
"Sayang!!!" Surya mendadak datang dan membuka pintu dengan kuat. Itu nyaris saja membuat Sena terbangun dan menangis lagi setelah cukup lama bisa tidur dengan nyenyak dan tubuhnya normal.
Jinan yang juga tengah istirahat, langsung terperanjat kaget dengan tingkah suaminya itu. Ia hanya bisa menghela napas panjang dan berusaha tenang menghadapinya, dibanding harus marah-marah karena Ia harus menghemat tenaga untuk menjaga si kecil malam ini.
"Bagaimana sena?" tanya surya yang memasang wajah cemasnya. Seolah Ia tak melihat jika sena tengah tidur dan sedang baik sekarang, dan apa salahnya jika Ia menghampiri sang putra mengecup atau menyentuh dahinya untuk memastikan kondisinya saat ini.
"Kamu darimana aja?" tanya Jinan dengan nada datar, lalu bangun dan meraih air putih untuk Ia teguk. Rasanya lega setelah dapat istirahat dengan tenang dengan kondisi putranya yang mendingan. Amunisinya seperti telah terisi kembali untuk persiapan begadang nanti malam bersama putranya. karena meski ada, tapi surya belum tentu bisa diandalkan dalam situasi itu.
"Sayang... Kamu tahu kan, aku tuh sibuk banget. Daksa itu selalu memberi aku banyak pekerjaan, dan harus dikerjakan tepat waktu. Fokus, tenaga, dan semua itu harus aku bagi dengan rata, apalagi mengenai sena. Aku daritadi kepikiran, tapi aku juga ngga bis atinggalin pekerjaan yang berjibun itu," cicitnya dengan berbagai alasan.
Dan kali ini Jinan hanya bisa mengangguk dan mendengarkan, tak seperti dulu saat Ia terpana dengan segala kerja keras suami untuknya. Saat itu rasanya Surya adalah suami dan ayah paling bertanggung jawab untuknya dan amat Ia banggakan setinggi-tingginya. Tapi entah, sejak hari ini semuanya terasa amat datar meski Surya menceritakan semuanya dengan amat hiperbola.
"Sayang, kamu sudah makan? Kalau belum, aku akan belikan buat kamu." tawarnya dengan manis, namun Jinan menolaknya dengan alasan sudah memesan online dan sebentar lagi akan datang untuknya.
"Tapi aku beli buat sendiri, aku ngga tahu kamu bakal dateng." jawab Jinan. Sebenarnya Surya sedikit kecewa, tapi Ia berusaha biasa saja didepan istrinya.
"Yasudah, kalau begitu aku keluar sebentar buat cari makan. Boleh?" tanya Surya dengan nada yang maat manis.
"Yaudah sana. Bila perlu pulang aja ngga papa, mandi terus istirahat." ucap Jinan. Ia merasa bahwa Daksa lebih berguna saat ini dibanding suaminya. Tapi Ia juga tak dapat berharap banyak, karena ia amat tahu bagaimana kesibukan Daksa dikantor dan untuk Bisma.
"Aah... Apa-apaan sih? kenapa malah mikirin dia, coba?" Jinan menepuk nepuk pipinya sendiri. Ia lalu beranjak kembali pada sang putra, Ia berbaring didekatnya dan memperhatikan wajah yang tampan. Ya, amat mirip dengan sang ayah sebenarnya. Lucu, gembul dan menggemaskan di usianya saat ini, yang mulai mengoceh dan mengajak semua orang ngobrol meski tak jelas apa maksudnya. Saat itulah yang cukup jinan sesalkan, karena Ia tak selalu menanggapi masa emas bayinya itu.
*
"Kau sudah bangun?" tanya bisma.
"Kia udah berapa lama tidurnya?"
"Cukup lama, tapi tak tahu. Aku bahkan tak dapat melihat bagaimana waktu berjalan didepanku," jawab Bisma.
"Emang waktu bisa dilihat? Waktu bukannya hanya bisa dijalani dan dinikmati?" balas Kia dengan mengucek matanya yang masih remang. Kia pun bertanya, siapa yang menggendong dan membawanya kekamar saat itu. Karena tak mungkin jika Bisma yang melakukannya dengan keterbatasan yang Ia miliki.
"Daksa," jawab Bisma.
"Wow, Daksa..." lirih Kia, nadanya terdengar seperti Ia amat kagum dengan pria itu dan seketika membuat Bisma mengerutkan dahinya karena cemburu.
"Kuat juga rupanya," imbuh Kia dengan kagumnya.
"Heee... Kau memujinya didepanku."
"Lalu? Kia Kia harus bagaimana? Andai Kia sadar, pasti amat gagah menatapnya saat membawa Kia menaiki tangga seperti pangeran membawa putrinya." Kia mulai memancing, dan Bisma semakin panas mendengarnya. Melihat ekspresi wajah itu, Kia tertawa terbahak-bahak didepan suaminya.
"Kauuuu!!!" Bisma yang geram langsung meraih lengan Kia dengan kuat. Ia mendorong tubuh itu hingga kembali rebah diranjang lalu Bisma segera mengung kungnya.
Gleeeek!!! Kia seperti tengah mencari gara-gara sore ini, dan Ia harus menerima segala kemungkinan yang akan terjadi.