Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Satu pelajaran untuk Jinan


"Pagi Oma," sapa Daksa pada Oma sekar yang tengah menyiapkan sarapan dimeja makan. Ia dengan ramah dan duduk disofa menunggu Bisma dan Kia untuk turun, namun yang Ia lihat hanya Bisma sendiri dengan perlahan menuruni anak tangganya. Daksa pun bergegas naik dan membantunya disana.


"Daksa?" paham Bisma pada sahabatnya itu.


"Kenapa sendiri? Kia mana?"


"Kia sedang memandikan Sena,"


"Mamanya?" tanya Daksa akan Jinan. Ia tahu memang jika Kia mengasuh Sena selama Jinan bekerja, tapi Ia tak menyangka bahwa Ia memegang sena dari bangun tidur, mandi hingga Mamanya pulang. Lantas apa yang Jinan kerjakan jika Kia semua yang mengurusnya.


"Duduklah... Aku tak apa, sudah biasa sendiri begini." balas Bisma tanpa menjawab pertanyaan terakhir dari Daksa. Karena Ia bisa memastikan jika Daksa akan mendapat jawabannya sendiri tak lama lagi. Hingga tak lama kemudian, Jinan keluar dari kamar bersama suaminya dengan gaya yang mentereng, rapi dan wangi. Sangat cantik memang, tapi sayang sekali Ia mengabaikan putranya pada Kia.


"Kau bangga begini?" tatap Daksa pada penampilan Jinan. Yang bukan memperlihatkan kedewasaan, tapi makin aneh ditatap mata Daksa saat ini.


"Ya, emang kenapa? Jinan dandan buat kerja, ngga buat main. Jinan udah nurut, lalu apalagi?" tukas Jinan padanya.


"Satu pelajaran paling berharga yang harus kamu petik, Jinan. Bahwa saat kamu ingin jadi seperti Bisma, maka kamu harus tahu bagaimana Bisma dengan keluarganya. Saat kamu katakan Dia pengekang, apakah bisa kamu dibilang sebagai penelantar anak?" 


Deggg!!! Pertanyaan itu terdengar begitu menyakitkan bagi Jinan saat ini. Napasnya seketika tersengal, meresapi setiap makna pedih yang Daksa ucapkan padanya. Tak kasar, tapi amat menusuk relung hatinya yang paling dalam.


"Kenapa membandingkan? Jelas saja kami berbeda, Kak." sergahnya kesal.


"Daksa... Sudah," tegur Bisma pada sahabatnya itu. Ia mendengar suara Jinan yang mulai berat, dan tak ingin mendengar adiknya menangis pagi ini. Bahwa setegas apapun seorang Kakak, pasti ingin adiknya selalu bahagia dengan pilihannya.


Suasana tegang itu dibuyarkan oleh tawa renyah Kia yang menggendong keponakannya utnuk turun. Pagi ini suara Sena terdengar amat ceria mengajak tatenya mengoceh entah bicara apa, tapi Kia tampak paham dengan semua yang diucapkan. Oma langsung menghampiri dan mengambil alih Sena  agar Kia sarapan bersama yang lainnya.


Kia menatap ketegangan itu, tapi Ia tak berani bertanya apapun yang tengah terjadi. Ia fokus mengurus sarapan Bisma dan dirinya sendiri, bahkan tak ingin melihat Jinan dengan wajahnya yang mendung. Apalagi surya, yang tampak fokus pada dirinya sendiri kali ini. Amat sangat menyebalkan bagi Kia.


"Vitaminnya diminum dulu," ucap Kia yang mempersiapkan vitamin yang ada untuk Bisma. Sesuai takaran, dan sempat kembali memperhatikan obat yang Ia pegang saat ini.


"Sayang, kenapa?" tanya Bisma curiga.


"Hmm... Ngga papa. Obatnya masih sama dengan yang kemarin kita ambil kok, belum berubah." jawab Kia dengan santai. Surya seketika tersedak hingga terbatuk-batuk mendengarnya.


"Kenapa, Yak?" tanya Kia, dan Jinan seger memberi minum pada suaminya.


"Ngga papa, Ki. Emang, obatnya pernah berubah?" tanya Surya gugup, dan Bisma merasakan getaran dari suara yang Surya ucapkan saat ini.


"Iya, kemarin berubah. Entah gimana caranya," jawab Kia dengan tenang, tapi memperhatikan ekspresi yang surya berikan saat itu. 


Bukan hanya Kia, tapi juga Daksa yang memperhatikannya dari kejauhan. Gugup, canggung, dan mungkin takut hingga air mukanya berubah dari yang awalnya ceria menjadi diam.