Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Panggilan baru untuk Bisma


Kia duduk di balkon yang ada di kamarnya. Ia melamun sembari menatap langit yang begtiu cerah malam ini sembari menunggu sesuatu,. Entah, ia menunggu apa sebenarnya. Ia pun masih tak mengerti dengan perasaan nya sendiri. Hingga mendadak Hpnya berbunyi, dan Kia segera mengangkatnya.


"Hallo, Tuan Bisma?"


"Kau masih memanggilku Tuan? Hey, biar begini aku adalah calon suamimu. Dua hari lagi kita akan menikah." ucap Bisma denga antusias, mengabarkan berita bahagia itu pada calon istrinya.


"Hah! Du-Dua hari?" Kia dengan segala keterkejutan nya. Tapi Kia sadar, jika itu adalah Bisma. Pria yang belum bisa Ia tebak bagaimana sebenarnya.


"Ya... Kami sudah berunding dan memutuskan jika kita menikah Dua hari lagi. Besok, Oma ditemani Daksa akan kesana dan merundingkan semuanya dengan Ayah. Maaf aku tak ikut, karena harus chek up."


"Oh, baiklah tak apa. M-Mas," ucap Kia dengan sebutan barunya. Membuat Bisma disana begitu berdebar dengan senyum melengkung sempurna di bibirnya.


"Mas? Itu panggilan baru untuk ku?" 


"Ehh, iya. Kenapa, Mas ngga suka? Maaf, Kia cuma spontan aja tadi, jadinya...."


"Oh, its okey. Aku suka panggilan itu. Terdengar cukup mesra, ketika keluar dari bibirmu, Kia. Aku tak sabar, ingin segera menjadikan mu istriku." ucap Bisma. Padahal, Kia disana masih begitu ragu dengan semua situasinya. Ia hanya  takut, belum bisa menjadi istri yang baik untuk Bisma. Apalagi dengan trauma akibat pengkhianatan yang pernah ia dapat. Dan lagi mengenai Ayahnya yang telah mendapa cap buruk darinya.


'Apakah bisa mematahkan segala anggapan ku tentang pria? Bahwa semua pria itu tak ada yang bisa setia.' Fikir Kia dalam hati.


"Hey, Kia?"


"Ah, Iya Mas? Maaf, Kia melamun." jujurnya, membuat Bisma terkekeh dengan tingkahnya yang menggemaskan.


"Kau lelah? Jika iya, istirahatlah. Besok aku akan menghubungimu kembali, membicarakan masalah pernikahan. "


"Iya, Mas. Terimakasih, karena sudah mau mengerti tentang Kia. Kia, pamit dulu. Mas jangan lupa istirahat." ucap Kia. Setelah jawaban terakhir dari Bisma, Ia pun menutup panggilan itu dan kembali menaruh hpnya di meja. Sebenarnya Ia masih ingin disana, dan mengenang kisahnya dengan sang Ibu ketika sedang curhat bersama. Tapi entah kenapa, Ia menuruti permintaan Bisma untuk segera mengistirahatkan diri. 


"Aaaaah! Beginikah rasanya jatuh cinta?"


"Entah... Aku belum pernah merasakan nya. Apa selebay ini?" Daksa balik bertanya, ketika melihat tingkah Bisma yang aneh baginya. 


"Ya, rasanya begitu aneh. Jantungmu akan berdegup dengan cepat ketila mendenar suaranya, apalagi membayangkan senyumnya. Bahkan, rasanya seperti sakit, disini." sentuh Bisma pada dada kirinya, yang sontak membuat Daksa berlari menghampiri dengan membawa stetoskop untuk memeriksa degup jantung sahabatnya itu.


"Tak ada yang salah," saat Bisma memeriksa detak jantung dengan menatap jam tangan di lengan nya. "Semua normal,"


"Hey! Apa-apaan kau ini? Lebay..." sergah Bisma, menepis tangan Daksa dari tubuhnya.


"Aku hanya cemas. Ku kira, jantungmu bermasalah lagi." Daksa lalu membereskan Stetoscope nya kembali, setelah itu membantu Bisma rebah ditempat tidur nya setelah memberinya vitamin seperti biasa,.


"Sebentar lagi, tuga ini aka berpindah tangan. Aku tak akan bisa melakukan nya lagi untukmu," ucapnya sedih.


"Hey, setidaknya aku mengurangi beban mu. Jadi kau bisa mengurus hotel lebih baik lagi untuk ku. Ingat, tugasmu itu sudah sangat banyak. Apalagi mengawasinya disana." ucap Bisma, mengingatkan kembali tentang Surya pada Daksa. 


Dan entah firasat atau apa, Surya memang tengah menguping pembicaraan mereka dari balik pintu kamar Bisma saat ini.