CEO & DOLL

CEO & DOLL
BAB 39


Keesokan harinya Gabriel bangun dengan tubuh terasa sakit-sakit efek tidur di lantai.


Gabriel keluar kamar dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya yang terasa pegal.


"Apa yang sedang kamu lakukan" Tanya Rose saat keluar dari kamar dan melihat Gabriel yang bertingkah aneh.


"Ah itu aku hanya sedang meregangkan tubuh" Kata Gabriel beralasan.


"Mandilah aku akan menyiapkan sarapan"


"Baiklah" Gabriel kembali masuk ke kamar untuk mandi.


Rose menyiapkan makanan dengan hati yang berat, pagi ini Gabriel akan pulang ke Sanor dan mungkin hari ini adalah hari terakhir untuk mereka.


Semua telah berkumpul di meja makan setelah makanan telah siap di hidangkan.


"Rose terima kasih" kata Gabriel sambil menatap Rose yang duduk di seberangnya.


Rose mengangguk tanpa bicara, dia memahami kata terima kasih itu juga berarti perpisahan untuk mereka.


Sepanjang sarapan suasana hening, Nuna merasakan seperti di tengah-tengah retakan kaca, jika dia bergerak dan bersuara itu bisa memecah retakan kaca itu jadi dia hanya diam dan mencoba menghabiskan sarapannya.


Sedangkan Zact tidak mengatakan sepatah katapun karena memahami perasaan Rose saat ini.


Tiba-tiba keheningan pecah dengan suara gemuruh dari atas,sebuah helikopter mendarat di lapangan tak jauh dari Rukoh.


"Aku akan pulang" kata Gabriel berdiri dari kursinya.


"A apa itu helikopter mu?" tanya Nuna penasaran.


"Ya " jawab Gabriel singkat.


"Wah anda benar-benar luar biasa" Ucap Nuna terkagum-kagum.


"Dasar pamer" gerutu Zact pelan.


"Apa?" Tanya Gabriel yang sedikit mendengar ucapan Zact.


"Itu ... pulanglah cepat, mataku sakit melihatmu lama-lama di sini"


Gabriel menggertakkan giginya kesal, namun dia tidak bisa seenaknya menghajar Zact di depan Rose.


"Jaga dirimu baik-baik" kata Gabriel memegang kedua bahu Rose lalu mencium keningnya sebelum pergi.


Rose berusaha menahan air matanya, dia tidak ingin Gabriel melihatnya bersedih.


"Kamu juga jaga dirimu dan semoga hari-hari mu di penuhi kebahagiaan" kata Rose dengan senyum yang di paksakan.


Gabriel kemudian pergi menuju lapangan, Rose hanya bisa menatapnya yang kian menjauh dan menghilang.


Rose mundur dengan tangis yang pecah dan menabrak Zact yang berada di belakangnya.


Zact mendekapnya mencoba menenangkan Rose yang terguncang.


"Semua berakhir" kata Rose di sela-sela tangisnya.


Nuna yang melihat Rose menangis seperti itupun tak tahan dan ikut menangis.


Dia berjalan mendekati Rose dan memeluknya.


Zact dan Nuna bersama-sama saling menguatkan Rose dengan memberikan pelukan ternyaman untuknya.


Gabriel memasuki helikopter dengan ragu namun dia harus bisa meninggalkan ini semua dan mengakhiri secepat mungkin.


Dia tidak rela jika pada akhirnya dia harus melihat Rose bersama orang lain.


Pilot segera menerbangkan helikopternya pulang ke Sanor.


Di depan Rukoh pengawal Gabriel terlihat membawa mobil sport miliknya.


Zact mengajaknya duduk,sedangkan Nuna mengambilkan segelas air untuknya.


"Apa kamu baik-baik saja" tanya Zact sambil mengusap air mata Rose yang terjatuh.


Rose menarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan diri.


"Kak ini minumlah" Nuna memberikan Rose segelas air, Dia meraihnya dan meminumnya perlahan.


"Apa lebih baik?" tanya Zact lagi


Rose mengangguk , Zact dan Nuna memperhatikannya sehingga lama kelamaan membuat Rose malu.


"Apa kalian akan menatapku terus seperti ini?"


Kata-kata Rose membuat Nuna dan Zact salah tingkah.


"Kak Zact apa mencintai itu sakit seperti itu?"


"Entahlah ... Tapi yang aku tahu gadis kecil sepertimu tidak boleh main cinta-cintaan" kata Zact mengacak-acak poni Nuna.


"Kakak!!!" teriak Nuna kesal setiap zact mengacak rambutnya.


Zact yang melihat Nuna cemberut akhirnya tertawa.


"Asal kakak tahu aku sudah besar, aku sudah 18 tahun tahu"


"Oh ya ... baiklah tapi aku heran kenapa kamu masih saja mungil" goda Zact.


"Ini adalah kelebihanku tauuukk!!! justru karena aku mungil aku terlihat imut"


"Imut seperti kelinci " Goda Zact yang langsung dapat pukulan kecil dari Nuna.


Suara gemuruh terdengar melewati Rukoh.


"Apa dia kembali?" tanya Rose yang berlari dari kamarnya yang membuat Zact dan Nuna bengong.


Tiba-tiba seseorang memasuki Ruko dengan suara ketukan dari high heels yang di kenakannya.


Nuna yang melihat wanita seksi dan cantik itu tak bisa mengedipkan matanya.


"Hai Rose" Sapa Joanna dengan suaranya yang khas.


Rose hanya diam menatap Joanna yang sekarang berhadapan dengannya.


Zact sangat kesal melihat Joanna yang datang tiba-tiba disaat seperti ini.


"Kenapa kamu datang, bukankah aku sudah memperingatkan mu untuk tidak mengganggu Rose!" Kata Zact mendekat.


"Menyingkirlah, aku tidak ada urusan denganmu" Ucap Joanna sembari mendorong pelan tubuh Zact.


"Ini rumahku, jadi siapapun yang datang jika aku tidak menyukainya maka aku berhak untuk mengusirnya" kata Zact tajam yang mendapat seringaian dari Joanna.


"Zact bawa Nuna pergi dari sini" Pinta Rose dengan datar.


"Tapi Rose"


"Kumohon" kata Rose kehabisan kata.


Dengan kesal Zact menggandeng Nuna naik ke lantai atas.


Disana tinggal Rose dan Joanna.


"Duduklah aku akan membuatkanmu minuman"


"Tidak perlu repot, mari duduk dan bicara" kata Joanna yang terlihat tidak ingin basa-basi ,dia tidak sabar lagi ingin menyakiti perasaan Rose.


Rose kemudian duduk di susul dengan Joanna, sebelum bicara Joanna memandang Rose dengan senyum liciknya.


"Katakan apa yang mau kamu katakan"


" hmm baiklah, aku tidak akan bicara banyak semua yang ingin aku katakan akan terwakilkan dengan ini" Kata Joanna dengan menunjukkan sebuah kartu undangan dan memberikannya pada Rose.


Rose menatap undangan di atas meja tepat di hadapannya itu, tangannya bergetar meraih undangan yang di tujukan padanya, Joanna yang melihat itu merasa sangat puas.


"Kamu harus datang dan memberikan do'a yang terbaik untuk kita berdua" kata Joanna menambahkan kepedihan hati Rose.


Rose yang merasa seperti mendapat pukulan keras hanya bisa diam.


Melihat kehancuran Rose di depan matanya , Joanna lalu pergi dengan hati yang bahagia.


Di lantai atas Zact dan Nuna menunggu Rose dengan khawatir.


Rose berjalan dengan goyah dengan undangan di tangannya, Zact yang melihat Rose tak berdaya segera lari menghampirinya.


Zact memegang kedua bahu Rose dengan erat.


wajah Rose nampak pucat dan terlihat lemah, Zact langsung membopongnya ke kamar.


Nuna mengikutinya dari belakang dengan air mata yang mengalir, dia merasa sedih melihat ketidakberdayaan Rose.


Zact membaringkan Rose yang lemah di kasurnya.


Dia menggenggam tangan Rose dengan perasaan campur aduk.


"Rose kamu tidak boleh seperti ini, jangan menghancurkan dirimu" kata Zact yang melihat sorot mata Rose yang redup.


"Ada aku, ada Nuna yang selalu ada untukmu, jangan khawatir kamu tidak sendiri, mari kita hadapi bersama-sama" kata Zact berusaha menguatkannya , tangis Rose pecah kembali,tubuhnya berguncang, tangannya meremas undangan itu, Zact yang melihat itu semua langsung memeluk Rose erat-erat.