Cinta Sang Dewa Dingin

Cinta Sang Dewa Dingin
EPISODE. 104


Kini dia melahirkan Putra yang tampan dan cerdas bahkan kembar.


****


Bulan berganti bulan.


Tahun berganti tahun.


Sudah lima tahun berlalu sejak  Ivona melakukan pernikahan ulang dengan Ba Xi'an.


Hari-hari yang di jalaninya begitu mulus dan bahagia. BA XI'AN sangat memanjakan istrinya itu dan selalu menuruti kemauanya sekalipun itu hal yang tidak di sukai Ba Xi'an.


Seperti melakukan perjalanan ke beberapa kerajaan.


BA XI'AN tidak menyukai jika istrinya itu keluar dari kerajaanya.


Tetapi karena rengekan dan suara manja istrinya yang menggelitik di telinganya Ba Xi'an terpaksa harus menurutinya demi senyum indah sang istri.


Kerajaan Phoenik miliknya juga semakin jaya dan makmur.


Pertumbuhan ke dua Putranya juga sangat sempurna. Dan kini telah berusia delapan tahun.


Seorang putri yang di nantikanya dari sang istri belum bisa di miliki Ba Xi'an dan Ivona. Mungkin belum rezeki. Fikir BA XI'AN yang tidak ingin terlalu memikirkannya.


Yang penting istrinya selalu di sampingnya itu sudah ke bahagiaan yang sempurna bagi Ba Xi'an.


Sementara Ibu suri sudah berpulang tiga tahun yang lalu. Meninggalkan jejak kesedihan di hati istrinya itu yang begitu sangat menyayangi sang nenek.


*


Ivona mengira dia akan melalui kehidupan yang bahagia bersama keluarga tercintanya selamanya. Tetapi siapa sangka takdir akan kembali mempermainkanya dengan sangat kejam.


""Brakkk.


"Ivona  terduduk lemas sambil meremas jubahnya kuat-kuat.


Melihat kondisi suaminya yang akhir-akhir ini mengalami penurunan drastis.


Ivona adalah tabib Dewi Kaisar yang sudah mempunyai ke ahlian mengobati bahkan bisa menyambung tubuh yang terputus dan membangkitkan orang yang koma.


Tetapi penyakit suaminya yang tidak tahu asal usulnya itu adalah sebuah penyakit yang tidak bisa di sembuhkanya.


Ivona menangis segugukan. Menutup mulutnya supaya tidak mengusik tidur lelap suaminya itu.


Sebuah tangan ramping membelai wajah mulusnya.


""Jangan menangis sayang.


"Bisakah?


"Hmm


Ba Xi'an menahan pedih di hatinya saat melihat istrinya selalu menangis pilu setelah istrinya mengetahui penyakitnya beberapa bulan yang lalu.


Dari situ istrinya itu lebih sering murung dan tidak selera makan. Bahkan pipi yang sempat berisi dan montok itu kini terlihat tirus.


Ivona mengambil telapak tangan lebar suaminya. Memegangnya kuat.


""Aku..aku belum bisa menemukan obat yang bisa mengobati penyakit dingin yang kamu alami...hiks..hiks.


"Aku tidak berguna. Raung Ivona tidak tahan lagi menahan pedih di hatinya.


Ibu dan ayah Ba Xi'an yang hadir di kamar itu juga ikut menangis.


Putranya itu adalah keajaiban dan kemurahan dari Dewa Agung.


Bahkan beberapa tabib Istana sudah mengatakan kepadanya dulu bahwa dia tidak bisa mengandung.


Ibu Ba Xi'an yang tidak ingin egois menyuruh sang suami untuk memilih beberapa selir tetapi suaminya tidak mau. Suaminya masih percaya bahwa dia masih bisa mengandung.


Ibu suri yang memiliki jiwa yang sabar dan juga percaya dengan perkataan  Putranya. Bersujud selama seminggu di depan Kuil kerajaan dan memohon kepada dewa Agung untuk memberikanya satu keturunan untuk Putranya.


Setelah seminggu lamanya ibu mertuanya itu memohon dengan derai air mata kepada Sang Kuasa.


Malam itu Permaisuri tidur seperti biasa.


Tetapi ada yang aneh.


Di dalam mimpinya Permaisuri di datangi sebuah cahaya dan cahaya itu berkata.


"Makanlah buah Persik Emas ini.


"Maka kamu akan mengandung dan melahirkan seorang Putra yang hebat.


"Tetapi ingatlah Putramu tidak memiliki umur yang panjang layaknya manusia umumnya.  "Umurnya tidak lebih dari dua puluh sembilan tahun


"Karena Dia juga memiliki takdir yang lain dan tanggung jawab di tempat asalnya.


Jelas sang cahaya itu.


Permaisuri yang mendengar itu merasa senang. Dia akhirnya bisa memberikan keturunan untuk suaminya itu.


Mimpinya malam itu masih teringat jelas di benak Permaisuri.


Sementara Ba Xi'an sudah mengetahui hal itu sejak kecil.


Dia menyembunyikannya dari istrinya karena tidak ingin melukai wanita yang sangat di cintainya itu.


Dan selama ini Ba Xi'an juga merasakan tubuhnya sehat-sehat saja dan Ba Xi'an berfikir mimpi ibunya itu hanya bunga-bunga tidur sang ibu.


Pemikiran Ba Xi'an jauh melesat.


Beberapa bulan yang lalu tiba-tiba dirinya merasakan badanya begitu membeku dan dingin.


Mata legam yang biasa hitam itu kini berubah menjadi putih.


Setelah Ba Xi'an menyuruh di periksa oleh tabib istana diam-diam mereka tidak menemukan  penyakit di tubuhnya bahkan mereka mengatakan badan Ba Xi'an normal seperti biasa.


Tidak cukup dengan memeriksakan dirinya kepada tabib. BA XI'AN pergi ke menara sihir di istana. Di menara itu segala penyakit langka ataupun penyakit yang tidak bisa di temukan oleh manusia sekalipun itu tabib Dewa Kaisar akan bisa di temukan oleh batu kristal unggu milik Dewi Phoenix yang berada di menara itu.


BA XI'AN mencobanya.


Ba Xi'an terkejut penyakitnya memang sudah tertanam di jantungnya sejak lahir. Di jantungnya terdapat kristal Dingin yang mengakibatkan tubuhnya terasa menggigil dan membeku.


Dan lebih sakitnya lagi tidak ada obatnya kecuali menunggu kematian yang menjemputnya.


Bibir BA XI'AN bergetar.


Dia tidak takut mati.


Tetapi dia takut meninggalkan orang-orang yang di cintainya.


Terutama istri tercintanya.


BA XI'AN meremas dadanya saat membayangkan raut wajah istrinya.


Sekuat tenaga Ba Xi'an mengigit bibir dalamnya sampai berdarah.


Hatinya  seperti teriris oleh belati yang tajam yang menancap tepat di jantungnya dan mengancurkanya tepat di sana.


Ba Xi'an menangis memanggil Istrinya.


""Sayang...raungnya di ruangan gelap itu.


""Maaf...maafkan aku lirihnya


Air matanya begitu deras mengalir di pipih kokoh Ba Xi'an.


Penyakit langka yang di alaminya tidak seberapa di bandingkan rasa sakit yang di alaminya saat akan meninggalkan wanita tercintanya itu.


Takdir kehidupanya sungguh kejam.


Langit memang memberikanya semuanya.


Tetapi langit juga membatasi itu semua.


Bahkan umurnya yang masih tergolong muda akan meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil.


Pantas saja langit tidak memberikanya lagi keturunan seperti yang dia minta yaitu seorang Putri yang sangat Cantik yang menyerupai wajah istrinya.


Sudah lama Ba Xi'an menunggu sosok mungil itu hadir di tengah-tengah keluarganya ternyata sampai lima tahun berlalu yang di harapkannya juga tidak datang.


Bukan Ba Xi'an yang tidak mensyukuri ke hadiran  ke-dua Putrannya tetapi Ba Xi'an ingin sekali  sosok mungil itu hadir dan menemani wanita tercintanya.


*


Kepala Ba berdenyut saat mengingat kejadian itu.


Ba Xi'an mencoba tersenyum melihat netra biru kesukaanya.


Istrinya itu sudah seperti orang linglung.


Wajah yang setiap hari terukir senyum indahnya kini terlihat muram.


Wajah itu tidak lagi bersinar.


Senyum itu tidak lagi sama.


Istrinya akan tersenyum Jika Ba Xi'an yang memintanya.


Pertama kali istrinya tau penyakitnya. Istrinya pingsan karena tidak bisa mengetahui sakit yang di deritanya.


Bahkan beberapa hari yang lalu saat dirinya terbaring lemah seperti saat ini istrinya juga kembali pingsan.


Sekuat tenaga Ba Xi'an menahan nyeri di hatinya.


Tangan kirinya di kepalnya kuat.


BA XI'AN tidak bisa membayangkan istrinya akan hidup seperti apa jika dia pergi meninggalkan istrinya untuk selama-lamanya


Siapa yang akan melindungi wanitanya, memanjakanya, membuatnya tersenyum dan tertawa serta Membuat istrinya itu bahagia.


Walaupun dia mempunyai dua Putra yang bisa di andalkan. Ba Xi'an yang tau di mana letak kebahagiaan istrinya itu.


Yaitu kehadiran dirinya.