi dia akan pingsan untuk yang kedua kalinya.
Matanya terbelalak melihat batu Rubi merah darah itu. Zhang seorang sarjana yang cerdas bagian ilmu pengetahuan.
Hampir semua buku sudah di bacanya. Zhang tau batu Rubi merah darah itu bukan batu sembarangan. Batu itu walaupun kecil.
Namun Batu itu dapat menghancurkan satu kerajaan.
Zhang melihat wanita yang di depanya itu dengan wajah Penasarannya.
Ternyata benar perempuan itu tidak membohonginya saat ini mereka berada di hutan Spritual.
Zhang percaya Karena Zhang melihat orang orang tadi pergi dengan identitas hewan sucinya masing masing.
Yang membuatnya hampir gila karena para hewan suci yang sudah ranah Dewa Dewi itu memanggil wanita yang di hadapannya itu dengan sebutan
"pemimpin.
Berarti wanita itu adalah pemimpin hewan suci yang selama ini hanya di bacanya di dalam buku.
""Lalu kenapa hewan suci itu dan perempuan ini memanggil bayi kecil itu yang Mulia Kaisar.
Jangan bilang Bayi itu Mempunyai Roh Phoenik di tubuhnya.
Bahkan Zhang tidak sanggup berpikir lagi. Akhirnya badanya terjatuh ke tanah dan pingsan.
Jing mi yang melihat lelaki itu pingsan lagi. Memandangnya sinis.
""Dasar tidak berguna. Kesalnya. Lalu pergi dari sana tidak ada niatnya untuk menarik laki laki itu ke dalam pondok.
***
Malam hari angin sejuk melambai lambai di sekitar pondok itu. Hutan yang biasa di penuhi suara suara yang sangat nyaring dan menyeramkan. Kini malam itu terasa sunyi binatang suci yang biasa bertingkah pada malam hari semuanya diam membisu tidak ada yang berani mengusik bahkan berkeliaran sekalipun. Mereka diam tenang dan tentram.
Pondok yang biasa gelap dan sepi itu kini bersinar terang segala hewan suci tingkat tinggi dan Dewa Dewi dari segala penjuru menjaga pondok itu.
Mereka takut penghuni pondok itu tidak nyaman ataupun ada yang kurang. Mereka semua siap siaga jika sewaktu waktu sang pemimpin membutuhkan bantuan mereka.
Zhang membuka kelopak matanya.
Matanya menatap langit diatas. Bintang bintang bertaburan dengan indah. Suasana malam hari ini sangat tentram.
Saat dirinya berdiri baru dia sadar ternyata dia masih di luar pondok itu.
Zhang tidak berani lagi mengutuk perempuan itu. Dia berjalan dengan patuh menuju kamarnya. Saat dirinya membuka kamarnya. Pemandangan indah menantinya. Disamping kamarnya ada jendela yang menampilkan sebuah taman yang mengelilingi danau kecil.
walaupun suasananya pada malam hari danau itu terlihat jernih dan sangat indah.
Lalu Pandangan mengedar keseluruh kamar isi kamar disana terletak kebutuhan utamanya. Ada meja diatasnya tersaji makanan minuman seperti yang ada di atas kreta yang di lihatnya.
Akhirnya dia mengerti dengan semua ini. Pemilik pondok itu adalah pemimpin binatang suci.
Hal yang sangat mudah melakukan hal seperti di kreta kuda.
Zhang berpikir.
""" apakah ini sebuah anugerah untuknya atau ada hal yang sangat berbahaya yang menanti dirinya di balik ini semua.
Zhang tau saat ini dirinya telah dikelilingi orang orang hebat dan berkuasa.
Cepat atau lambat akan ada yang memburu mereka.
Apalagi identitas bayi itu belum di ketahuinya. Zhang yakin bayi itu anak seorang bangsawan atau anak salah satu petinggi Akademi Kultivator.
Zhang menghela nafas beratnya.
Cita citanya menjadi Dewa obat akan di kuburnya dalam dalam.
""Hal itu tidak akan terwujud. Batinya lesu.
Sekarang ikuti takdir saja. Bisiknya pada malam berbintang.