Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Iiih, gombal


" Oh iya, ada satu lagi pertanyaan. Apakah Ibu sudah lama jadi perawat? Soalnya, sepertinya sangat profesional dengan segala tindakan bahakan sudah memiliki beberapa sertifikat dan surat registrasi."


"Lulus perawat itu baru setahunan ini, sih. Tapi awalnya itu D3, banyak ikut seminar hingga lanjut ke S1. Ayah ngga setuju soalnya, kalau jadi perawat. Ayah maunya nerusin hotel beliau yang cukup besar. Tapi, gimana ya?" Kia menggaruk kepalanya dan sedikit bingung untuk menjawab.


"Ya, saya tahu itu. Namanya orang tua, pasti maunya anak tunduk dan patuh dengan yang diperintahkan. Beranggapan jika, apa yang mereka lakukan itu adalah yang terbaik untuk kita. Tanpa mereka mau tahu, jika kita memiliki tujuan hidup kita sendiri. Benar?"


"Iya," angguk Kia untuk kesekian kalinya. 


Karena merasa semua sudah dipertanyakan, presenter itupun menutup acara keduanya. Apalagi Daksa sudah beberapa kali memperingatkan agar acara tak terlalu ertele-tele dan membuat Bosnya itu lelah. Mereka membubarkan acara itu, lalu membereskan semua setelah mengicapkan terima kasih atas kesediaan Kia dan Bisma dalam acara mereka.


Pernikahan dadakan keduanya termasuk berita hangat dan ramai diperbincangkan dikalangan masyarakat dan pengusaha. Selain berita mengenai kecelakaan dan komanya Bisma saat itu. Ingin diusut tuntas, tapi Oma mencegahnya dengan saran dari surya yang mengatakan jika itu semua murni kecelakaan. Yang pada saat itu, Bisma memang sedang melakukan sunmory bersama para club motor besarnya. Mereka berjalan beriringan dan sebuah mobil oleng hingga Bisma berusaha menghindari bertabrakan dengan mobil itu, meski akhirnya Ia sendiri yang celaka efek yang cukup parah.


Perasaan Oma saat itu tak dapat digambarkan sama sekali. Ia renta, mudah lelah dan amat stres hingga percaya saja dengan apa yang surya katakan. Ia tak mau lagi ada keributan dan keramaian yang akan mengganggu mental Bisma saat itu. Hanya mereka tak tahu, jika Daksa dan Bisma mengusut lagi peristiwa itu dan mencari kembali pelakunya setelah setahun ini bebas tanpa rasa bersalah dihidupnya.


Kia membawa Bisma kembali keruangannya. Tubuh besar tinggi itu tampak lelah dan berkeringat karena duduk terlalu lama disana, apalagi dengan segala keramaian yang ada. Setahun terbiasa sendiri dalam kesunyian, membuat tubuhnya mendapat refleks kurang menyenangkan lingkungan yang baru saja Ia rasa. Kia membawanya duduk, membuka jas dan kemeja bisma agar sirkulasi udara dapat masuk dengan baik disana. 


"Mau sesuatu?" tanya Kia dengan  tangan yang aktif memijiti kaki Bisma yang Ia naikkan ke atas pahanya. Bisma setengah berbaring, dan memejamkan mata menikmati setiap sentuhan lembut yang diberikan Kia saat ini.


"Tidak... Aku hanya mau kau disini,"


"Iih, gombal." tangan Kia meremas kuat kaki Bisma, dan membuatnya ber-aww ria karena sakit yaang ditimbulkan.


"Hey, sakit! Baru saja menikmati kemesraan ini sebentar, kenapa begini lagi?"


"Emang, Kia gimana menurut mas?" terasa kia menjatuhkan tubuhnya dan bersandar di dada sang suami. Dan tangan besar itu spontan mengusap dan mengecup rambut indahnya dengan lembut. Kia pun heran, kenapa cepat sekali merasa senyaman itu dengan Bisma.  Yang sebenarnya Ia tak pernah bisa cepat dekat dengan pria manapun meski sering kali ada mendekatinya.


"Menurutku? Kamu itu perawat yang ceroboh. Akupun heran, kenapa aku memilihmu sebagai perawatku. Semoga aku baik-baik saja sampai keinginanku terkabul nanti," goda Bisma dengan segala harapannya.


"Mas kira, kia mau celakain Mas Bisma. Astaga, fikirannya. Aaaaah, keseeeel!!!!" sifat manja kia muncul dengan sendirinya pada Bisma. Merengek dan membuat Bisma tertawa lagi karena tingkahnya. Apalagi yang dirasakan Bisma, seolah tak dapat diugkapkan dengan kata-kata.