
Nanda dan ekdua orang tuanya telah tiba dirumah Kia. Mereka langsung diambut Ome dengan senyum ramah, meski tak mengurangi segala kesedihan yang ada diamatanya saat itu.
"Ibu, Bapak... Mau jenguk Kia?" tanya Oma, dan dibalas anggukan Mama Lisa yang langsung memeluk Oma dengan erat saat itu atas kesedihan bersama. Hanya Pak Arman yang hanya diam dan memasang wajah sok tenangnya saat itu, yang sebenarnya dalam hati yang paling dalam Ia amat terkejut melihat kemegahan rumah menantunya didepan mata.
"Pa, ayo masuk," ajak Mama Lisa, yang cukup mengagetkan suaminya itu. Merek pun masuk dan langsung dibawa kekamar Kia yang ada dilantai dua. Pak Arman masih saja menatap sekeliling rumah itu dengan segala kemegahan yang ada didalamnya.
Dugghhh!! Papa Arman menabrak pagar tangga dengan cukup kuat hingga meringis kesakitan di lengannya.
"Papa kenapa?" tanya Mama Lisa keheranan. Bisa-bisanya dirumah yang amat luas itu, Papa masih tertabrak benda yang besar yang tak mungkin jika tak terlihat.
"Ngga papa," balas Pak Arman yang kembali santai meski menahan perih.
Pintu Oma buka dengan perlahan, takut jika Kia tengah tidur dan terbangung mendadak dari istirahatnya pagi ini. Karena menurut keterangan, Kia sama sekali tak lanjut tidur sejak tahu Bisma hilang dari kapal itu.
"Oma?" Kia mengangkat tubuhnya, dan rupanya Ia memang tak tidur. Ia menatap Mama dan ayahnya serta Nanda yang kemudian masuk kedala menghampirinya dengan wajah terpasang sedih.
"Kak Kiaaaa," Nanda langsung duduk dan memeluk Kia diranjangnya.
"Bagaimana perasaan kamu saat ini, Kia? Sejak menikah, sepertinya kamu belum mendpaat kebahagiaan disangkar emas ini. Apakah semua ekspetasi kamu menjadi realita?"
"Maksud ayah?" Kia memicingkan mata dan melepas pelukan Nanda darinya.
"Ya, memang Ayah akui kamu hidup dalam kemewahan. Tapi, kamu sepertinya memang hanya dimanfaatkan disini,"
"Pak Arman... Ini maksudnya bagaimana?" Oma ikut menimpali ucapan Pak arman dengan sebuah pertanyaan. Nanda dan Mama Lisa langsung memeluk tangan pria itu agar tak meneruskan bicaranya dan akan semakin menegangkan suasanya.
"Pak maaf, kami sedang berkabung. Saya rasa tak pantas jika Bapak seperti itu terhadap putri bapak sendiri. Nurani Bapak dimana?" tegur Oma dengan nada tegasnya.
"Ayah ngga pernah mengerti yang namanya berkabung, Oma. Bahkan saat Bunda baru meninggal, ayah dengan begitu cepatnya menikah lagi."
Deegg!! Mama Lisa langsung bergetar dengan ucapan Kia yang masih membahas semuanya. Memang itu ditujukan untuk menyindir sang ayah, tapi otomatis hatinya langsung berdegup kencang karenga masalah itu berkaitan dengan dirinya. Nanda menyadari itu, dan langsung tak tega melihat Mamanya.
"Papa kalau ngga betah pulang aja. Nih, bawa mobil Nanda. Jadi nanti nanda pulang naik taxi aja," Nanda menyodorkan kunci mobil pada papanya saat itu. Dan sontak saja Pak Arman langsung rengam dan tersinggung dengan apa yang Nanda perbuat padanya.
"Kamu sudah berani dengan Papa? SIapa yang ajarin kamu?"
"Pa... Sudahlah, Kak Kia tuh capek. Nanda fikir Papa bisa kasih support, rupanya engga. Kasihan Kakak," sergah Nanda. Mama Lisa tampak terus membujuk suaminya dengan begitu lembut untuk segera pergi dan pulang. Ia tak tahan melihat perdebatan itu, apalagi dengan Kondisi Kia saat ini.
"Pa... Ayo, Pa." ajak Mama Lisa, yang perlahan menyeret tubuh suaminya untuk keluar.
"Ingat Kia... Bahwa sebentar lagi pada akhirnya kamu akan pulang kerumah Ayah," tatap Pak Arman nyalang. Kia hanya diam dan membalasnya datar, tak membalas apapun dengan apa yang ayahnya katakan sat itu. Ia hanya mennghormati Oma, dan setidaknya Nanda yang masih ada disana.
*Hay gaes 👋Othor menyapa.
Heran aja ya, kayak gini kalau udah mulai dikasih konflik utama dengan sebuah strategi atau taktik, terus dengan gampangnya pada bilang "Udah mirip ikan terbang. Ujung2nya bgini, begitu." Wkkwkw.
Ingat ya, ini karya dari awal nongol aja udah konflik semua loh. Tapi ngga papa, yang penting kalian seneng dah. Wkwkw... Bye 😘😘