
Satu minggu sudah, saat ini adalah hari dimana pernikahan antara Vegas dan Alara akan terjalin dengan sangat mewah, karana kedua keluarga itu tidak ingin mereka menggelar pernikahan putra, putri mereka menggelar pesta yang sederhana.
Sebenarnya, Alara ingin menolak akan hal itu tapi, percuma penolakannya tidak di terima oleh kedua orangtuanya. Bahkan orangtuanya tidak ingin mendengar penolakan dari putri mereka.
Begitu pun dengan Vegas dia sangat menolak pesta pernikahan yang sangat mewah. Namun lagi-lagi keluarga Marquez menerima penolakan dari sang putra,
"Mom, come on, I don't want to have a very luxurious wedding." ucap Vegas.
"Whether you want it or not, you have to accept it."
"Vegas, sudah kamu harus terima saja. Lagian malam nanti adalah pengangkatan kamu sebagai seorang raja baru di kraton Adiningrat. Karena paman kamu vernando sudah tidak bisa lagi menepati keraton." ujar Valdes.
"Tapi, dad aku tidak ingin merebut semua itu dari paman. Jika paman bahagia paman bisa menduduki kursi keraton, aku tidak keberatan sama sekali." ucap Vegas menolak.
"Tapi, ini sudah sumpah dari kesultanan pertama, yang mengharuskan seorang laki-laki menjadi raja. Dan kamu tau kalau paman hanya memiliki seorang putri." ujar vanandya.
"Apa yang di katakan oleh orang tua kamu benar Vegas." kata seorang pria yang baru saja datang.
Vernando Adiwilaga Marquez. Dan, Pitaloka pamungkas.
Pasangan yang baru saja datang dengan bersamaan. Lalu ke-dua menghampiri keponakan meraka yang sangat keras kepala dan sangat susah di atur.
"Kamu, mau tidak mau. Kamu harus menerima semuanya, karena sumpah dari kesultanan pertama tidak bisa di bantah, dan kami ikhlas lengser dari keraton, karana kami harus merawat orang tua Pitaloka yang saat ini sedang sakit, apa lagi perusahaan sudah tidak ada yang menangani. Jadi paman percaya kan kursi keraton kepada kamu," kata vernando.
"Apa yang di katakan oleh vernando benar son, kamu harus menerima jabatan itu, karena vernando akan pensiun sebentar lagi setelah putri kita sudah siap mengelola perusahaan. Jadi selama itu suamiku yang harus mengurusnya." ucap Pitaloka.
Vegas menghela nafas panjang, entah takdir seperti apa yang ia milik sampai-sampai semua tanggung jawab harus dirinya yang nanggung. Sudah mengurus perusahaan V&V GROUP dan sekarang harus mengurus perusahaan dan keraton Adiningrat.
"Kenapa harus aku paman? Bukannya masih ada green atau grayland?" tanya vegas.
"Paman sudah mencobanya tapi green lebih menginginkan menjadi seorang CEO di perusahaan kakeknya, sementara grayland dia masih asik dengan dunianya, bahkan grayland sudah membangun perusahaan sendiri." ujar vernando.
Lagi-lagi Vegas, harus pasrah dan menerima takdir yang dia milik jadi mau tidak mau ia menerima semua itu,
Mendengar Vegas menyetujui mereka tersenyum dan mereka sangat yakin kalau Vegas bisa menjadikan keraton menjadi lebih baik lagi. Dan mereka yakin kalau keraton itu akan terisi oleh keturunan dari vegas.
"Vanda, kamu tidak perlu khawatir karena sekarang keraton sedang di hias dan di dekor untuk acara pernikahan besok pagi, jadi kamu harus terima beres, kamu juga harus jaga kondisi kamu dan anak kamu." kata Pitaloka.
Semua keluarga Marquez, sudah mengetahui kalau vanandya sedang hamil bahkan mereka sangat bahagia dengan kehamilan vanandya, apa lagi mereka tau selama ini vanandya selalu mengalami keguguran, jadi mereka sangat sedih.
"Pasti kak, aku akan menjaga janin ini dengan baik," ucap vanandya, mereka berdua pun langsung berpelukan.
"Walaupun harus menyusahkan aku." gumam Vegas sambil pupil matanya melihat kesana-kemari.
Untungnya itu tidak di dengar oleh mereka, jika sampai di dengar mungkin ia harus menerima kemarahan dari mommy.
*
*
*
*
"Kau, itu memiliki kehidupan yang sempurna teryata. Namun saya tidak akan membiarkan kehidupan kamu yang sempurna terlalu lama memihak kepada mu, karana kehidupan yang sempurna harus jatuh ke tangan saya." gumam Vincent.
Vincentius, merasa iri dan merasa marah karena Vegas mendapatkan segalanya dari dirinya, walaupun ia juga mendapatkan segalanya tapi ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya.
"JENDRAL RAKSA..!!" teriak Vincent.
Reksa yang sedang meminum kopi, bahkan ia akan duduk langsung berdiri lagi sampai ia menyemburkan kopi yang sudah ada di mulut, karena mendengar suara Vincentius.
"IYA TUANN.!" teriak raksa, saat ia akan menemui sebuah telpon berdering membuat terkejut, jika dia tidak mengangkat panggilan maka kekasihnya bakalan marah besar, tapi jika ia tidak menemui tuan-nya, maka tuan-nya akan sangat marah kepada dirinya.
Karena tidak ingin membuat keduanya marah dia langsung mengangkat panggilan dari kekasihnya.
"Maaf sayang aku sedang mempertaruhkan nyawa saya dengan singa."
Setelah mengatakan itu raksa mematikan panggilan tersebut lalu ia pergi menemui tuan-nya yang berada di ruang kerja, "Ada apa tuan memanggil saya?"
"Dari mana saja?"
"Hm.. Itu.. Anu.. Aku habis buang air besar," ucap raksa sedikit terbata-bata.
"Kamu tau kan malam ini seluruh pembisnis dan seluruh raja dan kesultanan bakalan hadir di acara pengangkatan Vegas menjadi calon raja." kata Vincent.
"Tentu saja tuan karena malam nanti semua tamu kehormatan akan datang, jadi mau tuan apa? Apa aku harus menghancurkan pesta mereka?" tanya raksa.
"Jangan biarkan saja. Tapi nanti, karena saja sudah merencanakan semua'nya, jadi tinggal nunggu bom waktu yang akan meledak. Dan saya ingin kamu cari tau keberadaan Aretha," ucap Vincent
"Aretha? Apa tuan akan menikahi Aretha?" tanya raksa.
"Apa kamu ingin mati hah? Mana mungkin saya menikah dengan dia, yang ada saya bisa mati berdiri terkena kutukan dari wanita itu." ujar Vincentius.
"Lalu, kenapa tuan meminta saya mencari Aretha?" tanya raksa.
Vincentius, menjelaskan kalau Aretha mantan pacar dari Vegas. Dan karena penolakan dari orang tua Vegas membuat mereka terpisah, apa lagi saat ini Vegas sedang mengalami amnesia hal itu membuat peluang untuk kedua orang tuanya, yang ingin menjodohkan Vegas dan Alara, dan itu pun tersampaikan.
"Jadi tuan ingin menghancurkan keluarga Marquez?" tanya raksa.
"Benar," ucap Vincentius dengan aura yanv penuh akan Kemarahan. Karena ia tidak akan membiarkan mereka bahagia begitu saja.
Raksa, yang melihat aura kemarahan dari Vincentius merasa ngeri karena tidak biasa'nya tuan-nya marah seperti ini, bahkan ia seperti memendam kemarahan kepada keluarga mereka.
"Apa, yang sebenarnya terjadi? Kenapa tuan begitu sangat marah, bahkan tuan seperti sangat benci kepada mereka, padahal tuan seperti biasa saja, bahkan tidak ada aura kemarahan atau aura kebencian, tapi sekarang tuan sangat berbeda." batin raksa.
"Aku tau apa yang kamu pikirkan rak, kamu sangat penasaran kan kenapa saya membenci keluarga mereka?" tanya Vincentius.
"I-iya tuan." ujar raksa.
"Untuk, saat ini saya tidak akan memberi tau kepada mu, karena saat ini masih menjadi rahasia."