Cinta Sang Dewa Dingin

Cinta Sang Dewa Dingin
EPISODE. 121


Setelah menjalani serangkaian kejadian, yang cukup menyebalkan sekaligus sedikit menegangkan.


Dewa pengawal itu akhirnya, dapat membawa Yu Jie ke istana Dewa Tinggi Putra Mahkota.


Ternyata peri itu mempunyai sikap keras kepala yang sangat tinggi.


Untung saja wanita itu mempunyai wajah yang cantik, Jika Tidak, mungkin Dewa pengawal itu sudah menyeretnya dengan paksa.


"Wanita cantik memang sangat menyusahkan. Batin Dewa Pengawal satu.


Sepanjang jalan Yu Jie mengerutu sambil memanyunkan bibirnya.


"Bisa-bisanya dia memaksaku.


"Bukankah aku berhak menolaknya?


"CK..Bahkan aku akan menjadi pelayannya.


"Menyiapkan makananya, jubahnya, mengikutinya kemanapun dia pergi.


"Memangnya aku ini istrinya?


"Kenapa dia tidak menikah saja?


"Bukankah dia saat ini sedang membutuhkan butuh wanita?


Ucap Yu Jie dengan mulut komat-kamit.


Telinga Dewa pengawal satu sungguh gatal mendengarkan omelanya.


Di sisi lain Heng Yuze yang sedang menatap Yu Jie dari cermin ajaibnya, tersenyum kecil. Dia merasa gemas melihat Yu Jie yang merepet-repet.


Dia merasa wanita itu bertambah cantik jika sudah mengerakkan bibir mungilnya.


Saat kedua insan berbeda itu tiba di istananya, Heng Yuze menyingkirkan cermin ajaibnya.


"Salam kepada Dewa Tinggi Putra Mahkota.


Ucap Dewa pengawal itu sendirian.


Sementara Yu Jie yang di sampingnya acuh tak acuh.


Dewa pengawal itu langsung pergi dari hadapan Heng Yuze. Perintahnya sudah di jalankan, dia tidak ingin lama-lama disana.


Apalagi melihat wanita keras kepala itu, bisa saja emosinya lansung meledak.


Pengawal satu itu melirik Sang Dewa Tinggi sekilas.


Yang dilirik sedang menatap Yu Jie penuh makna.


"Apakah dia menyukai gadis ini?


Batin Dewa Pengawal, sambil berlalu pergi dari sana.


Heng Yuze menatap Yu Jie dengan tatapan teduhnya, mata legam yang tajam itu saat ini telah hilang.


Heng Yuze merasa sifat wanita ini sedikit familiar, Sekuat tenaga Heng Yuze mencoba mengingatnya. Tetapi hal itu tidak bisa di ingatnya,.


Yu Jie menyiapkan makan malam untuk Dewa Tinggi Putra Mahkota Heng Yuze.


Dengan telaten dirinya menyiapkan kebutuhan laki-laki berkuasa itu, Yu Jie sudah seperti seorang istri saja yang melayani kebutuhan suaminya.


Dia juga tidak menyangka bahwa dirinya bisa setelaten itu menyiapkan kebutuhan sang Maha Besar itu.


"Silahkan Dewa Putra Mahkota.


Ucap Yu Jie lembut.


Membuat Heng Yuze terpesona.


Bahkan sedari tadi dirinya sudah jatuh ke dalam pesona wanita cantik dan anggun itu.


Semua yang di lakukan wanita itu terasa menyenangkan bagi Heng Yuze. Dia sangat menyukainya.


"Hmm..Jawabnya dengan raut wajah yang biasa saja, tapi siapa yang tau di dalam hatinya sedang ada gelombang dahsyat.


Yu Jie menarik sedikit bibir atasnya.


Dia ingin sekali pergi dari sana.


Yu Jie tidak menyukai sifat Putra Mahkota yang cenderung Diam.


"Dasar Batu es. Batinya


"Duduklah, Temani aku makan.


Ucap Heng Yuze membuyarkan lamunan wanita itu.


Heng Yuze yakin wanita itu sedang mengumpatnya.


"Maaf Dewa, hamba sudah makan.


Tolak Yu Jie sopan, sekalipun dirinya kurang menyukai Dewa Tinggi Putra Mahkota. Dia tidak akan menunjukkannya langsung.


Dia harus bersikap profesional dalam melakukan tugasnya.


"Apa aku perlu mengangkatmu untuk duduk?


"Aku tidak menerima penolakan, sekarang kamu duduklah.


"Jangan habiskan waktuku untuk menunggumu.


Jelas Heng Yuze. Baru kali ini dirinya berbicara banyak.


Bahkan Ke empat Dewa pengawal yang sedang berjaga di luar. Hampir menjatuhkan rahangnya.


Jika Dewa takdir disini, Pasti sedari tadi Dewa itu sudah sibuk menulisnya.


"Baik yang Mulia.


Yu Jie bersikap pasrah saja.


"Mumpung di kasih makan enak.


"Terima saja. Pikirnya


Dia juga tidak ingin berlama-lama di ruangan yang sepi itu.


Heng Yuze makan dengan anggun.


Sementara wanita cantik yang di sampingnya itu makan dengan brutal.


Dimana-mana bekas percikan makananya.


Mulutnya juga belepotan.


Para Dewa pengawal itu ingin menegurnya tetapi Heng Yuze melarang.


Bayangkan saja sosok Dewa yang pecinta kebersihan dan kerapian itu. kini meja makanya hancur lebur.


Makanan berserakan di mana-mana.


Gadis itu menyomot satu-persatu makannya itu dengan sumpit bekas mulutnya. Bahkan dia tidak segan-segan berdiri mengambil makanan yang lumayan jauh darinya. Dan Dewa Tinggi itu dengan sabar mendekatkan makanan itu di dekat Yu Jie. Dewa Tinggi Putra Mahkota itu juga tidak protes bahkan dengan santainya dia memakan makanan bekas sumpit Yu Jie.


"Makanlah pelan-pelan Jika kamu mau tambah bilang saja.


"Aku akan menyuruh koki menyiapkanya lagi. Ucap Heng Yuze lembut. Dia merasa kata-kata itu pernah di ucapkanya.


Semua yang terjadi di hadapanya saat ini, terasa sangat akrab.


Para pengawal sudah hampir pingsan mendengar suara lembut Dewa Tinggi. Mereka baru kali ini mendengar suara lembut itu. Mereka merasa merinding karena sang Dewa itu sepertinya berusaha mengambil hati gadis itu.


"Apakah Dewa Tinggi menyukainya. Batin mereka.


"Aku sudah kenyang, Ucap Yu Jie dengan wajah tak tau malu, bisa-bisanya Dia menghabiskan makanan sebanyak itu.


Sementara Dewa Tinggi Putra Mahkota hanya mencicip tipis-tipis makanan itu.


"Apakah lambungnya seluas lautan, bisa-bisanya perutnya masih sanggup menampung makanan sebanyak itu. Padahal Dia juga sudah makan di dapur Istana. Batin Dewa Pengawal yang menjemputnya tadi.


Setelah ke-dua berbeda kedudukan itu meninggalkan meja makan.


Para Dewa pengawal itu segera membersihkan meja makan yang bak kapal pecah itu. Dalam Sekejap mata, meja itu sudah bersih dan rapi.


Mata mereka melotot melihat Yu Jie yang saat ini malas-malasan bersandar di kursi santai milik Dewa Tinggi.


Sementara Sang Dewa itu sedang sibuk membaca laporan para Dewa dan Dewinya.


Sesekali matanya melirik Yu Jie yang sesekali menguap.


"Tidurlah jika kamu mengantuk. Ucap Heng Yuze.


Membuat para Dewa pengawal kembali melotot.


Gadis itu kesini untuk menjadi pelayan, sama seperti mereka. Bukan untuk tidur.


Bahkan mereka juga melayani gadis itu.


Mereka sedikit tidak terima.


"Kamarku dimana..Tanya Yu Jie dengan raut wajah tak berdosanya.


Membuat keempat Dewa pengawal itu menahan kesal.


"Ayolah..Aku akan mengantarmu ke kamarmu.


Heng Yuze berdiri dari kursi kebesarannya.


Yu Jie mengikuti Sang Maha Besar itu.


Para pengawal yang ikut dari belakang. Sejak tadi sudah menggerutu. Mereka ingin protes, tetapi nyali mereka tidak sebesar itu.


Heng Yuze membawa Yu Jie kekamarnya, lebih tepatnya kamar itu sudah di bagi dua.


Kamar itu begitu luas dan indah..Disamping kamar itu ada taman yang luas dan hamparan hijau. Kolam yang mengalir begitu jernih.


keempat Dewa pengawal itu, melongo tak percaya, bisa-bisanya Sang Dewa Tinggi Putra Mahkota mengijinkan gadis itu memasuki kamar pribadinya.