
Saat ini Vegas dan Alara sedang terjebak di tengah hutan dengan kondisi ban mobil meletus, hujan lebat bahkan sampai terdengar gemuruh petir yang terus bersaut-sautan. Menemani sang hujan. Karena tidak bisa berbuat apa-apa ia pun kembali masuk kedalam mobil.Dengan tampang yang sangat kesal, bahkan wajahnya sudah tidak bisa di baca sedikitpun.
Melihat itu Alara merasa takut untuk bertanya, apa lagi Vegas orang'nya sangat mengerikan melebih para dedemit dan para iblis. Namun ia begitu sangat penasaran, sampai ia merasa gelisah, apa lagi hujan tak kunjung reda.
"Kau ini seperti cacing kepanasan, tidak bisa diem?!" ucap Vegas yang dari tadi melihat gerak-gerik Alara yang tidak bisa duduk dengan diam.
"Ve, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kita tak kunjung jalan, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Alara.
Namun Vegas tak menjawabnya ia kembali membuka ponselnya ia berniat ingin menghubungi sahabatnya atau asistennya untuk menjemput dirinya. Namun sinyal di tempat itu tidak terdeteksi.
"Kamu ini seperti tidak punya mulut saja, saya itu bertanya kepada kamu bukan pada setan." ucap Alara dengan sangat kesal.
Mendengar itu Vegas langsung menatap tajam ke arah Alara karena sudah mengatai dirinya tidak punya mulut, ia pun perlahan mendekati Alara. Tapi saat sudah dekat ada sebuah petir menyambar pohon sampai membuat pohon itu tumpang di depan mobil mereka.
Karena ulah dari petir itu membuat keduanya terkejut, lalu ke-dua nya pun kembali seperti semula, yang saling berjauhan.
"Saat ini ban mobil bocor dan mesin mobil mati, jadi tidak bisa melanjutkan perjalanan." ujar Vegas dengan datar.
"Lalu kita harus bagaimana? Jalanan sepi dan gelap kita tidak mungkin di sini terlalu lama karena saya takut jika mobil ini akan kejatuhan pohon." ucap Alara.
"Lalu kita harus kemana? Di sini lagi hujan gak mungkin kita harus pergi di bawah hujan." ucap Vegas.
Keduanya pun langsung terdiam satu sama lain tidak ingin melanjutkan pembicaraan mereka, karena percuma jika melanjutkan, hal itu akan membuat perdebatan keduanya semakin memanas.
*
*
*
*
"Bagaimana kondisi wanita itu? tanya Vincent yang saat ini berada di depan ruang perawatan dari dina. Bersama dengan sekertaris yang siap menemani tuan'nya dua puluh empat jam,
Saat itu ia akan pergi ke tempat pamannya karena desekan dari adik kesayangannya, siapa lagi kalau bukan hira. Dia selalu menjadi adik kecilnya di matanya.
Namun saat ia akan berangkat, ia mendapatkan telpon dari bawahannya, kalau dina baru saja di bawa ke rumah sakit, karena dia mengalami kram di bagian perut saat sedang menjalankan syuting.
Dan disinilah Vincentius berada dia sedang berhadapan dengan sang dokter dan dia juga langsung menanyakan tentang kondisi dina.
"Saat ini aktris tuan sedang mengandung dan ada sosok dua kehidupan di dalam perut dina. Mungkin tuan lupa memasang alat penunda kehamilan, apa lagi dina selalu sering di lakukan oleh berapa pria dan hal itu membuat rahim dina semakin subur." ujar sang dokter.
Deg...
Vincent dan sekertaris daven sangat terkejut mendengar hal yang mengatakan kalau dina sedang hamil, bahkan. jika benar mereka tidak mengetahui siapa ayahnya.
Vincentius menatap tajam ke arah sekertaris daven, karena dia yang bertugas untuk semua keperluan dari film agar tidak ada kesalahan atau ada halangan sedikitpun.
Namun sekarang sekertaris daven melakukan kesalahan besar yang utama yaitu membiarkan dina hamil di film tersebut, jika sampai di ketahui maka reputasi perusahaan akan berantakan.
Dokter yang mendengar permintaan dari Vincent sangat terkejut, bahkan selama dirinya mengabdi sebagai dokter belum pernah ia mendapatkan permintaan seperti itu.
Walaupun ia sering nonton film-film yang di buat oleh perusahaan yang di miliki oleh pria di depannya, dan walaupun ia mengetahui aktris favoritnya sedang hamil dengan berapa pria tapi ia tidak berniat menggugurkan kandungannya.
"Tapi tuan...
"Ingat, semua rahasia para dokter ada berada di tangan saya. Jika menolak sedikitpun saya akan menghancurkan kalian para dokter." ucap Vincent dengan tegas karena mendengar penolakan dari dari sang dokter.
Setelah mengatakan itu Vincentius pergi dari hadapan sang dokter dan dia juga berpesan kepada dokter untuk segera melakukannya karena ia tidak ingin kehilangan aktris yang sudah membuat aktor-aktor kesenangan.
Sang dokter hanya bisa pasrah saja menerima semua kemauan dari Vincentius, pria yang memiliki kekuasaan setelah keluarga Marquez dan keluarga kamandanu.
*
*
Di dalam kamar Dina terkejut mendengar kalau Vincent ingin menggugurkan kandungan dirinya, ia tidak ingin jika anak yang dia kandung di bunuh begitu saja, walaupun ia tidak mengetahui anak siapa yang dia kandung karena. Banyak para pria yang memasukkan kedalam dirinya.
Ia berencana kabur dari tempat ini karena ia ingin menyelamatkan anak yang saat ini ia kandung, dan tepat saat itu datang seorang suster yang berencana ingin mengecek keadaan dirinya.
Dina pun yang tidak melewatkan kesempatan langsung merebut suntikan dari sang suster ia pun menyuntikkan kepada leher suster. Tak berapa lama suster itu tumbang,
Ia pun mulai bertukar pakaian agar dirinya tidak di tangkap oleh para anak buah dari Vincent, setelah keduanya bertukar pakaian, dina merebahkan suster di dalam brangker.
"Maafkan aku, karena aku harus menyelamatkan bayiku, terlepas dari siapa ayahnya saya tidak perduli, yang terpenting anak saya selamat tidak menjadi korban pembunuhan." ujar dina, langsung pergi dari ruangan perawatan.
Saat ia keluar ia bersikap biasa saja sambil membawa nampan yang berisi kesehatan. Ia lalu pergi tanpa ada yang mencurigai karena ia menggunakan masker.
Setelah ia keluar dari rumah sakit ia langsung berlari dengan memegang perutnya agar tidak akan kenapa-kenapa, apa lagi ia sangat takut janinnya jatuh.
"Ya Tuhan, terlepas dari dosa aku, aku mohon selamatkan aku dan selamatkan bayi yang aku kandung, karena aku tidak ingin saat ini anak yang ku kandung harus hilang dari perutku." doa dina. Dengan baju yang sudah basah kuyup akibat hujan membasahi dirinya.
Dan, tepat saat itu ada sebuah mobil yang berjalan dan mobil itu berhenti tepat di depan dina.
"Nona, kenapa anda berjalan di malam hari seperti ini? apa lagi saat ini sedang hujan lebat." ucap seorang wanita.
"Nona, aku mohon selamatkan aku, saat ini aku sedang di kejar-kejar oleh orang jahat, mereka ingin melenyapkan aku dan anakku." ujar dina memohon kepada wanita didepannya.
"Ya, Tuhan kalau begitu kamu ikut saya aja, karana saya akan pulang ke kampung halaman saya, dan saya yakin kalau nona akan aman di sana." ujar seorang wanita.
"Terima kasih nona." ucap dina.
Dina dan wanita itu pun masuk kedalam mobil dan mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan di tengah-tengah hujan.
"Kenalin nama saya.. Raisa Maher,"