
"Mas... Pulang yuk, Kia kepikiran Oma sama Sena." ajak kia yang kembali naik ke ranjang setelah menyimpan beberapa data yang Bisma minta. Untungnya ada beberapa foto kebersamaan Kia dengan petugas ruangan itu saat Ia baru masuk dan formasinya lengkap bersama Ryan dan Nining disana.
" Entah kenapa, aku merasa sangat nyaman ketika bersamamu disini. Berdua, meski aku sendiri merasa diruangan ini sempit dan tak seperti dirumah." ucap Bisma yang memang tampak nyaman duduk setengah berbaring diranjang kecil Kia.
Meski sempit, tapi rasanya amat nyaman apalagi bersama Kia yang bersandar manja di bahunya yang masih terbuka usai pergulatan mereka di ronde pertama tadi. Rasanya pun melakukan semua itu dengan amat bebes dan lepas, seperti tanpa ada siapapun yang akan mengganggunya. Atau, Bisma tahu jika Surya sering iseng mengupingnya dan Kia selama ini.
"Tapi Kia kepikiran sena. Nanti nangis lagi, gimana? Stres oma dibuatnya," Kia mencoba beralih dari dekapan Bisma dan meraih pakaian suaminya. Namun, justru seperti memberi akses pada Bisma untuk menyentuh bagian tubuhnya yang belum tertutup sempurna itu.
Hanya dengan sebuah daster tipis ala anak kost, dan bahkan Kia belum mengenakan b*a saat itu. Telapak tangan besar Bisma tepat ada disana saat ini, tersenyum dengan gemas sementara Kia menatung dengan dadanya yang bergemuruh.
"Mass?" panggil Kia yang tampak gugup. Andai Bisma bisa melihatnya saat ini, pasti Bisma akan tertawa dengan kekonyolan wajah Kia.
"Ya, sayang?" jawab Bisma dengan suaranya yang mulai berat. Ia tahu kemana arah suara Kia dan mulai mendekatkan wajah padanya, dan kini kedua hidung mereka saling bertemu dengan hembusan napas masing-masing yang menderu hangat karena suasana yang ada.
Bisma sangatlah normal, karena hanya matanya saja yang gelap. Tapi cahayanya itu selalu memberikan kilau indah yang bisa dengan spontan membangkitkan gairah Bisma, dan segala semangat yang sempat nyaris memudar. Apalagi sudah Bisma bilang, jika Ia amat nyaman disana bersama Kia.
Ia menarik pinggul akia dan kembali duduk berpangku dihadapannya. Suara Kia mulai terdengar menikmati apa yang Ia berikan, bahkan kia mulai aktif membalasnya saat ini. Ia sadar, meski cinta itu belum tumbuh seperti seharusnya, tapi itu semua kewajibannya untuk melayani Bisma dengan baik. Apalagi Bisma yang selalu memperlakukan dirinya dengan baik selama ini.
"Masss," panggil Kia, saat melepas pangutaan Bisma sejenak untuk mengambil napas.
"Ya, sayang? Ada sesuatu?" tanya Bisma dengan tangan aktifnya. Seketika membuat kia melentingkan tubuhnya dan semakin memberi akses Bisma untuk melakukan apapun yang Ia mau, hingga daster tipis itu ditariknya robek dan Ia lempar kesembarang tempat.
Ruangan yang baru saja dirapikanpun seketika berantakan kembali karena ulahnya. Kia yang awalnya ingin bicara, sampai lupa apa yang ingin Ia katakan barusan akibat semua tingkah Bisma ditubuhnya. Bahkan beberapa tanda merah mulai tertinnggal disana.
Bisma mendorong tubuh Kia agar rebah, dan Ia merangkak keatas membawa Kia kedalam kungkungannya. Segala aktifitas itu membuat gelora muda mereka panas membara, membakar seluruh tubuh dengan api cinta yang ada. Apalagi, saat Bisma mulai berani bermain lidah di inti tubuh Kia dan membuatnya seperti tersengat aliran listrik bertegangan tinggi ditubuhnya.
Untung saja para tetangga kostnya saat itu tengah bekerja ditempat masing-masing, hingga tak mungkin terganggu dengan apa yang mereka lakukan disana.