
Mendengar ucapan Vegas Alara merasa kesal karena pria di depannya sangat menyebalkan, andaikan saja dia bukan calon suami dan bukan anak dadi tante vanandya sudah ia rebus menjadi ubi rebus. Apa lagi harus melihat mata sinis nya itu. Ingin sekali ia mencongkelnya.
Karena tidak ingin terlalu lama di dapur ia segera keluar dengan membawa sebuah rujak, untuk ia bawakan kepada Tante vanandya. Yang sudah ia buat dengan menggunakan cinta dan kasih sayang.
Vanandya yang merasakan maha muda dengan sambal rujak merasa sangat nikmat bahkan ia sampai melupakan Keluarga'nya yang berada di sampingnya.
"Ya Tuhan, Alara rujak buatan kamu sangat nikmat, sepertinya calon adek kamu. Sangat suka dengan rujak buatan kamu. Kapan-kapan kamu harus membuatkan aku rujak lagi." ujar Vanandya dengan mulut yang mengunyah mangga muda.
"Pasti Tante, nanti akan saya buatkan lagi rujak seperti ini jika ada kesempatan datang kesini." ujar Alara.
Vanandya pun kembali melanjutkan makan rujaknya dengan sangat lahap, sampai rebecca, Valdes dan Victor menatap Vanandya dengan tatapan gemes.
"Sayang makannya pelan-pelan nanti Ter..." belum sempat Valdes menyelesaikan kalimatnya vanandya langsung terbatuk-batuk, sampai matanya keluar air matanya.
Valdes Keluar dari dapur sambil membawa air, ia lalu memberikan air tersebut kepada sang mommy, walaupun ia kesal sama sang mommy ia tidak akan tega melihat mommy'nya menderita atau kesusahan.
"Minumlah,"
Valdes langsung menerima air tersebut dan ia membantu vanandya untuk meminum air pemberian dari putranya itu, yang sangat perhatian.
"Makanya sayang kalau makan pelan-pelan jadi tersedak kan?" ujar Valdes.
"Tau-ah bukannya bantu malah mengomel seperti ibu-ibu di pasar." ucap vanandya kesal, lalu ia berjalan pergi dari tempat itu.dengan muka kesal karena ulah dari suami'nya.
Valdes yang melihat istrinya mengambil sama dirinya hanya bisa mengacak-acak rambutnya, ia benar-benar harus sabar menghadapi istrinya itu,
"Untung saya memiliki kesabaran seluas samudra, jika kesabaran saya seperti tissue sudah pasti akan ada pertengkaran." gumam Valdes.
Melihat itu Vegas tersenyum puas karena melihat Daddy'nya frustasi karena di buat oleh sang mommy. Ia lalu membisikan sesuatu kepada sang Daddy.
"Sepertinya malam ini Daddy tidak akan mendapatkan asupan lagi, jadi kecebong tengil Daddy tidak akan bertambah. Oh-iya selamat bersenang-senang semoga mommy marah sama Daddy sampai kecebong tengil Daddy lahir." bisik Vegas lalu pergi dari tempat itu.
Tentu saja hal itu membuat Valdes semakin kesal sama sang putra, sudah istrinya membuat dirinya frustasi dan sekarang putranya yang membuat dirinya kesal. Sudah lengkap bukan yang Valdes rasakan saat ini.
Hufffh.
Hembusan nafas terdengar, yang membuat rebecca dan Victor menggelengkan kepala karena kelakuan keluarga mereka yang sangat di luar angkasa.
Alara, pun pamit kepada Valdes dan yang lain untuk pulang karena hari ini sudah hampir sore dan ia harus pulang takut di cariin oleh orang rumah, apa lagi ia tidak pamit kepada keluarganya.
"Kamu mau pulang sama siapa sayang?" tanya rebecca kepada Alara.
"Gak tau nyonya, mungkin nanti aku akan mengabari supir rumah untuk menjemput ku," ujar Alara.
"Itu tidak usah sayang, biarkan Vegas yang mengantarkan kamu pulang, karena dia yang membawa kamu kesini, maka dia juga yang harus mengantarkan kamu pulang." ujar rebecca. Namun tidak di jawab oleh Alara, karana ia merasa canggung harus di antarkan oleh Vegas, yang notabenenya adalah mulut Pedas kutub Utara.
"VEGASSSS...!!" teriak rebecca.
Vegas yang baru saja ingin merebahkan dirinya di kasur langsung mengurungkan niatnya karena namanya di panggil dengan sangat keras sampai pengunjung mansion mengetahuinya.
"Ada apa sih grandma?"
"Sekarang kamu antarkan Alara ke rumahnya, dan grandma tidak ingin mendengar kata penolakan dari kamu, segera segera antara kan Alara." ujar rebecca.
Vegas menghela nafas panjang lagi-lagi dirinya yang terkena tumbal, harus mengantarkan wanita peot yang suka membuat dirinya dalam masalah seakan-akan tidak membiarkan dirinya hidup tenang.
Ia lalu menarik paksa Alara untuk keluar dari mansion tanpa bersalaman dengan keluarganya, karena tidak di izinkan olehnya, ia ingin cepat-cepat sampai dan ia bisa pulang lagi.
"Masuk...!" ujar Vegas dengan dingin. Yang sudah berada di dalam mobil, karena melihat Alara yang berdiri saja di tempat.
Alara pun masuk kedalam mobil yang sudah di siapkan oleh pekerja yang bertugas mempersiapkan mobil untuk di pakai, setelah Alara masuk Vegas pun masuk.
"Entah dosa apa yang saya buat sampai membuat hidup saya menjadi kacau. Bahkan hari ini saya sial gara-gara kamu, andai kamu tidak menyebut saya maling mungkin para warga tidak akan datang, dan lagi saya harus mengantarkan kamu pulang."
"Kenapa, jadi salah saya? Kan itu semua salah kamu, jadi jangan salahkan saya, apa lagi kamu yang memaksa saya untuk ikut bersama dengan kamu. Dan satu lagi jika kamu izin terlebih dahulu mungkin kamu tidak di sebut maling... Saya juga tidak memaksa kamu untuk mengantar saya pulang," ujar Alara menjawab semua pertanyaan dari Vegas.
"Kau..!!" ucap Vegas yang sudah geram dengan Alara.
Ia pun memberhentikan mobilnya lalu ia menatap ke Arah Alara dan ia mencengkram dagu Alara dengan kuat karena Alara menjawab semua pertanyaan dari dirinya.
""Berani sekali kamu menjawab pertanyaan saya?" ucap Vegas.
"Kamu ini bagaimana, saya punya mulut untuk berbicara," ucap Alara dengan sinis.
Saat Vegas akan menampar pipi Alara sebuah hujan turun begitu saja, bahkan petir sudah mulai terdengar sangat menakutkan. Vegas pun langsung melepaskan cengkraman alara dan ia segera melanjutkan perjalanannya.
Padahal tadi masih cerah-cerah saja tapi kenapa sekarang mendadak menjadi turun hujan, apa lagi perjalanan masih sangat jauh dari mansion Miharjo ke kraton adipati.
Karena hujan semakin lebat membuat jalanan tak bisa di lihat apa lagi hari sudah mulai petang hal itu membuat kabut semakin banyak sampai kaca depan tertutup oleh kabut.
"Sebaiknya kita berhenti saja, karena bahaya jika mengendarai dengan pandangan yang buram, hal itu akan membuat kecelakaan." ucap Alara. Karena merasa takut jika Vegas mengendarai mobil dengan sedikit kencang apa lagi dengan keadaan hujan lebat dan kabut semakin banyak membuat jalan di depan tidak terlihat.
"Apa mulut kamu tidak bisa diam? Saya tidak ingin berlama-lama dengan kamu karena saya malas dekat-dekat dengan kamu." ujar Vegas.
"Saya juga tidak ingin dekat-dekat dengan cabe rawit kutub Utara. Tapi saat ini situasinya sangat tidak memungkinkan untuk kita melanjutkan perjalanan." ujar Alara.
Vegas memasang earphone di telinganya, karena enggan mendengar suara dari Alara, namun saat ia akan memasang earphone, sebuah letusan terdengar sampai membuat mobil mereka oleh.
Kalah Vegas tidak pandai mengendarai mungkin sudah terjadi sesuatu. Namun untungnya ia langsung sigap sampai membuat ia meminggirkan mobilnya ke jalanan.
"Ada apa?"
Vegas tidak menjawab perkataan dari Alara, ia langsung keluar dari mobil, dan ia juga membuka payung untuk melindungi dari hujan.
Saat ia keluar ia mengecek setia ban mobil dan betapa terkejutnya ia melihat hal itu.
"Brengsek kenapa harus meletus sekarang ban mobilnya."