CDAP SEASON 2

CDAP SEASON 2
CDAP, S2 : 56


"Selamat pagi semuanya.." sapa vernando kepada seluruh karyawan perusahaan.


"Pagi.!" jawab seluruh karyawan.


"Seperti, yang sudah kalian ketahui, kalau pria di samping saya adalah kanjeng gusti pangeran vegas. Pemimpin perusahaan dari V&V GROUP. Dan, sekarang pria di samping saja sudah di nobatkan menjadi seorang raja. Kalian pasti sudah mengetahui tentang berita penobatan kesultanan Adiwilaga. Dan, adiwilaga adiningrat juga akan berpindah tangan ke kanjeng gusti. Jika kalian menyetujuinya angkat tangan, jika tidak ada yang menyetujui keluar dari perusahaan." ucap vernando panjang lebar.


Setelah mengatakan itu semua karyawan pun mengangkat tangan, karena mereka tidak menginginkan di pecat dari perusahaan apa lagi mata pencaharian mereka ada di perusahaan adiwilaga adiningrat. Jadi mereka menyetujui kalau vegas menjadi CEO di perusahaan itu.


Karena, tugas vernando sudah selesai ia pun berpamitan kepada keponakannya, kalau dirinya harus pulang menemani istrinya, karena saat ini dia sedang ingin bermanja-manja dengan dirinya. Bahkan saat vernando akan kesini saja butuh waktu lama untuk membujuk istrinya.


"Vegas, tugas paman disini sudah selesai, paman harus segera pulang. Karena, bibi kamu sedang ingi. bersama dengan paman. Jadi paman tidak bisa berlama-lama di sini." ujar vernando.


"Oh-iya paman," ujar vegas.


"Jika, ada apa-apa kamu minta bantuan saja kepada asisten paman dia akan, membantu kamu untuk mengecek data tentang perusahaan dan semua rahasia yang di miliki oleh perusahaan sudah ada pada asisten paman." ujar vernando. Yang langsung pergi meninggalkan perusahaan.


"Siapa nama kamu?" tanya vegas kepada pria yang tidak lain adalah asisten dari vernando.


"Saya, asisten Dika tuan." ujar Dika dengan tegas kepada vegas. Hal itu membuat Vegas merasa kagum karena keberanian dika, yang tidak pernah merasakan takut sedikitpun.


"Dan, dia ayah saya tuan." celetuk seorang pria yang baru saja datang ke ruang CEO.


Vegas, yang sedang menyeruput kopi panas, langsung tersedak dan terbatuk-batuk mendengar suara seorang pria yang dia kenali, bahkan ia langsung menatap ke-dua nya satu sama lain.


Bahkan, saking terkejutnya ia tak bisa berkata-kata, karena ia juga saat ini sedang tersedak.


"Tuan, pasti tidak menyangka kan? kalau saya adalah anak dari tuan dika?"


"Kau, membuat saya terkejut saja. Jika kalian bukan kepercayaan keluarga saya. Mungkin saya sudah melenyapkan kalian berdua karena sudah membuat seja terkejut." ucap vegas dengan sangat dingin menatap ke dua pria yang sedang berada di hadapannya


 Denis Arista.


Putra, tunggal dari dika arista, asisten dari vernando dika sendiri sudah mengabdi kepada vernando puluhan tahun, sampai ia menikah saja masih berkerja bersama dengan vernando.


"Maafkan, kami tuan karena kami tidak memberi tau kepada tuan terlebih dahulu. Tapi kami benar-benar tidak bermaksud untuk membohongi tuan," ucap denis.


"Sudahlah lupakan saja. saya juga malas membahasnya yang terpenting sekarang bantulah saya mengerjakan semua laporan yang di berikan kepada paman kepada saya." ujar vegas.


Denis, menatap ke arah papanya. Ia meminta persetujuan apa dirinya bisa membantu vegas apa tidak, karena semua laporan tentang perusahaan harus vegas yang mengerjakan,


Dika, mengangguk karena semua itu harus selesai dalam waktu berapa jam, karena nyonya vanandya sudah meminta kepada dirinya untuk tidak memperberat kerja vegas, vanandya sudah membuat rencana untuk pengantin baru.


*


*


*


*


"Mela, kamu merasa curiga tidak? kenapa mereka langsung menyetujui langsung, bahkan tanpa membaca terlebih dulu kontrak kerja sama kita." tanya Alara kepada Mala, asisten dalam perusahaan.


"Saya, tidak tau nona. Tapi yang jelas ini sangatlah menguntungkan bagi kita, jadi nona tidak perlu lagi menyakinkan mereka." ujar mala.


"Iya, apa yang di bilang kamu benar ini sangatlah menguntungkan bagi kita tapi saya masih tidak percaya aja, kalau mereka dengan mudah menandatangani kontrak kerja sama." ucap alara, yang masih heran karena investor kali ini sangat sulit di taklukkan walaupun dengan imbalan yang sangat besar apa lagi ini akan menguntungkan bagi kedua perusahaan.


"Nona saat ini nona, tidak usah memikirkan sesuatu. Yang terpenting sekarang nona harus pergi berlibur, karena kami semua karyawan sudah menyiapkan semua jadi nona tinggal berangkat." ucap mala.


"Wait, Wait, memangnya aku mau pergi kemana? Dan, aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan jadi tidak mungkin aku meninggalkan pekerjaan ku untuk berlibur." bantah Alara.


"Tapi, nona.. nona harus berangkat liburan karena tidak mungkin liburannya di batalkan."


"Mala, saya tegaskan saya menolak untuk pergi berlibur karena saya memiliki kerjaan yang sangat penting dari pada masalah liburan, jadi jangan memaksa saya untuk pergi berlibur."


"Nona, saya sudah menyiapkan semuanya nona, jadi nona tinggal berangkat saja." ujar mala.


"Saya, tau niat kamu baik tapi saya sudah bilang saya tidak akan berangkat berlibur." ucap Alara dengan tegas, ka pun langsung pergi dari hadapan mala, karena perkerjaan'nya saat ini lebih penting dari pada masalah kerjaan.


Mala, terdiam memikirkan cara agar bisa membuat alara pergi berlibur karena ia tidak ingin kehilangan uang ratusan juta karena ia gagal dalam menjalankan titah dari tuannya.


"Mala, berpikir lah, bagaimana caranya agar Alara bisa berangkat berlibur? Jika sampai gagal maka bersiaplah kamu akan kehilangan uang ratusan juta dan voucher leburan ke Korea, untuk bertemu suamiku Teahyung." batin mala.


Saat melihat, Alara akan pergi ia mengeluarkan air mata Bombai, agar Alara simpati kepada dirinya, ia juga menatap tajam kepada seluruh karyawan untuk ikut berakting agar nona mereka mau menerima tawaran mereka.


Dan, benar saja Alara yang melihat mala menangis pun langsung bertanya kepada mala ada apa dengan mala kenapa dia sampai menangis bahkan bukan hanya mala saja tapi karyawan yang lain juga.


"Sebenarnya, kalian kenapa?" tanya alara.


"Kamu, sangat sedih karena nona tidak mau menerima tiket liburan dari kami. Bahkan, kami sudah bersusah payah dan mengumpulkan uang untuk memberi hadiah kepada nona karena sudah membuat perusahaan kita berkerja sama dengan perusahaan besar itu, tapi nona menolak pemberian dari kami. Hiks.. Hikss.. Hikss." kata mala dengan tangisnya.


Mendengar, itu alara merasa sangat bersalah karena sudah menolak dengan keras, ia tidak bermaksud menolaknya tapi ia saat ini sedang fokus dalam pekerjaan dan rumah tangganya.


"Mala?" panggil Alara dengan sangat lembut.


"Saya, gak apa-apa kok nona, jika nona tidak ingin berlibur tidak apa-apa, biarkan nanti tiket dan rumah sewa saya buang saja. Padahal kami sudah iuran untuk membeli tiket, sampai gaji kami habis buat membeli tiket, tapi nona tidak menghargai kami. Hiks.. Hikss.. Hikss." ucap mala.


Alara, menghela nafas panjang. Saat ini ia sedang dilema, satu sisi ia tidak ingin menyakiti hati karyawannya di sisi lain. ia tidak ingin mengecewakan keluarga suaminya sudah sudah begitu baik kepada dirinya.


"Baiklah, aku akan berlibur demi kalian."