
Tidak terasa waktu telah berjalan dua Minggu lebih di kerajaan Langit.
Dalam dua Minggu ini juga Chang Lian dan Heng Yuze main kucing-kucingan.
Chang Lian menjaga jarak dengan Heng Yuze. Sementara Heng Yuze selalu menempel kepadanya.
Saat ini Chang Lian duduk termenung di hamparan hijau.
Dalam Dua Minggu lebih ini, Dirinya selalu memimpikan hal yang sama.
Bermimpi bertemu dua sosok anak yang beranjak Dewasa.
Mereka juga selalu memanggilnya ''ibu.
"Apa yang membuat mu melamun, Hmm?
Heng Yuze Memeluk wanitanya dengan erat sambil menghirup aroma tubuhnya.
Chang Lian merasa geli.
Akhir-akhir ini Dewa Tinggi Putra Mahkota semakin bersikap intim denganya.
Apalagi sejak di bacakannya perintah yang langsung di tulis oleh Langit, di aula seminggu yang lalu. membuat Dewa Putra Mahkota semakin lengket ke padanya bak perangko.
Dua Minggu lagi mereka akan menikah.
Chang Lian sungguh dag-dig-dug memikirkan pernikahan mereka.
Dia masih seribu tahun lebih, Sementara Dewa Tinggi Putra Mahkota calon Suaminya sudah berumur sepuluh ribu tahun lebih.
"Aku bermimpi tentang dua sosok anak laki-laki.
"Mereka memanggilku ibu, dan sepertinya mereka kembar. Ucap Chang Lian sambil mengusap-usap tangan kokoh yang melingkar di perutnya.
Heng Yuze tersenyum getir. Matanya langsung berkaca-kaca.
Berarti Putra bungsunya sedang menghadapi mautnya di dunia fana.
"Apakah kau mau turun ke alam manusia?
Tanya Heng Yuze serak.
"Apa kita bisa kita turun?
"Bukankah itu menentang hukum alam?
Chang Lian bertanya sambil berbalik. Dia mengerutkan keningnya saat Netra legam itu mengeluarkan satu butiran kristalnya.
"Kamu kenapa.?Tanyanya khawatir.
"Jika kita tidak menggangu para manusia fana hal itu tidak akan bertentangan dengan hukum alam. Jawab Heng Yuze Tampa menjawab pertanyaan wanitanya.
"Apakah kamu bisa memanggilku dengan sebutan sayang?
Timpal Heng Yuze sambil mengecup pelipis wanitanya.
"Aku malu..Ucap Chang Lian sambil menunduk. Dia belum bisa menerima perlakuan manis Dewa Tinggi Putra Mahkota.
Batinya masih saja terkejut-kejut.
"Sebentar lagi kita akan menjadi suami istri.
"Sayang harus terbiasa. Ucap Heng Yuze lembut.
Jantung Chang Lian bertalu-talu mendengar ucapan sayang itu dari bibir laki-lakinya.
"Aku akan memanggilmu seperti itu jika kita sudah resmi menjadi suami istri. Ucapnya sambil membalas senyuman lembut itu
"Baiklah, Aku akan sabar menunggunya.
Balas Heng Yuze dengan tatapan yang begitu dalam.
Heng Yuze akhirnya membawa Chang Lian ke dunia Fana.
Dunia yang pernah menjadi saksi bisu perjalanan kisah cintanya dengan istrinya ini.
Dan saat ini kedua buah hatinya masih tertinggal di sana.
Sekejam-kejamnya langit mengujinya.
Lebih kejam langit menguji kedua Putranya.
Kedua Putrannya harus kehilangan mereka, saat mereka sedang butuh-butuhnya pada sosok piguran orang tua.
Walaupun Heng Yuze seorang Dewa Tinggi di kerajaan langit. Dia tidak mempunyai wewenang untuk mengubah takdirnya sendiri maupun takdir ke dua Putranya.
Heng Yuze hanya bisa menggigit bibir dalamnya. saat hatinya terasa sakit melihat putranya menderita di dunia manusia.
Mereka telah tiba di sebuah kerajaan yang sangat Besar.
"Kerajaan Phoenix. Guman Chang Lian, setelah membaca papan ukiran emas itu.
Kerajaan itu terlihat sepi.
Mereka memasuki sebuah kamar yang megah. Chang Lian merasa akrab dengan kamar itu.
Mereka menggunakan tubuh transparan mereka.
Di tempat tidur itu seseorang sepertinya sedang terletak lemah, Disampingnya ada sosok laki-laki muda yang menggunakan jubah kebesaranya.
"Kakak jangan menangis. Kakak akan terlihat lemah jika menangis.
"Apakah kakak tidak mengingat perkataan ayah dulu. Ucap laki-laki yang di tempat tidur itu dengan suara seraknya.
Lie Zhu menatap langit-langit kamar adiknya itu.
Dia ingin mencegah air matanya jatuh.
Adiknya dua tahun ini telah berjuang melawan penyakit Langkah yang di milikinya itu.
Penyakit itu sama persis dengan apa yang di alami sang Ayahnya dulu.
Kondisinya juga hampir sama dengan Ayahnya.
"Aku merasa ayah dan ibu sedang berada di dekat kita saat ini kakak. Ucap Ba Xi'O.
Dia seperti merasakan kehangatan di kamar milik orang tuanya itu.
"Aku sebentar lagi akan bertemu dengan Ayah dan ibu.
Ucapnya lagi sambil tersenyum lemah.
Tubuh Lie Zhu bergetar hebat sekuat tenaga dia menggenggam tangan pucat adik laki-lakinya itu.
"Jangan tinggalkan kakak,
"kakak tidak mau sendiri. Air mata Lie Zhu kini tumpah membanjiri wajah kokohnya.
Ba Xi'O tersenyum.
Penyakit yang di deritanya itu sungguh sangat menyakitkan, Dia memuji kesabaran Ayahnya yang selalu saja bisa tersenyum di depan Ibunya.
"Jika Dewa mengijinkanku berinkarnasi, Aku ingin kakak menjadi saudara kembarku lagi.
"Aku ingin bersama dengan kakak selamanya menjalani hari-hari yang penuh dengan warna.
"Aku juga ingin hadir di rahim ibu kembali.
"Aku juga ingin memiliki Ayah. Seperti Ayahku Ba Xi'an. Ucapnya dengan wajah memohon keatas.
"Jika aku pergi dan bertemu ibu dan ayah. Aku akan menyampaikan salam kakak.
"Aku akan mengatakan kepada ayah dan ibu bahwa kakak juga sangat merindukan mereka.
"Aku akan menunggu kakak di surga.
Ucap Ba Xi'O. Senyumnya masih terukir di bibir pucatnya.
Dia merasa kasihan kepada kakaknya.
Kini kakaknya tinggal sendiri.
Kakek dan neneknya telah pergi menyusul ke dua orang tuanya.
Lie Zhu menangis pilu.
"Pergilah, Tunggu kakak mu ini.
"Ucapnya serak, Dia tidak ingin egois. Dia sungguh kasihan melihat adiknya yang berusaha tersenyum saat penyakitnya itu menggerogoti tubuhnya.
"Kakak berbahagialah. Ucap Ba Xi'O menutup mata.
Ting..Tong.. Ting.. Tong.
Bunyi lonceng di menara kerajaan Phoenix itu.
Memberitahukan kepada Dunia, Bahwa pangeran ke-dua itu telah kembali kepada Sang penciptanya.
Heng Yuze menangis. Tubuhnya bergetar.
Tubuh Chang Lian membeku.
Hatinya terasa tertusuk ribuan panah saat menyaksikan bola mata biru itu tertutup.
Air matanya mengalir deras seperti air terjun.
Dia tidak tau kenapa hatinya begitu sakit saat menyaksikan kehidupan terakhir dari laki-laki yang bernetra biru itu.
Heng Yuze memeluk istrinya erat. Dia tidak menyangka istrinya terlihat rapuh saat menyaksikan Putra bungsunya itu menutup mata.
Padahal ingatan istrinya ini sudah terhapus.
"Tenang saja, ini semua hanya sementara. "Mereka akan kembali kepada kita.
Ucap Heng Yuze sambil mengusap-usap punggung Chang Lian yang bergetar hebat.
Chang Lian mengangguk. Dia sangat berharap sosok yang menutup mata tadi hadir di rahimnya dan menjadi Putranya..
"Apa yang terjadi kepada sang kakaknya nanti.
Tanya Chang Lian dengan mulut yang masih bergetar hebat.
"Kita tunggu saja..
Ucap Heng Yuze mencoba bersikap tegar di depan istrinya. Dia tidak ingin mengatakan sesuatu yang dapat membuat istrinya mengingat masa lalunya. Dia tidak mau inti Api iblis yang sudah hancur itu kembali datang menghampiri istrinya.
Tinggal menunggu waktu sebentar lagi, Maka mereka akan kembali bersama-sama.