CEO & DOLL

CEO & DOLL
BAB 114


Gabriel dan Letta membawa anak-anak pergi ke kebun binatang.


Mereka bersenang-senang seharian di sana, Luca yang mulai akrab dengan Gabriel sudah tak malu-malu untuk dekat dengannya.


"Itu apa?" tanya Luca sambil menunjuk salah satu hewan.


"Itu namanya kuda nil" jawab Gabriel dengan sabar.


Luca terus bertanya padanya ketika dia tidak mengerti nama hewan apa yang di lihatnya, tiba-tiba saat melihat jerapa dia ketakutan karena melihatnya begitu tinggi, dengan sabar Gabriel menenangkannya dan memberinya penjelasan.


"Nak ... Itu jerapa ,dia tidak akan menggigitmu, dia hanya makan tumbuhan" jelas Gabriel sambil mengusap air mata Luca.


"Dia sangat tinggi" kata Luca sambil terisak


"Ya karena itu bisa memudahkannya mengambil makanan yang berada di tempat tinggi"


ketika dia melihat seekor kelinci dia langsung tertawa senang, dia terlihat sangat gemas dengan beberapa kelinci itu.


"Apa kamu menyukainya?"


"Ya mereka terlihat sangat lucu"


"Ayah akan membelikannya untukmu"


Mendengar kata ayah,Luca terlihat sedikit bingung namun kemudian segera melupakannya dan kembali fokus pada hewan-hewan lucu.


Di sore hari mereka pulang dan anak-anak dalam keadaan tertidur karena kelelahan.


Luca berada di dalam gendongan Gabriel sedangkan Sora di gendong oleh suster karena Gabriel tidak membiarkan Letta menggendongnya dalam keadaan hami muda.


Gabriel membawa Luca ke kamar yang sudah pernah dia tunjukkan padanya.


Gabriel membaringkannya dan menatap putranya itu dengan mata berkaca-kaca, dia mengusap wajah tampan malaikat kecil itu dengan penuh kasih sayang.


"Ayah akan menebus segala hal yang terlewatkan" kata Gabriel sambil mengusap air matanya yang hendak terjatuh.


Hari demi hari mereka lewati, Luca semakin lengket dengan Gabriel.


Gabriel dan Luca bermain bersama kelinci-kelinci yang terlihat menggemaskan, mereka juga memberi kelinci itu makan macam-macam sayuran.


"Ayah ... Ini sayur apa?" tanya Luca yang seketika membuat Gabriel sangat terkejut dan merasa tak percaya dengan apa yang telah di dengarnya.


"Ayah ..." panggil Luca sekali lagi yang langsung membuat Gabriel menangis haru, dia spontan memeluk Luca dengan perasaan yang benar-benar bahagia.


Gabriel melepas pelukannya dan memegang kedua tangan Luca.


"Kenapa ayah menangis?"


"Ayah tidak menangis, ini hanya kemasukan debu jadi terasa pedih" ucap Gabriel,Luca yang polos langsung mencoba membantunya dengan meniup matanya.


"Wah mata ayah sembuh berkat Luca yang menolong ayah dengan cepat" kata Gabriel sambil menghapus air matanya.


Setelah puas bermain dengan kelinci di halaman belakang, Gabriel dan Luca masuk ke dalam dan mencuci tangan.


Suster telah menyiapkan makanan untuk Luca dan Gabriel langsung memintanya karena dia ingin menyuapi Luca untuk pertama kali.


Luca sudah duduk manis di tempat duduknya, Gabriel mengahampirinya dengan semangkuk sup di tangannya.


"Apa Luca sangat menyukai sup ayam?" tanya Gabriel sambil menyodorkan seseondok sup ke dalam mulut Luca.


Luca mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Zact.


"Ibumu juga sangat menyukainya" jelas Gabriel kepada Luca.


"Hmm ... Karena aku putra ibu maka kesukaanku sama dengannya" jawab Luca polos


"Apa Luca merindukan ibu?"


"Iya ... Aku sangat rindu, tapi ibu sekarang sudah bahagia jauh di atas sana, ibu juga sering menemuiku di dalam mimpi" Cerita Luca.


"Hmm ... Baiklah kapan-kapan kita akan mengunjungi makam ibu"


Mata Luca langsung berbinar mendapat ajakan itu, dia sampai bertepuk tangan sangking bahagianya, Gabriel yang gemas dengannya mengusap rambut putranya dengan lembut.