Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Karena kau perempuan, Kia!


Surya hanya mengepalkan tangannya saat itu. Dengan wajahnya yang penuh amarah sekan ingin memberi pelajaran untuk Kia yang selalu bisa menentang segala ucapannya. 


"Lantas, dengan kamu pergi kamu fikir akan bisa bebas dariku? Kau fikir kau akan mendapatkan pertanggung jawaban dariku atas harta Bisma?" tatap nyalang surya padanya. Ia saat ini merasa berhak mengatur semua yang ada dirumah hingga ke perusahaan yang sebentar lagi akan Ia duduki kursi Direktur utamanya. 


Ia tak tahu, jika Daksa akan menjadi orang pertama yang akan mencegahnya masuk meski hanya selangkah keruangan pribadi milik Bisma. 


"Kamu fikir aku mata duitan kayak kamu, Yak? Yang hanya bisa memanfaatkan kebaikan orang lain dalam setiap kesempatan. Aku saja tak bisa membayagkan jika kamu ngga mendapatkan Jinan saat itu. Hhhh," gelak Kia sembari menggelengkan kepalanya. 


Hal itu membuat surya semakin terhina olehnya, diremehkan dan tak pernah dihargai dimata Kia sama sekali. 


"Teruskan obesesi kamu, Surya. Aku tak akan menghalangi apa yang kamu mau saat ini dan nanti. Tapi saat aku mendengar kamu menyakiti Jinan dan Sena, bahkan kamu ngga akan pernah diterima dimanapun tempat yang akan kamu singgahi." ancam Kia dengan beraninya.


"Punya kuasa apa kamu, sampai bisa ngomong gitu sama aku?" tanya Surya. Tapi Kia hanya diam sesaat sembari memebrinya senyuman, dan tak ingin membalas sepatah katapun pada apa yang surya katakan padanya.


Perdebatan berhenti saat Jinan datang. Ia mengabarkan jika Nanda sudah ada dibawah untuk menjemput Kakaknya itu. Dan meski berat, Jinan harus merelakan Kia pergi untuk sementara demi ketenangan hatinya.


"Jinan, aku pergi dulu. Dan ingat, jangan pernah takut akan apapun disini. Kuasa kamu lebih kuat dari dia," tatap kia pada surya untuk kesekian kalinya.


Jinan hanya mengangguk lalu meraih Sena dari tangan Kia. Ia kemudian mengantarnya kebawah menemui Nanda. Tak banyak kata yang diucapkan, hanya pamit dan langsung pergi karena nasehat sudah Kia berikan  pada adik iparnya itu.


"Kapan operasinya?" tanya Nanda saat ada didalam mobilnya.


"Besok, Nda. Aku harus temenin, karena Daksa pastinya akan sibuk banget gara-gara ulah surya."


"Nanda hanya bisa bantu doa, Kak. Sama anterin atau temenin Kakak, tapi itupun harus diam-diam dari Papa."


Keduanya telah tiba dirumah ayah Kia. Sambutan Mama Lisa berikan pada kedua anaknya saat itu, apalagi sang ayah yang langsung menyeringai puas karena ucapannya terbukti secara nyata. Bahwa, Kia akan kembali padanya cepat atau lambat.


"Selamat kembali, Kia." ucap Sang Ayah, dan Kia hanya menganggukkan kepala padanya.


Mama Lisa segera membawa Kia masuk dan memintanya  istirahat sejenak. Hari memang sudah sore, dan Kia terlebih dulu membersihkan dirinya agar lebih segar. Dan sebenarnya Ia rindu pada suaminya, ingin mendengar suaranya yang selalu bisa membuatnya berbunga-bunga. Namun, Ia menjaga hati dan hasratnya saat ini agar tak mencurigakan. 


"Ada yang kau  ingin hubungi?" tanya Pak arman yang berada dipinggir pintu.


"Tidak... Kenapa? Kia hanya mencacri info untuk lowongan pekerjaan, itu saja."


"Lalu, apa keuntunganmu menikahi pria kaya raya itu jika saat dia meninggal kau masih harus beekrja keras? Apa kau tak mendapat sepeserpun darinya?"


"Lalu jika dapat, apakah tandanya Kia ngga boleh bekerja? Atau Kia harus segera cari pria lain dan menikah seperti yang Ayah lakukan? Benar?"


"Kamu perampuan, Kia. Kamu punya masa iddah!"


"Ya, selalu saja begitu. Enak sekali menjadi pria, yang tak harus menunggu masa itu. Kadnag bertanya-tanya, bagaimana jika posisinya dibalik? Kia yang meninggal, dan dalam waktu Dua minggu Mas Bisma nikah lagi. Gimana ya?" Kia menggaruki kepalanya sendiri.


"Jaga ucapan kamu, Kia!"


  "Tapi, apa karena masa itu Kia ngga boleh kerja? Boleh lah ya, dirumah kan bosen." balas Kia dengan candaannya, padahal sang ayah tampak amat geram saat ini padanya.