Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Kamu terlalu meremehkan aku


Sore hari tampak cerah saat ini, secerah hati Kia yang keluar dari kamar dengan rambut basahnya. Ia lantas menuju dapur untuk memasak makan malam karena Bi Is diminta ke Rumah sakit untuk membantu Jinan menjaga Sena. Setidaknya Jinan tak terlalu sendirian saat ini.


Kia memasak dengan bahan seadanya, karena hanya mengurus Oma dan Bisma saat itu. Tapi Ia juga tak tahu jika Surya ada didalam rumah itu, dan mengagetkannya yang tengah didapur sendirian.


"Rajin banget," puji surya dengan suara tengilnya.


"Eh... Kamu, Yak? Kok dirumah, bukan temenin Jinan sama sena?""


"Sena juga udah ngga papa disana. Ada Bi is juga kan? Ngapain aku ikut disana? Tidur dirumah, besok kerja pagi seperti biasa."


"Kayak kamu beneran kerja aja," tukas Kia. Surya yang awalnya bersandar meja komporpun langung menoleh dan menatapnya dengan tegas.


"Jangan suka menuduh orang sembarangan, Ki. Kamu sudah terlalu sering meremehkan aku disini. Apa karena kamu istri kakak iparku, kamu jadi begini sama aku?" sergah Surya dengan nada yang sedikit keras.


Namun Kia sama sekali tak takut, justru memberi senyum miring pada pria disampingnya itu. Ia meneruskan tugasnya dan fokus memasak semua bahan yang tengah Ia potong disana. Ia tak perduli surya yang masih terus menatapnya dengan tajam, dan entah mengartikan apa.


"Kamu berubah, Ki." ucap surya.


"Berubah apa? Berubah jadi sailor moon?" Kia mempelesetkan ucapan Surya. Membuat pria itu kesal lantas mencekal tangan kia dan menahannya dengan kuat. Kia melotot dan langsung berusaha untuk melepaskannya.


"Yak... Lepasin! Aku lagi masak, Yak."


"Semua sudah kau masukkan kedalam, jadi aku bebas melakukan apapun padamu, Ki." tatapan Surya makin nyalang, seolah ingin menerkam Kia saat itu juga.


"Aku teriak!" ancam Kia. Dan kali ini Ia seperti tak main-main dengan ucapannya.


"Surya!" Akia melepas cenkraman Surya dengan kasar lalu melayangkan sebuah tamparan kepipi mantan kekasihnya itu.


"Berani kamu, Ki!" kecam Surya. Bahwa Ia tahu Kia itu gadis lugu dan manja, yang tak pernah bisa melawan orang lain. Maka dari itu Ia selalu bisa memanfaatkan Kia di masa lampau.


"Apa? Kaget? Kan kamu bilang sendiri jika aku berubah." Kia berbalik dan melanjutkan menu masakannya. Kali ini Ia meraih cabe iblis beserta para antek-anteknya, Ia menguleknya manual secara keras dihadapan surya.


"Mau pergi, atau ku coelin sambel?" ancam Kia padanya. Suryapun langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Kia.


Kiq melanjutkan acara masak memasaknya. Menu sederhana itu Ia ciptakan dengan penuh rasa cinta untuk suami dan omanya. Entah surya, akan makan dirumah dan bersikap biasa saja tanpa muka atau akan pergi makan diluar setelah kejadian itu.


Usai memasak, Kia langsung membangunkan Bisma untuk mandi dan bersiap makan malam. Sedangkan Oma yang telat, langsung membantu Kia mempersiapkan makanan dimeja makan.


Kia masuk kedalam kamarnya. Ia melihat Bisma yang masih tidur terlentang diranjang besar itu, dan Kia langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh besar itu.


"Aaakkkhh! Kia..." erangnya, merasakan tubuh Kia diatasnya. Ia membuka mata dan mengusap wajahnya masih masih terasa berat untuk bangun.


"Sudah jam berapa, ayo bangun." Kia mengecupi pipi dan bibir Bisma agar Ia segera bangun. Tapi Bisma justru tertawa dan kesenangan dengan tingkah istrinya saat itu, apalagi saat Kia bangun dan duduk diatas perutnya. Tangan nakal Bisma justru meraih dan mereemas dua bongkahaan yang ada dibelakang Kia.


"Iiiih! Banguuun!" Kia segera menyingkir dan mengangkat tubuh suaminya. Kia membantu Bisma berdiri dan mendorong tubuh itu menuju kamar mandi untuk Ia mandikan.


Murni memandikan, dan tak ada ronde selanjutnya setelah itu.