Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Kepergok Pak Arman


Waktu berjalan dan terus berjalan sesuai dengan rencana matang yang sudah dipersiapkan. Bisma tampak semakin sehat dan mulai pulih meski verban itu belum bisa dibuka dari matanya, tapi setidaknya laporan menyatakan jika semua baik-baik saja saat itu. 


Hari sudah cukup malam, namun Ki masih menunggu Daksa datang agar mereka bisa bertukar jadwal malam ini. Meski Nanda juga sempat menawarkan tenaga, tapi Kia menolak agar sang ayah tak curiga dengan kesibukan keduanya saat itu. Cukup dengan Nanda membantu Daksa mengontrol semua rencana dalam acara yang akan ada sebentar lagi, apalagi kondisi hotel sudah mulai ramai saat ini dengan para pengunjung yang sudah boking tempat dari jauh-jauh hari.


Saat itu Oma sudah pulang agar bisa membantu Jinan mengasuh putranya, sementara Jinan membantu hotel setidaknya untuk membagikan souvenir mereka sebelum konser itu diselenggarakan. Itu kesibukan Jinan, agar Surya tak curiga jika Ia telah mengurus surat cerai untuk dirinya saat itu. Dia hanya menganggap Jinan terlalu takut kehilangan higga ingin selalu dekat dengan dirinya, dan Jinan hanya meng'iyakan semuanya demi kedamaian bersama.


Kia kembali mengajak Bisma bersenda gurau didalam runangan mereka. Tertawa, sembari terus bercerita masa lalu mereka yang cukup lucu dengan segala pengalaman yang ada. Bahkan Bisma menceritakan hoby bermotornya yang membuatnya berkali-kali terluka saat itu, hingga jadi seperti ini. Dan itu sempat pernah Ia ceritakan pada Kia meski tak mendetail akan seua peristiwa yang ada.


Tokkk... Tok... Tok...! Pintuk diketuk beberapa kali dari luar, dan seketika menghentikan senda gurau mereka yang tengah seru-serunya saat itu.


"Siapa?" gumam Kia. Karena jika itu Daksa, pasti akan dengan mudah untuk ia membuka pintu tersebut degan kunci yang Ia pegang sebagai cadangan dari yang Kia bawa.


"Coba buka, sayang," pinta bisma padanya. Meski ragu dan sedikit takut, Kia melangkah untuk segera membuka  pintunya saat itu. Namun Ia kangsung diam mematung, saat melihat siapa yang ada didepan matanya saat ini.


"Ayah?" lirih Kia sembari menundukkan kepalanya. Ia tak menyangka jika kecurigaan sang ayah bisa menemukan dirinya disana.


"Ini, alasan kamu tak juga pulang dan izin dinas setiap hari hingga lembur?" tanya Pak arman pada putrinya saat itu. Dan tak ada cara lain selain mengangguk, karena semuanya sudah ada didepan mata sang ayah.


"Masuk, Yah..." ajak Kia padanya. 


Dan benar saja, Pak arman tersentak hingga mundur beberapa langkah saat melihat Bisma duduk santai dengan matanya yang tertutup dengan kain putih mengelilingi kepalanya saat itu. Bahka tersenyum memanggil nama mertuanya dengan amat ramah. Dan Pak arman benci itu semua. Ia merasa ditipu dengan semua keadaan ini, dan merasa dipermainkan oleh anak dan menantunya mengenai sebuah kematian. 


Padahal Kia selama ini belum pernah menganggap suaminya mati, dan sang ayahlah yang selalu mencelanya saat itu dengan ucapan yang cukup menyakitkan hati.


"Jadi ini, permainan kalian? Untuk apa, Kia? Untuk apa? Kamu membohongi publik, membohongi ayah dan semua orang didekat kamu, Kia. Mereka semua sudah begitu berbela sungkawa dengan apa yang kamu alami," amuk sang ayah dengan segala kenyataan yang ada.


"Yah... Dari awal Kia bilang, jika Mas bisma itu belum meninggal. Tapi ayah yang kekeuh bilang begitu karena terpengaruh oleh surya." jengah Kia saat itu, sementara Bisma memlih diam dan mendengarkan semua perdebatan yang ada antara istri dan mertuanya.


"Lalu, rencana apa yang kalian buat saat ini? Ayah ngga terima, Kia. Kamu sudah membohongi ayah!" 


"Lalu, bagaimana dengan anda sendiri, Pak Arman?" sergah Bisma dari tempat tidurnya.


"Apa maksud kamu? Saya berbohong apa? Jangan sok tahu tentang kehidupan saya, kamu saja tak pernah kenal dengan saya." balas kasar Pak arman pada menantunya itu.


"Pak Arman Wijayatama, pemilik Nala hotel sekaligus Mobil Mercy hitam dengan plat Bf9031NL. Benar?"