
"Pagi Kak Kia," sapa Nanda yang telah duduk diruang makan bersama Papa dan Mamanya. Kia hanya membalas alakadarnya lalu meraih sepotong roti tawar yang telah Nanda isi dengan telur dadar kesukaan Kia.
"Kamu dinas double lagi?" tanya sang ayah padanya, dan Kia juga hanya mnegnagguk kali ini.
"Kamu terlalu sibuk, Kia. Ayah khawatir jika nanti kamu justru tumbang dengan keadaan ini. Kamu tak perlu menyembunyikan atau mengalihkan semua kesedihan dengan menyiksa diri begini,"
"Siapa? Kia? Kia ngga sedih, kok. Emang kenapa?" tanya Kia pada ayahnya saat itu, dan nanda juga segera memberi secangkir susu hangat pada Kakaknya dengan terus diam tanoa banyak bicaraa.
"Semua orang tahu betapa sedihnya kamu saat ini, Kia. Ditinggal suami dan mencari nafkah sendiri seperti ini, orang tua mana yang tak pilu melihat anaknya_..."
Kia memotong ucapan sang ayah dengan mendekatkan wajahnya, lalu memperlihatkan bola mata indah nya iitu pada ayahnya.
"Apa Kia tampak sedih saat ini? Mata Kia tak pernah berbohong, dan ayah tahu itu. Dan Kia, adalah orang yang sama sekali ngga suka membohongi diri sendiri dengan perasaan yang saling bertolak belakang." jawab Kia dengan senyum diujung bibirnya.
Kia meminum seluruh susu didalam gelasnya hingga tandas, lalu Nanda meraihnya agar kembali rapi seperti semula. Mama Lisa hanya diam dan tersenyum melihat kekompakan kedua putrinya itu. Sangat manis, andai sejak dulu bisa seperti ini pasti akan lebih bahagia tanpa adanya huru hara yang ada.
"Apa yang kalian sembunyikan dari ayah?" tatap Pak Arman pada keduanya. Nanda dan Kia kompak menoleh dan kemudian saling tatap saat ini.
"Ngga ada," jawab keduanya kompak.
"Udah ah, makin lama makin banyak tanya dan curiga. Kia sedih, Mas Bisma disalahin. Kia biasa aja bahagia, dikiranya ngga pernah bahagia sama mas Bisma. Bingung jadinya mau gimana," tutur Kia saat itu, dengan meraih tas selempangnya lalu melangkahkan kaki untuk keluar dari rumahn dan kembali bekerja sesuai dengan alasannya beberapa hari belakangan ini.
Pak arman kemudian meraih tasnya dan berangkat bersama Nanda kehotel mereka. mengendarai mobil andalan dan Nanda yang menyetirnya saat uitu. Pak Arman mengulag pertanyaan tadi pada Nanda, berharap agar mendapat jawaban yang sesuai dengan keinginannya. Tapi, kedua anak gadis itu sudah terlanjur kompak untuk tutup mulut sementara ini, hingga Daksa atau Bisma sendiri yang mengizinkan untuk mereka buka suara.
"Kalian ini," rengam Pak Arman padanya, tapi Nanda hanya memberikan senyumnya kali ini.
**
"Liana, apa jadwal hari ini?" tanya surya pada sekretarisnya itu.
" Jadwal hari ini adalah meeting di Hotel Bidadari, Hotel walet, dan Cafe harmoni." Liana menjelaskan semua jadwal yang ada padanya. Wajah surya kembali masam dengan helaan napas kasar dan pipinya menggelemnung seperti ikan buntal.
"Kenapa, Pak?"
"Rapat mulu... Ngga ada kegiatan lain apa? Pesta, atau apalah gitu? Bosen lihat kertas terus , hafalan materi, dan... semuanya. Macam anak sekolah aja," keluh surya dengan segala agenda yang ada.
Liana hanya tersenyum dan memutar kedua bola matanya, dan memang Ia tak heran lagi dengan kelakuan surya sejak masuk disana. Jika bukan karena Jinan dan Bisma, pasti ia sudah ditendang dari hotel itu karena tak ada kontribusi apapun meski jabatannya tinggi.
"Kan, Bapak juga sedang memperkenalkan diri sebagai Direktur baru di Prada. Jadi, bapak juga harus menambah banyak wawasan dan korelasi untuk segala bentuk pekerjaan. Nanti kalau diwakilin Pak Daksa, malah dikira dia lagi Direkturnya. Iya kan?" goda Liana padanya dengan tatapan yang manis semanis madu murni dari lebah yang baru dipanen.
Surya lantas manggut-manggut meng'iykan ucapan Liana. Apalagi terdengar rayuan yang amat manis dari sekretaris cantik nan seksi itu, membuatnya semakin besar kepala dan merasa memang ia menjadi pusat perhatian saat ini dimata semua orang yang melihatnya.