CEO & DOLL

CEO & DOLL
BAB 116


Hari ke lima Luca masuk sekolah, dia nampak murung dan banyak diam.


Gabriel yang menyadari perubahan pada putranya itu mencoba mencari tahu.


"Luca ... Apa ada yang mengganggumu di sekolah?"


Luca menggeleng tak berani berbicara.


"Lalu kenapa Luca nampak murung setelah masuk sekolah? Apa sekolah tidak menyenangkan?"


"Ayah ... Aku hanya rindu ayah Zact dan bibi Letta" katanya beralasan.


"Hmm begitu ya ... Nanti kalau libur kita akan ke sana mengunjungi mereka" kata Gabriel yang kemudian menyalakan mobil untuk mengantar Luca ke sekolah.


Sesampainya di sekolah Gabriel menggandeng Luca memasuki kelas, lalu pergi setelah guru menemaninya.


"Ayah akan menjemputmu nanti" kata Gabriel sembari mengusap pipi putranya dengan penuh kasih sayang.


Luca nampak lebih murung setelah memasuki kelas, dia terus menundukkan kepalanya seperti ketakutan.


Selama pelajaran Luca tidak memperhatikan pelajaran dan ketika ditanya oleh guru dia tak mau menjawab.


Jam istirahat tiba, Luca duduk diam di tempat duduknya, tiga anak berbadan gempal menghampirinya.


"Hei teman-teman kalian lihatkan dia terus di antar oleh ayahnya,dia tidak punya ibu hahaha" Ucap anak nakal bernama Daren yang menertawakan Luca bersama kedua temannya.


"Lihat wajahnya saja seperti anak keledai yang bodoh" timpal Saun


Mereka bertiga kemudian tertawa semakin keras sedangkan Luca hanya diam menunduk dengan amarah dan air mata tertahan.


"Hei apa ibumu jugaa memiliki wajah bodoh sepertimu?" ejek Daren lagi.


Dia berlari menjauh dari kompleks sekolah tanpa arah tujuan.


Gabriel yang sedang rapat tiba-tiba mendapat telepon dari pihak sekolah dan dengan panik dia meninggalkan rapat begitu saja.


Sesampainya di sekolah, Gabriel menuju ruang kepala sekolah,di sana sudah ada orang tua Daren yang sedang mengobrol dengan kepala sekolah, Daren berada di tengah-tengah di antara ibu dan ayahnya, pipinya bengkak dan merah.


"Silahkan duduk tuan Rowen" Ucap kepala sekolah.


Gabriel lantas duduk dan memperhatikan mereka yang duduk di depannya, ayah Daren nampak menunduk ketakutan mengetahui jika yang bermasalah dengan putranya adalah putra dari Gabriel Rowen yang telah mengakuisisi perusahaan tempatnya bekerja.


"Tuan Rowen begini, Luca memukul Daren dan kemudian kabur dari sekolah" .


mendengar penjelasan kepala sekolah Gabriel langsung panik mengetahui Luca kabur dari sekolah, anak sekecil itu pergi begitu saja tanpa arah tujuan,pikiran Gabriel seketika kacau, dia kemudian menghubungi para ajudannya untuk mencari keberadan Luca.


Gabriel memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.


"Tu tuan maafkan anak kami" Ucap ayah Daren dengan wajah ketakutan.


"Ayah aku yang di pukul kenapa ayah meminta maaf" Teriak Daren merasa kesal.


Ayah Daren seketika melototi putranya itu sehingga membuat Daren langsung menunduk dan ketakutan.


"Maaf atas kelancangan putra kami tuan, mungkin ada sedikit kesalah pahaman di antara mereka,tolong memakluminya karena mereka masih anak-anak"


Gabriel yang sudah muak langsung pergi meninggalkan ruangan dengan marah ,Ayah Daren tambah panik melihat ekspresi berapi-api Gabriel ,dia kemudian memerahi habis-habisan putranya itu karenanya dia bisa kehilangan pekerjaannya itu.


Gabriel berjalan mencari keberadaan Luca degan sangat hati-hati,Dia tak menyangka murungnya Gabriel ternyata ada hubungannya dengan ini.


Dia berkeliling di sekitar sekolahan namun Luca belum juga di ketemukan, Gabriel semakin panik bertambah gelapnya awan yang beralih dari siang ke sore hari.