
Heng Yuze menghembuskan nafas beratnya. melihat ekspresi para sahabatnya itu yang seperti baru mendapatkan jackpot besar.
Mereka memasuki Istana megah milik Dewa Putra Mahkota. Di gazebo taman hijau itu, telah tersedia makanan dan minuman.
Ke empat Dewa itu bersiul senang. Jarang-jarang mereka di kasih izin memasuki taman pribadi Dewa balok es itu.
Biasanya mereka di jamu di taman yang lain, Yang berada di istananya.
"Terimakasih, Ucap Chang Lian kepada ke empat Dewa pengawal, Saat ke empat pengawal itu melayani mereka.
Ke empat Dewa Pengawal itu merasa merinding mendengar ucapan terimakasih dari Dewi Tinggi Chang Lian.
Sejak mereka menjadi Dewa pengawal, mereka tidak pernah mendengar ucapan terimakasih dari Dewa ataupun Dewi yang mereka layani. Mereka mengangguk sambil tersenyum kaku..Semalam wanita cantik ini masih pelayan, sekarang sudah menjadi Dewi Tinggi, Pilihan Langit lagi. pikir mereka.
"Untung saja aku tidak jadi melemparnya ke alam petir. Jika tidak, aku yakin Ratu Phoenix tidak akan membiarkanku begitu saja. Batin pengawal satu sambil bergidik ngeri membayangkanya.
"Selesai kalian meminum seteguk.
" Segeralah pergi dari sini. Usir Heng Yuze, Dia tidak akan membiarkan sosok keempat sahabatnya itu mengganggunya.
Keempat Dewa itu melongo. Si Dewa balok es ini mengusir mereka, setelah minum teh. Seteguk pula itu pikir mereka.
"cuma seteguk mana berasa, hanya nyangkut di tenggorokan. Batin Dewa Matahari kesal.
"Kami disini sampai malam. Jawab Dewa Matahari.
"Lagian kami kesini, Karena di undang Dewi cantik Chang Lian. Ucapnya tidak tau malu.
"Iya, benar itu, Aku setuju. Timpal Dewa Takdir sambil mengunyah makanan itu dengan rakus.
Jarang-jarang Dewa Takdir itu menikmati keindahan alam surgawi.
Istananya yang penuh dengan buku takdir itu, Membuat Dewa Takdir merasa sesak.
Bahkan tanganya yang cantik itu, Tidak pernah berhenti mencatat semua yang terjadi di alam semesta.
"Manusia modern saja sudah punya alat canggih untuk mengetik. Masa dia sebagai Dewa Tinggi, masih mencatat menggunakan tangan, pikirnya.
Dia tidak sadar ke empat Dewa itu sudah melihatnya dengan tatapan berbeda-beda.
Apalagi Heng Yuze sudah menatapnya dengan tatapan tajam miliknya.
Sementara Dewa Takdir tidak perduli. Jika sudah menyangkut makanan. Dia menganggap semuanya angin berlalu.
Apalagi di depanya kini tersedia banyak makanan dan minuman mewah, Angin Badai Sekalipun, dirinya tidak akan bergerak.
Yang penting jangan sampai pusaran milik Dewa Hukum yang datang.
Jika pusaran itu yang datang. Baru Dia akan bergerak
Yang paling utama saat ini mengisi perutnya yang sejengkal itu. Sesekali dirinya akan mengikuti budaya manusia di alam fana.
Setelah kenyang baru bisa menghadapi masalah dengan tenang. pikirnya.
Chang Lian senang melihat Dewa Takdir yang apa adanya.
"Ada juga teman seprekuensi dengan ku batin Chang Lian..
"Makanlah, Jangan perdulikan yang lain. Ucap Heng Yuze sambil menarik dagu mulus Chang Lian, yang menatap Dewa Takdir begitu senang. Heng Yuze tidak menyukainya, Dia cemburu jika wanitanya ini menatap lawan jenisnya lebih dari dua detik.
Begitu juga sebaliknya, Dia akan membuat larangan di seluruh penjuru kerajaan langit, Tidak ada yang boleh memandangi istrinya lebih dari sedetik. Jika bisa jangan sampai mata-mata yang jelalatan itu melihatnya, Jika bertemu dengan istrinya, harap putar balik.
Heng Yuze mengukir senyum tipisnya saat ide itu tiba-tiba muncul di benaknya.
Dia akan membuat pengumuman itu mulai besok. Untuk hari ini biarlah seperti ini. Hitung-hitung bonus. Pikirnya.
"Yu Jie..Teriak Jing Huli. Suaranya melengking di taman hamparan hijau itu.
Dewa takdir yang sedang fokus menikmati makananya, Tersedak sendiri.
""Uhuk..Uhuk.
"Ckk..Baru saja aku menghiraukan tatapan legam itu. Kini secepat itu langsung mendapatkan hukumanya. Batinya menggerutu.
"Yu Jie, Beo Chang Lian.
Jing Huli langsung menutup mulutnya rapat. Dirinya lupa bahwa temanya ini sudah melupakan masa lalunya.
"Maaf..Maksudku Chang Lian.
Setelah mengetahui masa lalunya yang kelam itu, Jing Huli, Tidak berani lagi bersikap sembarangan di depan Dewa Tinggi Putra Mahkota.
Kelima sosok Dewa berbeda jubah itu terbelalak melihat Sosok sahabatnya yang bak orang gila.
Jubah hitam itu mendapatkan koyakan di mana-mana. Kulit setebal sisik Naga itu kini tercakar-cakar, Rambut yang biasa tertata rapi itu kini berantakan seperti sarang burung, Wajah kokoh itu juga mendapatkan cakaran brutal.
Mereka bergidik ngeri membayangkan sikap brutal Dewi rubah itu.
"Duduklah disini, Ucap Dewa Bulan. Yang selalu bersikap lebih Dewasa di antara mereka.
Bibir Dewa Hukum bergetar. Jika dia seorang wanita, Dia akan menangis sejadi-jadinya, Meluapkan rasa malunya sekaligus kekesalanya.
Dimana tidak kesal Dewi Rubah yang bar-bar itu menghajarnya habis-habisan.
Kulitnya yang terawat itu telah di cakar wanita itu habis-habisan.
Dia tidak menyangka tubuh yang tergolong kecil itu bisa menghajarnya dengan sangat brutal. Jika saja Dewa Agung dan Kaisar langit tidak datang dan menghentikannya. Dia yakin saat ini dirinya sudah tidak berbentuk lagi.
Chang Lian merasa senang ternyata dirinya mempunyai teman seorang wanita.
"Apakah kau bertengkar dengan kekasihmu itu. Tanya Chang Lian polos.
Mereka semua yang ada di meja itu terkejut batin, saat Dewi Phoenix itu menganggap Dewi Rubah dan Dewa Hukum sepasang kekasih.
Jika sudah keadaanya seperti ini, Jangankan kekasih, Mungkin yang dua ini akan menjadi musuh bebuyutan.
"Dia bukan kekasihku.
Sanggah Jing Huli langsung.
"Siapa yang mau jadi kekasihnya.
"Dia laki-laki yang Pengejut dan tidak bertanggung jawab. Ucap Jing Huli kesal.
Sampai kapanpun dia tidak akan menyukai laki-laki itu. Laki-laki itu sudah banyak membuat hidupnya menderita. Hidupnya bagaikan Roler coaster selama ini.
"Ohh..
"Tapi kalian sangat cocok.
Ucap Chang Lian kembali.
"Yang satu bar-bar dan yang satu lagi sepertinya bersikap Kalam. Pikirnya
"Ciihh..
"Cocok dari mananya.
"Sekalipun hanya dia laki-laki di dunia ini, Aku lebih memilih sendiri dari pada menjadi pasangannya.
Balas Jing Huli sambil menekankan setiap perkataanya.
Dewa Hukum menggerutu dalam hati.
"Aku juga tidak akan mau.
"Dasar wanita kasar. Batinya.
Dewa Tinggi yang bermartabat seperti dirinya tidak akan pernah jatuh cinta pada gadis bergaun merah itu.
Dia akan mengingat hal itu.
"Kalian berdua Jangan terlalu saling membenci, "Nanti kalian jadi saling jatuh Cinta lagi .
Ucap Dewa Matahari.
Dia tau kedua sosok berbeda gender itu sedang mengumpat dalam hatinya masing-masing.
"Betul itu. Timpal Dewa Takdir.
Saat ini mata jernihnya itu sudah melihat sahabatnya satu-persatu.
Perutnya sudah terisi penuh.
Dewa Bintang yang melihatnya geleng-geleng kepala. Sahabatnya yang satu itu sungguh menurunkan martabatnya hanya demi makanan.