
Akhir-akhir ini Letta sangat sibuk dengan bisnis barunya,dari mulai produksi hingga promosi di lakukanny secara mandiri.
Meski melelahkan,Letta merasa senang dengan yang dia kerjakan.
Gabriel datang untuk melihat tempat usahanya, tempat itu tidak begitu luas, ada beberapa karyawan di bagian produksi dan 1 staf di kantor yaitu Susan.
Saat melihat kedatangan Gabriel, Letta langsung melambaikan tangan dan tersenyum.
"Kakak ... Kenapa tidak memberitahu aku jika mau datang?"
"Hmm ... Jadi aku harus meminta izin?" Goda Gabriel.
"Ah bukan ... bukan begitu maksudku kak, jika kakak memberitahuku akan datang aku bisa menyiapkan sesuatu untukmu"
"Hahah aku cuma bercanda, kenapa kamu jadi serius sekali"
"Hmm baiklah ... Kakak dari mana?"
"Aku dari kantor , aku sengaja ingin berkunjung untuk melihat tempat usahamu" kata Gabriel sambil memperhatikan sekitarnya.
"Ya beginilah ... Kakak bisa lihat, aku masih di tahap nol besar, tapi aku tidak akan menyerah"
Gabriel tersenyum mendengar kata-kata Letta yang bijak, dia mengusap-usap rambut adiknya dengan rasa bangga.
"Sebaiknya kamu menambah stafmu" saran Gabriel.
"Itu ... Sepertinya aku belum bisa menambah karyawan dulu, sementara pekerjaan masih sangat bisa kita handle berdua, jika usaha berjalan dengan baik maka aku akan menambah karyawan "
"Baiklah ... Jika kamu membutuhkan sesuatu maka jangan ragu meminta bantuan"
Letta mengangguk dan kemudian mengajak Gabriel keluar minum kopi.
Di sebuah Cafe yang tidak jauh dari tempat usahanya mereka memutuskan untuk duduk santai sambil minum kopi di sana.
Saat mulai meminum kopinya,Letta tiba-tiba merasa mual dan pusing.
Melihat Letta yang kurang sehat, Gabriel kemudian mengajak Letta untuk periksa ke dokter namun langsung di tolak olehnya.
"Kakak kita pulang saja" ajak Letta sambil memijat pelipisnya.
"Baiklah" Jawab Gabriel sambil membantu Letta berdiri"
Sesampainya di rumah, Letta segera berbaring dan beristirahat.
Diam-diam Gabriel menelepon Dokter karena mengkhawatirkannya.
"Baik tuan Rowen aku akan segera datang" jawab dokter lalu menutup panggilan.
Setengah jam kemudian Dokter datang, Gabriel lalu membawa Dokter itu ke kamar Letta untuk memeriksanya.
Mendengar suara pintu terbuka,Letta segera membuka matanya.
"Kakak ... Kamu tidak perlu repot memanggil Dokter"
"Tidak Nona ... Aku bahkan sangat merasa terhormat Tuan Rowen menghubungiku"
"Ah begitu ya"
Dokter membuka perlengkapannya dan segera memeriksanya.
"Apa anda merasa mual dan sakit kepala?"
"Ya ... Akhir-akhir ini aku merasa begitu, namun hari ini sakit kepala dan mualnya lebih parah"
Dokter mengangguk dan tersenyum mendengar penjelasan Letta.
"Nona apa anda terlambat datang bulan?"
Letta akhirnya menyadari jika dia sudah terlambat datang bulan selama 2 minggu.
"Dokter aku tidak mendapatkan haid bulan ini, aku pikir aku hanya kelelahan"
"Nona selamat anda sedang mengandung" kata Dokter itu yang langsung membuat Letta dan Gabriel sama-sama terkejut.
"Apa anda tidak salah?" Tanya Gabriel di sela-sela keterkejutannya.
"Ya aku sangat yakin, jika anda ragu anda bisa mengetesnya deng alat tes kehamilan atau datang ke rumah sakit untuk tes yang lebih akurat" Jelas Dokter.
Setelah Dokter pergi Gabriel menatap Letta dengan tajam, sedangkan Letta tertunduk dengan rasa takut yang luar biasa.
"Katakan siapa ayah dari anak yang kamu kandung" tanya Gabriel setelah mendekat.
Letta tak berani membuka mulutnya dan memberitahu Gabriel siapa ayah dari anaknya.
"KATAKAN!!!" teriak Gabriel kesal, Letta sangat terkejut mendengar teriakan Gabriel yang begitu keras padanya.
Letta kemudian menangis karena ketakutan dan panik karena bingung , jika dia tahu bahwa yang menghamilinya adalah Zact maka sudah pasti Gabriel akan menghajarnya habis-habisan.